Udara pagi menusuk kulit, kabut belum juga menipis, bahkan kicau burung tak terdengar. Sunyi yang begitu mencekam. Rimba raya selalu sukses menyajikan suasana horor yang bisa membuat bulu kuduk bergidik seketika.
Tomy keluar dari tenda, bau busuk menyengat menggangu indra penciumannya. Kabut tebal belum juga hilang, namun rasa mual membuat Tomy terpaksa keluar mencari sumber bau busuk yang membuat dirinya ingin muntah.
"Uweekk..!"
"Sial, aroma apa ini, baunya busuk sekali."
Tomy menggerutu, dia berjalan menembus kabut, sembari menutup hidungnya dengan masker. Jarak pandang hanya berkisar dua meter saja, tapi Tomy tak gentar, dia terus berjalan dengan mengandalkan indra penciumannya.
"Bruk..!"
"Sial apa lagi ini?"
Kaki Tomy menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh. Tangannya menyentuh benda berlendir berbau busuk. Tomy cepat cepat berdiri, dia langsung mundur beberapa langkah. Keringat dingin membasahi keningnya.
"Uweekkk...!"
Tomy benar benar terkejut, benda berlendir yang disentuhnya ternyata adalah bagian tubuh dari sesok mayat pria yang tewas terkena jebakan kayu tajam.
"Siapa pria ini, apa yang sedang terjadi disini?"
"Semoga pak Wira baik baik saja."
Tomy bergegas kembali ke tenda dan membersihkan tangannya. Dia buru buru membongkar tenda untuk melanjutkan mencari keberadaan Wira.
Semnetara itu Arjuna sudah berada di depan pondok, dia memeriksa seluruh isi pondok untuk mencari petunjuk. Seluruh pondok telah di periksa, namun Arjuna tidak menemukan apa apa.
"Pondok ini berantakan sekali, apa mungkin ini pondok yang di ceritakan Mila?"
"Kalau iya, berarti aku sudah dekat dengan lokasi pak Wira."
Arjuna melihat kompas, dan memeriksa peta. Setelah menandai pondok dia melanjutkan perjalanan untuk mencari keberadaan Tomy dan Wira.
"Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa kalian."
Arjuna bergumam dalam hati, dia berharap segera bertemu dengan semua anggota team. Setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan, akhirnya dia bisa menemukan bekas api unggun yang baru saja padam.
Dia merasa Tomy bermalam di tempat ini semalam. Kabut mulai menghilang, Arjuna bisa melihat jejak sepatu di tanah basah.
"Ini pasti jejak sepatu bang Tomy."
"Bang Tomy... bang..!"
"Abang dimana bang?"
"Ini saya Arjuna..!"
Dari jauh Tomy, bisa mendengar seseorang memanggil namanya. Dia segera berlari menuju arah suara, sembari menenteng senapan di tangannya.
"Arjuna...!"
"Hey Arjuna, saya disini..!"
"Jun kamu dimana?"
Arjuna menarik nafas dalam dalam, dia lega karena berhasil menemukan Tomy. Dia terus mengikuti suara Tomy, sampai akhirnya mereka bertemu dekat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi.
"Akhirnya, kita bisa ketemu bang."
"Saya senang Abang baik baik saja, tadi saya baru menemukan gubuk tempat para wanita di sekap, tapi pondok itu sudah kosong, sepertinya mereka telah memindahkan para wanita yang akan di jadikan tumbal ke suatu tempat."
"Tumbal..?"
"Tunggu dulu apa maksudmu dengan tumbal, dan para wanita, siapa yang kamu maksud dengan mereka?"
Tomy terkejut, dia coba mencerna ucapan Arjuna. Sepengetahuannya selama masuk ke dalam hutan, dia tidak pernah menemukan ada sebua pondok, apalagi ada para wanita yang disekap untuk dijadikan tumbal."
"Wanita yang kita tolong kemarin, hari ini sudah sadar. Namanya adalah Mila, dia bersama beberapa orang wanita telah di culik untuk di jadikan tumbal sebuah sekte."
"Entah ada kaitannya atau tidak, tapi menurut pikiran saya, Leo Hadi Wijaya ada kaitannya dengan semua ini."
Arjuna menjelaskan semua peristiwa kemarin, dan kecurigaannya, kepada Leo Hadi Wijaya. Dia sangat yakin kalau pewaris Naga Jaya Grup itu, ada di balik penculikkan Mila.
Bukan tanpa alasan, sejak Arjuna terlibat dalam misi yang di pimpin oleh Wira. Bintara muda itu mulai memahami cara berfikir komandannya. Menurutnya alasan Wira memburu Leo karena pengusaha itu adalah pimpinan sebuah organisasi rahasia, yang menumbalkan wanita dengan maksud tertentu.
"Dugaanmu mungkin saja benar Jun, tapi sebelum ada bukti yang jelas tentang kerlibatan Leo Hadi Wijaya dalam kasus ini, sebaiknya jangan buru buru membuat kesimpulan. Bisa saja dia adalah pion yang dimainkan oleh aktor dari balik layar."
"Sebaiknya kita lanjutkan mencari pak Wira, saya khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya. Tadi sebelum kamu datang kemari, saya menemukan tiga mayat disana."
Tomy menunjuk ke suatu tempat, kemdian dia menceritakan apa yang dia alami pagi ini. Arjuna makin yakin kalau mereka adalah bagian dari komplotan yang sedang di kejar Wira.
Mereka melanjutkan perjalanan, Arjuna menyimpan semua analisa dalam benaknya. Dia berharap bisa bertemu Wira agar segera bisa membuktikan semua kasus ini memang ada hubungannya dengan Leo Hadi Wijaya.
Hari menjelang siang, jam tangan Tomy menunjukkan pukul sebelas. Tapi mereka belum juga menemukan tanda tanda keberadaan Wira.
Mereka seolah sedang berputar putar ditempat yang sama, sampai akhirnya Tomy menghengikan langkahnya. Dia mengajak Arjuna untuk istirahat sembari memikirkan apa yang sedang mereka alami di hutan itu.
"Stop, berhenti dulu Jun!
"Ada apa Bang, kenapa berhenti disini?"
"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan hutan ini Jun, coba perhatikan pohon pohon itu, apa kamu tidak merasa kita hanya berputar putar ditempat yang sama?"
Arjuna memperhatikan sekeling. Dia baru sadar kalau mereka kembali ke titik semula, tempat dimana mereka bertemu pertama kali.
"Oh, astaga abang benar, kita sudah berjalan selama tiga jam dan kita hanya berputar putar saja di hutan ini."
"Itu yang mau saya katakan padamu Jun. Hutan ini seperti sebuah labirin, dan kita terjebak didalamnya."
Tomy terdiam sejenak, dia berpikir apa yang salah dengan mereka, dalam hati Tomy lalu berdoa sebisanya, sedang Arjuna mulai bosan, semua terasa tidak masuk akal. Dia mulai membuat ulah.
"Pak Wira...!"
"Bapak ada dimana?"
"Oey... Wiraaaa....!"
Arjuna berteriak teriak memanggil nama Wira, rasa lelah membuatnya kesal. Polisi muda itu tak bisa mengontrol diri, emosinya tidak setabil.
"Jun jaga ucapanmu, kita sedang berada di hutan, jangan memancing kemarahan alam semesta!"
Tomy sangat kesal dengan tingkah Arjuna, tapi dia bisa memaklumi sikap juniornya itu. Sudah tiga jam mereka berjalan kaki mengelilingi hutan dengan titik koordinat peta lokasi yang dikirim Wira dua hari yang lalu.
Jejak jejak yang ditinggalkan Wira sudah ditemukan. Artinya mereka sudah berada di jalur yang benar sesuai titik dalam peta. Tomy merasa ada sesuatu di hutan itu yang tidak dapat di jelaskan dengan nalar.
"Kalau mengikuti peta, seharusnya kita sudah dekat dengan lokasi pak Wira, jejak kaki dan mayat yang saya temukan, mereka tewas terkena jebakan yang di buat seseorang, dan saya yakin jebakan itu dibuat oleh pak Wira Jun."
"Bagaimana abang tahu, bisa saja jebakan itu di buat pemburu, dan bukan di buat oleh pak Wira."
"Tidak Jun, jebakan itu bagian strategi bertahan hidup, bukan untuk berburu binatang buas, dan teknik ini hanya dilakukan orang orang terlatih."
Mendengar ucapan Tomy, seketika Arjuna jadi terdiam. Dia kagum dengan sosok Wira, perwira muda itu diam diam menjadi idola baru bagi Arjuna.
Lama mereka duduk terdiam, masing masing memikirkan sesuatu dalam benaknya. Arjuna menyesali sikapnya yang kekanak kanakan, sedang Tomy berharap alam memberi tanda.
Dalam keheningan hutan rimba, tiba tiba saja Arjuna menangkap sesuatu yang berbeda di sekitarnya. Dia merasa hutan itu terlalu hening, bahkan suara serangga sejak pagi tadi tak terdengar ditelinganya.
Bulu kuduk Arjuna berdiri, tengkuknya terasa dingin, sudut matanya tiba tiba menangkap sekelebatan bayangan melintas di pepohonan.
Spontan Arjuna bangun dari duduknya. Tanpa mengucap sepatah kata, pemuda itu langsung berjalan mengikuti bayangan yang di lihatnya.
"Jun, kamu mau kemana?"
"Sial, bocah ini tak berhenti buat masalah. Apa yang dilakuakan anak itu sekarang?"
Tomy segera mengejar Arjuna yang berjalan cepat di depannya. Sikap aneh yang ditunjukkan juniornya itu, benar benar membuatnya khawatir dengan kesehatan Arjuna.
"Jun berhenti..!"
"Hey... Kamu ini kenapa bo**h..!"
"Jun, hey sadar...!"
Tomy terus menarik tangan Arjuna yang bejalan bagai orang linglung, dia bahkan berkali kali menepuk pipi juniornya, agar Arjuna mau menghentikan langkahnya dan sadar.
Tiba tiba Arjuna menunjuk jauh ke arah pepohonan, spontan Tomy mengikuti arah jari telunjuk Arjuna dan alangkah terkejutnya Tomy, kala melihat seorang gadis cantik bergaun merah, tersenyum ke arahnya dengan tatapan tajam.
Gadis itu melambai lambaikan tanganya, seolah ingin mengajak mereka ke suatu tempat. Dalam pikiran Tomy tidak ingin mengikuti gadis itu, tapi badannya tak bisa dikendalikan.
Tomy mengikuti gadis itu, meskipun hatinya berkata tidak.Tomy bingung karena dia bergerak diluar kuasanya. Seperti robot yang dikendalikan oleh remot kontrol, dia terus mengikuti gadis itu sama seperti yang di lakukan Arjuna.
"Celaka bagaimana ini, tubuhku tidak bisa dikendalikan."
Setelah jauh berjalan, tiba tiba saja gadis bergaun merah itu melompat ke dasar jurang, Tomy benar benar shock dengan apa yang baru ia saksikan.
Dia hampir saja ikut melompat bersama gadis itu, namun secara ajaib tubuhnya dapat dikendalikan seperti semula.
"Oh Tuhan hampir saja."
"Ada apa bang?"
"Kenapa kita ada disini?"
Arjuna tampak bingung mendapati dirinya berdiri di bibir jurang, meskipun tidak terlalu dalam tapi jurang itu bisa merenggut nyawa mereka.
"Gadis bergaun merah."
"Dia yang membawa kita kemari Jun."
Arjuna tidak mengerti apa yang diucapkan Tomy, tapi dia sangat penasaran dengan jurang yang ada di bawah kakinya saat ini.
"Ada apa di jurang itu, kenapa kakiku gatal ingin turun kesana?"
Arjuna langsung mengambil peralatan dalam ranselnya, dia bersiap siap untuk turun ke jurang. Tomy membiarkan Arjuna kali ini, dia hanya diam mematung tanpa mencegahnya sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
👍👍
2023-08-24
0