Bab 20 Jelang Purnama

Sudah tiga hari sejak Siska dan Linda berada di sebuah ruangan gelap yang mereka tidak tahu entah berada dimana. Kaki dan tangannya terikat tali, meski tanpa penjagaan, mereka sama sekali tak bisa melarikan diri dari tempat itu.

Linda bahkan sudah hampir putus asa, dia pasrah jika harus mati sekarang ditempat yang mungkin tak seorangpun tahu mereka sedang berada dimana.

"Saya mau mati saja Sis, tempat ini mengerikan sekali, terlalu sunyi, sepi, bahkan suara serangga tidak terdengar disini."

"Saya takut Sis...!"

Linda mulai prustasi, mentalnya jatuh, dia merasa ini akan menjadi akhir perjalanan hidupnya. Siska memandangi wajah wartawan yang periang, kini tampak kalut. Setegar tegarnya Siska sebagai anggota polisi, akhirnya dia rapuh saat melihat kondisi mental Linda.

"Kamu yang kuat Lin, saya yakin kita bisa keluar dari tempat ini, pak Wira pasti bisa menemukan kita."

"Kamu yang tenang ya Lin, jangan menyerah, kita pasti akan selamat."

"Tapi sampai kapan Sis, kita bahkan tak tahu ini tempat apa, dimana, dan saat ini siang atau malam?"

Siska tidak bisa menjawab, dia kehabisan kata kata, dalam hatinya, dia juga sama rapuhnya dengan Linda, tapi Siska tak ingin kehilangan harapan. Dia yakin Tuhan pasti akan memberi pertolongan.

"Kamu tenang saja Lin, kita hanya perlu menunggu. Sampai saatnya tiba, kita harus bisa bertahan hidup, dan lari dari sini."

Dengan suara yang kian lemah Siska mencoba memompa semangat, menguatkan hati Linda, agar mereka tetap tegar dan tidak menyerah dengan keadaan. Mereka harus tetap berjuang, meski harapan itu hanya tersisa satu persen saja.

Dalam kerapuhan hati, Linda teringat Ibunya yang pasti sangat cemas karena dia tak kunjung pulang. Tiba tiba saja ada kemarahan yang timbul dalam diri Linda, dia tidak terima kalau ibunya harus menderita karena kehilangan anak satu satunya.

"Tidak, ini tidak boleh terjadi, apapun caranya aku harus pulang. Aku harus bertemu ibu, mereka tidak bisa melakukan ini terhadapku."

"Woey... an**ng... lepaskan saya ..!"

"Bang**t...!"

Linda meronta ronta, sembari mengumpat sejadi jadinya, suaranya menggema mengisi ruang kosong yang dingin dan lembab.

"Hey Lin tenang, jangan tunjukkan kelemahanmu kepada mereka, kalau kamu terus begini orang orang itu akan semakin mengintimidasi kita!"

"Maaf, saya cuma mau pulang Sis..!"

"Kita tidak bisa berdiam diri disini, saya harus keluar dari tempat ini apapun caranya Sis. Kasihan ibu, dia pasti cemas karena saya tak kunjung pulang ke rumah."

"Heh.. apa kamu pikir hanya kamu yang punya keluarga?"

Orang tua, dan saudara saudara saya juga pasti khawatir, karena anak gadisnya tak pulang pulang."

Siska mulai emosi, suaranya meninggi, dia tidak bisa lagi mengontrol diri. Perasaanya campur aduk, kesal, benci, iba, dan takut, bercampur jadi satu.

Ditengah kegaduhan yang diciptakan Linda, tiba tiba tampak beberapa orang pria bertopeng berjalan menuruni anak tangga. Dua orang pria menggenggam lentera di tangannya, sementara empat yang lain menenteng senapan.

"Gadis gadis cantik, kenapa berteriak, lebih baik simpan energi kalian untuk menjambut purnama yang akan datang."

" Bersabarlah, hanya tinggal dua hari lagi, setelah itu kalian akan bebas berteriak sesuka hati, dan kami akan dengan senang menikmati setiap jerit tangis kalian."

Ucapan pria bertopeng sangat mengintimidasi perasaan. Siska terus berpikir, memutar otak bagaimana caranya menipu orang orang itu agar bisa kabur dari sana.

"Dasar pembunuh kejam, psikopat keji...!"

"Sudah lama kalian menyekap kami disini, setidaknya ijinkan kami untuk buang air atau saya akan melakukan semua di tempat ini.

Ke enam pria bertopeng itu enggan melayani celotehan Siska. Tapi gadis itu tidak menyerah, dia terus membujuk agar diberikan kesempatan untuk ke kamar mandi.

" Hey... ayolah kalian pasti tidak ingin tempat ini jadi kotor dan bau karena kami harus melakukan semuanya disini."

Siska mencoba bernegosiasi dengan para pria bertopeng yang menyekapnya. Dia berharap ada peluang untuk kabur dan meminta bantuan.

Empat pria bertopeng saling berbisik, mereka sepertinya tengah berunding akan mengabulkan permintaan Siska atau tidak. Cukup lama mereka berdebat, dan akhirnya permintaan Siska dikabulkan.

"Lepaskan ikatan kaki dan tangannya, tapi ikat lehernya, jika dia berani macam macam, apalagi sampai coba untuk kabur, habisi saja ditempat."

Dua orang langsung melepaskan ikatan tangan dan kaki Siska kemudian mengikat kencang lehernya sesuai perintah. Setelah itu dengan kasar mereka menggiring Siska menaiki anak tangga yang terbuat dari batu alam.

Siska melirik mengamati sekitarnya, dia baru mengetahui kalau saat ini dia tengah berada di sebuah bangunan besar bergaya klasik dengan beberapa ruang yang tertutup.

"Tempat ini luas sekali, ada banyak pintu besar, kira kira apa isi ruangan itu, lorong ini mengarah kemana?"

"Kalau berhasil lolos dari orang orang ini, aku harus pilih pintu yang mana agar bisa kabur dari tempat ini?"

Siska terus memikirkan jalan keluar, sementara dibelakangnya dua pria bertopeng menggiring sembari menodongkan senapan di punggung Siska. Mereka mendorongnya menyusuri lorong tepat disamping mimbar altar.

Lalu setelah melewati beberapa pintu, Siska kembali di dorong masuk ke sebuah kamar yang cukup luas tanpa perabot kecuali sebuah meja dan satu kursi.

Di ujung ada sebuah pintu kecil dengan hiasan kaca berukir bunga. Siska diperintahkan untuk masuk ke dalam oleh dua pria bertopeng yang mengawalnya. Dengan perasaan risih Siska masuk ke dalam, dia berhenti sejenak, kemudian membalik badannya.

"Hey kalian berdua, tidak bisakah saya meminta sedikit privasi, atau kalian memang orang orang cabul yang hobynya mengintip wanita?"

Kedua pria itu diam tak menjawab, dia hanya mendorong Siska sambil menodongkan senapan ke arahnya. Dengan sangat terpaksa Siska menuruti perintah kedua pria itu.

Siska sedikit mendorong pintu, agar tidak terlihat dari luar. Di dalam dia menyalakan keran sembari mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata.

"Sial tidak ada apa apa disini, hanya ada sabun, gayung, dan botol sampo kosong. Apa yang bisa aku lakukan dengan barang barang ini?"

Siska berpikir sejenak, lalu memasukkan air sabun ke dalam botol sampo, kemudian setelahnya dia berjalan jinjit perlahan berdiri di balik pintu.

Sementara dua pria bertopeng yang berada di luar mulai tidak sabar menunggu, salah satu dari mereka, segera menarik tali yang memjerat leher Siska sambil berteriak.

"Hay perempuan, keluar dari sana atau kami terpaksa membuat lubang di kepalamu!"

Siska diam tak menjawab dia menahan tali yang menjerat leharnya sekuat tenaga. kedua pria bertopeng itu mulai kehilangan kesabaran lalu menendang pintu dengan keras.

Refleks Siska mundur beberapa langka sembari menarik kencang tali yang menjerat lehernya. Karena tidak siap dengan perlawanan yang dilakukan musuhnya, pria itu jatuh tertelungkup di lantai dan tali terlepas dari tangannya.

"Doorr...!"

Spontan pria yang menendang pintu melepaskan satu tembakkan ke arah pintu. Siska yang telah terbebas dari kekangan segera menarik tali, seraya berguling di lantai kamar mandi untuk menghindari tembakan dari pria bertopeng.

Kedua pria itu lalu memburu masuk, namun siska segera menendang keras pintu pintu kamar mandi sehingga mengenai lengan salah satu pria bertopeng.

"Akhgk...!"

Pria itu menjerit menahan sakit di lengan kanannya yang terjepit pintu. Senjata yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Dengan gerak cepat Siska merebut senapan dan menembak satu dari mereka.

"Dooŕr..!"

Akghkk..!"

Pria bertopeng yang terjepit pintu kamar mandi ambruk di lantai, sebuah peluru tepat menembus jantungnya. Darah segar mengalir menggenang membasahi lantai kamar mandi.

Pria yang sadar temannya telah berhasil dilumpuhkan, jadi naik pitam, dia mundur beberapa langkah kemudian mencari tempat berlindung.

Dari balik meja Pria itu menembaki Siska yang telah lebih dulu masuk berlindung ke dalam bak mandi.

Siska bergeser kesamping, sembari membalas tembakan dari pria bertopeng yang berada di tengah ruangan. Pria itu bersembunyi di balik meja kayu besar berukir sambil menembak ke arah kamar mandi dengan membabi buta.

"Dasar betina sial, rasakan ini...!"

"Doorr... doorr.. doorr..!"

Pria itu menghujani Siska dengan brondongan peluru, membuat Siska terdesak hingga terpaksa merapat ke dinding pojok ruangan. Cukup lama Siska bertahan tanpa membalas. Sampai akhirnya suara tembakan tidak lagi terdengar.

"Dia pasti sudah kehabisan peluru."

Perlahan Siska mendekati pintu kamar mandi yang nyaris hancur karena tertembus peluru. Dengan sikap siaga dia mengarahkan senapan ke tempat persembunyiaan lawan.

Tiba tiba pria bertopeng menarik keras moncong senapan, hingga Siska terjerembab mencium lantai. Duel memperebutkan senjata terjadi, jual beli pukulan tak terelakan. Dengan sekuat tenaga Siska berusaha mempertahankan diri.

Pria itu mencekik leher Siska dengan sangat kuat, hingga membuat polwan cantik itu kesulitan untuk bernafas. Tapi Siska tidak ingin menyerah mudah, dengan tenaga yang masih tersisa Siska terus melawan, dia berusaha keras melepaskan cengkraman pria yang bernapsu untuk merenggut nyawanya.

Sambil terus meronta Siska segera merogoh saku celana pendek yang dia kenakan, dan dengan sigap mengambil botol sampo kemudian langsung menyemprotkan air sabun ke mata pria bertopeng yang sedang menindihnya.

"Akghk...!"

"Dasar perempuan kurang ajar, wanita sun**l..!"

Pria bertopeng itu mengumpat, menahan perih di kedua mantanya. Seketika itu juga dia melepas cengkraman tangan dari leher Siska yang nyaris saja meregang nyawa.

"Doorrr....!"

Siska meraih senapan di sampingnya dan sebuah peluru dimuntahkan tepat menembus leher pria bertopeng. Pria itu ambruk menimpa tubuh Siska.

"Huh.. akhirnya mampus kau ba****an..!"

Siska tersenyum lebar, lalu menghela nafas panjang, dia berbaring sejenak di lantai sambil memegangi lehernya yang memerah karena cekikan pria itu.

Lima menit lamanya Siska berbaring. Dia mengatur nafas yang tersengal sengal karena lelah berduel. Setelah aliran nafasnya terasa normal, Siska segera mendorong tubuh pria besar yang menghimpit dadanya.

Dengan susah payah Siska bangkit, mengambil pisau kemudian memotong tali yang mengikat lehernya, dia juga menggeledah tubuh kedua pria yang telah terbujur kaku dilantai dan menemukan beberapa buah kunci yang terikat menjadi satu.

Setelah tidak menemukan apa apa lagi, Siska keluar ruangan dengan senapan di tangan dan dua belati yang terselip di pinggang.

Dangan Hati hati Siska berjalan keluar. Ia memeriksa seluruh ruangan untuk mencari jalan kelauar dari tempat itu.

Episodes
1 Bab 1 Bosan
2 Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3 Bab 3 Tato Bintang Misterius
4 Bab 4 Pria Misterius
5 Bab 5 Black Rose
6 Bab 6 Perburuan
7 Bab 7 Hana
8 Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9 Bab 9 Perewangan
10 Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11 Bab 11 Perang Santet
12 Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13 Bab 13 Ruang Rahasia
14 Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15 Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16 Bab 16 Ritual Purnama
17 17 Tumbal Perawan
18 Bab 18 Gaun Merah
19 Bab 19 Evakuasi
20 Bab 20 Jelang Purnama
21 Bab 21 Wahyu
22 Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23 Bab 23 Sidang Etik
24 Bab 24 Wingit
25 Bab 25 Gangguan Gaib
26 Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27 Bab 27 Mencari Jejak Linda
28 Bab 28 Linda
29 29 Koma
30 Bab 30 Hujan Bulan Maret
31 Bab 31 Dendam
32 Bab 32 Aku Kembali
33 Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34 Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35 Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36 Bab 36 Asih
37 Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38 Bab 38 Kitab Kuno
39 Bab 39 Malam Teror
40 Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41 Bab 41 Jagad Lelembut
42 Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43 Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44 Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45 Bab 45 Mencari Linda
46 Ban 46 Mengejar Asih.
47 Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48 Bab 48 Tabuh Perang
49 Bab 49 Serangan Zombie
50 Bab 50 Desa Mati
51 51 Gerbang Neraka
52 52 Pertarungan
53 Bab 53 Anton Wijaya
54 Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55 55 Mantra Cermin
56 56 Mata ke Tiga
57 Bab 57 Labirin
58 Bab 58 Mahluk Bungkuk
59 59 Mencari Jasad Linda
60 Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61 Bab 61 Jebakan
62 Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63 Bab 63 Tanah Keputusasaan
64 Bab 64 Petunjuk Mimpi
65 Bab 65 Mengejar Siska
66 Bab 66 Mencari Jasad Asih
67 Bab 67 Kekalahan Asih
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1 Bosan
2
Bab 2 Misteri Jasad Wanita X
3
Bab 3 Tato Bintang Misterius
4
Bab 4 Pria Misterius
5
Bab 5 Black Rose
6
Bab 6 Perburuan
7
Bab 7 Hana
8
Bab 8 Pertemuan Rahasia.
9
Bab 9 Perewangan
10
Bab 10 Kematian Napi dalam Sell
11
Bab 11 Perang Santet
12
Bab 12 Penculikan Anak Jalanan
13
Bab 13 Ruang Rahasia
14
Bab 14 Penangkapan Leo Hadi Wijaya
15
Bab 15 Pondok Di Tengah Hutan
16
Bab 16 Ritual Purnama
17
17 Tumbal Perawan
18
Bab 18 Gaun Merah
19
Bab 19 Evakuasi
20
Bab 20 Jelang Purnama
21
Bab 21 Wahyu
22
Bab 22 Petunjuk Jalak Hitam
23
Bab 23 Sidang Etik
24
Bab 24 Wingit
25
Bab 25 Gangguan Gaib
26
Bab 26 Rumah Kosong Ujung Aspal
27
Bab 27 Mencari Jejak Linda
28
Bab 28 Linda
29
29 Koma
30
Bab 30 Hujan Bulan Maret
31
Bab 31 Dendam
32
Bab 32 Aku Kembali
33
Bab 33 Jejak Pesugihan Sitarasmi
34
Bab 34 Kembalinya Sitarasmi
35
Bab 35 Awan hitam di Menara Kembar
36
Bab 36 Asih
37
Bab 37 Ritual Lepas Sukma
38
Bab 38 Kitab Kuno
39
Bab 39 Malam Teror
40
Bab 40 Menghilangnya Anton Wijaya
41
Bab 41 Jagad Lelembut
42
Bab 42 Kerudung Putih Alam Roh.
43
Bab 43 Kerudung Putih itu Linda
44
Bab 44 Kematian Ronggo Joyo
45
Bab 45 Mencari Linda
46
Ban 46 Mengejar Asih.
47
Bab 47 Kembali ke Titik Nol
48
Bab 48 Tabuh Perang
49
Bab 49 Serangan Zombie
50
Bab 50 Desa Mati
51
51 Gerbang Neraka
52
52 Pertarungan
53
Bab 53 Anton Wijaya
54
Bqb 54 Kematian Anton Wijaya
55
55 Mantra Cermin
56
56 Mata ke Tiga
57
Bab 57 Labirin
58
Bab 58 Mahluk Bungkuk
59
59 Mencari Jasad Linda
60
Bab 60 Kematian Mbah Wongso
61
Bab 61 Jebakan
62
Bab 62 Kematian Pakde Jarwo
63
Bab 63 Tanah Keputusasaan
64
Bab 64 Petunjuk Mimpi
65
Bab 65 Mengejar Siska
66
Bab 66 Mencari Jasad Asih
67
Bab 67 Kekalahan Asih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!