Bab 13 Ruang Rahasia

Tepat pukul dua puluh dua malam seluruh anggota team sudah berada di titik kumpul, setiap orang bergerak sesuai dengan tugas masing masing.

Siska berdiri di bawah lampu jalan mengawasi sekeliling, dengan dandanan sexy, dia berjalan menuju club Black Rose. Dua orang penjaga di pintu masuk memperhatikan kemolekan Siska yang saat itu seperti sedang menunggu seseorang.

"Hallo sendiri saja?"

"Nunggu teman ya mbak?"

"Bagaimana kalau kita temani?"

Seorang penjaga datang menghampiri Siska, mencoba untuk menggoda. Pria kekar itu memperhatikan tubuh ramping Siska yang terbalut pakaian ketat dengan pandangan nakal khas pria hidung belang.

Sebenarnya Siska merasa jijik, tapi demi tugas dia harus berani totalitas, dalam penyamarannya. Dengan manja Siska akhirnya meladeni pria kekar di hadapannya.

"Iya om, Siska lagi cari teman yang traktir minum di dalam."

"Kira kira ada gak ya?"

Siska coba menggoda penjaga club agar memiliki koneksi, sehingga lebih leluasa bergerak, saat akan menjalankan misinya.

Wajah cantik Siska dan bahasa tubuhnya yang manja menggoda membuat gadis itu dengan mudah merebut hati penjaga, bahkan mereka, mengenalkan Siska dengan beberapa member tetap club.

"Kenalkan ini mas Angga dia member platinum, putra pengusaha hotel, dan restorant, yang disebelahnya mbak Anggi, seorang model."

"Hallo mas, saya Siska, senang berkenalan."

"Hai mbak Anggi, salam kenal."

Siska coba masuk dalam pergaulan member vip club Black Rose. Dia berencana memanfaatkan Angga yang sedari tadi terlihat mencuri pandang kepadanya.

"Kamu baru disini?"

Angga mulai membuka percakapan, mencoba untuk lebih dekat dengan Siska. Sementara Anggi menunjukkan ekspresi wajahnya yang nampak terganggu dengan kehadiran Siska.

"Ehm..iya mas, Siska baru di kota ini, baru satu minggu, sekarang lagi coba cari kerja."

"Bagaimana kalau kita ngobrol di dalam, mungkin saja saya bisa kasih kamu rekomendasi untuk kerja disini atau di restorant."

"Wah Siska mau mas, pokoknya bisa kerja."

Siska berusaha bersikap natural, dia berlagak seperti gadis lugu dari desa yang sedang mencari peruntungan di kota besar. Sebeliknya, Angga tersenyum penuh kemenangan, pria kaya itu merasa dia akan dapat bersenang senang dengan Siska malam ini.

Setelah Siska masuk bersama dua orang yang baru dikenalnya, Bayu dan Arjuna segera menyusul tepat di belakang.

Di dalam Arjuna memberi isyarat kepada Bayu dengan tangan kirinya dan mereka mulai berpencar untuk menyelidiki rahasia yang ada di balik bisnis club Black Rose.

Bayu menyelinap menuju belakang club sedang Arjuna menyelidiki lantai dua sembari mencari gadis bertato bintang sesuai dengan arahan Wira.

Dengan hati hati Bayu menyelinap hingga ke area gudang, setiap sudut ruangan diperiksa, tapi dia tak menemukan bukti apapun disana. Pun demikian pula dengan Arjuna, mereka berdua tidak menemukan ada hal yang mencurigakan.

"Sudah ku duga ini percuma, hanya membuang buang waktu saja."

Wahyu menggerutu, dengan kesal dia berjalan kembali ke depan, berpura pura akan mencari toilet, namun naas, Wahyu kurang waspada seorang penjaga telah mengawasi gerak geriknya.

"Bruak... Bruukk.. !"

Dua buah pukulan benda tumpul mendarat di kepala Bayu. Mata polisi muda itu berkunang kunang, lalu diapun ambruk tak sadarkan diri.

Seorang pria kekar betkumis, membopong tubuh bayu ke sebuah ruangan. Dia meletakkan tubuh bayu di lantai lalu mrngikat kaki dan tanganya.

Di ruangan Siska sangat gelisah berkali kali tangan Angga meraba raba pahanya. Siska menahan emosinya, sembari mencari cari kesempatan untuk keluar dari dituasi yang membuatnya tak nyaman.

"Jika bukan karena bertugas, aku pasti sudah memberi bogem mentah di wajahmu"

Siska bergumam dalam hati, dia geram dengan perilaku Angga, namun terpaksa harus tesenyum untuk mendapatkan informasi.

"Mas Angga sudah lama jadi member disini?"

"Sudah satu tahun, saya merasa cocok dengan pelayanan club ini, disini saya bisa banyak bertemu orang penting, salah satunya Anggi, dia model, dan putri pengusaha."

"Wah sudah lama sekali ya mas, pantas saja semua karyawan disini kenal mas Angga."

"Ya begitulah Sis, kslau mau saya bisa kenalkan kamu dengan mas Leo, dia pemilik club ini, mungkin kamu bisa diterima bekerja disini."

Siska terus mencari informasi dari Angga, seputar kegiatan bisnis Black Rose, sembari menyentil kasus kasus yang melibatkan Black Rose.

Angga cukup cerdik, dia bisa menyimpan rahasia Black Rose dengan cukup rapi, sehingga Siska tidak bisa mendapatkan banyak informasi darinya.

Merasa tidak ada informasi yang dapat digali lagi dari Angga, Siska pun berpikir untuk menyelidiki Bkack Rose dia beralasan ingin pergi ke kamar mandi untuk memperbaiki riasannya.

"Mas Angga, saya permisi ke toilet sebentar ya mas."

"Oh.. ya tentu, silahkan Sis."

Siska segera keluar dari ruang yang membuatnya tidak nyaman. Tanpa di ketahui, Angga menyuruh Anggi mengikuti Siska dari belakang.

Siska berjalan sambil memperhatikan ruang ruang yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesekali ia melepaskan senyuman kepada pengunjung lain.

Sementara itu tak jauh dari ruang VIP, Arjuna tengah mencari keberadaan Wahyu, jam tangannya menunjukkan pukul dua puluh empat tepat tengah malam, tapi dia belum juga menemukan Wahyu.

"Sial, kemana anak itu, aku harus segera mencarinya."

Arjuna memeriksa lantai satu, sambil melepas pandangan mengawasi sekeliling, tapi dia tak menemukan keberadaan Wahyu. Arjuna memutuskan menepi dari kerumunan sedikit merapat ke pintu keluar untuk berjaga.

"Mau kita apakan penyusup itu?"

"Tunggu perintah bos saja, jangan gegabah."

Tiba tiba saja Arjuna mendengar percakapan dua orang yang melintas di depannya. Perasaannya tidak enak, dia bergegas keluar mengikuti dua orang karyawan Black Rose yang baru saja melintas di hadapannya.

Di toilet wanita Siska yang sadar di buntuti Anggi, merubah rencana, dia coba untuk memancing emosi Anggi.

"Mbak Anggi, dari tadi ikuti saya ya?"

"Memang kenapa kalau, saya mengikuti kamu?"

"Tidak apa apa mbak, saya cuma agak risih, mbak Anggi jangan khawatir, saya tidak tertarik dengan mas Angga."

"Eh perempuan kampung, kata siapa saya cemburu sama kamu?"

"Jaga mulutmu, atau kamu akan terima akibatnya!"

Seperti yang diharapkan, Siska dan Anggi terlibat cekcok mulut, Anggi menjadi emosi dan melayangkan tangannya ke arah wajah Siska.

Siska memejamkan mata, bersiap untuk menerima tamparan Anggi, namun, Linda tiba tiba muncul dan menangkap tangan gadis kaya itu dengan kencang.

Saat itu Siska dan Linda melihat tato bintang di bahu Anggi, yang menguatkan keyakinan mereka, kalau tato itu adalah lambang organisasi atau perkumpulan.

"Tato bintang, artinya Anggi anggota dari sebuah perkumpulan, tepat seperti dugaan pak Wira."

Siska berbisik lirih, nyaris tidak terdengar, Linda menggandeng Siska keluar dari toilet, namun di depan pintu Angga dan dua orang security Black Rose, sudah menunggu.

"Kalian mau kemana buru buru?"

Angga langsung menghadang, dan memerintahkan empat pria untuk menangkap ke dua gadis itu.

"Lin, lari...!"

Siska coba menghalangi, agar Linda bisa lolos dan membiarkan dirinya menerima pukulan. Dengan panik Linda menerobos kerumunan ke arah pintu, namun dua penjaga segera masuk membekap Linda.

Tertangkapnya Linda sempat menjadi perhatian pengunjung, namun manajer club meyakinkan kalau tidak ada masalah serius.

"Tenang semuanya, tidak ada masalah, gadis ini hanya belum menyelesaikan tagihan, kami akan menyelesaikan ini segera, dan silahkan lanjutkan pestanya."

Pengunjung yang awalnya penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya bisa memaklumi setelah mendapatkan penjelasan dari manajer club melalui pengeras suara. Mereka kembali berpesta, tanpa menyadari sebuah tindak kejahatan terjadi di depan mata mereka.

Pada akhirnya kedua gadis itu tertangkap, Arjuna yang saat itu melihat Linda di bekap dengan sapu tangan, ingin mencari bantuan, namun seseorang mencegah, dia menyeret Arjuna menjauh dari keramaian untuk menghindari keributan.

"Lepaskan sialan, apa kau mau mati?"

"Ssssttt... tenang ini saya Wira."

"Oh.. Maafkan saya pak."

"Apa yang harus kita lakukan pak, mereka menangkap mbak Siska dan mbak Linda...!"

"Saya tahu, bukan hanya mereka berdua, tetapi wahyu juga."

"Lalu bagaimana pak, saya khawatir terjadi sesuatu dengan mereka."

"Kamu tenang dulu Jun, kita butuh rencana yang matang, tidak bisa grasak grusuk."

"Kali ini mereka sedang menjadi sorotan, jadi Leo pasti tidak akan gegabah, karena polisi pasti akan mudah membekuknya kalau salah langkah."

"Untuk sekarang kita kembali ke mobil, awasi saja mereka sampai semua club tutup, baru kita akan bergerak."

"Siap komandan."

Wira dan Arjun kembali ke sebrang, dimana mobilnya terparkir. Pengunjung club berangsur angsur meninggalkan Black Rose, Mereka terus mengawasi, sampai club itu benar benar tutup.

"Sekarang bagaimana komandan?"

"Awasi saja pergerakkan mereka Jun, saya yakin ada ruang rahasia di club itu yang tidak kita ketahui, saya akan masuk, dan kamu awasi keadaan."

"Tapi bagaimana kalau kita terlambat pak, saya khawatir mereka membunuh, ketiga anggota team kita."

"Sudah, ikuti perintah saya!"

Arjuna gelisah, dia sangat khawatir dengan keselamatan Linda, Siska, dan Wahyu. Namun Wira memintanya tetap tenang sembari mengawasi pergerakan karyawan Black Rose.

"Kamu tunggu disini, saya akan menyelinap ke dalam, kalau saya belum kembali dalam satu jam, kamu panggil bantuan!"

"Siap Komandan."

Wira berjalan dengan hati hati menuju club Black Rose, dari pintu samping terlihat karyawan club yang tengah membawa sampah, dengan sigap Wira melumpuhkan pria itu, menyekap kemudian mengenakan seragamnya untuk menyamar.

Wira masuk dengan santai, dia berpura pura merapikan meja sambil mencuri dengar obrolan karyawan.

"Mereka yang ditahan di bawah akan di bawa kemana mas Jon?"

"Saya tidak tahu Tok, bukan urusan kita, kamu dan saya cuma karyawan, tugas kita cuma kerja baik, dapat gaji, sudah selesai. Soal penyusup itu biar urusan manajer."

"Kita tidak usah ikut campur tok."

Wira mendengarkan percakapan dua orang karyawan, sembari berpura pura membersihkan meja bartender. Setelah mereka lengah Wira bergegas menyelinap ke ruang Manajer, untuk mencari tahu dimana tempat mereka di sekap.

"Doni, Heru, Jamal, Alex dengar saya!"

"Ya bos, ada apa?"

"Bos Leo baru berpesan, dua orang gadis itu bawa ke gudang peti kemas, jadikan satu dengan tiga gadis yang kalian tangkap kemarin."

" Ok Siap bos."

"Oh iya, kalian cari dua orang profesioanal, bunuh yang laki, jangan sampai meninggalkan jejak, faham kalian?"

"Siap bos, akan segera kami laksanakan."

Wira terkejut mendengar percakapan antara manajer dan empat orang security Black Rose. Untuk sesaat dia bimbang, apakah akan segera mencari bantuan dan menangkap manajer club dengan tuduhan penyekapan atau melanjutkan misi untuk menjerat Leo Hadi Wijaya bersama semua orang yang terlibat.

"Hana layak untuk mendapatkan keadilan, aku tidak boleh menyerah sampai disini."

Wira membulatkan tekadnya, dia akan terus menyelidiki kasus Black Rose sampai tuntas, apapun resikonya

Doni bersama ke tiga temannya keluar dari ruang manajer, menuruni tangga, lalu berjalan menyusuri lorong dan masuk ke gudang stock minuman, mereka membuka pintu rahasia yang berada di belakang lemari pendingin dengan senjata di tangan.

Wira terus mengikuti mereka dengan penuh kewaspadaan. Dari depan pintu, dia bisa melihat enam orang terbaring di sebuah kerangkeng.

Hati Wira mendidih, dia ingin segera mengambil tindakan, namun hatinya tertahan. Akal sehat Wira mengatakan dia harus bisa menyekesaikan kasus ini sampai tuntas agar tidak ada lagi gadis malang seperti Hana yang tewas sia sia.

Dengan hati hati Wira mengambil foto empat orang security Black Rose, beserta kerangkeng di bawah tanah tempat anggota teamnya di sekap.

Setelahnya, Wira segera kembali ke tempat ia menyekap karyawan Black Rose, dan buru buru mengganti pakaian lalu meninggalkan lokasi sebelum pria itu sadar dari pingsanya.

Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!