Di Ruang kerjanya Wira memutar lagi isi wawancara dengan Ibu Renata sambil mencatat point penting yang mengarah alasan kematian Hana dan Renata.
Dugaan Wira makin menguat, bahwa kasus ini erat hubungannya dengan Black Rose. Wira mempunyai firasat bahwa Leo Hadi Wijaya mungkin bertanggung jawab atas kematian Hana.
Untuk memastikan dugaannya benar, Wira berencana untuk membuat jebakan agar Leo Hadi Wijaya bisa tertangkap. Kematian pria di dermaga luar kota Surabaya tadi pagi bisa jadi pintu masuk yang sempurna bagi Wira untuk menjalankan rencananya.
"Aku harus membentuk tim kecil untuk mengeksekusi rencana ini, tapi siapa yang cocok untuk tugas ini?"
Wira berencana akan melakukan operasi rahasia dengan tim kecil yang akan ia pimpin sendiri. Tidak mau rencananya bocor seperti kemarin, Wira akan memilih sendiri personil yang akan terlibat dalam misi.
"Siska..siska..!"
"Iya pak ada apa?"
"Saya membutuhkan biodata personil, tolong kamu siapkan."
"Baik akan segera saya siapkan pak."
Wira kembali ke ruangan, sementara Siska langsung ke ruang arsip untuk mengambil file yang di minta atasannya.
"Ini pak semua data personil kita, tiga orang dari mereka pernah mengemban misi kelas A."
"Saya perlu orang yang cakap, tapi tidak menonjol, apa kamu bisa merekomendasikan, dua atau tiga orang Sis?"
"Ada pak, tapi yang satu tukang buat masalah, namanya Wahyu dan yang satu Arjuna dia sosok pendiam pak, saya tidak yakin mereka akan cocok."
"Biar saya pelajari biodata mereka, kamu siap siap, saya butuh kamu untuk ikut dalam misi."
"Saya pak, kenapa saya?"
"Saya butuh orang pintar, jujur, berani, dan cantik seperti kamu dalam tim. Setidaknya para pria terhibur bila ada gadis cantik ditengah tengah mereka."
"Ah, bapak bercanda, sepetinya saya tidak masuk dalam kreteria yang bapak sebutkan."
"Sudah jangan membantah, siapkan saja fisik dan mentalmu, ingat tidak perlu ada orang yang tahu misi ini, faham?"
"Siap komandan 86, semakin sedikit yang tahu semakin aman."
" Good job, gadis pintar.."
Siska kembali ke meja kerjanya, sementara Wira mulai mempelajari berkas personil yang di rekomendasikan.
Di tempat berbeda Leo Hadi Wijaya terlihat sangat murka, pria temperamen itu menggebrak meja sambil mengumpat empat orang pria yang diperintahkan membuang jasad Agus.
"Dasar tidak berguna, melakukan tugas kecil saja tidak bisa. Lihat hasil kerja kalian, sepanjang hari beritanya hanya tentang mayat Agus dan Agus lagi, semua ini karena kalian!"
Leo meluapkan semua emosinya kepada empat orang pria yang ada dihadapannya. Suara pria itu menggelegar memenuhi ruang rahasia di lantai dua club Black Rose.
"Maafkan kami bos, ini tidak akan terjadi lagi. Mohon beri kesempatan untuk memperbaiki ini semua."
Pria bertubuh tinggi kekar dengan tato di leher, mencoba membujuk Leo untuk meredakan emosinya, namun Leo tidak bisa lagi menahan amarahnya. Kasus mereka sudah jadi berita dimana mana.
"Sudah terlambat!"
"Sekarang kalian berempat pergi jauh jauh dari sini, kalau kalian tertangkap jangan pernah coba coba sebut nama saya, atau nasib kalian akan sama dengan Agus!"
Keempat orang itu segera keluar dari ruangan, dengan wajah tertunduk. Sementara Leo menelpon seseorang untuk membereskan semua kekacauan yang telah ditimbulkan orang orang suruhannya.
"Tok..tok..tok..!"
"Permisi pak, maaf mengganggu, di depan ada polisi ingin bertemu dengan bapak."
Seorang sekertaris masuk ke dalam ruangan, dengan gemetar ia menyampaikan bahwa dua orang polisi datang untuk bertemu.
Leo menatap sekertarisnya tajam, lalu tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, dia keluar ruangan sambil mengatur bahasa tubuhnya sewajar mungkin.
"Selamat datang pak polisi, silahkan duduk, apa yang bisa saya bantu?"
Leo bersikap sangat tenang seolah tidak terjadi apa apa. Dengan ramah dan senyum manis yang dipaksakan, dia menjamu dua orang polisi di depannya.
"Langsung saja pak Leo, maksud kedatangan kami berdua adalah ingin bertanya seputar tewasnya karyawan anda yang bernama Agus."
"Oh Agus, dia memang karyawan disini, dan saya merasa beruntung mempunyai karyawan loyal, seperti dia."
"Sayang sekali umurnya pendek, saya merasa sangat kehilangan sosok karyawan baik seperti Agus."
"Semoga Tuhan memberikan Agus tempat yang layak disisinya."
Leo Hadi Wijaya berakting seolah dia sangat kehilangan sosok karyawan teladan, dengan bahasa diplomasi khas para pengusaha yang ulung bernegosiasi, Leo menjelaskan tentang kepribadian Agus.
Dia menjawab setiap pertanyaan polisi dengan tenang, seolah tidak banyak mengenal kehidupan pribadi karyawannya.
"Secara umum yang saya ketahui, Agus karyawan yang baik, dia loyal, disiplin, dan tidak punya masalah selama bekerja disini, secara khusus saya tidak mengenal kehidupan pribadinya."
Polisi merekam semua pernyataan Leo, mereka tidak begitu saja percaya dengan ucapannya. Leo terus di cecar dengan banyak pertanyaan seputar peristiwa sebelum Agus tewas di bunuh. Tapi lagi lagi di jawab secara normatif.
"Apa pak Leo pernah mendengar keluhan tentang masalah ekonomi, keluarga, hutang piutang, atau hal lain yang membuat dia memiliki musuh?"
"Saya ini orang yang sangat sibuk pak polisi, bisnis saya tidak hanya club Black Rose ini saja, masih ada beberapa bisnis yang harus saya tangani. Jadi saya tidak sempat untuk menjalin keakraban dengan karyawan, apalagi sampai mengulik kehidupan pribadinya."
"Kalau orang orang di foto ini apakah mereka karyawan disini, atau mungkin bapak mengenal mereka?"
"Mohon maaf pak polisi, mereka bukan karyawan club ini, saya tidak pernah berjumpa atau mengenal mereka sebelumnya."
Leo berbohong, namun dia pandai mengolah ekspresi, sehingga polisi tidak bisa membaca mimik wajahnya saat merahasiakan sesuatu.
"Kalau demikian, apa kami bisa memeriksa semua karyawan, dan cctv di tempat ini pak Leo?"
"Oh tentu saja bapak bisa meminta keterangan dari semua karyawan, nanti manajer saya akan membantu bapak menyiapkan semua yang dibutuhkan."
"Soal Agus saya akan mengirim pengacara untuk menangani kasusnya, saya berharap pelakunya tertangkap dan mendapatkan hukuman setimpal."
Leo bersikap simpati, dan koorperatif, dia sangat tahu cara menghadapi penegak hukum. Polisi pun tidak menemukan hal ganjil dari sikapnya.
"Baiklah pak Leo, kami akan melanjutkan penyelidikan besok pagi, tolong kerja samanya pak."
"Oh tentu kapanpun dibutuhkan, saya siap pak polisi."
Karena belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bukti untuk kasus Agus, polisi pun pergi meninggalkan ruangan Leo. Mereka akan kembali besok pagi untuk melanjutkan penyelidikan.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak Leo, besok pagi kami akan datang kembali untuk melanjutkan penyelidikan."
"Baik kami tunggu kehadiran bapak bapak besok pagi."
Setelah polisi meninggalkan Black Rose, Leo bergegas pergi dengan mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Satu jam kemudian mobil mewah itu masuk ke halaman sebuah rumah mewah dengan dua orang security berdiri di pos jaga.
Seorang security membuka pintu mobil, Leo turun dari mobil dan langsung masuk ke ruang tamu besar, menyusuri tangga menuju lantai dua.
"Selamat datang tuan muda."
"Apa semua orang sudah datang, Wil?"
"Semua sudah menunggu di ruang kerja tuan."
Leo langsung masuk ke sebuah ruangan, lalu bergegas duduk di sebuah kursi. Di ruangan itu sudah ada tiga belas orang termasuk dirinya.
"Terima kasih semua sudah hadir memenuhi undangan saya. Hari ini memang bukan jadwal pertemuan, tapi saya merasa perlu untuk mengumpulkan anda semua."
"Kita harus membahas masalah ini, karena sudah mulai jadi sorotan media. Bila dibiarkan ini akan mengganggu organisasi."
"Tentu anda semua sudah tahu apa yang saya maksud. Tidak cuma itu, maksud pertemuan ini juga akan membahas bagaimana strategi menyingkirkan persaingan dan persiapan untuk sesembahan purnama yang akan datang."
"Tentu masing masing kita tidak ingin mendapat murka dari sang ratu bukan?"
Anton Wijaya membuka pertemuan rahasia dengan langsung menyoroti masalah yang menurutnya akan mengganggu organisasi.
"Maafkan saya pak Anton, masalah ini sumbernya dari putra anda, tentu kami akan bantu untuk membereskannya, tapi seperti aturan organisasi yang membuat masalah sepatutnya di beri sangsi, bukan begitu tuan dan nyonya?"
Seorang pria berambut putih dengan setelan jas abu, bernama Arda Wardana membuka suara pertama kali untuk menanggapi masalah yang di lemparkan oleh Anton Wijaya ketua organisasi Sandikala.
"Saya sependapat dengan pak Arda, Leo harus menyelesaikan kekacauan ini, dan menerima hukuman. Bagaimana menurut saudara saudara?"
Seorang wanita dengan gaun ungu bernama Ratih, menyetujui usulan Arda Wardana, di ikuti oleh semua anggota yang hadir dalam pertemuan itu.
"Tunggu dulu, saya berhak membela diri. Lagi pula ini bukan persoalan besar, saya bisa tangani ini sendiri, jangan buru buru menjatuhkan hukuman!"
Leo berusaha mengelak dari hukuman, namun seluruh anggota organisasi sudah sepakat untuk menjatuhkan hukuman kepadanya.
"Seperti biasa saya akan ikut suara terbanyak. Leo akan menerima tanggung jawab ini dan akan menerima hukuman."
"Menurut anda semua, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada Leo?"
"Maaf ketua, ini hanya masalah kecil, saya yakin dia bisa menyelasaikan semuanya. Kalau boleh usul hukuman untuk Leo cukup tumbal saja. Jadi kebutuhan purnama nanti biar dia yang tanggung."
Seorang pria mengenakan jas hitam coba untuk menyelamatkan Leo dari hukum badan. Pria itu adalah Ronggo Joyo. Dia adalah orang kepercayaan Anton Wijaya.
Sosoknya yang misterius sangat di segani anggota organisasi, sebagai pengacara keluarga Anton Wijaya, pengaruh Ronggo Joyo sangat besar.
"Baiklah saudara saudara, siapa yang setuju dengan usulan Ronggo Joyo?"
Anton Wijaya langsung menawarkan kepada seluruh anggota yang hadir.
Untuk sejenak ruangan hening, seluruh anggota saling melirik satu sama lain, mereka seperti enggan bicara.
"Kalau ada yang tidak setuju, katakan saja jangan sungkan. Saya terbuka untuk semua masukan."
Anton Wijaya kembali menawarkan kepada seluruh anggota. Mereka saling berbisik, membahas usulan Ronggo Joyo.
Untuk lima menit lamanya mereka berdiskusi lalu tiba tiba Arda Wardana mengangkat tangannya.
"Saya setuju dengan Ronggo joyo, lagi pula ini kesalahan pertama, kami akan membantunya untuk mengurus masalah ini, tapi semua urusan tumbal persembahan untuk Ratu tetap menjadi tanggung jawab Leo, kami tidak akan membantu
sedikitpun."
"Saya mampu melakukan itu!"
Leo langsung memotong ucapan Arda Wardana, sontak wajah pria itu berubah, tampak sekali dia tidak suka dengan sikap congkak yang ditunjukkan Leo Hadi Wijaya.
"Baiklah saya rasa itu cukup adil, Leo akan mempersembahkan tiga orang gadis perawan pada purnama depan. Jika dia gagal maka dia adalah tumbal untuk Ratu."
Semua anggota yang hadir cukup puas dengan keputusan Anton Wijaya. Leo merasa lega karena dia tidak jadi mendapatkan hukuman badan.
"Hanya tiga orang perawan, tidak akan sulit bagiku!"
Leo menggerutu dalam hati, pria congkak itu kesal dengan hukuman yang dijatuhkan seluruh anggota organisasi Sandikala.
"Baiklah dua masalah sudah selesai, tinggal satu masalah lagi. Ini soal persaingan bisnis kita dengan Permata Grup."
Wajah Anton Wijaya terlihat sangat serius saat menyebut nama pesaing bisnis mereka. Suasana di ruang kerja menjadi tegang. Semua anggota Sandikala tampak memikirkan sesuatu di benak masing masing.
"Martin memang senang mengganggu kita, bisnis mereka kuat, modalnya besar, perlu strategi matang untuk menyingkirkan Permata Grup."
Seorang pria bernama Yogananda angkat bicara, kemudian di susul anggota Sandikala yang lain. Setiap orang menyampaikan masukannya berdasarkan kepentingan masing masing.
"Menurut saya, kita harus menyingkirkan semua perewangan mereka lebih dulu. Martin itu dikenal orang yang kuat tirakatnya. Maklum saja dia keturunan Susena, antek Belanda di masanya."
Ucapan Ronggo Joyo mengejutkan semua orang, mereka tidak menyangka kalau pesaingnya juga lekat dengan klenik.
Anton Wijaya mengernyitkan dahi, pria kharismatik itu memikirkan sebuah rencana di dalam benaknya.
"Kalau begitu kita lihat saja, perewangan siapa yang akan menang. Saya akan tunjukkan kepada Martin apa itu Sandikala."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments