Pukul tiga sore Adira dan Marsya akhirnya sampai di rumah sakit kota Malang, dua perempuan muda itu berlarian ke dalam menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana orang tuanya ditempatkan.
"Permisi saya ingin menanyakan korban kecelakaan atas nama Nadin dan Bagas, dimana mereka sekarang?" Ujar Adira dengan nafas terengah-engah.
Resepsionis pun segera mengecek ruangan pasien melalui layar monitor.
"Pasien baru saja dilarikan ke ICU, tempatnya ada di lantai dua Nona" Jelas resepsionis.
Deg!
Adira langsung tersentak kala mengetahui ibu dan ayahnya dilarikan ke ICU, rasa khawatir makin menyelimuti dirinya.
"Baik terimakasih informasinya"
Mereka kembali berlari menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua dimana ICU berada.
Ketika pintu lift terbuka Adira langsung melesat ke ruang ICU bahkan hampir melupakan Marsya sangking kalutnya.
"Ra, disini ICU!"
Mereka pun mendekati ruang ICU dengan jendela yang terbuka, Adira seketika syok melihat keadaan orang tuanya yang terbaring dengan dikelilingi alat medis yang begitu banyak.
"Ibu.... Ayah....." Lirih Adira mendekat sambil menempelkan kedua lengannya di jendela.
"Hikssss...... Kenapa bisa seperti ini?!!"
"Hiksss..... Ibu ayah ini Adira.... Adira disini..... Hiksss....!!"
Cucuran air mata meluncur membanjiri wajah penuh kesedihan itu, Adira begitu terpukul melihat sosok yang ia sayangi berada dalam ruangan mengerikan ini.
Tak menyangka jika hari ini akan terjadi, rasanya dunia runtuh sebelum kiamat, rasa ingin memeluk dua manusia tersebut sangatlah besar, namun sayang Adira hanya bisa melihat melalui pembatas jendela saja.
"Kalian harus kuat... Hiksss! Jangan tinggalkan Adira disini Adira mohon....."
Marsya pun menangis dibuatnya, ia kenal betul dengan kedua orang Adira, mereka orang baik dan dermawan, siapapun akan sedih ketika melihatnya seperti ini.
"Kamu harus kuat, Ra...." Ucap Marsya memeluk sang sahabat, mereka pun menangis bersama.
"Hikss.... Aku harus bagaimana Sya..... Aku takut...!"
"Bagaimana kalau mereka tidak selamat... Hiksss!!!"
Marsya menggeleng tak setuju, "Mereka harus selamat, mereka sedang berjuang sekarang"
"Hiksss.... Tolong jangan ambil mereka ya Tuhan.... Tolong selamatkan mereka...."
Ditengah-tengah Isak tangis yang berlangsung tiba-tiba seseorang datang dan membuat Adira serta Marsya berbalik menatap orang tersebut.
"Mohon maaf saya menganggu, apa kalian keluarga dari korban kecelakaan?" Tanya lelaki berseragam polisi disana.
Adira mengangguk mengiyakan.
"Perkenalkan saya polisi yang tadi menangani kecelakaan keluarga anda, bisa saya bicara sebentar?"
Adira dan Marsya saling pandang sejenak, sebelum Marsya mengangguk dan menyuruh Adira untuk berbicara dengan polisi.
"Kamu saja, aku akan menunggu disini" titahnya.
Adira pun menyeka air mata lalu mengiyakan permintaan sang polisi.
"Mari ikuti saya" tanpa banyak bertanya Adira mengikuti kemana polisi membawanya.
***
Selepas berbincang dengan polisi Adira kembali lagi ke ruang ICU bersama dengan polisi yang tadi.
Marsya masih setia menunggu di depan ruangan.
"Semua lancar? Apa terjadi sesuatu lagi?"
Dengan cepat Adira menggeleng, "Tidak ada"
Adira kembali menatap jendela dimana orang tuanya berada, cairan bening lolos entah untuk yang ke berapa kali, rasanya tak puas meski harus menangis darah sekalipun.
Adira tak tega melihat kondisi ibu dan ayahnya yang tertidur lemah di brangkar rumah sakit, kapan mereka akan bangun? Adira berharap bisa berbicara kembali dengan orang tuanya.
"Hiksss.... Hiksss....."
Pemuda dibelakangnya pun turut berdukacita atas kecelakaan yang menimpa, perempuan yang tengah menangis itu pasti sedang merasakan keterpurukan yang mendalam, ia hanya mampu menolong sebisanya.
"Maaf, apakah ada lagi keluarga korban yang akan datang?" Seru polisi menatap kedua wanita itu silih bergantian.
"Saya satu-satunya keluarga korban" ungkap Adira membuat rasa kasihan polisi kian bertambah.
"Mohon maaf jika saya tidak bisa menemani lebih lama, saya harus kembali bertugas. Tapi jika kalian butuh bantuan bisa hubungi saya kembali, nomornya masih yang sama dengan nomor saat saya mengirim alamat tadi" jelas polisi izin berpamitan, ia merasa sungkan untuk pergi begitu saja.
"Iya, pak polisi. Terimakasih banyak atas bantuan anda. Tidak masalah jika anda harus pergi, saya yang harusnya minta maaf karena telah merepotkan anda" kilah Adira berbalik maaf.
"Tidak masalah, itu sudah menjadi kewajiban saya. Kalau begitu saya pamit undur diri, semoga kedua orang anda cepat diberi kesembuhan" Doanya penuh harap.
Adira dan Marsya sama-sama mengaminkan, dan membiarkan polisi tersebut berlalu dari hadapannya.
"Saya permisi...."
"Silahkan...."
Dan akhirnya pria berseragam abu itu pun pergi guna melanjutkan tugasnya kembali.
***
"Dengan keluarga pasien?"
Adira dan Marsya yang sedang duduk di kursi tunggu seketika berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Saya dok, saya anak dari kedua korban" unjuk Adira.
"Tolong kalian berdua ikut ke ruangan saya, ada hal penting yang harus saya sampaikan" tutur dokter membuat Adira dilanda kepanikan namun berusaha agar tetap tenang.
"B-baik dok"
Sesampainya di ruangan, lantas memberikan hasil pemeriksaan pada Adira, membiarkan kedua wanita itu melihatnya dengan wajah bertanya-tanya.
Dokter pun menjelaskan secara garis besar.
"Ada benturan yang sangat keras di bagian kepala sehingga mengakibatkan pendarahan yang cukup hebat serta tulang ekor pada pasien wanita, sedangkan pasien pria terkena benda tajam sehingga tertusuk pembuluh darahnya yang besar. Benturan setir di dada juga bisa menyebabkan udara mengumpul di paru-paru" jelas dokter dengan bahasa yang mudah dimengerti, sebagai dokter tentu berat memberitahu kabar buruk ini tetapi sebisa mungkin tak boleh ada yang ditutupi. Keluarga korban harus tau apa penyebab dan konsekuensi yang bisa saja muncul nanti.
Adira pun menangis tersedu-sedu mendengar penuturan dokter, sebegitu parahnya kondisi ibu dan ayah akibat kecelakaan ini, Adira tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya mereka menahan semua itu.
Kenapa harus mereka?!! Kenapa bukan ia saja yang mengalami kecelakaan itu??? Ia rela sakit bahkan mati demi ibu dan ayahnya, kenapa semua ini tidak terjadi padanya??!!
"Tolong selamatkan orang tua saya, dokter....! Hiksss... Saya tidak mau kehilangan mereka saya belum siap.... Hiksss...."
"Lakukan yang terbaik dok untuk orang tua saya, saya mohon........ Hiksss! Berapa pun biayanya akan saya ganggu asalkan orang tua saya selamat.... Hikss" Pintanya menggema di seluruh ruangan.
"Kami sebagai dokter tentu akan melakukan yang terbaik, namun kami juga manusia tak bisa menentang takdir Tuhan" kata dokter membuat Adira menatapnya sambil mengernyitkan.
"Maksud dokter?"
"Hanya kemungkinan kecil pasien bisa selamat, sejujurnya sampai detik ini mereka masih diberikan mukjizat hingga bisa bernafas karena sangat jarang korban kecelakaan dengan luka seperti ini bisa dirawat terlebih dahulu di rumah sakit. Tapi kembali lagi, kita semua hanya mampu berdoa meski kemungkinan untuk hidup hanya tinggal lima persen saja"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
jgn' pak pici jodoh adira
2024-04-21
0
Lila Susanti
koq pakpol seragam abu2 ?
2023-10-03
1
Wanti Suswanti
bagus..tapi tolong ya lebih diperhatikan lagi tulisannya ada banyak yg hilang kata2nya...semangat..
2023-09-29
0