Tewasnya Martin Hendro Suseno menghebohkan warga kota Surabaya. Pria yang dikenal sebagai konglomerat dengan jiwa sosial dan gemar mengunjungi wong cilik itu ditemukan tewas mengenaskan dengan cara yang tidak wajar.
Kematian Martin menjadi topik di seluruh media baik lokal maupun nasional. Rumahnya tak berhenti di kunjungi teman dan kerabat yang ingin berbela sungkawa sekaligus mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi pada Martin Hendro Suseno.
Di lantai dua polisi telah memasang police line. Tim penyidik masih melakukan pengumpulan barang bukti sementara jasad Martin telah di bawa ke rumah sakit untuk menjalani otopsi.
Wartawan masih terlihat hilir mudik di depan rumah Martin. Salah satu dari kerumunan wartawan yang mengepung pagar rumah Martin, adalah Linda. Gadis itu telah berada di depan rumah sejak pagi untuk menunggu update dari petugas.
"Permisi pak polisi, boleh kami wawancara sebentar?"
"Oh mbak Linda rupanya, ehm.. untuk sementara waktu kami masih belum bisa memberikan update terbaru tentang kematian pak Martin, bukti bukti masih terus kami kumpulkan."
"Apakah polisi sudah memiliki, ciri ciri atau nama terduga pelaku pak?"
"Kami belum bisa menentukan tersangka karena di lokasi sangat minim saksi dan bukti mbak Linda."
"Untuk jasad korban, apakah ada petunjuk yang ditemukan pak?"
"Maksud saya Apakah pada jasad almarhum pak Martin ditemukan tanda tanda kekerasan fisik, penyakit, atau semacamnya pak?"
"Kami belum bisa memastikan, tapi yang jelas tubuh korban mengering, seperti mumi yang telah dibalsemi, hanya itu yang bisa ksmi sampaikan untuk saat ini."
"Nanti kalau penyelidikan telah rampung, kami pasti akan segera menggelar jumpa pers, saat itu polisi akan menjelaskan semua terkait kasus ini, jadi untuk sekarang mohon bersabar."
"Baik pak, terima kasih untuk waktunya, kami tunggu up date terbaru kasus ini, semoga penyebab kematian, motif, dan pelakunya segera terpecahkan."
Linda mengakhiri wawancara dengan petugas penyidik. Kematian Martin mengingatkan Linda pada kasus Hana yang di temukan tewas di area pelabuhan dengan ciri ciri yang sama.
"Mungkinkah pelakunya orang yang sama dengan pembunuh Hana?"
"Jika iya, maka ini kasus kriminal murni."
"Sangat menarik..."
Linda bergumam lirih, dia coba menganalisa kasus Martin dan Hana kemudian membandingkan keduanya.
Usai mewawancarai petugas dan keluarga Martin, Linda bergegas mencari informasi ke rumah sakit. Otaknya dipenuhi rasa penasaran mengenai penyebab kematian, dan motif pelaku melakukan pembunuhan sadis ini.
"Pak Wira.. Pak... Tunggu...!"
Wira menoleh ke belakang, dia melihat Linda jalan tergesa gesa menghampirinya. Seperti biasa senyum manis wartawan cantik itu selalu berhasil mengundang perhatian.
"Pak saya ikut ya.."
Suara Linda terdengar manja ditelinga Wira. Perwira muda itu hanya mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju kamar jenazah untuk melihat kondisi jasad Martin.
"Ternyata benar dugaanku, cara mereka tewas sama, siapa orang yang sanggup melakukan ini kepada mereka?"
Wira mengerutkan dahinya, perwira muda itu mulai ragu dengan berbagai teori dan dugaan yang lelah disusunnya.
"Jika ini dilakukan manusia, dia pasti seorang pembunuh profesional. Tapi senjata apa yang digunakan hingga bisa membunuh korban sampai kondisi jasadnya sangat mengenaskan seperti itu?"
Linda memperhatikan Wira yang terdiam membisu. Seolah mengerti apa yang ada dibenak polisi tampan di hadapannya, Lindapun coba memberikan analisanya.
"Kasus ini mirip dengan kasus Hana pak, dan menurut saya tidak mungkin orang orang Leo Hadi Wijaya bisa melakun ini tanpa melewati penjagaan pengawal ataupun cctv yang terpasang hampir di setiap sudut ruangan rumah."
"Itulah yang saya pikirkan sejak tadi Lin. Saya mulai ragu jika Leo adalah dalang dari kasus ini, lagipula, saya tidak punya bayangan senjata apa yang digunakan untuk menghabisi korban."
"Jadi apa rencana bapak selanjutnya?"
"Saya akan mulai mengaktifkan tim besok malam, dan saya butuh kamu bergabung di tim, sebagai bayangan."
"Maksudnya apa pak?"
"Kamu menjadi bayangan saya, memantau pergerakan tim dan melaporkannya kepada saya."
"Lalu bapak tugasnya apa?"
"Saya akan bergerak sendiri membantu tim dengan penyamaran."
"Kita akan bertemu lagi besok pagi untuk mematangkan rencana, saya harap kamu bisa datang ke lokasi yang akan di informasikan selanjutnya."
"Siap komandan."
Ucap Linda tegas, menirukan suara Siska. Wira tersenyum senyum sendiri melihat tingkah laku Linda. Gadis itu kerap kali berhasil mengundang tawa diantara mereka.
Tidak terasa hari mulai gelap, jalanan kota mulai dihiasi lampu berwarna warni. Geliat malam di mulai, sejumlah anak jalanan tampak mengamen di sudut lampu merah.
Sementara di sebuah jalan yang tidak terlalu ramai mobil van hitam terparkir. Tidak ada aktifitas yang berarti, hanya ada seorang pria mengenakan hoodie coklat duduk berjongkok sambil menegak minuman kaleng.
Di dalam mobil dua orang sedang mengobrol sementara satu orang di belakang tampak sibuk melakukan sesuatu.
Pria yang mengenakan hoodie coklat berjalan santai mendekati lampu merah matanya fokus memperhatikan beberapa orang anak jalanan yang sedang mengamen.
Pria itu duduk di bangku taman di pinggir trotoar sambil memusatkan pandangan matanya kepada dua orang pengamen usia belasan yang tengah bernyanyi diantara kendaraan bermotor.
Setelah lama mengamati para pengamen pria itu melihat jam tangan, kemudian memberi isyarat kepada seseorang di dalam mobil van.
Mobil berjalan dan pria itu masuk ke dalam, sembari terus mengikuti gerak gerik pengamen jalanan yang di incarnya.
Pukul dua puluh satu malam, mobil van hitam mulai bergerak mengikuti seorang gadis pengamen yang tengah berjalan di trotoar sambil menenteng nasi bungkus di tangan kanannya.
Gadis itu menoleh ke belakang beberapa kali, dia mulai merasa tidak nyaman. Pikirannya tak tenang.
"Sepertinya mobil itu membuntutiku?"
Sadar dirinya sedang diikuti gadis pengamen itu mempercepat langkahnya, dia begegas mencari tempat ramai, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan kalau dirinya sudah aman.
Namun dugaan gadis itu salah, mobil van hitam itu masih mengikutinya, dengan perasan yang campur aduk, diapun memutuskan untuk berlari diantara keramaian orang yang lalu lalang.
Pengamen berusia kisaran tujuh belas tahun itu makin tidak tenang jantungnya berdegup kencang, keringat membasahi kening dan lehernya.
" Ya Tuhan ada apa ini, siapa mereka?"
Gadis itu makin mempercepat langkahnya, mobil van hitam di belakangnya makin kencang mengikuti.
"Oh Tuhan, sekarang jarak mereka semakin dekat, aku harus apa?"
Mobil van hitam berhenti, dua orang pria turun dari mobil lalu dengan santai membaur di kerumunan, dengan ekspresi datar seolah tidak ada apa apa, mereka terus berjalan mengikuti buruannya.
Melihat dua orang dari mobil van hitam berjalan mendekatinya, gadis pengamen itu berteriak histeris meminta pertolongan orang orang yang melintas.
"Tolong... tolong...!"
"Pak tolong saya orang orang itu ingin menangkap saya..!"
Semua orang kebingungan melihat kesekeliling mereka, tapi semua terlihat normal saja tidak ada garak gerik orang yang terlihat mencurigakan, dan merekapun mengabaikan teriakan gadis pengamen itu.
"Aku harus mencari tempat untuk bersembunyi."
Dengan napas tersengal pengamen malang itu berlari ke sebuah lorong dan keputusannya untuk bersembunyi di lorong kali ini salah, seorang pria muncul dari kegelapan dan langsung menyergap.
"Buukk..!"
"Akghk...!"
Hantaman benda tumpul tepat mendarat di tengkuknya, seketika gadis itu roboh di aspal, lalu seorang pria membopongnya masuk ke dalam van hitam yang telah terparkir di ujung lorong.
Mobil van hitam melaju menembus gelap malam dengan tiga orang gadis terbaring dilantai mobil tidak sadarkan diri. Empat orang pria misterius dengan hoodie tersenyum seakan puas mendapatkan buruannya.
Pagi hari, Siska sudah disibukkan dengan daftar laporan orang hilang. Dalam beberapa hari terakhir setidaknya tujuh orang dinyatakan hilang oleh keluarganya.
Berbagai isu berkembang, mulai dari sindikat perdagangan orang, sampai dengan isu mistis tentang mahluk mitos yang kerap menculik anak anak menjelang malam.
Berita simpang siur meresahkan warga, banyak anggota masyarakat yang termakan isu jadi khawatir saat beraktifitas di luar. Mereka berusaha sudah berada di rumah saat malam tiba.
Di kantornya Wira mulai gusar dengan isu yang beredar. Dia berencana melakukan pertemuan terakhir sebelum misi dijalankan. Semua orang yang akan tergabung dalam team dikumpulkan untuk membahas strategi.
Jam sembilan pagi seluruh orang yang bergabung dalam team telah berkumpul di sebuah ruangan, Wira memeriksa berkas personil sembari menunggu kedatangan Linda.
" Selamat pagi pak, maaf saya terlambat."
Linda mengetuk pintu, lalu segera mengambil tempat duduk di sebelah Siska. Wira segera berdiri dan mulai memaparkan rencana operasi yang akan mereka jalankan.
"Selamat pagi rekan rekan, saya yakin kalian semua sudah tahu maksud pertemuan ini, jadi saya langsung saja pada pointnya.
"Kita akan bergerak melakukan penyelidikan mulai nanti malam, karena itu saya mau kalian memahami peranan masing masing, dan jangan ada yang bergerak di luar komando.
"Disini saya sengaja melibatkan Linda, dengan tujuan menyamarkan misi. Siska akan menyamar sebagai wanita malam, Bayu dan Arjuna masing masing akan memantau situasi lapangan sekaligus menyelidiki kegiatan Black Rose."
"Maaf komandan, apa kita masih perlu mengawasi Black Rose, karena menurut kami kasus yang kita tangani adalah pembunuhan."
"Dari saksi dan bukti selama penyelidikan kasus karyawan Black Rose yang bernama Agus, pelaku nyatanya bukan orang orang dari Black Rose, dan tidak ada bukti kalau Leo Hadi Wijaya terlibat, komandan."
Arjuna menyampaikan pandapatnya tentang penyelidikan kasus yang akan mereka lakukan. Bintara muda itu merasa mengawasi Black Rose hanya membuang buang waktu, karena tidak ada bukti yang mengarah pada keterlibatan Leo Hadi Wijaya dalam beberapa kasus kematian yang sedang mereka tangani.
Wira tersenyum, mendengar analisa dangkal bintara muda yang ada didepannya. Diapun langsung membagikan satu berkas file yang berisi urutan pristiwa pembunuhan dan alasan mengapa dia mencurigai Leo Hadi Wijaya.
"Tidak ada bukti, belum tentu tidak terjadi."
"Maksud bapak?"
Bayu langsung memotong ucapan Wira, dia memang sosok orang yang tidak suka basa basi, temperamen dan tidak sabaran. Menurutnya ucapan Wira terlalu berbrlit belit.
"Perhatikan file yang saya berikan, baca baik baik urutan peristiwa pembunuhan, lihat foto korban, dan keterangan saksi maupun barang bukti."
"Yang pertama kasus Hana dan Renata, meskipun cara mereka tewas berbeda, tapi mereka sama sama karyawan Naga Jaya grup. Keduanya adalah sahabat karib semasa hidupnya."
"Di leher keduanya ada tato yang hampir sama, dan saya sempat melihat, ada dua orang wanita yang bersama Leo Hadi Wijaya memiliki tato bintang sama persis dengan Hana gadis yang tewas di area gudang pelabuhan."
"Saya curiga mereka anggota perkumpulan."
"Yang ke dua lihat foto yang diambil Linda di club Black Rose. Walaupun sedikit kabur tapi masih bisa di terlihat jelas bahwa wanita yang dijambak rambutnya ke arah ruang belakang club adalah Renata gadis yang bunuh diri di mall."
"Saya meyakini ada satu aktifitas terselubung di belakang club, semacam tempat rahasia."
"Berikutnya adalah korban Agus dia adalah karyawan Black Rose yang menjambak Renata dan setelah berita gaya hidup di muat, oleh kantor surat kabar Surya, direkturnya mendapat teror bom.
"Patut diduga karena pada cover depan surat kabar terdapat foto Agus sedang menjambak Renata yang notabene tewas bunuh diri di mall.
"Terakhir, Agus sendiri, dia tewas di bunuh oleh empat orang tak dikenal. Namun setelah pelaku tertangkap, sayangnya mereka semua juga tewas secara misterius di dalam sell tahanan."
Meskipun belum ada bukti yang mengarah kepada dalang pembunuhan, tapi saya menduga ada benang merah yang menghubungkan semua kasus tersebut dengan Leo Hadi Wijaya."
"Untuk membuktikan kecurigaan itu, saya membentuk team khusus ini."
Semua anggota yang hadir di ruangan itu terdiam, mereka kagum pada analisa Wira yang begitu tajam.
"Oh iya sebelum bubar, saya ingin menambahkan, soal orang hilang yang meresahkan warga beberapa hari tetakhir, kita juga akan membantu menyelidiki kasus itu!"
"Apa bisa difahami?"
"Siap di mengerti komandan."
"Bagus, kalau begitu nanti malam kita bergerak, tepat jam sepuluh, ingat tugas kalia masing masing!"
"Siap komandan."
Usai menjelaskan misi yang akan dilakukan, Wira membubarkan team, untuk mempersiapkan diri menjalankan misi nanti malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments