Matahari telah tinggi, Wira terus membuntuti mobil van hitam. Rasa kantuk mulai menyerang, tapi dia tidak ingin kehilangan jejak, Wira terus memaksakan tubuhnya yang mulai letih.
"Sebenarnya mereka akan membawa tawanan kemana, tempat ini sudah sangat jauh dari kota, Apa yang mereka rencanakan?"
Rasa penasaran terus menggelayuti pikiran Wira, dia tidak bisa menebak rencana orang orang dalam mobil van itu.
Mobil van hitam terlihat masuk ke dalam hutan. Wira memutuskan untuk memarkirkan mobilnya cukup jauh dari pintu rimba agar tidak mengundang kecurigaan.
Wira menyembunyikan mobilnya cukup jauh dari pintu rimba. Daun dan ranting ranting kering di gunakan untuk menyamarkan mobil. Baru setelah itu Wira masuk ke dalam hutan.
Dengan skill mencari jejak, Wira berjalan kaki menyusuri jalur setapak, yang dilintasi mobil van hitam. Ia terus mengikuti jejak ban mobil, sampai masuk jauh ke dalam hutan. Rasa lelah, kantuk , dan lapar campur aduk. Beruntungnya Wira masih punya sebatang coklat dalam tas ranselnya.
Sembil berjalan Wira mengunyah sebatang coklat dan minum air mineral yang selalu tersedia dalam tas ransel miliknya. Untuk sementara waktu Wira selamat dari rasa lapar.
Wira terus mengikuti jejak ban mobil, sembari memasang mata dan telinga penuh waspada.
Setelah dua jam berjalan, akhirnya Wira berhasil menemukan mobil van hitam yang terparkir begitu saja. Wira berjalan mengendap endap mendekati mobil, untuk memeriksa isinya.
Ternyata mobil van hitam itu telah kosong. Wira berpikir para penculik, pasti berada tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobilnya
"Aku harus membuat rencana untuk menjebak mereka."
Wira beristirahat sejenak sambil memikirkan strategi untuk melumpuhkan para penculik. Setelah menyusun rencana, dia masuk lebih jauh ke dalam hutan. disana ia menemukan dua buah pondok berukuran cukup besar yang di jaga oleh beberapa pria yang mengenakan jubah hitam.
"Sial.. penjagaannya sangat ketat, bagaimana cara menerobos masuk ke pondok itu?"
Wira memutar otak, rasa lapar membuatnya sulit berpikir jernih. Dia harus bisa mencari tahu ada apa di dalam pondok. Tapi karena belum juga menemukan solusi, Wira hanya mengambil foto sekolompok orang yang berjaga di pondok. Setelah itu ia langsung pergi mencari sinyal, agar bisa meminta bantuan.
"Sial.. Kenapa tidak ada sinyal disini, aku harus bagaimana sekarang?"
Untuk beberapa saat Wira berpikir, mengecek pistol, dan persediaan magazine. Wira berniat akan membuat kegaduhan agar bisa memancing para penjaga, pergi meninggalkan pondok.
Hari sudah semakin sore, jam tangan Wira menunjukkan pukul enam belas, tapi kondisi hutan yang rimbun di kelilingi pohon pohon besar membuat sinar matahari terhalang. Suasana hutan menjadi lebih gelap.
"Semoga saja rencana ini berhasil membuat mereka menjauh dari pondok."
Wira membuat jebakan dengan alat seadanya, kemudian memulai rencananya. Dia mengambil tiga buah batu krikil berukuran sedang lalu melemparkannya ke arah pondok.
"Klotak .. Klotak.. Klotak...!"
Batu krikil tepat mengenai dinding samping pondok yang terbuat dari papan kayu tebal. Sontak kegaduhan itu membuat para penghuni pondok keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
" Woey... siapa disana?"
Rencana Wira untuk membuat kegaduhan sukses membuat semua penjaga pondok keluar untuk memburunya.
Degan senjata parang, kayu balok, dan busur panah, mereka memburu Wira yang berlari zig zag mengelilingi pondok. Bayangan tubuhnya tersamarkan oleh batang pohon, dan rimbun semak belukar.
"Kepung penyusup itu, jangan sampai lolos..!"
"Wuuuzzz.."
Anak panah di lesatkan, nyaris mengenai kepala Wira, untungnya dia masih sempat berguling. Lalu kembali berlari. Wira terus memancing orang orang yang mengejarnya ke arah jebakan yang telah di buat.
"Jleebb.."
"Aghk...!"
Kaki seorang pria dengan senjata kayu balok menginjak jebakan kayu runcing yang di tanam Wira. Pria itu menjerit memecah keheningan rimba. Kontan saja semua perhatian teman temannya tertuju pada pria itu.
Mereka jadi kian beringas, seorang pris gempal, keluar dari pondok dengan sepucuk senapan. Dia segera belari ke hutan, dan langsung bergabung untuk mencari keberadaan penyusup yang telah berani mengusik.
"Dimana kau bang**t, tunjukkan batang hidungmu!"
"Door...door...!"
Pria yang memegang senapan, menembak ke segala arah dengan membabi buta. Tanpa sadar dia terus berjalan menjauh dari pondok. Melihat peluang di depan mata, Wira segera berlari kencang menuju pondok, dengan belati yang terhunus di tangan.
Di dalam pondok Wira melihat dua buah kamar berukuran kecil yang terkunci dengan gembok besar. Dinding kayu yang tidak terlalu rapat membuatnya bisa mengintip.
Ada tiga orang gadis yang berada di dalam ruangan itu. Masing masing mereka berada dalam posisi duduk dengan tangan, dan kaki terikat. Sementara mulutnya di sumpal menggunakan lakban hitam.
Di kamar sebelah Wira melihat pemandangan serupa, tiga orang gadis terbaring di lantai. Kaki dan tangan mereka di ikat. Satu diantaranya mendapat luka parut di kening. Semua gadis terlihat dalam keadaan pingsan.
Wira sedikit kesal karena tidak melihat anak buahnya diantara mereka semua. Diapun bergegas menuju pondok yang lain untuk mencari tahu apakah Siska, Linda dan Wahyu berada di pondok itu.
Ternyata pintu pondok di biarkan terbuka lebar. Wira jadi leluasa melihat ke dalam. Pondok itu seperti tempat penyiksaan. Ada tiga buah kamar, satu meja besar, empat kursi, dan beberapa alat alat yang sepertinya digunakan untuk menyiksa.
"Sial.. Mereka juga tidak ada disini, lalu di bawa kemana mereka?"
Wira kesal, dia bingung, karena ternyata Siska dan kawan kawan tidak juga berada disana. Karena tidak menemukan apa apa di ruangan itu, Wira berencana akan membebaskan sandra. Dia mengambil beberapa benda yang mungkin dapat ia gunakan.
Baru saja keluar dari pondok, sialnya Wira telah melihat gerombolan orang yang mengejarnya. Dengan mengendap endap dia kembali kabur ke dalam hutan.
Malam tiba Wira mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Dia berhasil menemukan sebuah pohon besar yang memiliki lubang besar di tengah.
Wira memutuskan untuk beristirahat di dalam batang pohon dan menutup tubuhnya dengan jaket.
Rasa letih yang teramat sangat membuat Wira segera terpejam. Dia tidur dengan pistol di tangan.
Pagi dini hari Wira terbangun, udara dingin membuatnya tidak nyaman. Wira keluar dari batang pohon lalu memetik beberapa lembar daun kemudian memakannya.
Setelah matahari terbit, Wira memeriksa barang barang yang dia curi dari pondok, dia segera pergi untuk membuat jebakan, sembari mencari sinyal seluler agar dapat meminta bantuan.
Berbekal skil bertahan hidup yang ia pelajari, Wira membuat beberapa jebakan. Setelah memanjat pohon, yang cukup tinggi dia berhasil mengirim pesan dan share lokasi.
"Semoga pesan ini segera di terima."
Dengan penuh harap Wira turun kembali dari atas pohon, dia bergegas mendekati pondok, yang kini di jaga lebih ketat dari sebelumnya.
Wira terus mengamati pondok, tanpa disadarinya seseorang ternyata telah mengintip Wira tepat di belakang.
"Wesst..!"
Sebuah samberan kapak mengayun mengarah leher Wira, beruntung suara ranting yang di injak oleh pria yang menyerangnya terdengar, sehingga Wira berhasil menghindar tepat sebelum kapak menyabet lehernya.
"Buuuukkk..!"
Tendangan keras Wira berhasil bersarang di dada pria itu. Dia jatuh terjengkang ke belakang, dan kesempatan itu di gunakan Wira untuk menyerang.
Jual beli pukulan terjadi, Wira tidak memberi kesempatan pria itu untuk mengambil nafas. Dia terus melayangkan pukulan agar lawannya yang bertubuh gempal tak sempat mengambil kapak yang terlepas dari genggaman.
Pergulatan berlangsung beberapa menit, dan Wira terpaksa menusuk leher lawannya tepat ketika ia hendak berteriak meminta pertolongan.
"Mampus kau..!"
Dengan wajah geram, memerah, Wira bangkit, rahangnya mengeras tangannya dipenuhi darah segar.
"Sudah kepalang tanggung. Sepertinya ini adalah saatnya untuk melawan."
Wira melihat beberapa orang berlari ke arahnya. Suara gaduh pertarungan, rupanya terdengar hingga mengundang musuh mendekat.
Buru buru Wira mencabut pisau dari tubuh pria gempal yang telah terbujur kaku di depannya. Dia berlari ke hutan sembari menenteng kapak milik pria yang menyerangnya.
"Berkurang satu musuh.."
Ucapnya dalam hati, Wira berlari lincah diantara pepohonan. Dia bergerak bagai harimau yang bersiap menjebak memangsanya.
"Kurang ajar, penyusup itu telah membunuh Tomas. Ini tidak bisa dibiarkan, temukan orang itu, aku tak sabar inging mengulitinya."
Seorang berkumis tebal, bersenjata senapan laras panjang terlihat sangat geram, dia memerintahkan seluruh rekannya untuk memburu Wira.
Sadar tidak akan mampu menghadapi semua musuhnya, Wira memungut beberapa ranting lalu melemparkannya ke arah jebakan yang telah di siapkan.
"Trak.. krak.. trak...!"
Tiga batang kayu di lemparkan ke tiga arah yang berbeda. Sedangkan Wira mengendap endap pergi ke arah sungai. Mereka yang mendengar suara kayu yang di lempar, kemudian terpecah menjadi tiga kelompok.
"Jrab.. Akghk..!"
Sebuah rintihan melengking, menandakan seseorang telah terkena jebakan yang di pasang Wira. Itu artinya musuh telah berkurang satu.
"Bang hati hati, penyusup itu punya banyak ranjau!"
Seorang pria berbaju hitam dengan senjata busur baru saja menyelesaikan kalimatnya, ketika tiba tiba Wira yang berkamuplase, langsung menjerat lehernya. Pria itu tewas dengan seutas tali yang melingkar di lehetnya.
"Door..."
Letusan senapan mengenai lengan Wira. Polisi tampan itu meringis sambil menutup mulutnya. Dengan memegangi lukanya Wira berlari cepat menuju semak belukar.
"Baj***an itu terkena puluruku, kejar jangan sampai lolos."
Lima orang mengenakan pakaian serba hitam segera mengikuti ceceran darah Wira. Sambil terus melesatkan anak panahnya berkali kali.
"Jleb.. Akghk...!"
Sebuah anak panah kembali mengenai bahu Wira hingga membuatnya roboh, dan jatuh terguling ke lembah.
"Bang dia jatuh ke lembah..!"
Salah satu dari lima orang yang memburu Wira berteriak penuh kemenangan, dia menghujani lembah dengan melesatkan anak panahnya berkali kali.
"Hei Jang berhenti, jangan membuang buang anak panahmu sembarangan. Lebih baik turun ke bawah dan periksa mayatnya!"
Seseorang bernama Ujang segera turun ke bawah, untuk mencari tubuh Wira. Namun setelah sampai di bawah dia tidak menemukan Wira dimanapun.
"Bang, orang itu tidak ada..!"
Ujang terus mencari, namun dia tidak bisa menemukan Wira. Polisi itu menghilang seolah olah ditelan bumi. Hanya ada beberapa tetesan darah yang tercecer di tanah, namun ceceran itu terputus begitu saja.
"Sial, kalau begitu kita harus segera membawa calon persembahan ke kuil."
Pria berkumis tebal tampak gusar, dia langsung memerintahkan Ujang untuk naik ke atas, karena mereka harus segera membawa orang orang yang mereka sekap ke suatu tempat yang mereka sebut kuil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments