Tujuh tahun kemudian...
"Mama..... Ayo kita berangkat! El sudah tidak sabar" Teriak seorang anak kecil di depan pintu kamar ibunya.
"Sebentar sayang, mama siap-siap dulu" sahut sang ibu dari dalam sana.
"Jangan lama-lama ma, El pingin cepat-cepat ke sekolah" ujarnya lagi.
Masih setia menunggu sang ibu dan tak beranjak sedikitpun, ia sudah siap dengan seragam sekolahnya, hari ini adalah hari pertama bocah laki-laki itu masuk sekolah dasar, wajar saja jika ia sudah tak sabaran ingin buru-buru berangkat kesana.
Bahkan sudah bersiap sejak beberapa jam yang lalu.
"Iya sayang, sebentar lagi mama keluar"
Hingga suara pintu terbuka membuat bibir lelaki kecil tersebut merekah.
Adira tersenyum kala melihat putranya yang sangat imut ini, seragam sekolah membuat tampilannya semakin menggemaskan, tak terasa ia sudah membesarkan anak ini selama tujuh tahun. Bahkan kini putranya sudah memasuki jenjang sekolah dasar.
"Sudah siap, sayang?"
"Sudah, ma. El sudah siap dari tadi, ayo kita berangkat sekarang nanti bisa terlambat" ucap bocah bernama lengkap Elvis Thomi itu, sangking tak sabarnya ia pun menarik lengan sang ibu.
"Kita tidak mungkin terlambat El, tenang saja" ujar Adira memberitahu.
"Tapi El ingin cepat-cepat ke sekolah, kan mama bilang harus buru-buru ambil tempat duduk" sahut Elvis beralasan, Adira pun hanya menanggapinya dengan anggukan, ia juga senang melihat putranya begitu bersemangat ke sekolah.
"Baiklah, let's go......."
Tanpa menunggu lagi mereka akhirnya keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah.
***
Di perjalanan Elvis tak henti-henti berbicara, ia banyak bertanya seputar apa yang biasanya ada di sekolah, bocah itu sungguh antusias menyambut hari pertama sekolah.
Tak seperti beberapa anak yang takut karena harus berpisah dengan orang tua mereka, atau juga takut menghadapi guru yang belum mereka kenal, namun berbeda dengan Elvis.
"Nanti El duduk dengan siapa ma?" Tanyanya menoleh pada Adira yang tengah menyetir.
"Tentu dengan teman baru El" jawab Adira.
"Ohhh...." Tanggapnya.
Adira terkekeh mendengar seruan tersebut, hari ini ia sengaja libur bekerja karena tak mau melewatkan hari pertama Elvis bersekolah, untungnya atasan Adira mengerti dan mengizinkan Adira untuk mengambil cuti.
Adira mungkin hanya bekerja di sebuah toko roti, tapi hal tersebut sudah membuatnya bersyukur, ia masih trauma untuk bekerja di sebuah perusahaan karena pernah mendapatkan tindakan pelecehan dari bos nya.
Berbeda dengan sekarang, Adira merasa nyaman dan mempunyai rekan kerja serta atasan yang baik, bahkan karena sang atasan sama-sama seorang wanita mereka justru bisa akrab seperti sesama teman yang lain.
Jangan tanya kenapa ia bisa mempunyai rumah dan mobil meski hanya seorang pegawai di toko roti, jawabannya tentu karena Adira mempunyai beberapa warisan dari mendiang orang tuanya.
Setelah menjual rumah di Jakarta Adira membeli rumah di malang dengan ukuran yang tak terlalu besar dan mobil sebagai alat transportasi pribadi. Sisanya Adira pakai untuk menghidupi Elvis selama lima tahun ia tidak bekerja dan fokus dalam mengurus sang buah hati.
Setelah usia Elvis lima tahun Adira mulai mendapat tawaran pekerjaan dari teman Arumi yaitu sebagai pegawai di toko rotinya, karena Arumi tau jika Adira berbakat dalam hal dapur.
Selama bekerja Adira menitipkan Elvis pada pengasuh harian, hingga Elvis kini telah berusia tujuh tahun.
Mengingat masa-masa kecil Elvis Adira sedikit merasa sedih karena terbayang akan kehidupan yang susah payah ia bangun, tak mudah menjalani semua untuk bisa sampai di titik ini.
Bahkan Adira sudah kebal dengan yang namanya cibiran, ia pernah dituduh hamil di luar nikah karena tinggal berdua dengan seorang bayi tanpa suami.
Meskipun Adira sudah menjelaskan bahkan Elvis adalah putra angkatnya namun masih banyak dari mereka yang kurang percaya, pasalnya mereka berpikiran mana mungkin wanita yang belum pernah menikah rela memiliki anak angkat, mereka semua beropini bahwa Adira hanya memberi alasan palsu agar nama baiknya tetap terjaga.
Adira hanya mau fokus pada tumbuh kembang Elvis, meski sebuah cibiran dan hujatan terus mengalir kepadanya, Adira tak perduli akan semua itu. Ia bahkan rela menukar masa mudanya demi menjadi seorang ibu dari anak yang bukan lahir dari rahim Adira.
Di usia yang sudah menginjak kepala tiga ini Adira masih tetap melajang, bukan karena tak ingin menjalani hubungan tetapi pria yang dekat dengannya selalu mundur karena mengetahui fakta bahwa Adira memiliki anak angkat, mereka semua selalu merasa keberatan dengan hal tersebut.
Adira juga tak mempermasalahkan meski kini sebutan perawan tua telah melekat di jiwanya.
Adira sudah kebal dengan pertanyaan kapan akan menikah atau tidakkah ia memiliki niatan untuk menikah dan masih banyak lagi.
Namun Adira hanya menanggapinya dengan senyuman, untuk saat ini Adira hanya ingin menikmati hidupnya, masalah menikah atau tidak Adira serahkan pada Tuhan.
Sesampainya di sekolah Elvis turun terlebih dahulu dengan tergesa-gesa, bocah itu dibuat terkagum-kagum dengan sekolahnya, disinilah tempat barunya belajar setelah sebelumnya ia mengeyam pendidikan di taman kanak-kanak.
Adira lantas menyusul, rupanya sudah banyak murid dan para orang tua yang berdatangan, kebanyakan dari mereka diantar oleh ibu dan Ayahnya, Adira hanya bisa tersenyum miris.
Sudahlah, ia tidak mau bersedih di hari bahagia ini. Adira lantas menuntun Elvis yang sedang sibuk termangu.
"Ayo sayang, kita cari kelasmu"
Elvis tersadar, segera ia menganggukkan kepala.
"Ayo, ma!"
Mereka pun menyusuri koridor demi koridor, mencari kelas yang akan ditempati oleh Elvis. Kerumunan orang membuat Adira kesulitan menemukan kelas yang sudah diumumkan sebelumnya.
Hingga tiba disebuah kelas yang banyak dikerumuni murid-murid kecil, Adira lantas melihat tulisan di pintu yang bertuliskan kelas satu.
"Itu, El! Kelasnya ada disana"
Elvis seketika menoleh dan langsung jingkrak-jingkrak sangking antusiasnya, ia makin bersemangat setelah mengetahui kelasnya berada.
"Ayo masuk ma!"
"Sebentar sayang, kelasnya belum dibuka" cegah Adira menahan Elvis yang ingin masuk ke sana.
"Yahhh.... Kenapa belum dibuka ma??" Elvis kecewa, ia sudah tidak sabar lagi jika harus menunggu, ingin segera duduk di bangku sekolah.
"Mungkin gurunya belum datang, El sabar sebentar ya, yang lain juga sama seperti kita" tunjuk Adira pada orang-orang di sekitar mereka.
Akhirnya Elvis pasrah dan tak merengek lagi, setelah hampir lima belas menit menunggu datanglah seorang guru dan mereka pun masuk ke kelas tersebut.
Elvis pun mendapat kursi duduk paling depan bersama teman barunya, para orang tua setia menunggu di luar kelas sambil melihat lewat kaca jendela, mengawasi putra-putri mereka yang tengah mendengarkan guru berbicara di depan kelas.
Senyum di bibir Adira tak pernah surut melihat bagaimana putranya di dalam sana, Elvis nampak anteng dan sesekali mengobrol dengan teman sebangku, saling mengenal satu sama lain.
Ketika Elvis menoleh ke arah jendela saat itu juga Adira melambaikan tangan dan memberi semangat para sang putra, Adira begitu bahagia bisa melewatkan momen berharga ini, momen yang tak akan pernah terlupakan dalam cerita hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
awesome moment
keyen lho
2025-04-03
0
Raufaya Raisa Putri
𝔰𝔪 𝔨𝔶𝔨 𝔞𝔨𝔲 𝔧𝔬𝔫𝔢𝔰...
2024-04-21
0
Raufaya Raisa Putri
𝔴𝔞𝔡𝔲𝔥.. 𝔲𝔡𝔞𝔥 7𝔱𝔥𝔫 𝔞𝔧
2024-04-21
0