Mata Adira terbuka sepenuhnya, sontak ia menoleh pada sang sahabat. Pertanyaan Marsya sungguh diluar nalar, bagaimana mungkin Marsya bertanya seperti itu pada wanita lajang sepertinya.
"Mana bisa, aku belum pernah memiliki pengalaman mengurus anak. Aku juga belum menikah, bagaimana jika suatu saat calon suamiku keberatan dengan anak yang aku angkat?" Ujar Adira berbalik tanya.
Memang ia kasihan, tetapi Adira tidak pernah berpikir sejauh itu sampai berniat mengadopsinya. Mengurus diri sendiri saja masih kerepotan apalagi mengurus seorang bayi yang butuh pengetahuan dan wawasan.
"Ya sudah pilih calon suami yang menerima anak angkat saja, kalian bisa membuat kesepakatan terlebih dahulu" balas Marsya dengan gampangnya.
Adira mendengus akan perkataan Marsya, ia menggeleng sebagai penolakan.
"Tidak semudah itu, mengadopsi seorang anak tidak bisa dilakukan jika hanya karena rasa kasihan semata. Untuk saat ini aku hanya ingin memiliki anak dari rahimku sendiri" ungkap Adira dengan tegas, selagi ia bisa melahirkan seorang anak Adira tak mau gegabah mengadopsi anak orang lain. Banyak yang harus dipertimbangkan, wanita lajang yang belum pernah menikah sepertinya harus berpikir ratusan kali, berbeda dengan wanita yang sudah pernah menikah.
"Lalu, kenapa bukan kamu saja yang mengadopsi?" Lanjut Adira.
"Kamu kan tau aku akan segera menikah, calon suami ku mana mungkin memberi izin mengadopsi seorang anak. Lagian masa sih baru juga mau bikin anak mendadak sudah muncul saja bayi diantara kami" jawab Marsya agak nyeleneh, meskipun jawabannya serupa dengan Adira.
Adira memutar bola mata malas mendengar perkataan ambigu temannya, walau hal itu membuat Adira sedikit iri karena Marsya sebentar lagi akan menikah berbeda dengan dirinya yang masih melajang.
"Aku pun begitu. Sudahlah... Ayo kita kembali bekerja, pekerjaan ku banyak hari ini"
Marsya lantas kembali ke meja kerjanya, keduanya memulai pekerjaan hingga sore menjelang.
***
Sepulang dari bekerja Adira langsung pulang ke rumah, saat melewati rumah pak RT ada beberapa polisi disana, Adira tebak mereka sedang menangani kasus pembuangan bayi tadi.
Langkah Adira berhenti tepat di depan bangunan itu, ia hanya menatap sambil mengedarkan pandangan mencari-cari dimana bayi itu berada, apakah sekarang bayinya masih disini? Adira tak berani bertanya karena takut mengganggu petugas.
Ia kemudian kembali berjalan hingga sampai di rumah.
Aroma masakan menyambut Adira ketika ia membuka pintu utama, wangi masakan Ibundanya memang selalu membuat Adira ngiler, ia masuk ke dapur dimana wanita paru baya yang masih sangat cantik itu tengah menggoreng sesuatu.
"Sore, Bu"
Sang Ibu menoleh dan mendapati putri semata wayangnya disana.
"Sudah pulang, nak?"
Adira mengangguk dan mencium tangan Nadin, Ibundanya.
"Ibu masak apa? Adira jadi lapar mencium aromanya"
"Tumis buncis, tadi tetangga sebelah kasih Ibu sedikit buncis dari hasil panen kebunnya. Jadi Ibu langsung masak saja sekalian buat makan kamu pulang" kata Nadin sambil mengoseng masakan.
Adira manggut-manggut sambil terus memerhatikan kegiatan orang tuanya, tiba-tiba Adira teringat lagi bayi tadi.
"Bu, sudah tau belum ada bayi yang dibuang di daerah kita?"
"Iya, Ibu lihat tadi pagi jam 9. Ibu langsung ke rumah pak RT berbarengan dengan tetangga yang lain, kasihan sekali dia masih baru beberapa hari dilahirkan" Nadin turut sedih melihat keadaan sang bayi.
"Apa sudah ada informasi lebih lanjut lagi? Apa keluarganya sudah ada yang ditemukan?" Adira memberondong pertanyaan sangking penasaran.
"Katanya belum ada, semua informasi masih membutuhkan waktu beberapa hari. Untuk sementara bayi itu akan diurus oleh Ibu RT" jelas Nadin bercakap.
"Padahal bayinya sehat dan sangat tampan, seharusnya mereka bersyukur diberikan keturunan yang sempurna. Bayi itu juga tidak rewel meski hanya diberi susu formula, Ibu tidak tega kalau membayangkannya" sambungnya lagi.
Adira termangu merasakan kepiluan, tadinya ia harap saat pulang bisa mendengar kabar baik terkait bayi itu, namun yang didapat masih kabar yang sama.
"Kalau dugaan Ibu, bayi itu dibuang oleh orang tuanya sendiri. Bisa jadi karena faktor ekonomi atau karena mental mereka belum siap untuk menjadi orang tua, hingga tanpa berpikir lebih jernih lagi akhirnya mereka membuang bayinya sendiri. Huftttt.... Itulah kenapa kita harus berhati-hati dalam memikirkan resiko ke depannya, ini juga pelajaran bagi kita semua terutama kamu yang mungkin sebentar lagi akan menikah dan memiliki keturunan, harus dipikirkan apakah sudah siap secara keseluruhan jangan sampai nantinya malah terjadi hal yang tidak diinginkan" petuah Nadin pada putri cantiknya ini, sebagai seorang wanita dan seorang Ibu ia tentu perlu memberi nasihat untuk Adira di masa depan.
Menginjak usia yang dewasa entah dua atau tiga tahun lagi mungkin jodoh Adira akan datang, meski kini Adira belum mengenalkan siapa-siapa tetapi Nadin yakin akan banyak lelaki yang berniat meminang putrinya untuk dijadikan seorang istri.
Dengan demikian sudah menjadi kewajiban Nadin untuk memperingati Adira kapan waktu yang tepat untuk memiliki keturunan.
"Usia Adira baru 23 tahun, Bu. Adira belum bisa memberi Ibu dan Ayah apa-apa, Adira belum memikirkan soal menikah" tutur Adira terkekeh.
"Bagi Ibu dan Ayah adanya kamu sudah lebih dari cukup, kami tidak minta apapun yang penting kamu sehat dan bahagia, itu saja! Kalau memang ada yang berniat melamar kamu dan kamu mau, kami sebagai orang tua tentu akan mendukung asalkan dia pria baik dan bisa jadi pendamping setia untukmu" Nadin tersenyum lembut sambil memandang Adira sekilas.
Ucapan Ibunya membuat Adira terharu dan berkaca-kaca, tanpa bisa dicegah Adira memeluk sang Ibu saat itu juga.
"Adira sayang Ibu dan Ayah" ucap Adira tercekat.
"Ibu juga sayang padamu, kamu akan selalu menjadi putri kecil Ibu sampai ajal menjemput kami" balas Nadin mengusap lembut surai hitam milik Adira.
Hati wanita muda itu bergetar saat mendengarkan penuturan sang Ibu, entah kenapa seperti ada sesuatu yang berbeda padahal Ibunya bukan sekali mengatakan hal demikian.
Adira hanya terdiam karena tak bisa mengeluarkan suara, rasanya ingin menangis kencang tetapi tenaganya sudah habis terkuras seharian ini.
Ia belum siap jika harus kehilangan orang tua tercinta, Adira tak memiliki siapa-siapa selain mereka, ia anak tunggal dan tak punya teman untuk berbagi cerita juga beban hidupnya.
Keinginan sang Ibu adalah mereka ingin bisa menemani Adira sampai tahan pelaminan, memastikan putri semata wayangnya mempunyai teman hidup dan tepat.
Adira mengerti kenapa kini orang tuanya sering menyinggung tentang pernikahan, tetapi Adira tak mau memaksakan kehendak, ia belum siap dan tak akan memaksa, takut terjadi hal yang tak diinginkan.
"Sudah, sekarang kamu mandi sana. Ibu mau menyelesaikan masakan ini" titahnya yang langsung dilaksanakan oleh Adira.
Ia pun pergi dari dapur dan masuk ke dalam kamar guna membersihkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
hmmm... menarik
2024-04-21
0
hìķàwäþî
pengadiln jg ga akan memberikn hak asuh anak pd yg lajang.. setau gw..
2023-10-11
0
#ayu.kurniaa_
.
2023-09-20
0