"Tuan Eza mengatakan jika beliau sudah mencari-cari keberadaan anaknya yang telah lama hilang beberapa tahun terakhir ini, dari yang saya dengar sempat terjadi masalah keluarga atas sebab hilangnya nak Elvis ketika baru beberapa hari dilahirkan. Namun saya tidak berani bertanya lebih dalam, yang pasti beliau datang ke rumah saya sembari membawa beberapa bukti terkait hilangnya seorang bayi tujuh tahun silam. Saya tak bisa menyembunyikan hal besar ini, karena jika memang benar beliau Ayah kandung dari nak Elvis maka anak itu juga harus tahu. Beliau meminta saya untuk mempertemukan mereka berdua, tetapi sayang mbak Adira sudah pindah ke Malang, dan beliau memohon pada saya untuk mengantarkannya kesini" jelas pak RT dengan detail, tak ada yang ditutupi dari Adira, pria tua itu berkata jujur sesuai apa yang diceritakan.
Setelah perdebatan di ruang tamu tadi, Adira meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan pak RT di ruang makan, Adira ingin lebih leluasa mendengar cerita yang sebenarnya, sedangkan Elvis Adira suruh untuk masuk ke dalam kamar ditemani pengasuhnya.
Adira termenung dengan kepala yang berdenyut, ia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi setelah sekian lama. Adira tidak berpikir bahwa keluarga kandung Elvis masih berniat mencari anak itu, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, kenapa mereka harus datang sekarang disaat rasa cinta dan sayang pada putra angkatnya sudah melekat bak ibu dan anak aslinya. Adira tak ingin kehilangan Elvis, Elvis sudah bagaikan setengah nyawa Adira dalam hidupnya, ia tak bisa membayangkan manakala dirinya harus berpisah dengan anak lelaki yang sudah ia besarkan selama tujuh tahun ini.
"A-apa niat dia kemari..... Untuk mengambil Elvis dari saya?" Sambung Adira menahan tangis sekuat tenaga.
Pak RT nampak tidak tega, ia juga paham betul apa yang dirasakan Adira, wanita sebatang kara yang tak punya siapa-siapa hanya putra angkat yang disayangi sepenuh hati, apakah harus kehilangan orang tersayang lagi?
"Jika memang benar, mbak Adira juga pasti akan selalu diizinkan untuk bertemu dengan nak Elvis" jawabnya tak memberi kepastian.
Adira memejamkan kedua matanya mendengar penuturan tersebut, seketika cairan bening lolos menembus kedua pipi Adira yang memerah. Hatinya serasa tercabik-cabik oleh ribuan pisau belati, perih rasanya padahal harusnya Adira bahagia karena akhirnya Elvis menemukan keluarga dimana ia berasal.
"Hiksss..... Saya belum siap kehilangan Elvis, pakkk...." Isak Adira tak terbendung lagi.
Pak RT pun ikut menatap sendu sang lawan bicara, mau bagaimana lagi, dunia memang kejam meski yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan. Pada akhirnya kita memang harus menerima kenyataan yang ada.
"Mbak Adira bisa bicara hal ini baik-baik dengan Tuan Eza, saya yakin beliau akan mengerti dan kalian bisa mengambil jalan tengah yang terbaik" saran pak RT memberi usul, meski ada keraguan mengatakan demikian.
Adira mencoba untuk tegar, ia segera menghapus asal air matanya yang berlinang.
"Bagaimana jika saya menolak pengambilan hak asuh tersebut pak? Bagaimana pun saya yang merawat dan membesarkan Elvis, meski saya hanya orang tua angkatnya" ujar Adira meminta saran kembali, masih belum rela jikalau orang tua kandung Elvis mengambilnya dari Adira.
Tetapi dengan cepat pak RT menggeleng.
"Saya rasa tidak mungkin, mbak"
"Kenapa, pak? Belum tentu juga mereka bisa merawat dan membesarkan Elvis dengan baik, Elvis pun belum tentu mau pergi bersama mereka" lanjut Adira.
"Saya mengatakan demikian bukan tanpa alasan, Tuan Eza bukan orang sembarangan. Beliau berasal dari kalangan berada, seorang pengusaha dan konglomerat, yang pasti punya kekuasaan tinggi. Sangat tidak mungkin jika mbak Adira akan berlawanan dengan beliau, apalagi melalui jalur hukum pasti Tuan Eza memiliki pengacara terbaik, tetapi diluar itu hakim pun akan mempertimbangkan dengan sangat matang dan mohon maaf jika saya lancang tapi.... Masa depan nak Elvis akan lebih terjamin" jelasnya lagi.
Deg!
Adira bagai ditampar kenyataan, semustahil itukah? Memang benar, ia hanyalah serpihan debu jika harus berhadapan dengan logam mulia. Tapi apakah serpihan debu ini tak berhak merawat berlian yang sudah ia jaga sepenuh hati???
***
"Saya berkenan jika harus merawat Elvis selama-lamanya" seru Adira ketika mereka sudah kembali ke ruang tamu dan berhadap-hadapan lagi dengan kedua pria yang masih setia menunggu disana.
Eza terdengar tertawa mengejek, setelah itu menatap tajam pada wanita yang tertunduk menutupi wajahnya yang sembab akibat tangisan di ruang makan tadi.
"Terimakasih, tapi saya rasa sudah cukup sampai disini! Seterusnya aku yang akan merawat anak kandungku sendiri" ketus Eza menekan kata 'kandung' seakan menyadarkan Adira yang bersikukuh mempertahankan Elvis.
"Tapi saya mohon jangan paksa anak itu, tolong beri dia waktu untuk menerima semua ini. D-dia... Dia bahkan belum tau bahwa aku hanyalah ibu angkatnya" pinta Adira bergetar, memohon belas kasih Eza agar tak membawa Elvis secepat mungkin, Adira yakin bocah itu akan merasa hancur ketika mengetahui kenyataan yang ada.
"Saya tak bisa berlama-lama terus disini, keluarga ku sudah menunggu di Jakarta. Kami harus segera pergi sesegera mungkin" ujar Eza tegas seakan menolak permintaan Adira.
"Saya mohon beri kami waktu seminggu lagi, Tuan. Saya ingin menjelaskan semuanya pada Elvis sebelum anda membawanya pergi, biarkan dia mengetahui fakta yang ada, saya tak ingin dia membenci saya suatu saat nanti" mohon Adira memberanikan diri menatap sang lawan bicara.
Sesaat keduanya beradu pandang dengan tatapan yang berbeda, mata tajam itu sesaat bertemu dengan mata yang dipenuhi genangan air yang mengkilap.
Di mana sorot mata sangar yang ditunjukkan wanita ini? Di awal ia menantang tetapi sekarang justru memohon belas kasihnya, gumam Eza dalam hati.
"Saran saya lebih baik memang kita memberi waktu untuk Nona ini menjelaskan pada Tuan Elvis, mungkin saja dengan begitu putra anda bisa lebih menerima kepergiannya" sanggah Rafa sang asisten.
Hal itu membuat Eza menghembuskan nafas kasar, jujur ia sudah tidak sabar membawa putranya pulang ke rumah dan bertemu keluarganya disana. Eza ingin menebus semua dosanya terhadap anak itu.
"Dua hari..! Aku beri waktu kalian dua hari dari sekarang untuk berpamitan, aku harap urusan mu dengan putraku sudah selesai lusa esok" tegasnya lagi memberi peringatan.
Dua hari?? Itu waktu yang sebentar untuknya dan Elvis menghabiskan waktu untuk yang terakhir kali. Banyak yang ingin ia sampaikan, belum lagi Adira tak sempat melaksanakan janji-janjinya pada Elvis, kekhawatiran semakin mengumpul di lubuk jiwanya. Adira takut.... Takut Elvis akan membencinya meski mungkin mereka tak akan pernah bisa bertemu kembali.
"Aku tak mau putraku berlama-lama tinggal disini, dia harus mendapatkan kehidupan yang layak. Tapi disini???" Eza menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mencibir keadaan kehidupan Adira.
"Dia harus kembali ketempat dimana seharusnya dia berada" sambung Eza sebelum akhirnya ia beranjak dari sofa dan keluar dari rumah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
awesome moment
sombong bgts. ngegedhein jg kagak. udh 7 th. udh ckp mandiri. enak bgts. yg mati2an tu dri lahir smp 5 tahun. selbhnya tinggal poles
2025-04-03
0
Siti Nurjanah
sombong sekali eza ini tak ada sopan sopannya. bahkan ucapan terima kasih pun tak ada malah menghina
2024-07-07
0
Raufaya Raisa Putri
🅳🅸🅱🅸🅺🅸🅽 🅱🆄🅲🅸🅽 🆂🅼 🅾🆃🅾🆁 🅽🆈🅰🅷🅾🅺 🅻🆄🅷 🅹🅰
2024-04-21
0