Bab 9 Perewangan

Malam menjelang, usai pertemuan rahasia dengan Anggota Sandikala, Anton Wijaya berjalan menuju bangunan lain di belakang rumah. Tepat dibelakangnya Ronggo Joyo berjalan mengikuti dengan sajen di tangan.

Anton Wijaya membuka pintu kayu jati berukir kembang khas Jepara. Semerbak Wangi dupa seketika menyeruak menusuk hidung. Mereka berdua masuk ke ruangan yang didalamnya terdapat sebuah patung dengan beberapa keris dan tombak yang tersusun rapi di wadah kayu berukir.

Dinding ruangan dihiasi lukisan ratu pantai selatan. Sedangkan di bawahnya terdapat sebuah meja kayu panjang dengan dua buah bokor kuningan yang masing masing berisi dupa dan air kembang tujuh rupa.

"Letakkan sajen itu disini Nggo. Kita akan mulai ritualnya sekarang."

"Baik mas."

Anton Wijaya duduk bersila lalu menutup mata penuh konsentrasi membaca mantra kidung jawa. Ronggo Joyo berada tepat dibelakang melakukan hal serupa.

Seketika aura ruangan berubah menjadi mistik. Benda benda bergetar gaduh. Patung yang di sembah Anton Wijaya bergerak lalu sosok wanita dengan mahkota muncul menembus patung.

"Apa yang kalian inginkan kali ini manusia?"

Sosok wanita cantik yang berdiri melayang di hadapan Anton berbicara dengan suara menggema menggetarkan hati.

"Bantu kami menyingkirkan orang di foto ini kanjeng ratu."

"Dia keturunan Susena, tidak mudah untuk menyingkirkan orang yang di lindungi perjanjian darah. Mereka sudah di jaga penguasa gunung turun temurun."

Mahluk cantik yang disebut Anton sebagai kanjeng ratu, mengingatkan bahwa musuh yang akan mereka hadapi, bukan orang sembarangan, Anton harus siap dengan resikonya.

"Apa kita tidak bisa menyentuhnya sama sekali kanjeng ratu, saya mohon tolong bantu kami."

"Tentu saja bisa, tapi harga yang harus kalian bayar sangat mahal, apa kalian sanggup?"

"Apapun syaratnya kanjeng ratu, kami akan mengusahakan, tapi tolong singkirkan orang ini dari jalan kami."

"Hahaha..."

"Kamu benar benar serakah Anton Wijaya, aku suka manusia penuh ambisi seperti kamu. Jangan lupa tambahkan tumbal untuk ku purnama ini. Aku butuh mereka untuk menjadi budak budakku."

"Baik kanjeng ratu, saya sudah siapkan tiga perawan untuk kanjeng ratu pada ritual purnama."

"Kamu sungguh pengikut setia yang baik hati Anton, aku harap kamu tidak akan membuat aku kecewa."

"Hahaha...!"

Sosok wanita bermahkota emas itu tertawa menggema lalu menghilang masuk menembus patung di hadapan Anton Wijaya. Kedua pria itu membuka mata lalu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan bangunan.

"Kita tinggal menunggu kabar, semoga saja keinginan kita untuk melenyapkan Martin dan koleganya berhasil Nggo."

"Saya juga berharap demikian mas Anton. Martin sudah lama membuat masalah dengan kita, saya pikir ini waktunya menyingkirkan kerikil tajam dari jalan."

"Terima kasih kamu selalu mendukung aku Nggo. Kalau tadi kamu tidak menyelamatkan Leo, mungkin hari ini aku harus memotong jari anak itu."

"Keluarga kami sudah ikut keluarga Wijaya puluhan tahun, bahkan mas Anton sudah menganggap saya sebagai saudara, sudah selayaknya saya menjaga keluarga ini dengan nyawa saya sendiri mas."

"Tapi kali ini aku ada permintaan khusus Nggo, tolong perhatikan Leo, anak itu butuh dibimbing. Dulu aku terlalu memanjakannya, jadi wataknya keras dan sulit di atur."

"Saya akan menasehatinya mas, dari sekarang sebisa mungkin saya akan mencegah Leo berbuat konyol lagi seperti kemarin."

"Sebentar lagi ritual purnama, tolong kamu siapkan semuanya jangan sampai kurang. Aku tidak mau kita terkena bala karena kemurkaan kanjeng ratu. Cukup sekali aku kehilangan anak, jangan terulang lagi Nggo."

"Nggih, mas Anton jangan khawatir, saya akan mengawasi langsung detil persiapan upacara tumbal. Kita butuh menyenangkan kanjeng ratu supaya Martin bisa di bungkam."

"Terima kasih Nggo kamu memang sahabat sejati, aku butuh orang seperti kamu disisiku."

Kedua sahabat itu berjalan menuju rumah utama sambil membahas semua hal tentang rencana untuk menyerang Martin beserta seluruh kolega koleganya.

Senin pagi, di kantor berita Surya, Linda tengah sibuk menulis artikel berita tentang tewasnya karyawan Black Rose bernama Agus. Beritanya masih hangat jadi perbincangan warga kota karena pelaku masih belum tertangkap.

Di depan halaman kantor terlihat dua orang polisi berjaga dengan senjata lengkap di temani oleh seorang security. Sejak teror bom polisi sengaja menempatkan petugas untuk berjaga.

Jam sembilan pagi mobil Wira masuk halaman parkir Kantor berita Surya, hari ini dia berencana menemui Linda untuk membujuk wartawan itu agar bersedia ikut bergabung dalam misi yang akan dipimpinnya.

"Selamat pagi Lin, maaf datang pagi pagi begini. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Apa kita bisa mengobrol sebentar di luar?"

"Oh tentu saja pak, untuk komandan Wira saya selalu punya banyak waktu. Kita bicara di coffe shop depan ya pak."

Linda memberi usul sembari berdiri, merapikan laptopnya. Wira langsung menerima usulan Linda, kemudian mereka berdua berjalan menuju coffe shop yang berada tepat di sebrang jalan.

"Jadi apa yang mau kita bahas pak, kok sepertinya serius sekali?"

"Begini Lin, kamu ingat soal kasus gadis X, sebenarnya namanya Hana, dia sahabat wanita yang bunuh diri di mall."

"Dari mana bapak tahu?"

"Kamu ingat liontin yang kita temukan, foto di liontin itu adalah Hana. Gara gara liontin itu, dia hadir di mimpi saya."

"Bapak mimpi tentang gadis di kamar jenazah itu?"

"Iya Lin, dari mimpi itu saya mendapatkan namanya."

"Berarti kita bisa mencari keluarganya dong pak?"

"Hana yatim piatu, saya baru mengetahui kalau Renata, gadis yang bunuh diri di mall adalah sahabatnya."

"Ibu Renata sudah menceritakan semuanya, dan dugaan saya mengerucut pada Leo Hadi Wijaya pemilik Black Rose."

"Jadi bapak sudah menemui keluarganya?"

"Ini akan jadi berita besar, izinkan saya menulis berita ini pak!"

Linda terlihat semangat untuk mengikuti perjalanan kasus Hana, dia berharap agar Wira melibatkannya dalam penelusaran kasus agar bisa menulis berita tentang Hana secara ekslusif.

"Tujuan saya menemui kamu, memang untuk mengajakmu bergabung di misi kasus Hana."

Wira sangat senang, ternyata Linda tertarik dengan kasus Hana, dia jadi tidak perlu bersusah payah membujuk wartawan itu untuk bergabung dalam misi.

Di kantor Naga Jaya grup, Anton Wijaya terlihat risau, dia fokus menatap langit dari jendela besar di samping meja kerjanya.

"Semoga sudah ada tanda yang diberikan kanjeng ratu hari ini."

Dalam kegelisahan menunggu pertanda dari mahluk yang disebutnya kanjeng ratu. Tiba tiba Anton Wijaya di kejutkan dengan seseorang yang menerobos masuk ruang kerjanya.

"Hallo tuan Anton Wijaya, senang melihat anda baik baik saja pagi ini, terima kasih untuk kiriman anda semalam."

Kehadiran pria bernama Martin membuat Anton Wijaya kaget. Dia tidak percaya kalau pria yang memeluknya saat ini adalah Martin pesaing bisnisnya.

"Jangan khawatir pak Anton, hanya sedikit luka kecil, saya belum akan membalas, tapi lain kali anda akan merasakan akibatnya jika berani perang terbuka."

"Saya pastikan anda tidak akan mampu berdiri lagi."

Martin berbisik di telinga Anton Wijaya dengan kalimat bernada mengancam. Setelahnya Martin menepuk bahu saingannya itu, kemudian pergi begitu saja.

Anton Wijaya bisa melihat tangan kanan Martin terbungkus perban. Dia geram sambil memukul meja dengan kepalnya.

"Kali ini kamu hanya beruntung Martin, tapi lain kali aku pastikan kamu datang kemari dengan merangkak."

Ronggo Joyo masuk menghampiri Anton Wijaya, dia melihat ekspresi marah di wajah Direktur Utama Naga Jaya grup.

"Tenang mas Anton kita tidak gagal, saya lihat dia terluka, artinya benda yang kita kirim ada yang menembus pagarnya."

"Kita hanya mujur Nggo, mungkin kemarin malam perewangan Martin berada pada titik lemah. Tapi lain kali kita belum tentu bisa menghajarnya."

Ronggo berusaha menghibur Anton Wijaya, untuk meredakan amarahnya. Dia memikirkan satu cara untuk melindungi Anton Wijaya dan keluarganya dari serangan balas dendam martin.

"Aku harus segera mengadakan ritual, Martin bukan orang sembarangan yang bisa dianggap remeh."

Ronggo Joyo meninggalkan Anton Wijaya yang sudah mulai tenang. Dia segera mengendarai mercy clasic miliknya menuju sebuah bangunan tua yang terletak di tepi hutan luar kota Surabaya.

Dua jam lebih berkendara dia sampai di sebuah jalan tanah berbatu. Beberapa ratus meter kemudian Ronggo berhenti di halaman sebuah bangunan tua mirip gereja peninggalan Belanda.

Di belakang bangunan banyak terdapat makam makam tanpa batu nisan yang berjajar hingga batas hutan.

Penduduk sekitar tak pernah mengetahui riwayat bangunan ini, mereka hanya menyebutnya rumah ujung aspal.

Di sore hari, bangunan yang disebut penduduk lereng gunung sebagai rumah ujung aspal, akan terlihat sangat suram. Aura wingit kental terasa di sekitar bangunan.

Mereka yang bernasib sial karena terlambat pulang usai mencari kayu di hutan, sering kali melihat penampakan mahluk tinggi besar dekat beringin kembar yang ada di halaman rumah.

Itu sebabnya tidak ada lagi orang yang berani melintas disana. Warga sekitar bahkan tak pernah tahu kalau di rumah ujung aspal pada malam malam tertentu selalu digunakan sebagai tempat ritual tumbal.

Ronggo berjalan masuk melalui sebuah pintu yang berukuran besar, di dalam dia menyalakan beberapa obor sebagai sumber penerangan.

Selanjutnya Ronggo berjalan menyusuri lorong lalu menuruni anak tangga di balik altar, dengan lentera di tangan. Dia melangkah perlahan menuju ruang bawah tanah yang pengap dan gelap.

Ronggo meletakkan lentera di lantai batu lalu duduk di sebuah lingkaran berbentuk sigil. kemudian bersemedi untuk memanggil kekuatan hitam yang bersemayam.

Kidung mantra dinyanyikan, lalu sebentar kemudian tubuh Ronggo bergetar hebat bagai tersengat listrik.

"Aghk...!"

Ronggo menyeringai seperti binatang buas, lalu beberapa saat kemudian ia ambruk di lantai tak sadarkan diri hingga pagi menjelang.

Cukup lama Ronggo baru tersadar, ia mendapati pakaiannya terkoyak koyak, dengan luka penuh darah di sekitar dada dan punggung.

Sambil meringis menahan perih Ronggo duduk sempoyongan. Dia memejamkan mata sejenak, lalu berusaha bangkit dan berjalan tertatih keluar dari bangunan tua.

Matahari telah terbit, langit berwarna kuning ke emasan Ronggo masuk ke mobil dan sebentar kemudian mercy clasic itu melaju kencang kembali ke Surabaya.

Di suatu tempat Martin tengah melepas perban ditangan kanannya. Rasa perih menjalar hingga otaknya, beberapa kali ia melontarkan caci maki dengan menyebut nama Anton Wijaya.

"Akgghk...sial Anton Wijaya, kamu harus membayar rasa sakit ini."

Seorang wanita tua berkebaya hitam meraba tangan Martin yang melepuh, rasa panas mengalir ke sekujur tubuhnya, dengan perlahan wanita itu mengusap tangan yang melepuh dengan ramuan kembang.

Martin kesakitan, dia pingsan karena tak sanggup menahan perih yang teramat sangat di tangan kanannya.

Wanita tua itu tersenyum sinis, dia membiarkan tubuh Martin tergeletak di atas sebuah balai bambu, sementara dirinya masuk ke dalam bilik untuk melakukan ritual.

Satu jam kemudian wanita tua berkebaya hitam keluar bilik, dia memeriksa luka bakar di tangan Martin yang ternyata sudah hilang sepenuhnya.

"Martin.. Hey martin.. Bangun nak..!"

Seperti baru tersadar dari tidur Martin membuka matanya lalu melihat tangannya yang melepuh sudah sembuh tanpa bekas.

"Kamu belum sembuh betul, minum ramuan ini selama tiga hari agar luka dalammu benar benar pulih."

"Baik bu terima kasih, saya pasti akan menghabiskan ramuan ini."

"Kamu punya masalah dengan siapa nak, kenapa lukamu bisa separah itu?"

"Anton Wijaya, pemilik Naga Jaya grup bu."

"Hati hati dia punya perewangan yang tidak bisa diremehkan, saran ibu kamu jangan bermusuhan dengannya."

"Tapi Martin harus memberi pelajaran orang itu, dia harus membayar kontan untuk rasa sakit ku bu."

"Kamu keras kepala seperti ayah, ya sudah terserah, ibu sudah tidak mau lagi ikut campur dengan urusan duniawi. Hanya ini yang bisa ibu berikan, semoga saja kamu diberikan keselamatan."

Martin bersimpuh, mencium jari wanita yang di panggilnya ibu. Wanita itu mengusap rambut Martin dengan raut wajah sedih lalu memberinya sebuah keris kecil.

"Saya pamit dulu bu, jaga diri ibu baik baik."

Wanita tua itu tidak menjawab, ia hanya berdiri mematung melepas kepergian Martin dengan senyum getir, seolah olah dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada putranya.

Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!