Wira sangat bersyukur dapat lolos dari maut malam itu. Wanita malam bernama Ratna menjadi pahlawan untuknya.
Pagi pagi sekali Wira berangkat ke kantor, banyak rencana dalam benaknya yang ingin segera di realisasikan. Usai apel pagi dia membuka phonsell untuk membuka rekaman video dan foto foto di Black Rose semalam.
"Gadis gadis ini punya tato yang sama dengan jasad X, artinya mereka anggota sebuah perkumpulan atau komunitas."
"Jika mereka anggota sebuah komunitas, apakah gadis yang meninggal di mall juga salah seorang anggota komunitas?"
"Tapi kenapa tato mereka berbeda, walaupun simbol aksara jawa di gambar bintang itu sama persis baik hurup maupun artinya?"
"Kelanggengan, kata ini mengandung makna magis yang dalam."
"Sebenarnya ada misteri apa di balik tewasnya gadis X?"
Wira berbicara sendiri sambil fokus mengamati detil foto dan video yang terekam. Dia merasa semua kejadian ini saling terkait. Tapi dia masih bingung mencari benang merah yang mungkin bisa menghubungkan tiga peristiwa dalam satu rentetan kasus beberapa hari terakhir.
Ada kotak misteri besar yang membungkus mereka, Wira harus mencari kunci jawaban agar bisa membuka isi teka teki dalam kotak misteri penemuan jasad X. "Siapa sebenarnya gadis di liontin ini?"
Wira bergumul dengan pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari Linda telah berdiri di depan pintu. Wartawan itu mengetuk pelan pintu kaca ruang kerja Wira, berharap perwira muda itu segera mengizinkanya masuk.
"Tok..tok..tok.."
Ketukkan pintu makin keras, Wira baru sadar dan menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka.
"Masuk saja Lin, kebetulan sekali saya memang sedang menunggu kamu."
"Permisi pak.."
"Ayo duduk jangan sungkan, bersikap biasa saja seperti sebelumnya."
"Foto yang saya minta kemarin kamu bawa?"
"Iya pak."
Linda duduk dengan segan hari ini, sikapnya agak kaku, tidak seperti hari hari sebelumnya. Tapi Wira mangabaikan saja sikap Linda yang aneh.
Linda menyodorkan foto foto yang di ambilnya saat liputan malam di Black Rose. Wira langsung menganalisa foto foto itu dengan seksama, dan akhirnya dia mulai memahami sesuatu yang membuat hatinya senang.
"Ini dia sebabnya..!"
"Sebab apa pak?"
Linda mengernyitkan dahinya. Wira langsung mengambil spidol, lalu melingkari sebuah foto yang kemungkinan besar digunakan oleh surat kabar Surya sebagai cover berita. Dengan cepat Linda mengambil foto yang dilingkari Wira, ekspresi wajahnya begitu penasaran.
"Perhatikan empat foto ini baik baik, kamu akan menemukan alasan kenapa mereka mengejarmu dan kantor surat kabar Surya."
"Kamu tunggu saja disini, saya akan keluar sebentar."
Wira berjalan keluar ruangan menuju ruangan lain dengan beberapa orang anggota polisi mengawal di belekangnya. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Linda hanya fokus melihat foto yang sudah di beri tanda oleh Wira.
"oh astaga, foto ini menangkap gambar security Black Rose yang menjambak rambut seorang wanita, kenapa aku tidak menyadarinya?"
Linda mulai menyadari apa yang terjadi padanya beberapa hari terakhir. Dia mengambil inisiatif untuk memeriksa lagi file foto yang diambilnya saat meliput.
Wartawan itu fokus memperhatikan satu demi satu foto yang di ambil. Dia memperbesar foto sambil memperhatikan setiap detil yang tidak menjadi fokus kamera. Wajahnya tegang, dan keningnya berkerut, saat mata Linda berhenti pada satu titik seakan akan dia sangat tertarik melihat sesuatu.
"Gadis yang di seret ini sepertinya pernah aku lihat di suatu tempat?"
"Tapi aku lihat dia dimana ya?"
"Aku yakin pernah melihat gadis ini, tapi entah dimana aku lupa."
Linda tampak berpikir keras. Dia terus berusaha mengingat peristiwa beberapa hari terakhir, saat meliput, atau melakukan sesi wawancara dengan narasumber berita.
"Oh ya Tuhanku, dia gadis yang tewas bunuh diri di mall."
"Ya.. benar, dia adalah gadis yang tewas bunuh diri di mall beberapa hari yang lalu."
Suara langkah kaki Wira mengejutkan Linda, gadis itu segera berdiri menyambut Wira yang melangkah menghampirinya.
"Ada apa Lin, duduk saja, tidak usah tegang begitu."
"Sekarang kamu faham, kenapa kamu jadi incaran mereka?"
"Iya pak, lebih dari sekedar faham."
"Maksudmu sudah mengerti semuanya?"
"Coba lihat foto ini, perhatikan gambar yang saya centang, bapak pasti tahu siapa dia."
Wira fokus memperhatikan gambar yang di beri tanda centang oleh Linda. Gambar itu terlalu kecil sampai Wira harus benar benar memperhatikannya.
Cukup lama dia memperhatikan foto kerumunan orang dalam club Black Rose, sampai akhirnya dia faham.
"Celaka, ini gadis yang tewas di mall."
Wira langsung berlari keluar menuju meja kerja Siska. Polwan pintar itu baru saja akan mulai bekerja, saat melihat atasanya datang tergopoh gopoh kehadapannya.
"Pelan pelan saja pak nanti jatuh lho..!"
"Sis ambil lagi kasus gadis yang meninggal bunuh diri di mall, cari biodata lengkap, dan alamat kelaurga terdekat."
"Lho kasus itu sudah di tutup pak, kenapa di buka lagi?"
"Sudah jangan banyak tanya, ambil berkasnya lalu bawa ke meja saya. Nanti saya beri tahu alasannya."
"Siap komandan."
Siska langsung bangkit dari duduknya lalu bergegas menuju ruang arsip untuk mencari berkas yang di perintahkan Wira. Tak lama berselang dia sudah masuk ke ruang kerja Wira sambil menjijing berkas yang diinginkan atasannya itu.
"Ini pak berkasnya."
"Terima kasih Sis."
"Maaf kalau boleh tahu ada apa dengan kasusnya."
"Kamu lihat foto gadis yang bunuh diri di mall ini baik baik, lalu kamu bandingkan dengan foto yang di ambil Linda di Black Rose. Fokus di gambar yang di centang ya..!"
Siska menuruti perintah Wira, dia memandangi foto wajah gadis yang tewas bunuh diri, lalu melihat lagi foto yang diambil Linda di club Black Rose.
Sama seperti Wira, dia juga kesulitan untuk mengenali wajah di foto, tapi setelah lama memperhatikan, dia lalu sadar kalau foto yang di ambil Linda di Black Rose adalah orang yang sama dengan yang meninggal bunuh diri di mall.
"Jadi kasus ini ada kaitannya dengan club Black Rose pak?" Tanya Siska penuh selidik.
"Tepat sekali..!"
"Jadi sekarang tugasmu mencari informasi tentang komunitas yang menggunakan tato bintang. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin, tapi jangan terlibat terlalu jauh.Club ini milik Leo Hadi Wijaya, saya tidak mau ambil resiko."
"Siap Komandan."
Siska baru saja akan beranjak pergi ke meja kerja, ketika tiba tiba Wira memanggilnya kembali.
"Oh iya Sis, tolong siapkan bio data gadis yang meninggal di mall agar saya bisa langsung melacak keberadaan keluarganya"
"Entah mengapa, saya punya filling kita akan memecahkan misteri kematian jasad X dalam waktu dekat, melalui keluarganya."
"Baik pak."
Siska meninggalkan ruangan, sementara Wira segera membagi tugas masing masing personil. Dia akan terjun langsung memimpin operasi.
Melihat keseriusan Wira dalam menangani kasus, Linda menjadi sangat kagum, diam diam dia mengidolakan sosok perwira muda yang berdiri didepannya.
"Kamu kenapa menatap saya aneh begitu Lin?"
Sambil tersipu Linda mengucapkan terima kasih kepada Wira. Wartawan cantik itu tidak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya didepan Wira.
"Pak terima kasih sudah menempatkan petugas di depan rumah saya, berkat bapak, kami berdua aman dari mereka."
"Itu sudah jadi bagian dari tugas kami, bukan hanya kamu, saya juga menempatkan orang untuk menjaga rumah pak Haris."
Mendengar ucapan Wira, kekaguman Linda jadi makin bertambah. Dia berpikir jika satu saat nanti akan memiliki pria kuat dan bertanggung jawab seperti Wira.
Semua rencana sudah di susun matang, seluruh personil bergerak sesuai arahan. Linda mengikuti Wira sambil merekam pergerakan mereka.
"Siska kamu siapkan diri untuk penyamaran nanti malam, saya sendiri yang akan memantau operasi."
"Baik pak, saya sudah siap."
"Bagus, kita bertemu di lokasi nanti malam."
Malam tiba, sesuai rencana Siska akan masuk ke Black Rose sebagai pengunjung club, bersama dengan dua petugas.
Sejak penyusupan Wira yang nyaris tertangkap waktu itu, penjagaan di pintu masuk club di perketat, semua pengunjung di periksa.
Beruntung mereka sudah membuat kartu identitas palsu sehingga bisa lolos pemeriksaan. Dari mobil yang terparkir tidak jauh dari club Wira mengawasi pergerakkan anak buahnya melalui kamera yang tersembunyi.
Malam semakin larut, pengunjung club semakin bertambah ramai, Siska coba berbaur dengan pengunjung yang riuh seakan sedang berpesta. Sambil menari di apit dua orang petugas, dia mencari wanita bertato bintang. Tapi dia tidak menemukan seorangpun dikerumunan pengunjung.
Siska berjalan menuju toilet, agar lebih mudah menyaring targetnya. Dia terus memperhatikan setiap wanita yang masuk ke toilet, sembari mencuri dengar percakapan mereka.
Dari ruang kontrol Leo mengawasi pengunjung club, rupanya dia sudah mengetahui akan ada penyusup di clubnya malam ini.
"Monitor pergerakan mereka, jangan ada yang lolos dari pengamatan kalian. Saya tidak mau ada lagi yang ceroboh seperti Agus!"
"Siap laksanakan bos."
"Eh kalian berempat bereskan mayat Agus, hati hati jangan sampai ketahuan.
"Kalian buang yang jauh, bila perlu tenggelamkan di laut supaya mayatnya tidak temukan lagi."
"Bisnis ini saya bangun dengan susah payah, jangan ada yang berani merusaknya!"
"Baik akan kami urus semuanya, bos tenang saja."
Sudah jam dua malam, tapi Siska belum juga mendapatkan hasil, sedang club akan tutup satu jam lagi. Siska menuju bar memesan minuman sambil coba mencari informasi, tapi usahanya sia sia.
Semua karyawan club menutup mulut, sepertinya sudah di seting untuk tidak memberi informasi lebih, terkecuali hal hal yang bersifat umum.
Sadar misinya telah gagal, Siska pergi meninggalkan club di susul kemudian dua petugas yang mengawalnya.
Wira terlihat kesal, karena usahanya malam ini gagal total. Sepertinya operasi sudah bocor sehingga mereka tidak dapat menemukan buruan mereka.
Wira memutuskan untuk menarik mundur semua personil di sekitar club Black Rose. Misi kali ini dibatalkan.
"Perhatian semua unit misi dibatalkan, semua agar kembali ke markas."
"Siap komandan 86."
Seluruh personil telah di tarik, tapi Wira masih belum beranjak pergi dari posisi semula. Dia berpikir ada orang yang telah membocorkan operasi, sehingga perburuannya kali ini nihil. Tidak mendapatkan hasil apa apa.
"Bapak mikir apa?"
"Eh Lin, saya sampai lupa kamu ada disini."
"Jangan bercanda, saya sedang serius pak."
Wira tersenyum getir, dia merasa Linda sudah kembali, tidak lagi aneh seperti tadi pagi saat mereka membahas rencana penyelidikan Black Rose.
"Duduk di depan, saya antar kamu pulang."
"Tunggu sebentar komandan, sebentar lagi club akan tutup, saya yakin kita akan mendapatkan bukti kegiatan ilegal club itu."
Wira mengikuti saran Linda, dia bertahan di tempat semula, hingga semua club malam yang berada di lokasi itu tutup.
Jalanan sudah sepi senyap, beberapa lampu cafe dan restorant sudah mati lebih awal. Wira dan Linda bertahan dalam gelap. Sampai mereka melihat ada aktifitas yang mencurigakan beberapa meter lebih jauh dari club Black Rose.
"Lin, bangun..!"
"Ya.. ada apa pak?"
"Ssstt..!"
"Jangan brisik, nanti mereka mendengar suara kita."
Linda memperbaiki duduk sambil mengusap matanya. Dari arah sebrang dia melihat empat orang tinggi besar berpakaian serba hitam, tengah membopong kantung plastik besar dan memasukkannya ke dalam mobil.
Setelah memasukkan plastik ke dalam mobil, mereka pergi meninggalkan lokasi dengan kecepatan normal agar tidak mengundang perhatian.
Wira mengikuti mereka dengan mengatur jarak yang cukup jauh, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Mereka mau kemana ya Lin?"
"Mana saya tahu pak, apa kita tanya sekarang saja?"
"Hehe.."
"Kamu bisa juga bercanda di jam begini."
Wira tertawa tipis, sambil mengusap kepala Linda. Mobil mini Van menambah kecepatan setelah keluar dari batas kota. Sedang Wira terus membuntuti mereka dari jarak aman.
Setelah mengemudi selama dua jam, mereka berhenti di pingir sebuah dermaga kecil. Empat orang itu menurunkan plastik besar dari dalam mobil lalu membawanya menuju prahu
Linda terus mengambil gambar melalui kamera ponselnya. Berdua mereka mengendap endap di antara semak dan pohon bakau yang tumbuh di sekitar pantai.
Wira berencana akan menangkap basah mereka. Tapi niat itu segera ia urungkan karena terlalu beresiko. Bisa saja empat orang itu memiliki senjata api, sedangkan sekarang dia sedang bersama Linda.
Khawatir akan ada korban jiwa Wira mengikuti prahu itu dengan menggunakan prahu lain yang terikat tak jauh dari dermaga.
Wira mengawasi mereka dari jarak jauh. Sambil berbaring di perahu, samar dia bisa melihat ke empat orang itu membuang plastik ke laut dengan mengikat batu sebagai pemberat.
Usai melakukan tugasnya, empat orang itu buru buru kembali ke dermaga, lalu segera pergi tanpa menghiraukan mobil lain yang terparkir hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka.
Wira mengayuh perahu ke lokasi plastik di buang, tanpa pikir panjang dia langung melepas pakaian lalu lompat menyelam.
Dengan susah payah Wira berhasil mengangkat kantong plastik ke atas perahu. Energinya habis terkuras, untuk sejenak Wira beristirahat agar mendapatkan tenaganya kembali.
Di tepi dermaga, Linda berjalan mondar mandir. Tampak sekali kecemasan di raut wajahnya. Gadis itu tak berhenti berdoa agar tidak ada sesuatu yang terjadi kepada Wira.
"Tuhan, tolong selamatkan dia."
Linda melihat Wira mengayuh perahu ke tepi dermaga. Seketika hatinya tenang, dengan tangan kecilnya yang rapuh, Linda berusaha menarik tali tambang perahu agar Wira bisa merapat.
Wira membopong kantung plastik besar di pundaknya yang kekar. Di bantu Linda ia membaringkan plasik itu dilantai dermaga yang terbuat dari papan kayu tebal.
Tak lama kemudian Wira mengambil pisau lipat dari saku celana, dan mengoyak kantung plastik, yang ternyata berisi mayat seorang pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Bobi Kampus
filling vs feeling /Proud/
2025-03-03
0
Bobi Kampus
phonsell /Proud/
2025-03-03
0
N___vt
ingett udah punya pacar
2025-02-25
0