Wira memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, jarum jam seakan memburu. Tak sabar Wira ingin segera bertemu dokter Ani untuk memastikan jasad X adalah benar wanita dalam foto liontin yang ada di sakunya.
Pukul tiga belas, mobil Wira memasuki halaman parkir rumah sakit, mereka berdua keluar mobil dan langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan dokter Ani.
Beruntung dokter Ani akan piket malam, jadi dia baru akan datang satu jam lagi. Sembari menunggu, Wira mengajak Linda pergi ke rumah makan yang berada di sekitar rumah sakit.
Setelah memesan makanan mereka duduk di kursi tengah ruangan, lalu berbincang sambil menunggu hidangan yang di pesan tiba.
"Jadi bagaimana kelanjutan kasus Black Rose itu Lin?"
"Saya tidak tahu bagaimana detilnya. Tapi menurut pak Haris, ada seseorang yang tidak suka kami memberitakan tentang Black Rose. Alasannya pun tak jelas apa?"
"Kamu bilang file artikel dan foto, masih ada dalam laptopmu. Boleh saya lihat?"
Linda mengeluarkan laptop dari tas punggung miliknya, lalu dengan gesit dia membuka file artikel berita dan foto foto yang di ambilnya malam hari di dalam club Black Rose.
Wira membaca artikel lengkap, lalu membuka file foto pengunjung, dan memperhatikan satu persatu.
Awalnya, dia tidak melihat ada yang spesial dari foto foto itu, tapi entah mengapa dia tertarik memperbesar beberapa file.
"Leo Wijaya?"
"Dia bersama dua wanita, ini menarik sekali."
Linda memperhatikan Wira yang tampak serius menganalisa foto foto yang tersimpan di laptop miliknya.
"Apa bapak menemukan sesuatu yang mungkin jadi alasan kami mendapatkan teror?"
"Tidak ada hal khusus yang bisa memicu reaksi berlebihan, semua terlihat umum, dan normal seperti yang kamu ceritakan."
"Kecuali foto putra mahkota konglomerat Anton Wijaya, namanya Leo hadi Wijaya. Dia juga pengusaha sukses seperti orang tuanya."
"Entah ada kaitannya atau tidak, tapi ini foto biasa saja, pangeran memang selalu di kelilingi selir selir, itu sudah bukan rahasia lagi."
"Lalu menurut bapak, apa yang membuat kami harus mendapatkan teror?"
"Begini saja Lin, tolong cetak perbesar foto foto ini, berikan pada saya besok pagi."
"Saya akan mempelajari kasusmu, lalu kita akan menentukan langkah selanjutnya."
Wira menunda pembicaraan mereka soal Black Rose karena hidangan yang dipesan sudah tiba. Selain itu, dia ingin fokus dulu dengan kasus jasad X.
Setengah jam lebih mereka berada di rumah makan, Wira menyelesaikan pembayaran, kemudian mengajak Linda kembali ke rumah sakit. Mereka berdiri di lorong depan ruang praktek dokter Ani sembari membahas hal hal kecil.
Tak lama berselang dokter Ani datang dengan senyum ramah khas seorang dokter yang sedang menyapa pasient.
Dia langsung mempersilahkan kedua tamunya masuk dan duduk di kursi yang tersedia untuk konsultasi.
"Selamat siang pak Wira, maaf lama menunggu."
"Tidak apa dok, kami memang harus menunggu anda."
"Oh iya dokter perkenalkan Linda, wartawan Surya yang meliput kasus ini. Untuk sementara dia jadi asisten pribadi saya khusus di kasus jasad X.
"Pak Wira bisa saja."
Dokter Ani, lalu menjabat tangan Linda dengan hangat, candaan Wira sukses membuat Linda tersipu di hadapan dokter Ani.
"Jadi.. apa yang dapat saya bantu kali ini pak Wira?"
"Ini dokter, saya menemukan liontin di sekitar TKP. Saya hanya ingin memastikan apakah foto gadis di liontin adalah benar jasad gadis X yang ada di kamar jenazah."
"Ehm.. Mereka memang mirip pak Wira, tapi sebaiknya kita ke kamar jenazah supaya lebih yakin."
Dokter Ani mengajak Wira dan Linda pergi ke kamar jenazah untuk memastikan foto di liontin cocok dengan jasad tanpa identitas yang mereka label degan gadis X atau jasad X.
Perawat yang bertugas, segera membuka lemari pendingin tempat jenazah X untuk sementara di semayamkan. Aroma kamar jenazah yang menusuk hidung, membuat Linda menjadi mual.
Untuk kali pertama dia melihat langsung tubuh gadis X dan mereka bertiga memiliki kesimpulan yang sama, bahwa foto di Liontin terkonfirmasi adalah gadis X.
"Selain memastikan foto ini benar gadis X, saya juga berharap dokter Ani punya berita baik untuk kemajuan kasusnya."
"Sayangnya tidak pak Wira. Perkembangannya minim sekali, yang bisa saya sampaikan untuk saat sekarang, adalah mengenai cairan di sekitar mulut jenazah. Kami perkirakan itu semacam racun."
"Racun dok?"
"Iya itu sejenis racun kimia yang sudah tercampur dengan air liur korban, dan kami tidak punya referensi tentang jenis racun ini pak."
"Kalau dokter yakin itu racun, artinya ini kasus pembunuhan dok, ada orang yang sengaja meracuni korban lalu mebuang jasadnya di area pelabuhan?"
"Ya kira kira begitu, pak Wira."
"Lalu bagaimana dengan jantungnya dokter?"
"Jujur saja kami tim dokter, juga tidak bisa menjelaskan hal ini secara medis. Entah gadis itu memang terlahir tidak normal tanpa jantung, atau jantungnya hancur karena efek racun, kami sama sekali belum memiliki jawaban."
Wira mengusap kening beberapa kali, kasus gadis X memang penuh misteri. Namun Wira sedikit lega, karena apa yang dia pikirkan ternyata benar. Sejak awal dia sudah curiga jika ini adalah kasus pembunuhan.
"Aaaaaahhhh.."
Suara Linda mengejutkan semua orang yang berada di kamar jenazah.
"heh... Kamu ini kenapa Lin?"
"Itu pak, wanita itu ada di samping jasadnya..!"
Wira langsung membekap mulut Linda, sambil memeluknya keluar dari kamar jenazah. Linda tampak gemetar, keringat dingin mengalir dari keningnya dan air matanya menetes.
"Maaf dokter, mungkin dia terlalu lelah."
"Tidak apa apa pak Wira, dia bukan orang pertama yang merasakan fenomena mistis seperti itu."
"Baik dok, terima kasih atas segala dukungan dan kerja samanya. Mohon maaf atas insident ini."
"Sama sama pak Wira, kami juga minta maaf, karena tidak bisa membantu banyak dalam mengungkap kasus gadis X."
"Oh iya, mungkin dua atau tiga hari lagi, kami akan mengumumkan, hasil otopsi dan bila tidak ada pihak keluarga yang menjemput jenazah, maka kami akan segera memakamkannya.
"Baik, terima kasih atas informasinya dok, kami akan mendukung semua kebijakan rumah sakit, bila dibutuhkan silahkan hubungi saya."
"Saya permisi dulu dokter."
"Baik, silahkan pak Wira."
Wira menjabat tangan dokter Ani, lalu pergi sambil menggenggam erat pergelangan tangan Linda yang terlihat masih shock dengan kejadian tadi.
Sampai di dalam mobil, Wira memberi air mineral kepada Linda. Lalu mengambil beberapa lembar tisu agar wartawan cantik itu bisa membersihkan wajahnya.
Linda masih tampak kacau, jantungnya masih berdegup kencang, dengan gemetar dia memperbaiki riasan wajahnya yang berantakan. Sedang Wira mencuri pandang sambil tersenyum.
Dia teringat kejadian pagi dini hari, ketika melihat hantu di kamar mandi waktu itu. Wira tahu betul rasanya, jadi dia bisa memaklumi jika Linda sangat shock dengan fenomena gaib di kamar jenazah.
"Bagaimana keadanmu, apa kamu sudah lebih tenang sekarang?"
"Iya sedikit pak."
"Bapak jangan meledek saya, yang tadi itu sangat menakutkan. Gadis di liontin itu berdiri tepat di samping jasadnya pak..!"
Wira hanya tertawa kecil, bahkan dirinya saja tidak kuat melangkah saat melihat penampakan arwah gadis di kamar mandi waktu itu.
"Kalau begitu saya antar kamu pulang, biar besok pagi kita bisa membahas Black rose dengan suasana yang lebih santai."
Linda mengangguk, wartawan itu benar benar kehilangan semangat. Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak berbincang. Hanya suara musik yang terdengar memecah kebisuan di antara mereka.
Setengah jam kemudian, mobil sedan merah milik Wira sudah terparkir di depan rumah Linda. Usai mengucapkan terima kasih gadis cantik itu segera masuk tanpa menawari Wira untuk singgah.
Wira memperhatikan Linda sampai masuk ke dalam rumah. Dia baru akan pergi, ketika tiba tiba Wira melihat pria berjaket hitam berdiri di ujung jalan, tengah memperhatikan rumah Linda.
"Apa dia orang yang diceritakan Linda?"
"Jika iya, berarti Linda dalam bahaya."
Tanpa pikir panjang Wira langsung menghubungi anak buahnya, dia meminta agar beberapa orang datang untuk mengawasi rumah Linda dua puluh empat jam.
Setelah semua di rasa aman, Wira bergegas pergi menuju kawasan club Black Rose, dia berencana makan malam, sekaligus menyelidiki club malam itu.
Pukul delapan belas Wira memasuki kawasan bisnis kota Surabaya, dia mengendarai mobil dengan lambat sambil memantau keadaan sekitar.
Setelah mengamati situasi di sekitar, Wira memutuskan masuk ke area parkir sebuah restorant yang letaknya cukup dekat dengan Black Rose.
Dengan sigap Wira meraih tas di kursi belakang, lalu mengambil pakain baru dan langsung mengenakannya. Setelah siap dia langsung masuk ke dalam restorant, lalu memilih tempat duduk di dekat jendala.
Wira memeriksa menu, sambil sesekali memantau situasi. Seorang pemuda tampan pelayan restorant datang untuk menanyakan pesanan.
"Permisi Bapak, sudah memesan makanan?"
"Oh belum mas, ini saya baru mau pesan."
"Baik, bapak mau pesan apa?"
"Saya minta udang saus tiram, nasi putih, air mineral, dan orange jus ya mas."
"Baik pak, di tunggu sebentar ya pak, pesanan akan segera kami antar."
"Eh.. Mas tunggu sebentar...!"
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Club disana itu, ramainya jam berapa ya mas?"
"Oh Black Rose biasanya ramai jam sembilan ke atas pak, makin malam semakin ramai."
"Bapak baru disini?"
"Iya saya baru datang dari Jakarta."
"Di black Rose ada yang asik asik nggak mas?"
"Wah Black Rose surga pemburu kenikmatan, semuanya ada, semuanya bisa pak, kalau bapak mau jadi mamber disana, saya punya kenalan orang dalam pak."
Pelayan restorant membeberkan banyak informasi yang Wira butuhkan. Untuk beberapa menit mereka berbincang setengah berbisik. Wira terus menggali informasi sebanyak mungkin, sebelum masuk ke Black Rose.
Setelah merasa cukup, Wira memberi tips kepada pelayan restorant dan pria muda itu langsung pergi menuju dapur untuk menyiapkan pesanan Wira.
Sambil menunggu pesanan datang, Wira mencari tambahan informasi lewat internet, dan dia baru mengetahui kalau club malam itu salah satu bisnis milik Leo Hadi Wijaya.
Wira jadi makin penasaran dengan kasus kantor surat kabar Surya. Ada masalah apa dibalik ancaman bom yang mereka terima. Apakah berita receh semacam itu, begitu mengusik bisnis Black Rose atau ada hal lain yang coba diungkap surat kabar itu, sehingga mengancam bisnis Black Rose?
"Ini menarik, aku harus segera menyelidiki masalah ini."
Cukup lama Wira berada di dalam restorant, dia sengaja memesan makanan ekstra dan segelas kopi untuk menemaninya di mobil.
Sesuai informasi pelayan restorant, Black Rose baru akan di padati pengunjung pada pukul dua puluh satu. Wira menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan area parkir restorant,
Setela berkeliling, Wira sengaja berhenti beberapa meter dekat club Black Rose untuk memantau keadaan.
"Butuh kehangatan om?"
Tiba tiba saja seorang wanita malam, datang menyapa Wira yang saat itu berpura pura sedang menelpon seseorang.
"Kebetulan sekali, saya memang sedang cari teman mbak."
"Ratna.. panggil saja saya Ratna om.."
Otak Wira langsung menangkap peluang. Dia segera bernegosiasi dengan wanita malam yang bernama Ratna, lalu mereka berdua masuk ke dalam Black Rose.
Hentakan musik terdengar memekakkan telinga, Wira memesan minuman, dan makanan ringan, lalu mencari tempat duduk di lantai dua.
"Kamu tunggu disini, saya akan ke toilet."
"Ok om..."
Wira meninggalkan Ratna di sofa seorang diri, sedang dirinya bergegas mencari informasi yang di butuhkan.
Di beberapa tempat security mengawasi gerak gerik Wira. Agar tidak kentara dia membuka interaksi dengan beberapa pengunjung sembari mengulik informasi.
Tak lama Wira kembali ke lantai dua untuk menemui Ratna, dan mendapati wanita itu sedang berbincang dengan seorang pengunjung.
Wira cukup lega, karena dia bisa lebih leluasa bergerak mencari informasi. Wira baru akan kembali ke lantai bawah ketika tiba tiba dia melihat Leo Hadi Wijaya bersama dua orang wanita masuk ke sebuah ruangan.
Wira cepat cepat membuntuti mereka, lalu dari tempat yang tersembunyi dia mengambil beberapa gambar, orang orang yang berada di dalam ruangan.
"Tato itu, ke dua wanita itu punya tato yang sama dengan gadis X."
"Apa gadis X adalah member Black Rose?"
Belum tuntas rasa penasaran di benak Wira, Tiba tiba dari ujung tangga terdengar suara keras membentak.
Woey.. siapa disana?"
Seorang bodyguard, nyaris memergoki Wira, dia cepat cepat merunduk dan pergi dari tempatnya bersembunyi.
Mendengar teriakan dari luar Leo dan beberapa orang yang berada di dalam, langsung keluar, untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa Markus?"
"Maaf bos, sepertinya ada yang mengintip kita di sudut dekat pot bunga."
"Cari dia dan langsung bereskan, saya tidak mau ada pengacau disini!"
"Siap bos."
Semua anak buah Leo langsung menyebar mencari penyusup, sementara Wira sudah kembali duduk di sofa persis di samping Ratna.
Ratna sepertinya tahu apa yang dilakukan Wira, wanita itu sengaja menyeret Wira untuk menari, lalu perlahan berbaur dengan pengunjung lain yang larut dalam alunan musik.
Wira sangat bersyukur, karena Ratna memainkan perannya dengan baik. Wanita malam itu telah menyelamatkan Wira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
EsTehPanas SENJA
nah ada lagi nih tato x.... apa itu sekte pemujaan yah ...? anggotanya cewek semua lho 🤔
2023-09-21
1