Pagi akan segera tiba, Arjuna mulai gelisah, karena Wira tidak kunjung terlihat keluar dari Black Rose. Pemuda yang dikenal sebagai sosok patuh dan setia kawan itu ingin menyusul Wira untuk memastikan kondisi komandannya.
"Sudah satu jam, pak Wira masih belum juga memberi tanda. Apa aku masuk saja ke dalam, atau meminta bantuan sekarang?"
Arjuna tidak tenang, pikirannya mengembara kemana mana, dia khawatir kalau Wira juga tertangkap oleh orang orang Black Rose.
"Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana, sebaiknya aku minta bantuan sekarang juga."
Baru saja akan menekan nomer di phonsellnya, Arjuna, di kejutkan dengan suara ketukan kaca mobil di sebelahnya. Dia bergegas mengeluarkan senjata untuk bejaga jaga, sembari tangannya membuka pintu mobil.
"Jun ini saya, Wira..!"
Arjuna menghela napas panjang, dia baru saja akan menarik platuk pistolnya, saat tiba tiba Wira menampakkan wajahnya.
"Oh Tuhan, hampir saja saya menembak bapak."
"Jadi bagaimana pak, apakah kita meminta bantuan sekarang?"
"Jangan Jun, awasi saja dulu. Saya yakin mereka akan segera memindahkan tawanan dari sana."
Wira menjelaskan situasi di dalam Black Rose kepada Arjuna. Dia memutuskan untuk tidak meminta bantuan, dan terus mengawasi pergerakan orang orang Black Rose.
Tak lama kemudian, dua buah mobil van hitam terparkir di depan Black Rose. Empat orang bersenjata lengkap turun dari mobil, lalu mengawasi sekeliling area Black Rose.
Salah seorang dari mereka memberi tanda, kemudian beberapa orang karyawan Black Rose menggontong enam buah kantung yang mereka masukkan ke dua buah mobil.
Wira terus merekam aksi karyawan Black Rose dari tempat yang tersembunyi. Sementara Arjuna bersiap di depan kemudi.
"Jun kamu siap siap minta bantuan, setelah ini kita akan mengikuti mobil mereka. Saya yakin kali ini Leo pasti akan dapat kita jebloskan ke penjara."
"Siap komandan."
Mobil van hitam mulai bergerak, Wira mengambil alih kemudi, dan mereka membuntuti kedua mobil van dari jarak aman.
Arjuna segera meminta bantuan personil untuk mencegat ke dua mobil van di jalan menuju pelabuhan, namun ke dua mobil van tersebut ternyata merubah rute mereka.
"Sial, manuver apa yang mereka lakukan?"
Wira menggerutu, saat melihat satu buah mobil van hitam berbelok, mengambil arah berbeda, mereka seolah tahu sedang di buntuti dan melakukan manuver untuk mengecoh Wira.
Salah satu mobil bergerak menuju luar kota, sementara yang lain tetap di jalur. Wira memutar otaknya, dia tidak ingin kedua mobil van itu lepas dari intaian mereka.
"Sekarang bagaimana pak, mobil mana yang akan kita kejar?"
Arjuna bingung, bantuan belum juga datang, sementara mereka harus mengejar dua mobil dengan rute berbeda. Tiba tiba Wira melihat taxi yang berada beberapa meter di depannya, diapun langsung menyalip mobil taxi itu dan memaksa supir menepi.
"Jun, kamu ikuti mobil itu dengan taxi, saya akan mengejar mobil yang lain!"
"Baik komandan."
Supir taxi terlihat bingung dan ketakutan, namun Arjuna segera menjelaskan keadaan darurat yang sedang mereka hadapi, supir taxi memahami situasinya, diapun segera tancap gas, memburu mobil van hitam, yang kini sudah cukup jauh meninggalkan mereka.
"Ayo pak, lebih cepat lagi, jangan sampai mereka lolos dari pantauan."
"Ok, siap pak..!"
Supir taxi, segera menambah kecepatan, berusaha untuk mengejar, wajahnya tampak sangat tegang, sementara di sampingnya Arjuna, menghubungi markas untuk meminta bantuan dan blokade jalan.
"Itu mereka pak polisi, apa yang harus saya lakukan?"
"Atur jarak aman, saya sedang minta bantuan, usahakan jangan terlalu dekat, kita akan segera menyergap mereka."
"Baik pak polisi.."
Supir taxi semakin gugup, untuk pertama kalinya dia terlibat pengejaran bersama polisi yang siaga dengan senjata di tangan. Meski AC mobil terasa dingin, tapi bulir bulir keringat tetap mengalir di kening pria itu.
Tak lama sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan, Arjuna sangat senang, ketegangan berkurang karena bantuan telah datang.
Beberapa mobil polisi datang dari arah yang berlawanan, mereka langsung mengepung, mobil van hitam yang berada beberapa ratus meter di depan mobil taxi yang ditumpangi Arjuna.
Aksi kejar kejaran tak terelakan, mobil van hitam segera banting setir ke lajur yang berlawanan, di ikuti mobil taxi yang ditumpangi Arjuna. Naas bagi pengemudi mibil van hitam, karena ternyata mereka berpindah ke jalur ramai.
Akhirnya mobil itu terjebak di kemacetan, karena matahari sudah terbit, jalanan mulai dipadati oleh aktifitas masyarakat yang akan pergi bekerja atau menuju sekolah.
Mobil van benar benar terkepung, dengan modal nekat mereka mencoba menerobos kepadatan lalu lintas dan menabrak beberapa orang pengendara.
Polisi akhirnya mengambil tindakan dengan menembak salah satu ban mobil hingga oleng dan berhenti setelah menabrak pembatas jalan.
"Jangan bergerak!"
"Turun dari mobil, letakkan tangan di belakang kepala."
Polisi segera mendekati mobil van hitam yang telah rusak parah, di beberapa bagian. Dengan waspada mereka maju sembari mendongkan senjata laras panjang ke pintu mobil.
Empat orang bertubuh gempal turun dari mobil dengan mengangkat kedua tangannya. Dengan sigap polisi langsung memborgol empat orang pelaku, dan beberapa yang lain memeriksa seluruh isi mobil van hitam.
"Kurang ajar, dimana mereka?"
Arjuna sangat murka, setelah mengetahui kalau kantong plasik besar yang di duga merupakan korban penculikan, ternyata hanyalah tumpukkan spon.
"Ini berarti ke enam orang itu berada di mobil yang lain."
Arjuna bergumam lirih, dia segera menelepon Wira untuk memberi tahu kalau enam tahanan itu berada di mobil yang sedang di buru Wira.
"Ayo angkat teleponnya komandan...!"
Setelah beberapa kali coba melakukan panggilan, Arjuna menutup teleponnya. Bintara muda itu terlihat gusar. Dia amat kesal karena tidak bisa menghubungi Wira.
"Buukkk..!"
"Kalian bawa kemana mereka!"
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah seorang pelaku, kepal tangan Arjuna sukses membuat salah seorang pelaku nyaris tersungkur. Refleks dua orang anggota menarik tubuh Arjuna yang terlihat sangat emosi.
Setelah mengamankan lokasi, dan memasang garis polisi, empat orang terduga penculikan, di bawa ke kantor polisi untuk di introgasi, sekaligus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka atas kekacauan yang terjadi di jalanan.
Arjuna memberikan bukti rekaman, dan foto foto pelaku saat memasukkan enam kantong besar yang diduga berisi rekan rekannya. Dengan dasar bukti bukti tersebut, polisi langsung bergerak cepat menggeledah club Black Rose, yang pagi itu telah kosong.
Di istananya yang mewah Leo Hadi Wijaya berjalan mondar mandir di ruang kerja. Dia merasa tidak ada yang beres sejak wartawan mulai, mengulik ngulik bisnis clubnya.
"Ini semua gara gara wartawan sialan itu, semuanya jadi berantakan. Bisnisku kacau dibuatnya."
Leo menghantamkan tinjunya ke dinding, dia berusaha untuk tenang, namun emosinya benar benar sukar untuk dikendalikan.
Di tengah kegelisahannya, tiba tiba seorang pelayan mengetuk pintu, dan seorang pria tua berjalan dengan tergopoh menghampiri Leo Hadi Wijaya.
"Maafkan saya tuan di depan, ada polisi ingin bertemu. Mereka membawa surat perintah penangkapan tuan."
"Sial, drama apa lagi sekarang?"
Dengan tergesa gesa Leo turun ke lantai satu sembari menelepon seseorang. Pengusaha muda itu berusaha menyembunyikan kecemasan dalam hatinya dengan menyungging senyuman yang terkesan dipaksakan.
"Selamat siang pak Leo, kami harap bapak ikut kami ke kantor sekarang."
"Ada masalah apa lagi pak polisi?"
"Anda di tahan dengan tuduhan penculikkan, lebih lanjut akan kami jelaskan di kantor polisi."
Leo Hadi Wijaya coba berkilah seolah dirinya tidak tahu apa apa, namun kali ini polisi telah memiliki bukti yang cukup untuk menahannya.
"Anda salah tangkap pak polisi, saya tidak tahu apa apa."
"Kami punya bukti kalau di club Black Rose telah terjadi penyekapan terhadap enam orang wanita, jadi tolong kerja samanya pak Leo."
"Tapi bagaimana bisa polisi menuduh saya melakukan penyekapan, sementara saya bahkan tidak ada di Black Rose tadi malam?"
"Masalah itu nanti saja bapak jelaskan di kantor, yang jelas kami punya saksi, dan bukti yang cukup untuk menetapkan bapak sebagai tersangka."
Leo Hadi Wijaya tetap bersikukuh, tapi polisi tetap tidak memperdulikan ucapan Leo kali ini. Mereka tetap menggelandang Leo Hadi Wijaya ke kantor polisi untuk di periksa.
Dengan geram, Leo Hadi Wijaya terpaksa mengikuti permintaan polisi. Pengusaha papan atas Surabaya itu masuk mobil tahanan dalam keadaan tangan yang telah di borgol.
"Kalian akan menyesal telah melakukan semua ini kepada saya."
Leo bersumpah dengan nada tinggi, namun polisi yang mengawalnya sama sekali tak bergeming. Mereka hanya diam sembari siaga dari segala kemungkinan.
Di kantor polisi wartawan yang mendengar berita tentang penangkapan pelaku penculikan, telah ramai berkumpul untuk mencari berita tentang apa yang terjadi di jalanan hari ini.
Mereka mondar mandir di halaman untuk menunggu jumpa pers, yang akan di gelar polisi terkait hasil pemeriksaan tersangka penculikan.
Suasana kian memanas karena kedatangan mobil polisi yang membawa Leo Hadi Wijaya telah tiba di halaman kantor polisi. Sontak saja wartawan berhamburan mengerumuni putra konglemarat tersebut.
"Pak Leo tolong statmentnya..!"
"Apa bapak terkait dengan penangkapan empat orang terduga pelaku penculikan?"
"Hari ini club Blac Rose di gerebek polisi, apakah benar Black Rose adalah tempat penyekapan?"
"Pak tolong pernyataannya pak..!"
Kedatangan Leo Hadi Wijaya, langsung menjadi fokus para wartawan, mereka menghujani pria itu dengan berbagai pertanyaan, namun Leo memilih bungkam sembari menebar senyum sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments