Ronggo Joyo menatap langit, dengan raut wajah tegang, tampak kecemasan dalam hatinya. Pengacara keluarga Wijaya itu seperti telah mendapatkan firasat buruk akan menimpa Anton Wijaya.
Dengan terburu buru Ronggo Joyo berlari menuju ke bawah, lalu masuk ke mobil dan tancap gas menuju rumah Anton Wijaya.
"Ini belum saatnya, terlalu cepat untukmu meninggalkan dunia ini Anton Wijaya. Kami masih butuh kamu untuk mencapai kelanggengan."
Sambil menyetir, Ronggo Joyo terus mengawasi pergerakan awan hitam. Keringat mengalir di kening pria paruh baya itu, dia berlomba dengan waktu seolah tak ingin tertinggal walau hanya sedetik.
Mercy clasic masuk ke halaman rumah mewah milik Anton Wijaya. Ronggo Joyo Segera turun dari mobil lalu menerobos masuk ke lantai dua tanpa menghiraukan security yang berjaga di depan pintu.
"Akghk...!"
Terdengar erangan kesakitan dari sebuah kamar di lorong sebelah kanan tangga. Semua orang yang mendengar terkejut, mereka menghambur ke kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Anton Wijaya.
"Gusti, aku terlambat..!"
Ronggo Joyo melihat Anton Wijaya roboh di lantai sambil memegangi dadanya. Direktur utama Naga Jaya itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Anton Wijaya berusaha bangkit. Ronggo Joyo bergegas menopang tubuh ringkih sahabatnya itu menuju bangunan di belakang rumah.
"Sedikit lagi mas Anton, bertahanlah."
Ronggo Joyo membaringkan tubuh Anton Wijaya di sebuah meja marmer, lalu segera melakukan ritual. Wajahnya menegang, keringat bercucuran, dengan sebuah belati kecil Ronggo menyayat dada Anton yang menghitam.
Anton Wijaya kehilangan kesadarannya, Ronggo joyo kian panik, mulutnya komat kamit melantunkan mantra. Darah hitam terus mengalir dari dada yang disayat belati.
"Semoga saja tidak terlalu parah."
"Martin memang hebat, dia sanggup menembus pertahanan rumah ini."
Ronggo mengambil bokor yang di penuhi darah hitam milik Anton Wijaya lalu membungkusnya dengan kain putih. Setelah itu Ronggo membersihkan luka Anton Wijaya, dan menaburkan ramuan herbal di luka sayat.
Untuk beberapa lama Ronggo mematung tak melakukan apa apa. Dia hanya menunggu hingga tubuh Anton memberi tanda.
"Syukurlah tubuhnya masih bisa menerima serangan santet dari Martin, kalau tidak dia pasti sudah kehilangan nyawanya sekarang."
Ronggo menyeka keringat di sekujur tubuhnya, raut wajahnya yang tadi tampak tegang, sudah mulai tenang.
"Bagaimana keadaan Ayah, Om?"
Tiba tiba saja Leo menerobos masuk, mengejutkan Ronggo yang sejak tadi hanya terdiam tak melakukan apa apa.
"Dia sudah membaik, semoga ayahmu bisa melewati masa kritisnya nak Leo."
"Siapa orang yang berani melakukan ini kepada Ayah, om?"
"Martin, dia membalas, apa yang kami lakukan kepadanya beberapa hari lalu."
"Martin..?"
"Kurang ajar kamu Martin, aku pasti akan buat perhitungan denganmu!"
Leo membalik badannya bermaksud akan pergi menemui Martin, namun tangan Ronggo tiba tiba mencengkram lengan Leo dengan sangat kuat.
"Anak konyol, kamu pikir siapa Martin itu?"
"Tapi om, aku harus memberi pelajaran orang itu."
"Anak ingusan, Martin bukan orang sembarangan Leo, lihat yang dia lakukan kepada Ayahmu, apa kamu mau mati konyol?"
"Sudah, turunkan emosimu, jangan menambah masalah lagi. Martin biar jadi urusan om Ronggo. Tugasmu hanya mencari tumbal perawan, faham?"
Seketika mental Leo jatuh, nyalinya menjadi ciut dihadapan Ronggo Joyo. Kemarahan Ronggo Joyo sanggup membuat Pria temperamen itu tertunduk, terlihat dia sangat segan kepadanya.
Entah apa yang dimiliki pria paruh baya itu, tapi semua orang segan kepadanya, bahkan anggota sandikala yang merupakan kumpulan para konglomerat, yang dikenal memiliki perewanganpun tidak ingin punya masalah dengan Ronggo Joyo.
"Ronggo.. Ronggo.. !"
"Iya mas, saya ada disini."
Anton Wijaya tersadar dari pingsan, masa kritisnya sudah berlalu. Leo sangat lega karena ternyata Ayahnya mampu bertahan dari gempuran santet yang dikirimkan Martin melalui udara.
"Minum ini mas, jangan di sisakan!"
"Leo, bantu om mengangkat tubuh ayahmu ke mobil!"
"Tapi om, ayah masih lemah."
"Sudah jangan banyak bicara, bantu om mimindahkan ayahmu, rumah ini tidak aman lagi untuk kita."
Rumah Anton Wijaya masih di selimuti awan hitam, Leo bersama seorang penjaga, membantu Ronggo Joyo memindahkan tubuh Anton Wijaya ke mobil, lalu mereka bertiga segera pergi dari rumah menuju lereng gunung Anjasmara dimana bangunan tua yang disebut warga rumah ujung aspal berada.
Leo menyetir mobil dengan rasa was was dalam hati. Sementara Ronggo Joyo menjaga tubuh Anton yang terkulai lemas sembari mengamati langit malam yang di selimuti awan hitam pekat.
Waktu terasa begitu lama, Leo gelisah, suasana malam itu benar benar mencekam. Mobil mulai memasuki jalan tanah berbatu, Leo melempar pandangan ke sekitar, terlalu sunyi, bahkan suara serangga malam tidak terdengar.
Mobil berhenti di halaman bangunan tua, dengan hati hati Ronggo Joyo memapah Anton Wijaya masuk ke dalam bangunan, sementara Leo menyalakan obor yang menempel di dinding ruangan.
"Bantu om memapah ayahmu turun ke bawah Leo!"
Ronggo menggeser pintu rahasia di balik altar sementara Leo mematung terperangah melihat ruang gelap di bawah tanah yang sama sekali belum pernah di lihatnya.
"Hey.. Leo, jangan diam saja, ayo bantu om memapah ayahmu!"
"I..iya.. om..."
Leo menelan ludahnya, tenggorokkanya tercekat, ada perasaan gentar dalam hatinya. Sambil gemetar Leo membantu Ronggo Joyo memapah ayahnya menuruni anak tangga. Tangan kanan Leo menggenggam erat sebuah lentera, sementar matanya melirik kekanan kiri penuh waspada.
"Ini tempat apa om, kenapa saya baru melihat ruangan ini sekarang?"
Ronggo Joyo enggan memberi jawaban, dia memerintahkan Leo membaringkan tubuh ayahnya di lantai batu bergambar bintang dengan lingkaran di tengahnya.
Leo melihat patung mahluk besar bertanduk berada tepat di hadapan mereka. Aroma anyir darah, dan rungan yang lembab membuat bulu kuduknya merinding.
"Disini Ayahmu aman, mereka tidak akan sanggup menembus dua penjaga yang membentengi tempat ini."
"Kita mau di tempat ini sampai berapa lama om?"
" Setidaknya sampai ayahhmu pulih, kalau om tidak salah perhitungan besok pagi saat matahari terbit ayahmu sudah bisa bangun, walaupun tenaganya belum pulih betul."
"Untuk sekarang kuil ini jauh lebih aman dari tempat manapun, mahluk mahluk perewangan Martin pasti masih berkeliaran memburu kita di luar sana."
"Martin sialan, andai saja bisa mendekatimu, meski harus hilang nyawa, aku pasti akan menikam jantungmu!"
"Om sudah mengingatkan kamu berulang kali Leo, tekan emosimu, atau kamu akan mati gara gara emosimu itu!"
"Kemampuanmu tidak sebabanding dengan Martin. Dia keturunan Susena yang menaklukan raja demit di empat penjuru."
"Apa dia sekuat itu?"
"Kalau gitu ajari aku om, aku harus bisa mengalahkan martin demi ayah."
"Saya mau, tapi kamu pasti tidak akan mampu Leo."
"Perkara mistis bukan sesuatu yang bisa kamu anggap enteng, bisa bisa jiwamu menjadi taruhannya, paling sedikit kamu akan gila jika tidak kuat."
"Sudahlah ini biar jadi urusan kami, kamu sebaiknya siapkan diri sebagai penerus Naga Jaya grup, urusan lain biar kami yang akan selesaikan."
Dalam hati Leo merasa dongkol, dihadapan Ronggo Joyo, dia selalu dianggap bocah yang tidak akan mampu melakuan tanggung jawab.
Tepat tengah malam Ronggo Joyo melakuan sebuah ritual, dia mengiris telapak tangan dengan belati menuliskan sesuatu dilantai kemudian sisanya di gunakan untuk menulis sesuatu di dahinya.
Leo menatap Ronggo Joyo dengan perasaan ngeri, dia ingin pergi saja dari ruangan itu tapi hatinya mencegah.
"Mungkin saja di luar sana lebih berbahaya daripada di ruangan ini."
Leo berperang dengan batin sendiri sementara itu, Ronggo Joyo mulai bersikap aneh dia seperti sedang memainkan jurus silat lalu kemudian dua sosok hitam dengan mata merah muncul di hadapan mereka.
"Aku mengirimmu kepada orang yang aku tuliskan namanya di dahiku"
Lalu dua mahluk hitam dengan mata merah, dan taring tajam berubah menjadi gumpalan asap hitam pekat terbang menembus atap bangunan tua menuju suatu tempat.
Mulut Ronggo Joyo semakin keras melantunkan kidung mantra, Leo makin merasa tidak nyaman melihatnya.
"Apa sebenarnya yang telah dilalui om Ronggo hingga dia bisa melakukan pemanggilan mahluk yang menyeramkan itu?"
Jam tangan leo menunjukkan pukul empat dini hari, Ronggo terlihat lemas seperti habis melakukan pertarungan hidup dan mati, dia ambruk di lantai otot ototnya membesar, sementara Anton Wijaya sudah bisa membuka mata dan menggerakkan tubuhnya.
Leo membantu ayahnya untuk duduk, Anton Wijaya mengawasi sekeliling, untuk mengenali tempat dimana dia berada saat ini.
"Kita ada dimana Leo, tempat ini bau sekali, Ayah sampai ingin muntah."
"Kita sedang ada dilantai bawah kuil pemujaan ratu, om Ronggo yang membawa ayah kemari."
"Ronggo?"
Anton mencoba mengingat ingat semua yang terjadi padanya, rahangnya menebal, menahan amarah. Dengan perlahan dia mendekati Ronggo yang terkulai lemas di lantai.
"Harusnya kamu menunggu aku dulu Nggo, aji buto kembar harus dilakukan berdua. Kamu nekat melakukan ini sendiri."
Ronggo Joyo hanya diam, dia tidak membalas ucapan Anton Wijaya. Tubuhnya terlalu lemas, bahkan untuk sekedar berbicara.
Leo memperhatikan lagi jam tangannya. Rupanya matahari sudah terbit di atas sana, mereka bertiga memutuskan keluar dari ruangan itu.
Dengan tertatih tatih mereka keluar dari bangunan yang mereka sebut sebagai kuil. Leo segera masuk ke mobil, diikuti Ronggo dan Anton Wijaya yang duduk di belakang.
Ada senyum puas tersungging di bibir Ronggo Joyo, seakan akan dia ingin mengisyaratkan sesuatu kepada Anton Wijaya.
"Martin tidak bisa main main dengan Sandikala, sekarang dia rasakan sendiri akibatnya."
Leo bingung mendengar ucapan ayahnya, tapi dia enggan untuk bertanya apa maksud ucapan Anton Wijaya.
Mobil mercy clasic itu segera bergerak meninggalkan rumah ujung aspal dengan segala kesuramannya. Dari kaca spion Leo bisa melihat bangunan tua itu dinaungi sosok mahluk hitam berbulu dengan mata merah menyala.
Pagi hari di kota Surabaya khalayak ramai di gemparkan dengan berita meninggalnya seorang pengusaha Sukses pemilik permata grup.
Martin Hendro Suseno ditemukan tewas di rumahnya dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuh pria itu mengering dengan mata yang terbelalak dan mulut yang menganga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Sri Keren Mutamimah
ceritanya sperti nyata
2025-01-29
0
Shyfa Andira Rahmi
trnyata si anton cuman dimanfaatkan...
2023-08-24
0