Bab 10 Kematian Napi dalam Sell

Di ruang kerjanya Wira sibuk memilah milih data personil, seakan berpacu dengan waktu. Tiga buah map dipisahkan. Lalu bergegas pergi menuju ke sebuah ruangan.

Di dalam ruangan sudah ada Brigadir Siska, Briptu Wahyu, dan Briptu Arjuna. Dua bintara muda itu sedang mendapat penjelasan mengenai misi dari Brigadir Siska.

Wira langsung masuk ke ruangan, mengambil duduk di samping Siska yang tengah berbicara. Selanjutnya dia memberi kode agar polwan itu menyelesaikan penjelasannya, Lalu Wira mengambil alih.

"Kalian berdua tentu sudah mendapat penjelasan dari Siska, terkait misi yang akan kita jalankan. Saya memilih kalian berdua karena satu alasan, bukan karena kalian lebih hebat dari yang lain, tapi menurut saya kalian unik."

"Satu point khusus yang saya tekankan kepada kalian bertiga adalah harus bisa menjaga rahasia misi ini."

"Saya harap kalian berdua bisa bekerja sebagai tim, dan mematuhi komando. Satu kesalahan bisa berakibat fatal untuk kalian, jaga kekompakkan tim, jangan pernah bertindak sendiri, apa bisa dimengerti?"

"Siap mengerti komandan."

Ke tiga bintara itu menjawab hampir bersamaan, Wira menjelaskan tugas masing masing personil, lalu membubarkan mereka. Setelahnya Wira bergegas menuju rumah sakit, karena hari ini dokter Ani akan merilis hasil otopsi gadis X yang kemudian di ketahui bernama Hana.

Jam sembilan Wira tiba di rumah sakit, dia mengajak Ibu Renata untuk menjadi wali Hana sekaligus menjemput jenazah untuk di makamkan.

"Selamat pagi dokter Ani, perkenalkan, ini Ibu Mira, dia akan menjadi wali untuk Hana."

"Maksudnya, Ibu ini keluarga jenazah Hana begitu?"

Wira berbincang sejenak dengan dokter Ani untuk menjelaskan situasinya. Dokter ahli forensik itu menyimak keterangan Wira untuk memahami kondisi.

Setelah berunding dengan pihak rumah sakit, Ibu Mira di izinkan untuk menjemput jenazah Hana. Ambulans di siapkan Wira mengawal ambulans menuju pemakaman.

Jenazah Hana dimakamkan tepat di sebelah kuburan Renata. Kini ke dua gadis yang semasa hidupnya bersahabat telah kembali bersama di alam kelanggengan.

Wira dapat melihat ke dua gadis itu tersenyum di atas pusara mereka. Ibu Mira menatap batu nisan ke dua putrinya penuh haru.

"Mereka sekarang sudah bersama, ibu tidak usah sedih lagi, kita doakan saja Hana dan Renata mendapat tempat terbaik disisinya.

Langit mulai mendung, Wira menghibur hati Ibu Mira agar wanita tua itu ikhlas melepas kepergian putrinya. Hujanpun mulai turun rintik rintik, mereka beranjak pergi meninggalkan area pemakaman.

Sebelum keluar dari gerbang pemakaman, Ibu Mira menoleh ke belakang sekali lagi. Dia tersenyum simpul sembari menyeka air matanya, entah apa yang sedang diperhatikan wanita tua itu.

"Kalian yang tenang anak anak ku sayang, Ibu akan selalu berdoa untuk kalian."

Dari jauh sosok Hana dan Renata melambaikan tangan mereka dengan pandangan mata yang sendu.

Wira mengendarai mobilnya bersamaan dengan mobil ambulans meninggalkan area pemakaman. Dalam hatinya Wira merasa lega, dia menghela nafas panjang, lalu sedan merah itu melaju kencang menuju Surabaya timur, tempat dimana ibu Mira tinggal.

Pukul empat belas ketika Wira kembali memasuki ruang kerjanya. Dia memanggil Tomy untuk bertanya mengenai kasus Agus, karyawan Black Rose yang tewas di dermaga luar kota Surabaya.

"Tom bagaimana perkembangan kasus Agus, apa sudah ada titik terang?"

"Saya dengar pelaku sudah tertangkap di pelabuhan Merak tadi malam Komandan."

"Ehm.. bagus, siapa yang menangani kasusnya?"

"Kalau tidak salah Iptu Hery komandan."

Wira menekan nomor di phonsellnya, sebentar kemudian dia terlihat sibuk, berkomumikasi dengan seseorang di ujung phonsellnya.

Tomy bergegas pergi meninggalkan ruangan sedang Wira sibuk mencatat sesuatu di buku agenda miliknya. Tak lama kemudian dia mengakhiri percakapan di phonsell, lalu pergi dengan tergesa gesa.

Diruang tahanan polres terjadi kegaduhan, petugas jaga terlihat mondar mandir, menelpon rumah sakit. Wira yang baru tiba di ruang tahanan langsung bertanya kepada petugas untuk mencari tahu apa yang terjadi.

" Ada apa di sell tahanan Hen, apa yang terjadi?"

"Tahanan yang baru masuk tadi malam, mereka tewas di kamar tahanan komandan."

"Tewas...?"

Wira langsung berlari menuju ruang tahanan di ikuti dua orang petugas di belakang. Di dalam sell tahanan yang berisi tujuh orang napi titipan, terlihat empat jasad tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan. Sementara tiga orang tahanan berdiri rapat di pojok, dengan raut wajah pucat ketakutan.

Dari mata dan telinga mereka mengeluarkan darah berwarna merah kehitaman. Petugas langsung memisahkan tiga orang tahanan ke ruang sell berbeda, kemudian penyidik langsung memeriksa jasad korban, untuk mengetahui penyebab kematian mereka.

"Sial.. mereka yang tewas adalah tersangka kasus pembunuhan Agus, karyawan Black Rose."

"Sekarang langkahku untuk menjerat Leo jadi lebih sulit, Huh... apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka?"

Wira bergumam lirih, kepalanya dipenuhi rasa penasaran. Dia bergegas menuju ruang monitor untuk memeriksa cctv.

Wira membuka rekaman cctv mulai sejak mereka masuk sell sampai dengan hari ini, ketika empat orang tersangka pembunuh Agus di temukan tergeletak di lantai tahanan, tewas secara misterius

Wira memutar rekaman video berulang kali untuk mencari tahu penyebab empat orang itu meregang nyawa di sell tahanan, matanya fokus tak berkedip, tapi Wira tidak berhasil menemukan apapun yang bisa menjelaskan penyebab kematian mereka.

"Ini aneh mereka seperti tewas tercekik, padahal tiga tahan lain sama sekali tidak ada kontak fisik dengan keempat orang itu."

"Apa mereka di racuni, atau menegak racun dalam sell?"

Wira tampak bingung, lalu keluar dari ruang monitor, bergegas menuju rumah sakit. Dalam benaknya Wira beharap mendapatkan petunjuk tewasnya tersangka pembunuh Agus dari dokter yang melakukan otopsi.

Wira berjalan cepat menuju tempat parkir, tak di sangka dia bertemu Linda yang tengah berlari dengan kamera di tangannya.

"Kamu kok bisa ada disini Lin?"

"Bapak pasti lupa kalau Linda seorang wartawan gesit, iya kan pak?"

"Antena radar wartawan memang panjang. Kalau begitu lanjutkan tugasmu. Saya akan ke rumah sakit untuk memeriksa jasad tersangka yang tewas di sell."

"Saya ikut pak..!"

Wira tidak menjawab, dia membuka pintu mobil, di ikuti Linda yang bergegas masuk dan langsung duduk manis disampingnya.

Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Dokter Ani baru saja melepaskan sarung tangan medis, sembari berjalan meninggalkan kamar jenazah.

"Dokter Ani.. Dokter..!"

"Eh, pak Wira, kita jumpa lagi."

"Iya dok, apa dokter yang bertugas mengotopsi jasad empat orang tahanan yang tewas di sell?"

"Iya tapi tidak sendiri, saya bersama dua orang teman, di bantu beberapa perawat."

"Jadi apa sudah ditemukan penyebab tewasnya korban dok?"

"Untuk sementara, kami baru menemukan kalau pembuluh darah di otak pecah, kami masih harus memeriksa lagi penyebab lain."

"Apa mungkin dia keracunan atau diracuni dok?"

"Sepertinya tidak, saya tidak melihat ada benda atau senyawa asing yang masuk dalam tubuh ke empat jenazah."

"Jadi menurut dokter, kira kira apa penyebab tewasnya korban, karena menurut saksi dan pemeriksaan cctv, tidak ada kontak fisik antar tahanan yang mungkin menyebabkan mereka tewas dok."

"Sebenarnya ini agak rumit pak Wira, bisa saja mereka tewas karena hipertensi, atau sebab lain seperti cidra otak, tapi kami belum bisa menyimpulkan."

"Penilaian saya pribadi, kasus ini tidak wajar, karena mereka semua tewas dengan cara yang sama. Terlalu kebetulan kalau keempat orang tersebut memiliki riwayat penyakit yang sama."

Wira mengernyitkan dahinya, analisa dokter Ani mempengaruhi logika. Jika bukan disebabkan oleh penyakit yang di derita, lantas apa yang terjadi dengan mereka?

Wira merenung, otaknya dipenuhi tanda tanya. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Entah kebetulan atau tidak, beberapa hari terakhir Wira selalu dihadapkan dengan kasus kasus diluar nalar yang menguras pikiran.

"Ehm.. mungkin tidak dok, kalau kematian mereka di sebabkan pristiwa metafisik seperti kena teluh, atau di santet orang misalnya?"

Tiba tiba saja Linda yang sejak tadi hanya menyimak percakapan Wira dan dokter Ani menyampaikan pendapatnya.

"Hus, ngawur kamu Lin, zaman sudah modern begini masih saja percaya klenik."

Wira segera menyanggah celetukkan Linda, yang kesannya nyeleneh dan tidak masuk akal.

Dokter Ani tersenyum, meskipun tidak setuju dengan ucapan Linda, dia berpikir bahwa sesuatu yang bersifat metafisik mungkin saja bisa jadi alternatif jawaban untuk menjelaskan peristiwa non medis seperti yang sedang mereka tangani.

Di tengah perbincangan, mendadak pandangan Wira terganggu oleh sosok pria yang berdiri menyandar di tembok.

"Kenapa aku merasa dari tadi pria di lorong itu sedang menguping pembicaraan kami?"

Wira terus mengawasi gerak gerik pria kurus yang mengenakan topi, dengan jaket kulit berwarna hitam, dia curiga pria itu sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.

Wira baru akan berjalan mendekati pria yang berdiri tak jauh dari posisi mereka, namun pria itu membalikkan badannya pergi menjauh dari lorong kamar jenazah.

"Mungkin hanya perasaanku saja, lagi pula ini tempat umum, bisa saja dia adalah keluarga salah satu pasient rumah sakit."

Wira menepis rasa curiga dari benaknya, diapun kembali melanjutkan perbincangan dengan dokter Ani, seputar keganjilan kasus empat tersangka yang tewas di ruang tahanan.

"Oh iya dok, selain pembuluh darah yang pecah, apakah ada luka atau tanda tanda kekerasan di tubuh korban, yang mungkin lepas dari pengamatan penyidik?"

"Dari hasil pemeriksaan, kami tidak menemukan goresan ataupun bekas hantaman benda tumpul di seluruh tubuh korban, kecuali memang bekas luka lama yang sudah sembuh pak Wira."

"Baiklah dokter, terima kasih untuk keterangannya, kami permisi dulu dok, seperti biasa jika ada perkembangan tentang kematian korban tolong kabari saya."

"Owh tentu pak Wira, saya pasti akan menghubungi anda setelah proses otopsi rampung."

Wira berpamitan kepada dokter Ani, kemudian mengajak Linda untuk meninggalkan rumah sakit.

Dalam perlalanan, Linda sibuk sendiri, ia terus menulis hasil wawancara singkat dengan beberapa narasumber di kepolisian, termasuk keterangan dokter Ani.

"Kamu nulis apa Lin, dari tadi sibuk sendiri, sampai sampai tidak perduli sekitar. Saya ini petugas kepolisian, bukan supir angkot."

Mendengar ucapan Wira, Linda tersadar, kalau sikapnya kurang sopan, dia menoleh sambil tersenyum, kemudian menangkupkan jari tangan di depan wajah sebagai tanda permintaan maaf.

"Hehehe.. Maafkan kehilafan saya komandan, maklumlah tadi di rumah sakit saya lupa merekam pernyataan dokter Ani, jadi harus cepat di catat, takut lupa."

Wira tersenyum mendengar ucapan Linda yang bernada nyinyir. Suasana seketika mencair, keduanya saling balas membalas hingga mobil sedan merah itu menjadi riuh dengan canda tawa mereka.

Sementara itu di suatu tempat rahasia, Martin yang telah pulih dari luka ditangan kanannya berjalan mengenakan sarung hitam bermotif wayang, bertelanjang dada.

Rambut panjangnya sengaja dibiarkan tergerai.

Tangannya membawa sebuah nampan besar berisi dupa dan sesajen yang kemudian di letakkan depan sebuah bangunan batu mirip candi yang minim penerangan cahaya.

Setelahnya Martin komat kamit membaca mantra, tubuhnya bergetar lalu tiba tiba saja pria itu melakukan sebuah tarian aneh, diikuti dengan perubahan cuaca.

Langit yang semula cerah, seketika redup tertutup awan mendung. Semakin cepat gerak tarian yang dilakukan Martin, makin gelap warna awan yang menyelimuti Langit.

Martin terus menari tidak terkendali, dia bagai orang yang tengah dirasuki setan. Kakinya menghentak tanah lalu guntur bersaut sautan, kilatan petir menyambar di angkasa, dan angin dingin berhembus kencang menerpa wajahnya.

"Wuuusss...!"

"Duaaaarrrrr.. Duaarrr.. duaaarr..!"

Suara guntur menggelegar menggetarkan hati, suasana mistis kental terasa menyiutkan nyali.

Martin berputar putar sembari meneriakkan mantra seperti sedang bersair.

"Oh Jagad lelembut datanglah, kirimkan balapatimu kepada orang yang ku sebut namanya dalam hati."

Tiba tiba saja ratusan bayangan putih muncul dari balik pekatnya awan hitam. Bayangan itu melesat menuju suatu tempat, dan Martin menghentikan tarian sembari menyeringai keras menakutkan.

"Matilah kau Anton Wijaya...!"

"HAHAHAHAHAHA....!"

Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!