Tepat pukul dua puluh dua malam seluruh anggota team sudah berada di titik kumpul, setiap orang bergerak sesuai dengan tugas masing masing.
Siska berdiri di bawah lampu jalan mengawasi sekeliling, dengan dandanan sexy, dia berjalan menuju club Black Rose. Dua orang penjaga di pintu masuk memperhatikan kemolekan Siska yang saat itu seperti sedang menunggu seseorang.
"Hallo sendiri saja?"
"Nunggu teman ya mbak?"
"Bagaimana kalau kita temani?"
Seorang penjaga datang menghampiri Siska, mencoba untuk menggoda. Pria kekar itu memperhatikan tubuh ramping Siska yang terbalut pakaian ketat dengan pandangan nakal khas pria hidung belang.
Sebenarnya Siska merasa jijik, tapi demi tugas dia harus berani totalitas, dalam penyamarannya. Dengan manja Siska akhirnya meladeni pria kekar di hadapannya.
"Iya om, Siska lagi cari teman yang traktir minum di dalam."
"Kira kira ada gak ya?"
Siska coba menggoda penjaga club agar memiliki koneksi, sehingga lebih leluasa bergerak, saat akan menjalankan misinya.
Wajah cantik Siska dan bahasa tubuhnya yang manja menggoda membuat gadis itu dengan mudah merebut hati penjaga, bahkan mereka, mengenalkan Siska dengan beberapa member tetap club.
"Kenalkan ini mas Angga dia member platinum, putra pengusaha hotel, dan restorant, yang disebelahnya mbak Anggi, seorang model."
"Hallo mas, saya Siska, senang berkenalan."
"Hai mbak Anggi, salam kenal."
Siska coba masuk dalam pergaulan member vip club Black Rose. Dia berencana memanfaatkan Angga yang sedari tadi terlihat mencuri pandang kepadanya.
"Kamu baru disini?"
Angga mulai membuka percakapan, mencoba untuk lebih dekat dengan Siska. Sementara Anggi menunjukkan ekspresi wajahnya yang nampak terganggu dengan kehadiran Siska.
"Ehm..iya mas, Siska baru di kota ini, baru satu minggu, sekarang lagi coba cari kerja."
"Bagaimana kalau kita ngobrol di dalam, mungkin saja saya bisa kasih kamu rekomendasi untuk kerja disini atau di restorant."
"Wah Siska mau mas, pokoknya bisa kerja."
Siska berusaha bersikap natural, dia berlagak seperti gadis lugu dari desa yang sedang mencari peruntungan di kota besar. Sebeliknya, Angga tersenyum penuh kemenangan, pria kaya itu merasa dia akan dapat bersenang senang dengan Siska malam ini.
Setelah Siska masuk bersama dua orang yang baru dikenalnya, Bayu dan Arjuna segera menyusul tepat di belakang.
Di dalam Arjuna memberi isyarat kepada Bayu dengan tangan kirinya dan mereka mulai berpencar untuk menyelidiki rahasia yang ada di balik bisnis club Black Rose.
Bayu menyelinap menuju belakang club sedang Arjuna menyelidiki lantai dua sembari mencari gadis bertato bintang sesuai dengan arahan Wira.
Dengan hati hati Bayu menyelinap hingga ke area gudang, setiap sudut ruangan diperiksa, tapi dia tak menemukan bukti apapun disana. Pun demikian pula dengan Arjuna, mereka berdua tidak menemukan ada hal yang mencurigakan.
"Sudah ku duga ini percuma, hanya membuang buang waktu saja."
Wahyu menggerutu, dengan kesal dia berjalan kembali ke depan, berpura pura akan mencari toilet, namun naas, Wahyu kurang waspada seorang penjaga telah mengawasi gerak geriknya.
"Bruak... Bruukk.. !"
Dua buah pukulan benda tumpul mendarat di kepala Bayu. Mata polisi muda itu berkunang kunang, lalu diapun ambruk tak sadarkan diri.
Seorang pria kekar betkumis, membopong tubuh bayu ke sebuah ruangan. Dia meletakkan tubuh bayu di lantai lalu mrngikat kaki dan tanganya.
Di ruangan Siska sangat gelisah berkali kali tangan Angga meraba raba pahanya. Siska menahan emosinya, sembari mencari cari kesempatan untuk keluar dari dituasi yang membuatnya tak nyaman.
"Jika bukan karena bertugas, aku pasti sudah memberi bogem mentah di wajahmu"
Siska bergumam dalam hati, dia geram dengan perilaku Angga, namun terpaksa harus tesenyum untuk mendapatkan informasi.
"Mas Angga sudah lama jadi member disini?"
"Sudah satu tahun, saya merasa cocok dengan pelayanan club ini, disini saya bisa banyak bertemu orang penting, salah satunya Anggi, dia model, dan putri pengusaha."
"Wah sudah lama sekali ya mas, pantas saja semua karyawan disini kenal mas Angga."
"Ya begitulah Sis, kslau mau saya bisa kenalkan kamu dengan mas Leo, dia pemilik club ini, mungkin kamu bisa diterima bekerja disini."
Siska terus mencari informasi dari Angga, seputar kegiatan bisnis Black Rose, sembari menyentil kasus kasus yang melibatkan Black Rose.
Angga cukup cerdik, dia bisa menyimpan rahasia Black Rose dengan cukup rapi, sehingga Siska tidak bisa mendapatkan banyak informasi darinya.
Merasa tidak ada informasi yang dapat digali lagi dari Angga, Siska pun berpikir untuk menyelidiki Bkack Rose dia beralasan ingin pergi ke kamar mandi untuk memperbaiki riasannya.
"Mas Angga, saya permisi ke toilet sebentar ya mas."
"Oh.. ya tentu, silahkan Sis."
Siska segera keluar dari ruang yang membuatnya tidak nyaman. Tanpa di ketahui, Angga menyuruh Anggi mengikuti Siska dari belakang.
Siska berjalan sambil memperhatikan ruang ruang yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesekali ia melepaskan senyuman kepada pengunjung lain.
Sementara itu tak jauh dari ruang VIP, Arjuna tengah mencari keberadaan Wahyu, jam tangannya menunjukkan pukul dua puluh empat tepat tengah malam, tapi dia belum juga menemukan Wahyu.
"Sial, kemana anak itu, aku harus segera mencarinya."
Arjuna memeriksa lantai satu, sambil melepas pandangan mengawasi sekeliling, tapi dia tak menemukan keberadaan Wahyu. Arjuna memutuskan menepi dari kerumunan sedikit merapat ke pintu keluar untuk berjaga.
"Mau kita apakan penyusup itu?"
"Tunggu perintah bos saja, jangan gegabah."
Tiba tiba saja Arjuna mendengar percakapan dua orang yang melintas di depannya. Perasaannya tidak enak, dia bergegas keluar mengikuti dua orang karyawan Black Rose yang baru saja melintas di hadapannya.
Di toilet wanita Siska yang sadar di buntuti Anggi, merubah rencana, dia coba untuk memancing emosi Anggi.
"Mbak Anggi, dari tadi ikuti saya ya?"
"Memang kenapa kalau, saya mengikuti kamu?"
"Tidak apa apa mbak, saya cuma agak risih, mbak Anggi jangan khawatir, saya tidak tertarik dengan mas Angga."
"Eh perempuan kampung, kata siapa saya cemburu sama kamu?"
"Jaga mulutmu, atau kamu akan terima akibatnya!"
Seperti yang diharapkan, Siska dan Anggi terlibat cekcok mulut, Anggi menjadi emosi dan melayangkan tangannya ke arah wajah Siska.
Siska memejamkan mata, bersiap untuk menerima tamparan Anggi, namun, Linda tiba tiba muncul dan menangkap tangan gadis kaya itu dengan kencang.
Saat itu Siska dan Linda melihat tato bintang di bahu Anggi, yang menguatkan keyakinan mereka, kalau tato itu adalah lambang organisasi atau perkumpulan.
"Tato bintang, artinya Anggi anggota dari sebuah perkumpulan, tepat seperti dugaan pak Wira."
Siska berbisik lirih, nyaris tidak terdengar, Linda menggandeng Siska keluar dari toilet, namun di depan pintu Angga dan dua orang security Black Rose, sudah menunggu.
"Kalian mau kemana buru buru?"
Angga langsung menghadang, dan memerintahkan empat pria untuk menangkap ke dua gadis itu.
"Lin, lari...!"
Siska coba menghalangi, agar Linda bisa lolos dan membiarkan dirinya menerima pukulan. Dengan panik Linda menerobos kerumunan ke arah pintu, namun dua penjaga segera masuk membekap Linda.
Tertangkapnya Linda sempat menjadi perhatian pengunjung, namun manajer club meyakinkan kalau tidak ada masalah serius.
"Tenang semuanya, tidak ada masalah, gadis ini hanya belum menyelesaikan tagihan, kami akan menyelesaikan ini segera, dan silahkan lanjutkan pestanya."
Pengunjung yang awalnya penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya bisa memaklumi setelah mendapatkan penjelasan dari manajer club melalui pengeras suara. Mereka kembali berpesta, tanpa menyadari sebuah tindak kejahatan terjadi di depan mata mereka.
Pada akhirnya kedua gadis itu tertangkap, Arjuna yang saat itu melihat Linda di bekap dengan sapu tangan, ingin mencari bantuan, namun seseorang mencegah, dia menyeret Arjuna menjauh dari keramaian untuk menghindari keributan.
"Lepaskan sialan, apa kau mau mati?"
"Ssssttt... tenang ini saya Wira."
"Oh.. Maafkan saya pak."
"Apa yang harus kita lakukan pak, mereka menangkap mbak Siska dan mbak Linda...!"
"Saya tahu, bukan hanya mereka berdua, tetapi wahyu juga."
"Lalu bagaimana pak, saya khawatir terjadi sesuatu dengan mereka."
"Kamu tenang dulu Jun, kita butuh rencana yang matang, tidak bisa grasak grusuk."
"Kali ini mereka sedang menjadi sorotan, jadi Leo pasti tidak akan gegabah, karena polisi pasti akan mudah membekuknya kalau salah langkah."
"Untuk sekarang kita kembali ke mobil, awasi saja mereka sampai semua club tutup, baru kita akan bergerak."
"Siap komandan."
Wira dan Arjun kembali ke sebrang, dimana mobilnya terparkir. Pengunjung club berangsur angsur meninggalkan Black Rose, Mereka terus mengawasi, sampai club itu benar benar tutup.
"Sekarang bagaimana komandan?"
"Awasi saja pergerakkan mereka Jun, saya yakin ada ruang rahasia di club itu yang tidak kita ketahui, saya akan masuk, dan kamu awasi keadaan."
"Tapi bagaimana kalau kita terlambat pak, saya khawatir mereka membunuh, ketiga anggota team kita."
"Sudah, ikuti perintah saya!"
Arjuna gelisah, dia sangat khawatir dengan keselamatan Linda, Siska, dan Wahyu. Namun Wira memintanya tetap tenang sembari mengawasi pergerakan karyawan Black Rose.
"Kamu tunggu disini, saya akan menyelinap ke dalam, kalau saya belum kembali dalam satu jam, kamu panggil bantuan!"
"Siap Komandan."
Wira berjalan dengan hati hati menuju club Black Rose, dari pintu samping terlihat karyawan club yang tengah membawa sampah, dengan sigap Wira melumpuhkan pria itu, menyekap kemudian mengenakan seragamnya untuk menyamar.
Wira masuk dengan santai, dia berpura pura merapikan meja sambil mencuri dengar obrolan karyawan.
"Mereka yang ditahan di bawah akan di bawa kemana mas Jon?"
"Saya tidak tahu Tok, bukan urusan kita, kamu dan saya cuma karyawan, tugas kita cuma kerja baik, dapat gaji, sudah selesai. Soal penyusup itu biar urusan manajer."
"Kita tidak usah ikut campur tok."
Wira mendengarkan percakapan dua orang karyawan, sembari berpura pura membersihkan meja bartender. Setelah mereka lengah Wira bergegas menyelinap ke ruang Manajer, untuk mencari tahu dimana tempat mereka di sekap.
"Doni, Heru, Jamal, Alex dengar saya!"
"Ya bos, ada apa?"
"Bos Leo baru berpesan, dua orang gadis itu bawa ke gudang peti kemas, jadikan satu dengan tiga gadis yang kalian tangkap kemarin."
" Ok Siap bos."
"Oh iya, kalian cari dua orang profesioanal, bunuh yang laki, jangan sampai meninggalkan jejak, faham kalian?"
"Siap bos, akan segera kami laksanakan."
Wira terkejut mendengar percakapan antara manajer dan empat orang security Black Rose. Untuk sesaat dia bimbang, apakah akan segera mencari bantuan dan menangkap manajer club dengan tuduhan penyekapan atau melanjutkan misi untuk menjerat Leo Hadi Wijaya bersama semua orang yang terlibat.
"Hana layak untuk mendapatkan keadilan, aku tidak boleh menyerah sampai disini."
Wira membulatkan tekadnya, dia akan terus menyelidiki kasus Black Rose sampai tuntas, apapun resikonya
Doni bersama ke tiga temannya keluar dari ruang manajer, menuruni tangga, lalu berjalan menyusuri lorong dan masuk ke gudang stock minuman, mereka membuka pintu rahasia yang berada di belakang lemari pendingin dengan senjata di tangan.
Wira terus mengikuti mereka dengan penuh kewaspadaan. Dari depan pintu, dia bisa melihat enam orang terbaring di sebuah kerangkeng.
Hati Wira mendidih, dia ingin segera mengambil tindakan, namun hatinya tertahan. Akal sehat Wira mengatakan dia harus bisa menyekesaikan kasus ini sampai tuntas agar tidak ada lagi gadis malang seperti Hana yang tewas sia sia.
Dengan hati hati Wira mengambil foto empat orang security Black Rose, beserta kerangkeng di bawah tanah tempat anggota teamnya di sekap.
Setelahnya, Wira segera kembali ke tempat ia menyekap karyawan Black Rose, dan buru buru mengganti pakaian lalu meninggalkan lokasi sebelum pria itu sadar dari pingsanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments