"iya mah, Eza sudah bertemu dengan anak kandung Eza.... Namanya Elvis" ucap lelaki yang tengah menempelkan benda pipih di telinga kanannya.
Kini ia tengah berbicara dengan ibundanya melalui panggilan telepon, mengabari berita terbaru terkait sang putra kandung.
Terdengar sorak bahagia dari seberang sana, meski dengan jarak yang jauh Eza bisa merasakan kesenangan yang juga dirasakan oleh orang tuanya, bagaimana pun mereka juga berupaya mencari keberadaan Elvis selama ini. Dan begitu kabar ini disampaikan, reaksi dari orang tuanya sudah bisa menggambarkan bertapa heboh suasana rumah di seberang sana.
"Dua hari lagi aku akan membawanya ke Jakarta, mama dan papa bisa bertemu dengannya lusa. Tolong siapkan semua keperluan Elvis disana, beli semua kebutuhan anak berusia tujuh tahun, aku percayakan pada mama" ujar Eza pada sang ibu.
Dan langsung disetujui oleh wanita paru baya tersebut, dia begitu bersemangat menanti pertemuannya dengan cucu yang selama ini menghilangkan bagai ditelan bumi. Tapi akhirnya semua doa yang telah ia ucapkan dikabulkan oleh Tuhan, dua hari lagi ia akan bertemu dengan anak bernama Elvis.
"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Nanti jika ada kabar terbaru akan langsung aku sampaikan"
"Baiklah, selamat malam juga ma" sambung Eza.
Telepon pun berakhir, Eza kembali memasukkan gawai ke dalam saku celana, kemudian kembali memandang serius ke arah luar jendela hotel diketinggian lantai tiga puluh.
Tatapan tajam serta rahang yang tegas membuat siapapun tak berani bertatapan lama dengannya, pria dengan satu anak itu akhirnya menemukan titik terang setelah sekian lama terkurung dalam kegelapan.
Namun hal tersebut tak sepenuhnya membuat pria bernama Eza itu bahagia, ia masih memikirkan upaya guna menebus dosa-dosanya pada sang anak dan cara membuat Elvis bahagia.
Bagaimana caranya? meskipun terlahir dari darah daging sendiri Eza tak memiliki pengalaman sebagai seorang Ayah. Tiba-tiba kini ia harus dihadapkan dengan bocah berusia tujuh tahun yang memerlukan kasih sayang serta bimbingan darinya. Tetapi apa yang harus ia lakukan? Dari mana ia memulai? Eza benar-benar tidak paham, apakah ia akan bisa membuat Elvis dekat dengannya dan menerima kenyataan jika Eza adalah ayah kandung anak itu?
Mendadak perasaan tidak tentu menyelimuti Eza, rasa percaya dirinya perlahan hilang berubah menjadi keresahan.
Tadi saja Elvis sama sekali tak mau menatap dirinya, bahkan terlihat takut ketika mereka bersitatap dan malah menempel pada wanita yang dianggapnya ibu.
Eza mendengus kesal, memang cara terbaik adalah memisahkan Elvis dengan Adira. Meski keduanya terlihat saling menyayangi tetapi jika terus dibiarkan bersama yang ada ia malah tidak bisa dekat dengan putranya sendiri. Pikir Eza.
Berbicara tentang Adira, seketika sesuatu melintas di otaknya. Pertanyaan yang seharusnya muncul sejak awal bertemu.
Kenapa Adira bersedia mengadopsi Elvis? Apa sebab dan tujuan wanita tersebut menjadikan Elvis sebagai putra angkatnya sejak lahir.
Padahal dari yang ia dengar Adira adalah seorang gadis lajang yang mempunyai kehidupan serta karir yang bagus, lantas mengapa harus repot-repot mengadopsi seorang bayi yang terlantar di jalanan? Padahal jika alasannya karena sekedar ingin mempunyai seorang anak Adira bisa menikah pada saat itu, Eza yakin banyak yang ingin menikahi perempuan seperti Adira.
Mungkinkah Adira punya niat terselubung? Dugaan negatif tentang Adira selalu muncul dibenaknya, khawatir jika selama ini putranya berada di sekitar orang-orang yang tidak baik.
Untunglah Eza bisa menemukan Elvis meski kini usia anak itu telah menginjak tujuh tahun, yang terpenting kini Elvis aman dalam lindungannya.
***
Pagi ini Adira mengajak Elvis jalan-jalan menggunakan mobil miliknya, Adira ingin menghabiskan waktu dengan Elvis seharian penuh karena besok, adalah terakhir kali Adira bisa melihat wajah putranya secara langsung.
Sesak sudah pasti, bahkan mata sembab tak bisa membohongi jika kini Adira tidak baik-baik saja. Semalaman ia menangisi Elvis sampai pagi.
Tapi hari ini Adira berusaha menahan kesedihannya sejenak, karena sekarang Adira ingin memberi momen menyenangkan untuk Elvis meski dengan bentuk sesederhana mungkin dan waktu yang sesingkat ini.
"Mama baik-baik saja?" Tanya Elvis melihat kondisi Adira setelah kejadian kemarin sore, rasanya sangat aneh ketika Adira mendadak menyuruh Elvis cuti sekolah karena ingin membawanya ke suatu tempat.
Adira tersenyum penuh guna menunjukkan keadaannya sebaik mungkin, tak mau membuat Elvis curiga. Adira ingin hari ini mereka tertawa puas kerena besok, hanya akan ada air mata yang menghujani hari bersejarah tersebut.
"Tentu! Hari ini mama ingin mengajak El ke tempat-tempat yang seru. Pokoknya kita akan menghabiskan waktu seharian, mama sudah siapkan daftar tempat-tempatnya termasuk tempat yang ingin El kunjungi. Hari ini kita harus bersenang-senang, El siap?!!" Ujar Adira penuh semangat.
Berbanding terbaik dengan Elvis yang masih terdiam sembari menatap bingung Adira, bukannya Adira bilang jika akhir-akhir ini sibuk bekerja? Kenapa tiba-tiba ingin jalan-jalan seharian? Elvis masih dikerumuni tanda tanya.
"Kenapa mendadak ma?"
Adira menjawab dengan asal namun tetap terdengar masuk akal bagi bocah tujuh tahun di sampingnya ini.
"Emm.... Karena hari ini mama baru dapat bonus gajian, jadi mama ingin mengajak El bermain mumpung uangnya masih ada" jelasnya berdusta, mengandalkan kebohongan demi kebahagiaan sehari.
"Beneran ma?!" Elvis nampak antuasias, namun tak lama raut wajahnya berubah mendung.
"Tapi sayang uangnya, mending mama simpan dulu" cetus Elvis, mengingat ia sangat tahu kondisi perekonomian mereka.
Adira tampak menggeleng, "Jangan khawatir, mama sudah pastikan semuanya aman terkendali. Kita bisa bebas liburan seharian dan El bisa beli apapun yang El mau, mama janji akan mengabulkannya. Memangnya El tidak senang ya mama mengajak liburan?"
"Senang kok, ma! El cuma gak mau merepotkan mama saja" elaknya.
Adira tersenyum lembut, ia mengacak-acak rambut putranya gemas.
"Sama sekali tidak, sayang. Mama justru akan senang kalau El mau mengatakan apapun yang El inginkan, jangan ada rasa tidak enak karena khusus hari ini mama akan belikan semuanya! Kesempatan tidak datang dua kali, sayang. Jadi lakukan yang terbaik, Oke?!"
Dan Elvis pun mengangguk dengan cepat, dan hari itupun keduanya menghabiskan hari-hari dengan kegembiraan.
Elvis maupun Adira tak henti-hentinya menebar senyum ceria, melupakan sejenak kesedihan yang melanda. Mereka benar-benar ingin menjadikan hari ini moment bersejarah yang tak akan pernah terlupakan.
Berjalan bergandengan dengan erat seolah ada lem yang menempel di telapak tangan, mengelilingi tempat yang sedari dulu ingin mereka kunjungi, membeli semua yang mereka harapkan, semua Adira beri untuk buah cintanya.
Menandai setiap jalanan yang mereka lalui dengan moment indah Elvis dan Adira, langit pun menyinari dunia dengan amat cerah seakan mendukung kebahagiaan dua orang berbeda generasi itu.
Hingga malam pun keduanya lewati dengan keseruan tiada henti, sampai lupa jika badai kian menanti....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
😢😢😢😢😢
2024-10-03
0
Raufaya Raisa Putri
🆂🅴🆃🅴🅻🅰🅷 🅱🅰🅳🅰🅸 🅿🅰🆂🆃🅸 🅰🅺🅰🅽 🅰🅳 🅿🅴🅻🅰🅽🅶🅸
2024-04-21
0
hìķàwäþî
msh kuat bw mobil jeng?
2023-10-12
0