Pemakaman akhirnya dilaksanakan di Malang, makam yang sama dimana nenek dan kakek Adira dikebumikan.
Dua gundukan tanah basah yang baru itu nampak dikelilingi oleh beberapa orang saja, diantaranya beberapa dari pihak rumah sakit dan juga kerabat dari orang tua Adira.
Tak memiliki siapa-siapa Adira terpaksa bergantung pada mereka.
Kini perempuan berusia 23 tahun tersebut hanya mampu menatap kosong pada rumah terakhir Ibu dan Ayahnya.
Masih terasa seperti mimpi menerima fakta jika sekarang ia telah berstatus yatim piatu dalam waktu yang bersamaan.
Baru lusa kemarin ia dan mendiang orang tuanya saling berpelukan sebelum mereka pamit ke Malang, tapi sekarang keduanya justru pamit untuk selama-lamanya meninggalkan seorang putri cantik yang kini hanya mampu merenungi nasib.
Kedua makan itu bersisian dengan mendiang kakek dan nenek Adira, keempat orang yang Adira sayangi ini telah berkumpul di alam lain.
Kenapa kalian tidak mengajak Adira pergi saja Bu? Kenapa kalian meninggalkan Adira disini, Yah? Bagaimana kalau Adira menderita karena tak mampu hidup seorang diri? Adira ingin pergi bersama kalian. Tolong bujuk Tuhan untuk mengambil nyawa Adira juga Yah Bu.
Adira bergumam dalam hati sebab tenaganya sudah terkuras habis, menangis pun sudah tak mampu mengeluarkan air mata. Semua ia lakukan dalam hati yang berkecamuk.
Seorang wanita seusia Ibundanya menghampiri Adira yang terduduk lesu diantara dua batu nisan itu, menepuk pelan salah satu pundak putri sahabatnya yang kini telah tiada.
"Adira, kita pulang yuk. Ini sudah mau malam, malam ini kalian menginap lah di rumah tante, besok kita datang lagi kesini. Kamu mau kan?" Bujuknya.
Adira menoleh dengan sorot mata sayu, sangat terlihat jelas jika dia amat kelelahan mengurusi pemakaman orang tuanya.
Marsya juga nampak membujuk, Adira tak enak jika bersikeras terus berada disini ditemani oleh sahabatnya, Adira tau Marsya juga sudah letih menemaninya seharian.
Dengan sisa tenaga Adira mengangguk lemah, Marsya membantu Adira bangkit dan mereka pun pergi dari sana.
***
"Makan dulu, Ra. Kamu pasti belum makan kan? Tante sudah siapkan makanan untuk kita semua, dimakan ya" Arumi meletakkan berbagai makanan di meja, menyuguhkan kedua tamunya dengan hidangan lezat.
Namun Adira tampak tak berselera meski hidangan didepannya begitu menggugah nafsu makan, Adira hanya memandang makanan tersebut cukup lama.
Marsya yang melihat itu segera berseru.
"Ra, ayo kita makan. Nanti kamu sakit kalau tidak mengisi perutmu" Ujar Marsya membuat Adira akhirnya mengangkat tangan guna meraih sendok serta garpu yang tersedia di atas piringnya.
"Terimakasih Tante, maaf merepotkan" cicit Adira hampir tak terdengar.
Arumi tersenyum melihat Adira yang sudah mulai berbicara, "Sama sekali tidak, kamu boleh makan sepuasnya. Sekarang dimakan ya"
Mereka semua lantas mulai melahap hidangan bersama-sama, Adira terlihat hanya makan sedikit saja, sejujurnya ia tak ingin mengkonsumsi apa-apa, tapi Adira tak enak hati jika harus menolak semua kebaikan dari Arumi.
Hingga akhirnya semua selesai menyantap makan malam.
Malam ini Adira serta Marsya diharuskan menginap di kediaman Arumi, terlalu jauh jika harus langsung pulang ke Jakarta, dan lagi ia masih ingin mengunjungi makam ibu serta Ayahnya.
Mungkin Adira akan meminta izin untuk menginap selama beberapa hari, setidaknya sampai Adira merasa cukup tenang untuk melepas kedua orangtuanya.
Saat memasuki kamar Adira menerima telpon dari pak RT, sepertinya hendak menanyakan kabar seputar berita wafatnya orang tua Adira.
Tadi sore Adira sempat memberitahu kabar duka ini pada tetangga dekatnya dan mungkin kabar itu telah tersebar hingga ke telinga pak RT.
Adira lantas mengangkat sambungan telepon.
"Hallo..."
"Hallo Adira, ini saya pak RT. Maaf menganggu kamu malam-malam begini, saya hanya ingin memastikan tentang berita yang tadi tersebar dari para warga, apa benar Ibu Nadin dan pak Bagas meninggal dunia?" Tanyanya dari sebrang sana.
Adira menghela nafas panjang, mencoba menjawab pertanyaan pria itu baik-baik.
"Benar, pak RT"
"Innalilahi wa innailaihi raji'un.... Apa benar karena kecelakaan?!"
"Iya pak, kecelakaan mobil" jawab Adira setenang mungkin.
"Saya dan para warga turut berdukacita atas meninggalnya Ibu Nadin dan pak Bagas, semoga amal ibadah diterima yang di atas. Kami benar-benar tidak menyangka mendengar berita ini, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan" Tutur pak RT memberikan doa.
"Amin, terimakasih pak. Saya sebagai anak satu-satunya meminta maaf jikalau Ibu atau Ayah saya pernah melakukan kesalahan semasa hidupnya. Mohon doanya juga untuk mereka disana"
"Sama-sama Adira, lantas kapan kamu akan kembali ke Jakarta? Banyak yang sudah menanyakan kepulangan kamu kesini" lanjutnya.
"Saya belum tau pak, untuk saat ini saya sedang menginap di kediaman kerabat mendiang Ibu saya. Tentu saya tidak akan berlama-lama merepotkan beliau, saya akan segera pulang ke Jakarta" balas Adira sebagai jawaban.
"Baiklah jika begitu, kami harap kamu baik-baik saja disana dan pulang kesini dengan selamat. Mohon maaf kami tidak bisa berziarah kesana untuk saat ini"
"Tidak apa-apa pak, saya mengerti" Adira memahami ketidaksanggupan itu, yang terpenting sekarang adalah sebuah doa.
"Kalau begitu saya tutup dulu telponnya, sekali lagi maaf sudah mengganggu waktu mu. Selamat malam"
Dan telpon pun berakhir disitu, Adira kembali meletakkan gawainya di atas nakas dan ikut berbaring bersamaan dengan Marsya yang sudah terlebih dahulu masuk ke alam mimpi.
***
Pukul sepuluh Adira beserta yang lain kembali berziarah ke makam, Adira juga menyempatkan untuk menghampiri kuburan mendiang kakek dan neneknya, menaburi bunga segar di keempat gundukan tanah tersebut.
Adira masih setia memegangi nisan Ibunya, tanpa berniat pergi cepat-cepat dari tempat tersebut.
Arumi mendekat di samping Adira.
"Jika kamu mau, pindah lah ke Malang. Tinggal disini agar bisa lebih dekat dengan mendiang orang tua mu, itu saran dari Tante. Tante sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, Tante khawatir melihat kamu hidup sendirian di Jakarta, kalau kamu berminat Tante bisa carikan kamu tempat tinggal" ucap Arumi menawarkan Adira sesuatu yang mungkin akan membuat Adira lebih tenang.
Adira mendengar perkataan Arumi dengan seksama, jujur ia memang belum ingin jauh-jauh dari orangtuanya, mau kemanapun ia tak punya siapa-siapa. Tapi setidaknya dengan bisa melihat makam orang tua setiap hari Arumi akan lebih tegar menjalani hidup.
Tapi pindah pun tak segampang yang dibayangkan, Adira juga sulit meninggalkan rumah milik orangtuanya di Jakarta, sejak lahir ia hidup disana dan tak akan mudah beradaptasi di lingkungan baru, banyak kenangan bersama ibu serta ayah di rumah itu.
"Adira akan pikirkan lagi, Tante" lirihnya.
"Tentu, pikirkanlah matang-matang. Jangan terburu-buru, kamu bisa hubungi Tante kapan saja jika memang kamu berniat pindah kesini" Arumi pun bangkit dari sana dan berlalu menuju mobil yang terparkir di depan pemakaman.
Dan kini Adira mulai merenungi penawaran tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
kykny enak tinggal di malang. hawanya adem
2024-04-21
0
aurel chantika
semangat Adira ,,kamu harus bisa
2023-02-11
4
Mawar Putih
mengandung bawah 😭😭😭
2023-02-11
2