Tiga hari berlalu, Adira dan Elvis terlihat keluar dari rumah dan bersiap untuk berangkat beraktivitas.
Sang putra sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya, begitupun Adira yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya sehari-hari.
Ketika hendak membuka pintu mobil, salah satu tetangga Adira datang dan memanggil pemilik rumah itu hingga membuat Adira menoleh ketika melihat sang tetangga berdiri di depan pagar rumahnya sembari melambaikan tangan agar Adira menghampiri.
Namun sebelum itu Adira menyuruh Elvis untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"El masuk saja ke mobil, mama tidak akan lama"
"Baik, ma!" Tanpa banyak penolakan.
Barulah Adira menghampiri wanita setengah baya disana setelah dirinya membukakan pintu pagar.
"Iya Bu Anggi? Ada apa?" Tanya Adira ramah.
"Maaf saya lupa kemarin mau memberitahu mbak Adira"
"Memangnya ada apa ya Bu?" Adira semakin penasaran.
"Kemarin siang ada bapak-bapak dan mas-mas yang datang kemari, katanya mau bertemu dengan mbak Adira tapi tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Katanya ada urusan penting, tapi saya tidak bertanya lebih banyak lagi. Apa mbak Adira sudah tau siapa mereka? Mungkin ada salah satu dari mereka yang menghubungi mbak Adira" ungkapnya panjang lebar, Adira seketika mengernyit bingung, seingatnya ia tidak punya urusan dengan orang-orang yang disebut oleh tetangganya tadi.
Siapa mereka? Ada urusan apa dengannya? Adira tak memiliki banyak rekan laki-laki, saudara pun tak punya. Lantas siapa orang-orang itu???
Adira menggelengkan kepala, ikut dibuat bingung.
"Tidak, Bu. Tidak ada yang menghubungi saya sejak kemarin. Mungkin mereka salah alamat saja" elak Adira berpikir positif.
"Sepertinya tidak mungkin, mbak. Kemarin sangat jelas mereka menyebut nama mbak Adira. Tapi kalau mbak memang tidak tau jangan terlalu dipusingkan, mungkin nanti mereka akan datang lagi saat mbak Adira ada di rumah" sambung Anggi.
Adira masih terus berpikir dan menduga-duga siapa kiranya orang tersebut? Seumur-umur tidak ada laki-laki yang datang ke rumahnya kecuali suami dan anak dari tantenya, Arumi. Dan seluruh tetangganya pun sudah tau siapa mereka, jadi tidak mungkin kedua lelaki itu yang datang.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya Bu Anggi. Mungkin nanti mereka akan datang lagi jika memang ada urusan dengan saya"
"Iya, mbak sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu"
Adira mengangguk dan mempersilahkan tetangganya berlalu.
Hingga diperjalanan pun Adira masih tetap memikirkan siapa orang tersebut, perasaannya jadi gundah, Adira mendadak gusar takut orang-orang itu hanya iseng dan membahayakan keselamatan ia dan putranya.
Elvis yang sejak tadi diam ikut heran dengan gelagat ibunya, biasanya Adira banyak bertanya namun sekarang tiba-tiba diam seperti sedang menampung banyak beban pikiran.
"Ma....!"
Adira tersentak ketika Elvis memanggil, sontak Adira menoleh menatap sang putra.
"Iya sayang?"
"Mama kenapa?" Tanyanya.
Satu alis Adira terangkat mendengar pertanyaan Elvis.
"Mama diam saja dari tadi sejak Bu Anggi datang ke rumah"
Seketika Adira gelagapan kala Elvis rupanya menyadari sikap aneh dirinya, Elvis tak boleh curiga, nanti yang ada bocah itu malah tidak fokus belajar.
"T-tidak apa-apa kok El, mungkin mama hanya kurang enak badan saja" seru Adira menampilkan senyum tipis guna meyakinkan Elvis.
"Terus kenapa mama kerja?" Tak cukup sampai disitu, Elvis terus mengajukan pertanyaan karena kini ia jadi khawatir akan kondisi ibunda.
"Mama masih kuat bekerja, El jangan khawatir mama baik-baik saja" kata Adira mengusap lembut kepala bocah tujuh tahun yang tengah menatapnya dengan kedua mata polos.
Sesampainya di sekolah Adira kembali melanjutkan perjalanan ke tempat ia bekerja.
"Pagi semuanya...." Sapa Adira memasuki toko.
Beberapa pegawai sudah datang dan tengah membersihkan toko seperti biasa.
"Pagi juga mbak Adira...." Sapa yang lain.
"Maaf aku sedikit telat"
"Tidak apa-apa mbak, malah seharusnya kita yang harus datang lebih dulu. Masa kalah rajin sama yang sudah senior" pekik Nara, salah satu pegawai yang berusia paling muda.
"Iya benar, aku jadi malu pada mbak Adira" tutur Iva membenarkan.
Adira terkekeh mendengar ucapan para juniornya, selain terkenal rajin ia juga sangat ramah hingga membuat pegawai yang masih terbilang baru tak merasa tertekan bekerja disini.
"Tidak usah dipikirkan, yang terpenting kalian bekerja dengan baik sesuai dengan tugas masing-masing" balas Adira menanggapi.
"Kalau begitu aku mau langsung masuk ke dapur, selamat bekerja semuanya"
Dan disinilah Adira berada, di dapur tempat ia beraktivitas setiap harinya. Mencampur adukkan bahan-bahan pembuatan roti, Adira sudah terbiasa membuat ratusan stok dengan aneka ragam rasa dari buatan tangannya sendiri.
Setelah menyimpan tas miliknya Adira lantas mencuci tangan kemudian bergegas memakai apron serta sarung tangan memasak.
Adira mulai memisahkan beberapa bahan-bahan dan menghitung ketersediaan yang ada. Barulah ia mulai meracik adonan.
Pukul sepuluh toko pun dibuka, para pengunjung langsung menyerbu tempat itu dan mengambil roti-roti kesukaan mereka.
Tak sampai lima belas menit stok makanan hampir habis setengahnya, membuat Adira dan yang lain harus semakin bekerja ekstra agar pelanggan selanjutnya tak perlu menunggu lama.
Jam makan siang tiba, untuk sesaat Adira bisa menghela nafas lega. Ia membuka bekal makan siang yang ia bawa dari rumah, Adira sengaja selain untuk menghemat ia juga tak punya banyak waktu untuk pergi ke luar dan memesan makan siang, setelah ini Adira harus kembali berkutat dengan barang-barang dapur yang menunggunya.
Ketika baru saja menyuapi sesendok nasi tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya hingga membuat Adira terlonjak dan hampir tersedak.
"Hayooo..... Lagi-lagi kamu meninggalkan aku makan siang" seru orang tersebut.
Adira memutar bola mata jengah, kelakuan sahabatnya ini memang selalu membuat Adira pusing tujuh keliling.
"Hari ini aku sengaja bawa bekal supaya kita bisa makan siang bersama, hihi" pekiknya menyengir kuda, ia lantas ikut duduk di samping Adira.
"Kamu tidak menjemput Elvis? Kemarin katanya dia kemari setelah sepulang sekolah" tanya Qia yang merupakan sahabat sekaligus atasannya, ia sangat dekat dengan Qia semenjak masuk kesini, Qia sangat baik dan bahkan mau berteman dengan pegawai sepertinya.
"Hari ini pengasuhnya yang menjemput" sahut Adira disela-sela lahapannya.
"Sayang sekali kemarin aku tidak datang, padahal aku ingin sekali bertemu dengan Elvis" cicit Qia mencebikkan bibir.
Adira tak terlalu menanggapi, ia sibuk menyuapi dirinya yang lelah dan butuh tenaga dengan asupan makanan.
"Besok bawa dia kemari saja, bilang padanya kalau Tante Qia ada hadiah untuk Elvis" celetuk Qia meminta, perempuan berusia 28 tahun itu memang sangat menyukai anak kecil, semua yang Elvis butuhkan bahkan selalu Qia beri.
Namun Adira menggeleng, menolak permintaan sang sahabat.
"Tidak bisa, dia akan bosan jika terlalu sering menemaniku disini. Lagipula jika memang ingin bertemu langsung saja datang ke rumah ku" usul Adira yang sibuk mengunyah makanan.
"Untuk saat ini aku belum bisa, kau kan tau sepulang dari sini aku harus ke cabang satunya. Aku tidak ada waktu sekarang" tambah Qia.
Ngomong-ngomong soal rumah, Adira mendadak jadi teringat akan orang yang datang ke kediamannya yang sampai saat ini tidak ada tanda-tanda orang tersebut menghubungi Adira, Adira masih dilanda penasaran, ada tiga orang dan siapa mereka ini?! Adira harap tak ada urusan penting atau bahkan masalah besar, Adira harap mereka hanya salah alamat saja hingga tak perlu datang lagi ke rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
awesome moment
smg bukan mo ambil el
2025-04-03
0
Raufaya Raisa Putri
🅹🅶🅽 " 🅺🅴🅻🆄🅰🆁🅶🅰 🅴🅻
2024-04-21
0
Raufaya Raisa Putri
𝔧𝔤𝔫" 𝔪𝔫𝔱𝔞𝔫 𝔭𝔯𝔢𝔰𝔡𝔦𝔯 𝔠𝔞𝔟𝔲𝔩𝔫𝔶𝔞
2024-04-21
0