Tiga Minggu tak terasa Adira menjalani hari-harinya seorang diri, kepergian Ibu serta Ayahnya sangat membekas dalam setiap apa yang Adira lakukan.
Hari-hari terasa begitu berat bagi Adira, semua dilakukan olehnya sendiri yang selalu terbiasa dimanja orang tua. Adira layaknya anak tunggal pada umumnya, kini ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai sungguh membuat hidupnya serasa kacau dan tak terarah.
Tak ada sandaran untuk ia berkeluh kesah, tak ada punggung untuk ia berlindung. Terkadang Adira masih menangis ketika sendirian berada di rumah, lebih sering tertidur di kamar orang tuanya sambil memeluk figura mereka.
Kala pagi menjelang Adira bangun pagi untuk bekerja dan mulai memasak untuknya sendiri, setelah sore menjelang ia pun pulang disambut sunyi nya isi rumah. Duduk ditengah-tengah sofa panjang sambil menyalakan TV yang justru menonton dirinya.
Adira beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri, memandang kursi kosong yang kini sudah tak berpenghuni.
Begitulah aktivitas Adira setiap hari, datar dan lebih banyak sepi. Dunianya seakan gelap tak bercahaya, hingga membuatnya sulit menatap ke arah depan ketika masa lalu selalu menariknya ke belakang.
Seperti saat ini, Adira sudah siap pergi ke kantor dan tengah mengunci pintu rumah. Ia berjalan lebih dulu menuju halte bus.
Saat melewati rumah pak RT Adira tak sengaja melihat istrinya tengah berjemur bersama sang bayi.
Adira lantas menyapa sambil berhenti untuk melihat bayi itu.
"Pagi, Bu" sapa Adira ramah.
"Pagi juga, Ra. Berangkat kerja?"
Adira mengangguk mengiyakan tanpa mengalihkan pandangan dari bayi yang tengah digendong tersebut.
Tumben sekali bayi itu terbangun ketika berpapasan dengan Adira, biasanya selalu tertidur dan jarang membuka mata.
"Hai... Lagi berjemur ya!" celoteh Adira mengajak bayi itu mengobrol, jari telunjuk Adira langsung digenggam dengan erat oleh tangannya yang kecil.
"Tumben bangun, eh... Senyum! Lucunyaaaa" ujar Adira terkaget kala si bayi melengkungkan bibir membentuk senyuman.
"Sudah dulu ya... Nanti kita ketemu lagi besok, oke?" Ujar Adira seolah bayi itu mengerti apa yang ia ucapkan, tak jarang Adira melihatnya berjemur setiap pagi meski tidak setiap hari, namun bertemu dengan bayi ini memberikan Adira sedikit banyak energi untuknya.
"Tapi sayang, hari ini hari terakhir kita semua bertemu dengan dia" seru Bu RT menimpal.
Seketika Adira terperangah mendengar penuturan wanita setengah baya di depannya! Ia langsung menatap bingung tentang kalimat yang barusan keluar dari mulut Bu RT.
"M-maksudnya, Bu?" Tanya Adira terbata-bata.
"Sore ini kami akan ke panti asuhan untuk menyerahkan bayi ini, kemarin malam sudah ada telepon dari pihak panti kalau hari ini bayinya sudah bisa dibawa kesana" jelasnya rinci.
Adira mematung ditempat seolah tak percaya, bayi yang hari-hari Adira temui akan diserahkan ke panti asuhan. Jadi, inilah hari terakhir mereka bertemu?? Kenapa rasanya sangat cepat?!
"K-kenapa harus diserahkan sekarang Bu? Apa tidak bisa lebih lama lagi?" Ujar Adira seperti tak rela jika bayi ini pergi.
"Tidak bisa, Ra. Dengan adanya panti asuhan keluarganya bisa lebih mudah menemukan bayi ini, dan jikalau tidak... Mungkin saja akan ada yang berniat mengadopsi" menjelaskan dengan detail pada Adira.
Entah kenapa Adira merasa gelisah ketika membayangkan bayi ini akan diserahkan pada pihak panti asuhan, membayangkan jika bayinya tak akan mendapatkan perlakuan yang spesial dan mesti berbagi kehangatan dengan anak-anak yang lain. Adira khawatir kebutuhan bayi ini tak dapat terpenuhi, cemas jikalau bisa saja menerima perlakuan buruk dari yang lain.
"Kenapa Bu RT tidak mengadopsinya saja? Ibu pasti sudah menyayangi bayi ini seperti anak sendiri, Adira tidak tega membayangkan bayi ini harus ditempatkan di panti asuhan" pertanyaan yang terdengar menggampangkan itu lolos begitu saja dari mulut Adira.
Ibu RT sontak tertawa ringan, "Saya tidak bisa, Ra. Selain sudah cukup umur dan tidak kuat mengurus anak lagi, saya juga tidak mampu membiayai kebutuhan anggota baru mengingat ekonomi keluarga yang pas-pasan"
Adira mengerti, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Tidak semudah yang dilihat, kadang merelakan kepergian seseorang untuk mempertahankan kebaikan bersama lebih baik dari pada harus memaksakannya dan malah menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
"Kalau kamu mau bayi ini tetap disini, kenapa bukan kamu saja yang mengadopsi?" Sahut Bu RT tersenyum penuh arti.
Adira membeku beberapa saat, perkataan perempuan berdaster ini berputar-putar di otaknya.
Mengadopsi???
Mungkinkah Adira bisa mengadopsinya? Ia tidak tau cara mengurus seorang bayi apalagi bayi orang lain yang tidak ia kenali.
Bagaimana kalau ia salah dalam segi tertentu? Tak akan ada orang yang membimbing dia, Adira bukan tak mau, tapi ia takut tak becus menjadi seorang ibu.
"Kamu masih lajang, belum banyak yang harus dipikirkan. Mungkin dengan adanya bayi ini, kamu tidak akan kesepian lagi. Kalian bisa saling melengkapi satu sama lain" tambahnya membuat Adira semakin berpikir keras.
Mungkinkah.... Ia bisa???
***
"Dengar-dengar Presdir kita sudah kembali ke Jakarta" bisik salah satu karyawan kantor.
"Hidihhhh.... Malas sekali aku mendengarnya" balas yang lain.
"Benar aku juga malas, seketika aku naik pitam hanya dengan mendengar namanya"
"Si tua Bangka itu kenapa harus kembali lagi kesini sih?!!"
Obrolan-obrolan dari para pegawai memenuhi ruang kerja Adira, namun tak membuat gadis itu tertarik untuk ikut membahasnya.
"Aku malas dengan tingkah ca*bulnya!"
"Betul, aku pernah digoda dengan kata-kata mesuum yang sangat menjijikkan. Iyyuhh.... Aku mau muntah kalau mengingatnya"
Obrolan itu tak henti sampai jam kerja selesai, namun sebuah telepon membuyarkan kefokusan Adira, ia lantas mengangkat telepon di meja kerjanya.
"Hallo dengan Adira Mahayu disini"
"......"
"Baik saya akan segera kesana"
Marsya yang sudah membereskan barang-barang terlihat menghampiri meja sahabatnya.
"Pulang sekarang, Ra?"
"Kamu duluan saja Sya, aku dipanggil ke ruang Presdir dulu tadi" kata Adira sambil merapikan dokumen miliknya.
"Ada apa memangnya?"
"Aku juga tidak tau, tadi sekertarisnya cuma bilang jika ada keperluan dengan aku, mungkin soal pekerjaan" pikir Adira.
"Tapi hati-hati lho, Ra. Presdir itu mesuum orangnya, kamu tau kan kalau dari dulu dia selalu berusaha menggoda kamu" Marsya memberi peringatan, tentu ia tak mau sahabatnya ini mendapatkan perlakuan seperti dulu lagi.
"Iya, Sya. Kamu tenang saja, aku akan melawan kalau dia macam-macam!" Ucapnya memasang ekspresi garang.
"Nah itu baru yang sahabatku!"
"Ya sudah kamu pulang sekarang, gih! Bukankah kamu bilang tunangan mu akan menjemput?"
"Hmm... Maaf ya Ra hari ini aku tidak bisa menginap" sesal Marsya.
"Tidak masalah, selamat menikmati anniversary untuk kalian berdua"
"Hihihi.... Terimakasih Ra, kalau begitu aku pamit dulu ya. Byeeee....."
Mereka pun berpisah disana, barulah Adira beranjak menuju ruang Presdir.
•
•
•
•
Hai Semuanyaaaaaa 🤗
Jangan Lupa Vote Mingguannya Yaa🥰
Mamie Tunggu😆😆
Love ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
udah ra... adopsi aj. drpd kesepian. btw press it ny ng culamitan
2024-04-21
0
gah ara
nangis aku baca part adira kehilangan orang tua
2023-10-01
1
Deedu Herman
cerita nya bagus tapi yg like sedikit
2023-09-10
0