Bab 7 Hana

Linda memperhatikan jasad yang terbungkus kantung plastik, dia buru buru berlari ke mobil untuk mengambil laptop dalam tas, wajah pria itu mengingatkan Linda akan sesuatu.

Benar saja, setelah membuka file foto yang di ambil saat liputan di club Black Rose. Linda menemukan bahwa pria yang terbujur kaku di hadapannya adalah security Black Rose yang tertangkap kamera sedang menjambak rambut seorang wanita.

"Pak dia security Black rose yang ada di foto."

Mendengar ucapan Linda, sontak Wira terkejut, dia langsung mengambil laptop di pangkuan Linda untuk memastikan ucapan Linda.

Kening Wira berkerut, wajahnya seketika berubah, rahangnya menebal menahan amarah yang membucah.

"Club ini benar benar berbahaya, mengapa mereka mudah sekali membuang nyawa seseorang?"

"Sebenarnya ada rahasia apa di balik bisnis club Black Rose?"

Meski tak berbicara, sebenarnya hati Wira terbakar, pria itu sangat geram, karena di depan matanya, hukum dengan mudah dipermainkan.

Langit memerah, matahari akan segera terbit, sedangkan jasad di hadapan mereka mulai mengeluarkan aroma tak sedap.

Wira bergegas menelpon polisi untuk melaporkan peristiwa pembunuhan yang terjadi di dermaga kecil kawasan pantai luar kota Surabaya. Ia meminta agar jasad korban segera di evakuasi, karena kondisi mayat yang basah, sudah mulai membengkak.

Setelah mengirimkan peta lokasi, Wira bergegas pergi ke mobil untuk berganti pakaian, sementara Linda menjaga jenazah sampai polisi datang untuk melakukan evakuasi korban.

Matahari sudah terbit ketika rombongan mobil polisi datang bersama mobil ambulan. Tanpa mebuang waktu, mereka langsung bekerja mengevakuasi korban ke dalam mobil ambulans, lalu menggelar olah TKP.

Di tempat terpisah Wira dan Linda dimintai keterangan seputar peristiwa pembunuhan. Mereka menjawab beberapa pertanyaan penyidik lalu menyerahkan bukti foto maupun video yang merekam empat orang pelaku sedang membuang mayat korban ke laut.

Setelah membuat kesaksian, Wira dan Linda di izinkan untuk meninggalkan lokasi, sementara para petugas melanjutkan olah TKP sambil mengumpulkan bukti bukti tambahan.

Wira mengajak Linda kembali ke mobil, karena sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di tempat itu. Setelah berpamitan dengan para petugas Wira pun pergi meninggalkan lokasi, segera pulang menuju kota Surabaya.

Sepanjang perjalanan pulang, Linda tertidur dengan pulas. Wartawan itu terlihat lelah dan mengantuk.

Wira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia memperbaiki posisi tidur Linda, agar gadis itu merasa nyaman.

Dua jam kemudian Wira sampai di depan pagar rumah, seorang Ibu berdiri di depan pintu dengan wajah gelisah. Wira menepuk bahu Linda untuk membangunkanya.

"Lin, hey bangun, kita sudah sampai."

"Sudah sampai dimana kita pak?"

"Kita sudah ada di depan rumahmu."

"Ayo bangun..!"

Sambil mengusap wajahnya Linda mengamati sekeliling, Dia melihat sang ibu telah berdiri menunggunya.

Mereka berdua turun dari mobil secara bersamaan, lalu Wira memperkenalkan diri, kemudian menceritakan semua yang terjadi semalam.

"Mohon maaf sudah membuat ibu khawatir, nama saya Wira, anggota polres kota, tadi malam Linda ikut dengan kami untuk meliput kegiatan patroli di kawasan bisnis club Black Rose."

"Dan semalam ada sedikit kejadian yang membuat dia harus ikut dengan saya."

"Tidak apa apa nak Wira, Ibu sudah melihat beritanya tadi di tv, terima kasih sudah mengantar anak ibu pulang."

"Sama sama bu, sekali lagi saya mohon maaf. Kalau begitu saya permisi dulu."

Wira berpamitan kepada Linda dan ibunya, lalu segera pulang menuju rumah. Rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat, membuatnya tertidur di sofa.

"Wira.. Wira..!"

Sesok wanita berdiri di hadapan Wira dengan wajah marah, pakaian wanita itu merah penuh darah.

"Siapa kamu, apa yang kamu inginkan?"

"Kembalikan barang milikku...!"

Wanita itu melayang seperti hendak mencekik leher Wira. Dia segera mundur beberapa langkah dengan wajah penuh keringat.

"Barang apa, barangmu yang mana?"

Wanita itu merangkak di dinding, mulutnya yang di penuhi belatung menganga seakan akan ingin melahap Wira.

"Kembalikan barang milikku Wira...!"

Seketika wajah wanita itu berubah jadi lebih lembut, Wira menangkap kesedihan yang dalam di raut wajah seramnya.

"Hana..."

Wira melihat wanita itu menuliskan sebuah nama di dinding dengan darah yang keluar dari kuku kuku jarinya yang tajam.

Wira terbangun dari tidur, tubuhnya di penuhi keringat dingin. Jam tangannya menunjukkan pukul enam belas. Udara sore begitu hangat menembus jendela kaca. Wira duduk sembari meminum segelas air, lalu menyeka keringat di wajah dan lehernya."

"Syukurlah itu semua hanya mimpi."

Wira masih terdiam merenung, dia terus memikirkan arti mimpi dan pesan apa yang ingin di sampaikan wanita itu, sampai dia hadir dalam mimpi dengan wujud yang seram.

"Hana.. Hana.. Siapa Hana ini?"

"Kenapa aku bisa bermimpi tentang dia?"

"Barang miliknya yang mana, yang aku bawa?"

Di tengah lamunannya tentang Hana, tiba tiba Wira mendengar sesuatu dari ruang tengah.

"Klotak..!"

Sesuatu terjatuh dari lemari, Wira bangun untuk mencari tahu barang apa yang terjatuh.

"Liontin ini, astaga aku lupa menyerahkan liontin ini kepada penyidik."

"Apakah gadis di foto ini adalah Hana?"

"Tapi wajah di mimpiku itu benar benar seram, apa mungkin dia Hana?"

"Aku harus cari tahu, siapa perempuan bernama Hana, kenapa dia bisa hadir di mimpi ku?"

Wira meletakkan lagi liontin di atas lemari, lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket karena menyelam ke dalam laut dini hari tadi.

Dua puluh menit kemudian Wira telah berpakaian dan siap untuk pergi ke kantor. Dia membawa Liontin gadis X di saku untuk menyerahkannya kepada penyidik.

Setibanya di kantor, Wira langsung menuju lantai dua. Siska dan beberapa staff kepolisian masih berada di kantor, mereka tengah bersiap siap untuk pulang.

"Lho, kok bapak ada disini, kami sudah akan pulang pak?"

"Iya Sis, saya datang sebentar saja, mau menyerahkan barang bukti kepada penyidik."

"Barang bukti kasus tadi pagi ya pak?"

"Bukan Sis, saya menemukan liontin ini di sekitar TKP penemuan jasad gadis X."

"Kemarin saya lupa menyerahkan benda ini kepada penyidik, jadi saya akan menyerahkannya sekarang."

"Tapi petugas yang menyimpan barang bukti sudah pulang pak, sebaiknya diserahkan besok pagi saja."

"Tidak bisa Sis, benda ini seperti memiliki aura magis. Gara gara liontin ini saya jadi mendapat mimpi buruk, hari ini."

"Maksud bapak liontin ini terkutuk?"

"Mungkin bapak hanya terlalu lelah memikirkan kasus gadis X sehingga terbawa dalam mimpi."

"Iya mungkin saja Sis, tapi mimpi ini benar benar aneh, wanita itu menulis nama Hana di dinding menggunakan darahnya."

"Sudah cukup pak jangan diteruskan lagi, cerita bapak tentang Hana membuat saya jadi merinding."

"Nah, kamu saja merinding mendengar cerita tentang Hana. Saya melihatnya langsung datang dalam mimpi, itu sebabnya saya harus segera menyerahkan liontin ini."

Siska diam mematung, tidak menjawab sepatah katapun, dia merasa ada yang tidak beres dengan liontin itu. Pikirannya mulai terpengaruh dengan cerita Wira.

"Oh iya Sis, bagaimana dengan perkembangan penyelidikan kasusnya, apa sudah ada temuan baru?"

"Terus terang saja saya sangat berharap kita bisa segera mengidentifikasi gadis X. Dan semoga dia benar benar Hana, gadis yang ada dalam liontin."

Pertanyaan Wira, memecah keheningan, Siska mencoba untuk mengalihkan pikirannya agar lebih rasional.

"Itu agak sulit pak, kita harus mencocokkan DNA gadis itu dengan salah satu anggota keluarganya."

Wira merasa buntu, kasus gadis X seolah olah jalan di tempat, tanpa petunjuk yang bisa mengarahkan mereka kepada pelaku yang telah tega membunuhnya.

Wira sempat terdiam, kemudian dia teringat dengan kasus wanita muda yang bunuh diri di mall.

"Kalau gadis yang meninggal bunuh diri di mall, apa kamu sudah menerima laporan tentang keluarganya Sis?"

"Sudah pak, Namanya Renata lahir di Mojokerto, alamatnya Di Surabaya timur dan semasa hidup dia tinggal dengan orang tuanya."

" Ok, Kerja bagus Sis ...!"

"Kalau begitu tolong kirim alamatnya ke phonesell saya, bosok usai apel saya akan mengunjungi keluarganya. Semoga saja kita akan menemukan petunjuk dari mereka."

"Siap komandan."

"Oh iya, Liontin ini kamu saja yang simpan."

Siska tidak bisa menolak ucapan komandannya. Dengan raut wajah cemberut dia meletakkan liontin dalam laci lalu cepat cepat meninggalkan kantor yang saat itu hanya tersisa mereka berdua di ruangan.

Wira kembali ke rumah menjelang senja, tidak seperti biasanya, usai makan malam dia langsung merebahkan tubuh di ranjang, dan sebentar kemudian dia langsung terlelap.

Hari berganti, seperti rencana kemarin Wira pergi menemui keluarga Renata di daerah Surabaya Timur.

Dia tiba di depan sebuah rumah kecil, sederhana, namun terlihat asri denga beberapa tanaman menghiasi halaman. Wira berhenti sejenak untuk memastikan rumah tersebut sesuai dengan alamat yang di berikan Siska.

"Rumahnya kecil tapi terlihat nyaman."

Wira ke luar dari mobil, lalu menyapa seorang wanita tua yang sedang sibuk membersihkan halaman sambil merapikan bunga bunga yang ada di teras.

"Permisi bu maaf mengganggu, apa betul ini rumah Renata?"

"Iya betul, anak ini siapa?"

"Saya Wira dari kepolisian bu, boleh kita bicara sebentar?"

Wanita tua itu mempersilahkan Wira masuk ke ruang tamu, lalu pergi ke dapur membuat segelas teh untuk menjamu Wira.

Tak lama kemudian, ia kembali ke ruang tamu sambil menyajikan segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng buatan sendiri.

"Ada masalah apa ya nak?"

"Renata anak saya sudah meninggal seminggu yang lalu, apakah dia masih menyisakan masalah?

"Oh tidak bu, saya cuma mau bertanya, apa putri ibu pernah mengenal gadis benama Hana, mungkin dia pernah bercerita tentang Hana atau barangkali ibu kenal dengan gadis yang bernama Hana?"

Wira menyodorkan foto liontin yang terdapat gambar wanita muda yang selama ini di sebutnya gadis X.

"Oh anak ini, tentu saja saya kenal dengannya, Hana sering berkunjung kemari, bahkan sampai menginap. Mereka berdua bersahabat sejak masih duduk di kelas satu SMA."

"Memangnya apa yang terjadi dengan Hana, nak Wira?"

"Mohon maaf sebelumnya Ibu, saya hanya ingin memastikan, apakah gadis di foto ini adalah Hana yang ibu kenal?"

"Iya, benar itu dia, Hana sudah lama tidak lagi berkunjung ke rumah ini. Kalau tidak salah ingat sejak dua hari sebelum Renata meninggal nak Wira."

"Jadi Renata sudah tidak bertemu Hana, sejak dua hari sebelum dia meninggal bu?"

"Apa Renata pernah cerita tentang Hana sebelum meninggal bu?"

"Hana anak yatim piatu, mereka bersahabat dari SMA, bahkan setelah lulus kuliah mereka berdua bekerja di tempat yang sama."

"Hana itu anak pintar, periang, pandai bergaul, cantik dan mandiri, karena itu dia di sukai banyak orang."

"Sebelum kepergiannya Renata sering gelisah, tidak tahu kenapa. Tapi yang Ibu ingat, Hana juga sudah tidak pernah main ke rumah sejak hari itu. Padahal sebelumnya dia sering datang bahkan menginap disini."

Wira mendengarkan penuturan Wanita tua itu dengan seksama. Dia mulai mendaptkan point point yang menurutnya bisa menjadi petunjuk.

"Apa Renata pernah mengeluhkan sikap Hana kepada Ibu, misalnya perilakunya yang mebuat Renata kesal, kisah asmara, atau masalah lain?"

Wira berusaha menggali lebih dalam tentang Hana dan Renata, dari ibunya. Selama ini kepolisian hanya mengetahui kalau motif Renata mengakhiri hidupnya adalah karena depresi.

"Tidak ada keluhan tentang Hana, hanya saja Renata pernah menyalahkan dirinya sendiri, karena mengenalkan Hana dengan pria kaya beristri."

"Jadi Renata mengenalkan Hana kepada pria yang sudah punya istri bu, lalu bagaimana hubungan Hana dan Renata setelah itu?"

"Mereka tetap berteman baik, bahkan Hana kelihatannya bahagia. Sejak jadi simpanan pria itu, gaya hidup Hana dan Renata berubah mewah, seperti wanita kalangan atas."

"Renata bahkan pernah mengajak ibu untuk tinggal di apartemen bersama mereka, tapi tentu saja ibu menolak karena lebih nyaman tinggal disini dengan banyak tetangga.

"Kalau saya boleh tahu, tempat kerja Hana dan Renata dimana ya bu?"

"Kalau ibu tidak salah ingat, mereka bekerja di Naga Jaya group, nak Wira."

Wira makin yakin kalau kematian Hana ada hubungannya dengan club Black Rose, karena Naga Jaya Group adalah perusahaan besar milik keluarga Anton Wijaya.

" Naga Group, perusahaan besar milik konglomerat Anton Wijaya kan bu?"

"Kalau soal itu ibu tidak tahu persis, maklum saja ibu ini orang kampung, tapi yang pasti gaji anak anak sangat besar."

"Mereka berdua selalu memenuhi kebutuhan ibu, lebih dari yang di butuhkan, maklum Hana anak yatim piatu. Jadi dia sudah menanggap saya sebagai orang tuanya."

"Lalu apa yang membuat Renata menyesal sudah mengenalkan ana kepada pria itu bu?"

"Entahlah nak, kalau itu ibu juga tidak mengerti, tapi dua hari sebelum meninggal dia tampak murung, seperti terus dihantui rasa bersalah terhadap Hana."

Wanita tua itu meneteskan air mata, saat mengenang persahabatan antara Hana dan Renata. Dia bahkan tidak tahu kalau Hana sebenarnya lebih dulu meninggal daripada Renata

"Mohon maaf, karena menoreh luka lama bu. Tapi dengan sangat menyesal harus saya sampaikan bahwa Hana juga sudah meninggal, bahkan sebelum Renata memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."

Air mata wanita itu tidak terbendung lagi, dia benar benar dirundung kesedihan, karena kedua anaknya ternyata telah pergi untuk selamanya.

Ada penyesalan dalam hati Wira, tapi dia terpaksa melakukan semua ini demi mengungkap misteri kematian Hana yang dipenuhi keganjilan.

Jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh. Wira meminta izin untuk kembali ke kantor. Wanita tua itu hanya mengangguk lalu menyeka air matanya.

Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!