Adira dipersilahkan untuk masuk ke ruang ICU, setelah memakai seragam yang ditentukan Adira pun melangkah ke dalam ruangan tersebut.
Hawa berbeda sangat terasa kala Adira berada di dalam sana, kedua orangtuanya ditempatkan dalam satu ruangan, kini Adira bisa melihatnya dengan jelas.
Adira terlebih dahulu menghampiri ranjang Ibunya, menatap wajah sang Ibu yang penuh luka serta berbagai alat yang dipasang ditubuhnya membuat Adira kian melemas dan ikut terluka.
Sebisa mungkin Adira menahan cairan yang menggenang di pelupuk matanya.
Ia pun mendekatkan kepala agar sejajar dengan telinga sang Ibu, Adira ingin berbicara pada wanita yang telah melahirkannya ini.
"Bu......."
Rasanya tak sanggup untuk berucap, pita suaranya terasa putus dan sulit untuk sekedar mengeluarkan satu kata saja. Namun Adira berusaha mengajak sang ibu berbicara.
"Ini Adira Bu....."
"Adira rindu Ibu....."
Tes!
Tak bisa dibendung, tetesan bening itu pun akhirnya luruh jua.
"Ibu dan Ayah harus sembuh, Adira butuh kalian...."
Hiksss!
"Kalian sudah berjanji untuk tetap ada sampai Adira mempunyai keluarga sendiri... Adira mohon bertahanlah...."
Sakit!! Rasanya lebih sakit ketika melihat orang yang kita sayangi dalam keadaan terbaring tak berdaya, sejujurnya Adira tak kuat meski hanya menatap saja.
Ini terlalu mendadak! Adira belum mempersiapkan keteguhan hatinya untuk bertemu hari ini. Hari dimana jantung dan dunianya runtuh tanpa tanda-tanda.
"Kenapa bukan Adira saja Bu...."
"Kenapa harus kalian yang mengalami ini??"
"Adira rela menggantikan rasa sakit kalian, Adira tak kuat melihat keadaan kalian seperti ini. Cepatlah bangun Bu.... Adira ingin memeluk Ibu"
Hiksss!!! Hiksss...!!!
Adira menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara, rasa ingin menjerit dan melampiaskan kesedihan begitu amat ingin Adira lakukan.
Tanpa Adira ketahui, sang Ibu yang terbaring tak sadarkan dirinya rupanya mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Ada pepatah bilang 'Raganya mungkin boleh tak berucap tapi hatinya akan selalu bisa mendengar'.
Itulah yang kiranya tengah dialami oleh perempuan paru baya tersebut.
"Kenapa kemarin Adira tidak ikut saja dengan kalian, Adira menyesal menunda waktu untuk ikut bersama kalian, Adira menyesal.... Sangat menyesalll..... Hiks"
Cukup lama Adira merenungi penyesalannya itu, sesegera mungkin Adira kembali menghapus air matanya.
Kini ia menghampiri brangkar sang Ayah, ditatapnya cinta pertamanya dengan tatapan yang teramat dalam.
Apakah ia harus kehilangan cinta pertamanya secepatnya ini, jujur ia tak akan pernah siap. Pria yang biasanya ceria dan membuatnya tertawa kini hanya mampu terbaring dengan alat bantu.
Biarlah sang Ayah menjahilinya terus dari pagi sampai malam, Adira janji tak akan pernah kesal ataupun marah. Adira janji akan tersenyum meski sang Ayah meledeknya berkali-kali, Adira justru rindu mendengarnya.
"Yah..... Ayo bangun!"
"Adira sudah di Malang..."
"Adira nekat datang untuk bertemu kalian..."
Tes!
Mungkinkah kata-katanya bisa membuat Ayah bangun saat ini juga?? Adira sangat berharap demikian, meski hanya untuk menjawab ucapan konyolnya ini.
"Adira tidak tersesat...."
"Ayo bangun Yah... Adira ingin membuktikannya pada Ayah....
"Ayo bangun Yah...."
"A-yo ba-ngun......"
Hiksss!!
"A-yah... su-dah ba-ngun"
Deg!!!
Seketika Adira mengangkat kepalanya tak percaya.
Sang Ayah berbicara dengan mata setengah terbuka, memandanginya dengan senyum tipis yang terukir sambil menahan rasa sakit.
"Ayah???"
"A-yah... Min-ta Ma-af Ra...." Lirihnya sedikit tak jelas namun Adira sangat mengerti dengan apa yang diucapkan.
Adira menggeleng mendengar penuturan sang Ayah.
"Ayah tidak perlu minta maaf, Adira hanya ingin kalian sepat sembuh seperti semula" cekat Adira meminta.
"A-yah... Ha-rus.... Per-gi"
Adira makin meneteskan air mata, kenapa harus kata-kata itu yang keluar? Adira tak sanggup mendengarnya.
"Ayah dan Ibu akan tetap disini, kalian sudah janji pada Adira. Adira tidak bisa sendiri bawa Adira ikut bersama kalian. Adira mohonnn....."
Mencoba menggenggam tangan sang Ayah dan menempelkannya di sebelah pipi Adira hingga Bagas bisa merasakan air yang menetes di bagian itu.
"A-yah... A-kan Se-la-lu A-da di si-si mu... Tapi..."
Adira masih menunggu kalimat selanjutnya tanpa memotong terlebih dahulu.
"Ta-pi.... Bukan.... Di si-ni..."
Perlahan nafas Bagas mulai terengah-engah, seakan ada beban berat untuk sekedar bernafas.
"Berbaha-gialah.... "
"A-yah... Sa-yang.... Pa-damu...." Bagas mencoba melepas tangannya dari genggaman Adira, terangkat perlaun-laun dan menjatuhkan lengan di atas kepala Adira.
Mengusap lembut rambut sang putri untuk terakhir kalinya.
"Jaga diri...."
"A-ayah pa-mit....." Bersamaan dengan kelompok mata yang tertutup.
Sedetik kemudian bunyi dari alat elektrokardiogram mengeluarkan suara nyaring dengan garis lurus yang terpampang di layar monitor.
Titttttttttt............
"Tidak...."
"Tidak mungkin....."
"Ayah bangun.....!!"
"Ayah..... Ayahhhh....."
"AYAHHHHHH!!!!!" Adira mencoba menggoyangkan badan sang Ayah yang sudah tak bernyawa, mengaung-ngaung sambil menyebut nama Ayah meski tau usahanya tak akan bisa mengembalikan jiwa yang sudah diambil oleh yang Maha Kuasa.
Dokter dan perawat berlarian untuk memastikan kondisi pasien.
Beberapa kali mencoba dengan berbagai alat, namun hasil tetaplah sama.
Dan tak lama bunyi elektrokardiogram terdengar lagi dari monitor yang berbeda, garis lurus tercetak jelas di layar.
Sang Ibu pun ikut pergi ke alam baka.
"IBU......!!!"
Adira berlari ke arah Ibundanya dan langsung memeluk tubuh wanita tersebut.
"IBU JANGAN TINGGALKAN ADIRA SENDIRI DISINI....."
"IBUUUU!!!!"
Dokter, perawat, dan juga Marsya hanya mampu berdiri membiarkan Adira melepas kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali.
Mereka semua turut berdukacita atas meninggalnya Bagas dan Nadin yang wafat dalam tanggal, bulan, dan tahun yang sama, bahkan hanya berbeda sepersekian detik.
"KENAPAAAAA....."
"KENAPA KALIAN MENINGGALKAN AKU DISINI.... KENAPA?!!!"
"ADIRA INGIN IKUTTT....."
"ADIRA INGIN IKUT BU....."
Melihat Adira yang tak terkendali Marsya mencoba mendekat, berusaha menjauhkan tubuh Adira dari mendiang Ibunya.
"Ikhlaskan Ra.... Mereka sudah tenang di alam sana. Kamu harus ikhlas...."
"Kenapa mereka meninggalkan ku Sya?!!! Aku sendirian sekarang, aku tidak mau!!" Teriaknya emosional.
Marsya pun seketika memeluk sahabatnya dan menangis bersama-sama.
"Tuhan lebih sayang mereka, orang tua mu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang, kamu harus ikhlas.... "
"Aku tidak bisa, Sya......!!"
"Kamu pasti bisa, Ra! Jangan seperti ini, mereka tidak akan tenang jika kamu tidak mengikhlaskan kepergiannya. Biarkan mereka bahagia disana dengan cara merelakan kehendak Tuhan"
"Kamu wanita kuat, karena itulah Tuhan memilih kamu melewati jalan ini" tambah Marsya.
Dokter serta perawat pun mulai menutup kedua jenazah dengan selimut hingga ke bagian kepala, selanjutnya mereka harus bersiap untuk memandikan jenazah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Siti Nurjanah
semoga amal ibDah nadin dan bagas di terima Allah. dan semoga adira tabah menjalani musibah ini ran tetap semangat untuk kehidupan ug baru walau tidak bersama ayah dan ibunya lg
2024-07-06
0
Raufaya Raisa Putri
nyesek... pdhl cm bc
2024-04-21
0
Za Salleh
aduh sedihnya 😢
2023-11-06
0