Sore hari Adira pulang setelah seharian menguras keringat guna mencari pundi-pundi rupiah untuk menafkahi putra semata wayangnya.
Mobil milik Adira hampir memasuki garasi rumahnya, tetapi hal itu tak dapat dilakukan manakala ada sebuah mobil Ferarri terparkir di depan rumah Adira hingga membuat akses jalan mobilnya terhambat.
"Mobil milik siapa itu? Apa mungkin tamu tetangga? Ck... Lalu bagaimana caranya aku masuk?" Gumam Adira berdecak.
Terpaksa Adira akhirnya memarkirkan mobil di depan rumah tetangganya, meski tak enak hati mau tak mau Adira harus melakukan itu.
Wanita yang memiliki rambut hitam panjang tersebut pun keluar dari kendaraan beroda empat miliknya, berjalan menuju rumah, sesaat Adira mengamati mobil mewah itu sebelum ia masuk ke dalam kediamannya.
Dahi Adira berkerut kala pintu rumah nampak terbuka dengan lebar sedangkan tidak ada siapa-siapa di luar, apakah pengasuh Elvis lupa menutup pintu? Kenapa sampai teledor seperti ini? Bagaimana jika ada orang jahat melihat dan mengambil kesempatan dan masuk ke dalam rumah.
Sembari melangkah Adira berteriak untuk memanggil si pengasuh yang entah sedang apa.
"Mira kenapa pintunya terbu......." Seketika Adira terhenti kala melihat ruang tamu dipenuhi orang-orang yang tidak Adira kenal.
"Itu dia, mbak Adira" tunjuk Mira sang pengasuh.
Seolah masih belum paham Adira terlihat mematung tanpa bergerak sedikit pun, pikirannya mendadak kosong sekaligus bertanya-tanya.
Seorang lelaki tua berdiri menghampiri Adira, Adira tampak memandang orang tersebut hingga bola matanya terbelalak lebar ketika menyadari siapa pria paru baya dihadapannya.
"Pak RT?" Ujar Adira, ia baru sadar jika salah satu dari mereka adalah RT nya terdahulu ketika masih tinggal di Jakarta. Mungkin karena sangat lama tidak pernah bertemu Adira sedikit pangling dengan orang-orang yang datang ke rumahnya.
Mungkinkah dua orang lainnya juga Adira kenali? Pikir Adira.
"Mbak Adira, apa kabar?" Seru pak RT mengangkat tangan.
Lamunan Adira buyar ketika mendengar pertanyaan yang diajukan padanya, buru-buru Adira menormalkan kembali kesadarannya.
"B-baik pak, anda apa kabar?" Adira menyambut jabatan tangan.
"Alhamdulillah saya baik, sudah lama kita tidak bertemu" jawabnya.
Adira mengangguk sebagai tanggapan, namun ekor matanya sesekali melirik pada dua lelaki yang masih duduk di sofa. Dua pria berjas berusia matang, dan salah satunya seperti tak asing bagi Adira.
"Pak RT, k-kenapa anda bisa ada disini?" Lanjut Adira bertanya.
Pak RT nampak menghela nafas, seolah ragu menjawab pertanyaan Adira.
"Sebaiknya mbak Adira duduk dulu, ada hal penting yang akan kami sampaikan" tuturnya.
Adira semakin bingung, namun ia tetap menuruti permintaan pak RT. Adira duduk di sebelah Mira, dan langsung dihampiri oleh Elvis yang terlihat ketakutan ketika kedatangan orang-orang yang tidak ia kenal.
"Mama......!!" Dekap Elvis pada Adira.
Panggilan Elvis sontak membuat seseorang disana menimbulkan reaksi, namun tetap berusaha tenang.
"Sebelumnya kami minta maaf sudah menganggu waktu istirahat mbak Adira, kami datang disaat mbak Adira baru saja pulang bekerja, memang rasanya tidak tepat. Kami sudah pernah datang kemarin tetapi tidak ada siapapun di rumah ini, dan hari ini kami memutuskan untuk datang kembali karena kami rasa kami tidak bisa menunda waktu lagi" kata pak RT berbasa-basi.
"Maaf pak RT, tapi saya tidak mengerti. Menunda waktu apa yang anda maksud?" Sergah Adira.
"Mbak Adira, saya kemari tidak sendiri. Ada dua orang yang datang bersama saya. Perkenalkan beliau ini Tuan Eza dan yang satunya asisten beliau, Tuan Rafa" ucapnya memperkenalkan kedua orang berbadan besar disana.
Adira memandang kedua orang itu dengan seksama, Tuan Rafa nampak seperti seseorang yang tak asing bagi Adira tetapi ia sendiri tak yakin apakah mereka pernah bertemu atau tidak. Tapi yang satunya Adira memang baru pertama kali melihat, pria yang katanya bernama Eza itu terlihat menatap tajam dirinya, aura dingin yang dipancarkan pria tersebut seperti menyimpan kebencian pada Adira.
"S-siapa mereka, pak RT?" Sahut Adira terbata-bata, mendadak jantungnya berdetak tak berirama, gelisah menghampiri wanita berusia tiga puluh tahun itu.
"Mbak Adira.... Sebenarnya, tuan Eza ini....."
Pak RT seperti mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
"Beliau Ayah kandung nak Elvis"
DUARRRR!!!
"A-APA??!!!!"
Bukan petir ataupun halilintar, Adira merasa dunia seakan hancur mendengar kabar tersebut!! Omong kosong apa ini??? Tidak! Semua yang dikatakan pasti bohong! Adira tak akan percaya dengan mudahnya!!!
Mira yang berada disana juga terkejut bukan main, jadi selama ini ayah dari Elvis masih hidup??
"T-tidak mungkin!!! A-apa yang barusan anda katakan pak?? Jangan bercanda, jangan katakan omong kosong ini!" Ujar Adira sedikit meninggi, bukannya tak sopan, Adira hanya merasa panik serta gelisah.
"Semua yang dikatakannya benar! Saya.... Ayah kandung anak itu" potong Eza berucap.
Adira menggeleng-gelengkan kepala, tangannya spontan mempererat Elvis ke dalam dekapan. Seolah sang putra akan direbut saat itu juga.
"Mama....." Cicit Elvis makin ketakutan.
"Tidak, tidak mungkin!! Sudah tujuh tahun lamanya tak ada satu orangpun yang datang dan mengaku sebagai keluarga kandung putra saya! Mereka pasti sudah tiada, anda jangan macam-macam Tuan. Saya bisa melaporkan anda ke pihak berwajib" entah keberanian darimana seorang Adira menuntut pria yang belum ia ketahui bagaimana latar belakangnya, mungkin jika Adira tau nyalinya akan ciut detik itu juga.
Eza mengepalkan kedua lengannya ketika mendengar kata-kata Adira, dalam hati ia mengumpat wanita itu. Memangnya siapa dia? Punya kekuasaan apa sampai-sampai mau melaporkannya?!!
Tapi tatapan bocah kecil yang meringkuk itu mampu memadamkan api dalam diri seorang Eza, ia tak boleh sampai membuat pertemuan pertama dengan putranya kacau hanya karena sikap yang ia tunjukkan.
"Saya punya bukti jika anak yang anda namai Elvis ini adalah putra kandung saya!! Jika anda masih belum percaya, saya bersedia untuk melakukan tes DNA" tegas Eza tak gentar, kerinduan akan sang putra membuatnya akan melakukan saja agar eza tak kehilangan lagi darah dagingnya untuk yang kedua kali. Sudah cukup tujuh tahun ini jarak memisahkan keduanya.
Tubuh Adira bergetar, perlahan firasatnya mengatakan jika pria itu tak berbohong, tatapan matanya menjelaskan keraguan Adira. Adira semakin berkaca-kaca, ketakutan kehilangan Elvis semakin menjadi-jadi.
"Mama.... El takut" lirih Elvis mencengkram baju Adira seerat mungkin.
"Elvis...." Gumam Eza menyebut nama sang putra, ia sangat ingin memeluk anaknya semenjak datang kesini, tapi Eza tahu diri, untuk saat ini yang Elvis tahu dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Mama disini sayang, jangan takut...." Bisik Adira menenangkan Elvis yang sepertinya paham betul apa yang tengah dibicarakan oleh mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
awesome moment
kepala eza hrs digetok pake sdkop klo kek gini caranya. tu bocah g gedhe sndiri. dasar oon
2025-04-03
0
Siti Nurjanah
woooyy dulu kemana aja . kepala eza minta di getok udah gak ada kabar cari putranya tau tau udah besar mau di rebut pakai mengandalkan kekuasaan pula.
2024-07-07
0
Raufaya Raisa Putri
🅴🅼🅼🆈 🅾🅻🅰🅽🅶 🅺🅰🆈🅰 🅱🅾🅻🅴🅷 🆈 🅰🆁🆁🅾🅶🅰🅽🆃 🅶🆃
2024-04-21
0