Bab 18 Gaun Merah

Udara pagi menusuk kulit, kabut belum juga menipis, bahkan kicau burung tak terdengar. Sunyi yang begitu mencekam. Rimba raya selalu sukses menyajikan suasana horor yang bisa membuat bulu kuduk bergidik seketika.

Tomy keluar dari tenda, bau busuk menyengat menggangu indra penciumannya. Kabut tebal belum juga hilang, namun rasa mual membuat Tomy terpaksa keluar mencari sumber bau busuk yang membuat dirinya ingin muntah.

"Uweekk..!"

"Sial, aroma apa ini, baunya busuk sekali."

Tomy menggerutu, dia berjalan menembus kabut, sembari menutup hidungnya dengan masker. Jarak pandang hanya berkisar dua meter saja, tapi Tomy tak gentar, dia terus berjalan dengan mengandalkan indra penciumannya.

"Bruk..!"

"Sial apa lagi ini?"

Kaki Tomy menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh. Tangannya menyentuh benda berlendir berbau busuk. Tomy cepat cepat berdiri, dia langsung mundur beberapa langkah. Keringat dingin membasahi keningnya.

"Uweekkk...!"

Tomy benar benar terkejut, benda berlendir yang disentuhnya ternyata adalah bagian tubuh dari sesok mayat pria yang tewas terkena jebakan kayu tajam.

"Siapa pria ini, apa yang sedang terjadi disini?"

"Semoga pak Wira baik baik saja."

Tomy bergegas kembali ke tenda dan membersihkan tangannya. Dia buru buru membongkar tenda untuk melanjutkan mencari keberadaan Wira.

Semnetara itu Arjuna sudah berada di depan pondok, dia memeriksa seluruh isi pondok untuk mencari petunjuk. Seluruh pondok telah di periksa, namun Arjuna tidak menemukan apa apa.

"Pondok ini berantakan sekali, apa mungkin ini pondok yang di ceritakan Mila?"

"Kalau iya, berarti aku sudah dekat dengan lokasi pak Wira."

Arjuna melihat kompas, dan memeriksa peta. Setelah menandai pondok dia melanjutkan perjalanan untuk mencari keberadaan Tomy dan Wira.

"Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa kalian."

Arjuna bergumam dalam hati, dia berharap segera bertemu dengan semua anggota team. Setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan, akhirnya dia bisa menemukan bekas api unggun yang baru saja padam.

Dia merasa Tomy bermalam di tempat ini semalam. Kabut mulai menghilang, Arjuna bisa melihat jejak sepatu di tanah basah.

"Ini pasti jejak sepatu bang Tomy."

"Bang Tomy... bang..!"

"Abang dimana bang?"

"Ini saya Arjuna..!"

Dari jauh Tomy, bisa mendengar seseorang memanggil namanya. Dia segera berlari menuju arah suara, sembari menenteng senapan di tangannya.

"Arjuna...!"

"Hey Arjuna, saya disini..!"

"Jun kamu dimana?"

Arjuna menarik nafas dalam dalam, dia lega karena berhasil menemukan Tomy. Dia terus mengikuti suara Tomy, sampai akhirnya mereka bertemu dekat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi.

"Akhirnya, kita bisa ketemu bang."

"Saya senang Abang baik baik saja, tadi saya baru menemukan gubuk tempat para wanita di sekap, tapi pondok itu sudah kosong, sepertinya mereka telah memindahkan para wanita yang akan di jadikan tumbal ke suatu tempat."

"Tumbal..?"

"Tunggu dulu apa maksudmu dengan tumbal, dan para wanita, siapa yang kamu maksud dengan mereka?"

Tomy terkejut, dia coba mencerna ucapan Arjuna. Sepengetahuannya selama masuk ke dalam hutan, dia tidak pernah menemukan ada sebua pondok, apalagi ada para wanita yang disekap untuk dijadikan tumbal."

"Wanita yang kita tolong kemarin, hari ini sudah sadar. Namanya adalah Mila, dia bersama beberapa orang wanita telah di culik untuk di jadikan tumbal sebuah sekte."

"Entah ada kaitannya atau tidak, tapi menurut pikiran saya, Leo Hadi Wijaya ada kaitannya dengan semua ini."

Arjuna menjelaskan semua peristiwa kemarin, dan kecurigaannya, kepada Leo Hadi Wijaya. Dia sangat yakin kalau pewaris Naga Jaya Grup itu, ada di balik penculikkan Mila.

Bukan tanpa alasan, sejak Arjuna terlibat dalam misi yang di pimpin oleh Wira. Bintara muda itu mulai memahami cara berfikir komandannya. Menurutnya alasan Wira memburu Leo karena pengusaha itu adalah pimpinan sebuah organisasi rahasia, yang menumbalkan wanita dengan maksud tertentu.

"Dugaanmu mungkin saja benar Jun, tapi sebelum ada bukti yang jelas tentang kerlibatan Leo Hadi Wijaya dalam kasus ini, sebaiknya jangan buru buru membuat kesimpulan. Bisa saja dia adalah pion yang dimainkan oleh aktor dari balik layar."

"Sebaiknya kita lanjutkan mencari pak Wira, saya khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya. Tadi sebelum kamu datang kemari, saya menemukan tiga mayat disana."

Tomy menunjuk ke suatu tempat, kemdian dia menceritakan apa yang dia alami pagi ini. Arjuna makin yakin kalau mereka adalah bagian dari komplotan yang sedang di kejar Wira.

Mereka melanjutkan perjalanan, Arjuna menyimpan semua analisa dalam benaknya. Dia berharap bisa bertemu Wira agar segera bisa membuktikan semua kasus ini memang ada hubungannya dengan Leo Hadi Wijaya.

Hari menjelang siang, jam tangan Tomy menunjukkan pukul sebelas. Tapi mereka belum juga menemukan tanda tanda keberadaan Wira.

Mereka seolah sedang berputar putar ditempat yang sama, sampai akhirnya Tomy menghengikan langkahnya. Dia mengajak Arjuna untuk istirahat sembari memikirkan apa yang sedang mereka alami di hutan itu.

"Stop, berhenti dulu Jun!

"Ada apa Bang, kenapa berhenti disini?"

"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan hutan ini Jun, coba perhatikan pohon pohon itu, apa kamu tidak merasa kita hanya berputar putar ditempat yang sama?"

Arjuna memperhatikan sekeling. Dia baru sadar kalau mereka kembali ke titik semula, tempat dimana mereka bertemu pertama kali.

"Oh, astaga abang benar, kita sudah berjalan selama tiga jam dan kita hanya berputar putar saja di hutan ini."

"Itu yang mau saya katakan padamu Jun. Hutan ini seperti sebuah labirin, dan kita terjebak didalamnya."

Tomy terdiam sejenak, dia berpikir apa yang salah dengan mereka, dalam hati Tomy lalu berdoa sebisanya, sedang Arjuna mulai bosan, semua terasa tidak masuk akal. Dia mulai membuat ulah.

"Pak Wira...!"

"Bapak ada dimana?"

"Oey... Wiraaaa....!"

Arjuna berteriak teriak memanggil nama Wira, rasa lelah membuatnya kesal. Polisi muda itu tak bisa mengontrol diri, emosinya tidak setabil.

"Jun jaga ucapanmu, kita sedang berada di hutan, jangan memancing kemarahan alam semesta!"

Tomy sangat kesal dengan tingkah Arjuna, tapi dia bisa memaklumi sikap juniornya itu. Sudah tiga jam mereka berjalan kaki mengelilingi hutan dengan titik koordinat peta lokasi yang dikirim Wira dua hari yang lalu.

Jejak jejak yang ditinggalkan Wira sudah ditemukan. Artinya mereka sudah berada di jalur yang benar sesuai titik dalam peta. Tomy merasa ada sesuatu di hutan itu yang tidak dapat di jelaskan dengan nalar.

"Kalau mengikuti peta, seharusnya kita sudah dekat dengan lokasi pak Wira, jejak kaki dan mayat yang saya temukan, mereka tewas terkena jebakan yang di buat seseorang, dan saya yakin jebakan itu dibuat oleh pak Wira Jun."

"Bagaimana abang tahu, bisa saja jebakan itu di buat pemburu, dan bukan di buat oleh pak Wira."

"Tidak Jun, jebakan itu bagian strategi bertahan hidup, bukan untuk berburu binatang buas, dan teknik ini hanya dilakukan orang orang terlatih."

Mendengar ucapan Tomy, seketika Arjuna jadi terdiam. Dia kagum dengan sosok Wira, perwira muda itu diam diam menjadi idola baru bagi Arjuna.

Lama mereka duduk terdiam, masing masing memikirkan sesuatu dalam benaknya. Arjuna menyesali sikapnya yang kekanak kanakan, sedang Tomy berharap alam memberi tanda.

Dalam keheningan hutan rimba, tiba tiba saja Arjuna menangkap sesuatu yang berbeda di sekitarnya. Dia merasa hutan itu terlalu hening, bahkan suara serangga sejak pagi tadi tak terdengar ditelinganya.

Bulu kuduk Arjuna berdiri, tengkuknya terasa dingin, sudut matanya tiba tiba menangkap sekelebatan bayangan melintas di pepohonan.

Spontan Arjuna bangun dari duduknya. Tanpa mengucap sepatah kata, pemuda itu langsung berjalan mengikuti bayangan yang di lihatnya.

"Jun, kamu mau kemana?"

"Sial, bocah ini tak berhenti buat masalah. Apa yang dilakuakan anak itu sekarang?"

Tomy segera mengejar Arjuna yang berjalan cepat di depannya. Sikap aneh yang ditunjukkan juniornya itu, benar benar membuatnya khawatir dengan kesehatan Arjuna.

"Jun berhenti..!"

"Hey... Kamu ini kenapa bo**h..!"

"Jun, hey sadar...!"

Tomy terus menarik tangan Arjuna yang bejalan bagai orang linglung, dia bahkan berkali kali menepuk pipi juniornya, agar Arjuna mau menghentikan langkahnya dan sadar.

Tiba tiba Arjuna menunjuk jauh ke arah pepohonan, spontan Tomy mengikuti arah jari telunjuk Arjuna dan alangkah terkejutnya Tomy, kala melihat seorang gadis cantik bergaun merah, tersenyum ke arahnya dengan tatapan tajam.

Gadis itu melambai lambaikan tanganya, seolah ingin mengajak mereka ke suatu tempat. Dalam pikiran Tomy tidak ingin mengikuti gadis itu, tapi badannya tak bisa dikendalikan.

Tomy mengikuti gadis itu, meskipun hatinya berkata tidak.Tomy bingung karena dia bergerak diluar kuasanya. Seperti robot yang dikendalikan oleh remot kontrol, dia terus mengikuti gadis itu sama seperti yang di lakukan Arjuna.

"Celaka bagaimana ini, tubuhku tidak bisa dikendalikan."

Setelah jauh berjalan, tiba tiba saja gadis bergaun merah itu melompat ke dasar jurang, Tomy benar benar shock dengan apa yang baru ia saksikan.

Dia hampir saja ikut melompat bersama gadis itu, namun secara ajaib tubuhnya dapat dikendalikan seperti semula.

"Oh Tuhan hampir saja."

"Ada apa bang?"

"Kenapa kita ada disini?"

Arjuna tampak bingung mendapati dirinya berdiri di bibir jurang, meskipun tidak terlalu dalam tapi jurang itu bisa merenggut nyawa mereka.

"Gadis bergaun merah."

"Dia yang membawa kita kemari Jun."

Arjuna tidak mengerti apa yang diucapkan Tomy, tapi dia sangat penasaran dengan jurang yang ada di bawah kakinya saat ini.

"Ada apa di jurang itu, kenapa kakiku gatal ingin turun kesana?"

Arjuna langsung mengambil peralatan dalam ranselnya, dia bersiap siap untuk turun ke jurang. Tomy membiarkan Arjuna kali ini, dia hanya diam mematung tanpa mencegahnya sama sekali.

Terpopuler

Comments

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

👍👍

2023-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!