Seperginya ketiga pria itu, Adira langsung menangis tersedu-sedu. Menumpahkan seluruh kepedihannya di ruang tamu sendirian, berharap semua ini hanyalah mimpi semata, andaikan waktu bisa diputar maka ia akan membawa pergi Elvis ke tempat yang jauh supaya mereka tak pernah bertemu dengan seorang Eza.
Tetapi lagi-lagi Adira harus ditampar oleh kenyataan manakala setumpuk berkas tergeletak di atas meja. Surat-surat yang menjadi bukti jika Elvis benar-benar anak kandung dari lelaki itu.
"Hiksss....... Aku harus bagaimana??!" Tangisnya sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Kenapa hari ini harus tiba?? Kenapa Tuhan harus membawa manusia-manusia itu kesini dan bertemu dengan Elvis, kenapa harus Elvis yang diambil? Kenapa tidak harta atau hal berharga lainnya?? Adira pasti akan jauh lebih ikhlas.
Elvis tidak bisa diganti oleh apapun! Bahkan nyawa pun akan Adira beri jika itu menyangkut tentang Elvis, asalkan selama ia hidup Elvis tetap disampingnya menjadi penyemangat dan tujuan Adira untuk melanjutkan perjalanan ini.
Cobaan apalagi yang harus ia tempuh??? Kenapa musibah yang Adira alami selalu menyangkut orang-orang tersayangnya? Untuk ketiga kalinya Adira kehilangan sebagian nafasnya.
Cukup lama Adira menangis disana, Adira lantas memutuskan untuk mendatangi kamar Elvis setelah Adira merasa dirinya sudah cukup tenang.
Tok Tok Tok!
Adira mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia memutar handel dan membuka pintu.
Ketika pintu terbuka Adira bisa melihat jika putranya tengah memeluk Mira dengan erat, ekspresi bocah kecil itu nampak murung persis ketika tadi Adira menyuruhnya masuk ke kamar.
Adira kemudian melangkah masuk, duduk di tepi ranjang. Elvis langsung beralih memeluk ibunya, Adira mencoba tetap tersenyum sambil mengelus lembut rambut hitam tebal milik Elvis.
"Mama.... Orang tadi siapa?" Cicit Elvis bertanya sangat hati-hati.
Ya Tuhan.... Ini yang aku takutkan, aku tak sanggup menjawabnya! Ini terlalu berat.
Adira merapatkan kedua matanya, sembari menarik nafas terlebih dahulu. Menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Elvis, agar anak ini tidak kebingungan ketika mengetahui siapa orang tadi.
"Emm... Kalau Bapak tua tadi mantan RT Mama dulu saat masih di tinggal di Jakar..."
"Bukan yang itu!!" Elak Elvis memotong penjelasan Adira, Elvis paham siapa bapak tua itu karena mendengar panggilan sang mama padanya.
"El ingin tau Om yang tadi memarahi Mama, siapa dia?" ungkapnya sedikit kesal.
Adira menelan ludah kasar, sudah saatnya kah ia menjelaskan ini? Kira-kira apa respon anak itu nanti?? Ya Tuhan... Kuatkanlah dirinya, jerit Adira dalam hati.
"D-dia......."
Elvis mendongak menatap wajah Ibunya, menunggu dengan sabar jawaban Adira. Begitupun Adira yang menunduk memandang lekat wajah mungil lelaki tercintanya.
"Dia Ayah kamu El....."
Tes!
Detik itu juga tetesan cairan bening lolos dari kelompok mata Adira, tak bisa dijelaskan bagaimana hancurnya wanita itu ketika mengatakan fakta tersebut, kini Adira benar-benar merasa akan kehilangan buah hatinya.
"Ayah? El gak punya Ayah!!" Elaknya tak mengakui jika Eza adalah orang tuanya.
Adira hanya bisa menangis sambil menatap terus Elvis, Adira merasa sudah membohongi anak baik ini, Adira merasa hancur berkeping-keping.
"Mama bilang Ayah sudah tidak ada! Om itu bukan Ayah Elvis..." Bantahnya lagi enggan menerima semua yang Adira katakan, karena sedari dulu ia lahir tanpa sosok Ayah di sampingnya.
Adira seketika memeluk Elvis dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua kepedihan yang ia rasakan, Elvis pasti kecewa dan merasa telah dibohongi olehnya selama ini.
"Maafkan Mama nak...... Hiksss...!! Maaf..... Maafkan Mama..... Hiksss...." Celotehan Adira membuat Elvis bingung karena tiba-tiba Adira meminta maaf padanya, anak berusia tujuh tahun itu tidak mengerti, seingatnya Adira tak melakukan kesalahan apapun tapi kenapa terus mengucapkan kata maaf?
"Mama kenapa? Kenapa minta maaf sama El?" Tanyanya tak ingin terus melihat Ibundanya terisak.
"Maaf...... Hiksss.....!!! Maafkan Mama El, Mama harus jujur pada kamu.... Maafkan Mama El, sebenarnya Mama bukanlah Ibu kandung kamu.... Hikssss"
Deg!
Saat itu juga kedua mata Elvis melotot mendengar pengakuan Adira, terkejut bukan main! Elvis langsung melonggarkan pelukan dan menatap Adira dengan air mata yang menggenang.
Begitupun dengan Mira yang terbelalak sembari menutup mulut kala mendengarkan berita mencengangkan ini! Selama menjadi pengasuhnya Mira kira jika Elvis dan Adira adalah anak dan Ibu kandung. Sumpah demi apapun, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar ini.
"Enggak!! El anak Mama.... El anak kandung Mama! El lahir dari perut Mama, kan??" Desaknya berharap Adira mengangguk membenarkan.
Tetapi sayang, Adira hanya diam sambil terus menangis.
"El akan tetap jadi anak Mama, meski tidak lahir dari perut Mama" lirih Adira.
Elvis langsung memeluk Adira dengan erat dan menangis dalam dekapan wanita itu.
"Hikssss..... Elvis mau tetap dengan Mama!" Seolah paham jika kejujuran Adira akan mendatangkan hal yang tidak ia inginkan.
Kedua orang berbeda generasi itupun saling berpelukan sambil menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya, saling mengeluarkan kesedihan yang menyelimuti anak dan Ibu tersebut.
Kedua orang yang saling mengasihi pada akhirnya harus merasakan kesakitan yang teramat dalam di hidupnya, dunia yang sudah mereka bangun kini harus hancur kembali karena kedatangan seseorang yang tak pernah mereka undang.
"El harus bisa menerima Om Eza sebagai Ayah El mulai sekarang..." Ucap Adira ditengah Isak tangisnya.
"Enggak mau!!" Tolak Elvis cepat.
Adira mencoba meraih wajah Elvis agar mereka bisa bersitatap, Adira harus mulai berbicara serius karena ia tak punya waktu banyak.
"El.... Mama tau kamu anak yang baik, tapi bagaimana pun sekarang dia adalah Ayah kamu yang harus kamu hormati, jadi.... El harus ikut dengannya.... El- mau kan? S-siapa tau El bisa bertemu dengan.... D-dengan Ibu kandung El" Kata Adira tercekat seakan ada beban yang teramat berat ketika mengeluarkan kalimat tersebut.
"Enggak...!! El mau sama Mama, titik! Hiksss.... Jangan tinggalin El...." Pintanya memohon, anak mana yang mau ditinggalkan dengan orang yang sejak lahir merawatnya, menjaganya, dan mencintainya dengan segenap hati. Tidak peduli jika Adira bukanlah Ibu kandungnya, bagi Elvis Adira tetap Ibu satu-satunya.
"Mama sudah gak sayang El lagi?" Ucapnya bertanya sampai kesana.
Adira tercengang, mana mungkin ia tidak sayang? Justru karena itu Adira ingin yang terbaik untuk masa depan Elvis.
"Mana mungkin, Mama sangat sayang dan akan selalu menyayangi El. El adalah semangat Mama untuk tetap hidup, El akan selalu menjadi malaikat kecil Mama, El tidak akan pernah tergantikan. Tapi......"
Adira menarik nafas dalam, mencoba bisa mengontrol jiwa emosionalnya saat ini, karena bagaimana pun ia harus bisa menenangkan Elvis, jangan membuat anak itu semakin dilanda kepanikan dan gelisah.
"Tapi ini semua demi kebaikan El, hidup El akan lebih baik ketika El ikut dengan mereka. El harus punya masa depan yang cerah sayang, Mama akan selalu mendoakan El... Sampai kapanpun, El akan tetap menjadi anak kebanggaan Mama... Percaya itu"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
🅿🅰🅶🅸" 🆄🅳🅰🅷 🅼🅴🆆🅴🅺
2024-04-21
2
fitriani
😭😭😭😭😭😭😭
2024-02-21
0
赤狐
mnyesek banget thor baca cerita ini, jadi keinget pengalaman hidup saya sendiri, saya pun sama mengadopsi seorang anak perempuan dari sejak umur 2 hari, sekarang anak saya itu udah 19 th, kecemasan selalu ada seandainya suatu saat dia tahu saya bukan ibu kandungnya, dan saya pun tidak tahu d mna mereka, saya sampai nangis ini bacanya, saya dan suami juga bingung bagaimn suatu saat nanti kami menjelaskan status dia yang sebenarnya, kami pun takut kalau pasangannya nanti ngga mau nerima statusnya
2023-11-04
2