Episode 9

Seminggu berlalu, Adira memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Banyak yang harus di lakukan disana contohnya bekerja, ia juga tak mau terlalu lama merepotkan Arumi yang sudah berbaik hati membantu dirinya dari mulai hari pertama Adira datang ke Malang.

Dan lagi ia tak mungkin membiarkan Marsya terus menemaninya, perempuan itu juga punya aktivitas sendiri yang harus dijalani.

"Kamu yakin mau pulang sekarang, Ra?" Tanya Arumi pada Adira yang tengah menunggu taksi jemputan.

"Iya Tante, Adira harus kembali ke Jakarta. Banyak yang Adira tinggalkan selama Adira tidak ada, Adira sangat berterimakasih pada Tante dan keluarga karena sudah membantu Adira selama disini" ucap Adira tulus dari hati yang paling dalam.

"Kapan pun kamu butuh bantuan datanglah pada Tante, pasti akan Tante bantu sebisa Tante" balas Arumi membuat Adira tersenyum teduh.

"Iya Tante, sekali lagi terimakasih banyak"

"Untuk tawaran Tante yang kemarin bagaimana, Ra? Apa kamu berencana untuk pindah ke malang?" Tanya lagi, mengingatkan Adira tentang pembahasan tempo hari.

Adira berpikir sejenak sebelum menjawab, niat untuk pindah sudah terbesit di pikirannya namun untuk merealisasikan hal itu masih banyak yang harus Adira pertimbangkan, namun tak dipungkiri jika nanti Adira akan menerima tawaran tersebut.

"Adira akan lihat situasi dan kondisinya dulu, Tan. Pindah rumah juga berat bagi Adira karena banyak kenangan disana" tuturnya.

Dan Arumi pun memahami hal tersebut, jika saja Adira sudah menikah mungkin ia tak akan secemas ini sebab akan ada yang menjaga Adira disana. Tapi perempuan itu masih gadis lajang dan tak punya siapa-siapa, Arumi takut jika sewaktu-waktu ada yang berniat jahat pada Adira.

"Tante mengerti, tapi jika terjadi apa-apa katakan pada Tante. Jujur Tante tidak tenang membiarkan kamu hidup sendirian di Jakarta" gusarnya.

Marsya yang berada disana seketika merangkul Adira.

"Tenang saja Tante, sekarang aku akan lebih sering menemani Adira, bahkan kalau bisa aku akan menginap setiap hari di rumahnya. Tentu aku juga tidak akan membiarkan Adira sendiri, iya kan Ra?" Jelas Marsya menimpal.

Adira membalas dengan senyum serta anggukkan kecil.

"Syukurlah, Tante titip Adira padamu ya nak Marsya. Jaga dia karena hanya kamu yang bisa Tante percayai"

"Iya Tante, aku pastikan Adira akan baik-baik saja" ucapnya penuh keyakinan.

Tin... Tin... Tin...

Suara klakson mobil memotong pembicaraan ketiga wanita itu, mereka tau itu pasti taksi yang menjemput Adira dan Marsya.

"Sepertinya taksi kita sudah datang, ayo kita keluar" ajak Adira pada Marsya.

Ketika sampai di teras rumah pak supir sudah menunggu di depan, pria itu dengan sigap membawa kedua koper penumpangnya ke dalam taksi.

"Terimakasih, pak"

"Sama-sama mbak"

Kini waktunya ia dan Marsya berpamitan dengan Arumi.

"Kami pergi dulu Tante, terimakasih atas segala bantuan Tante dan keluarga. Maaf Adira tidak bisa membalas satu persatu semua kebaikan kalian"

"Jangan sungkan untuk selalu menghubungi Tante, maaf suami dan anak Tante tidak bisa pergi mengantar kamu karena harus bekerja. Beritahu jika kalian sudah sampai di Jakarta"

Mereka pun saling berpelukan dengan tangis sedih bercampur haru, kini sudah waktunya Adira harus pulang.

Taksi yang mengantarkan Adira dan Marsya menuju ke bandara kini berlalu dari area pekarangan rumah itu.

***

Sesampainya di Jakarta Adira hanya diberi waktu istirahat sebentar saja, sebab para tetangga sedikit demi sedikit melayat ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa.

Adira pun menerima semua pelayat dengan baik meski sebenarnya ia sangat ingin beristirahat dan mencari ketenangan untuk sesaat.

"Saya benar-benar tidak menyangka, orang sebaik mereka harus tewas dengan cara mengenaskan"

"Betul, rasanya seperti mimpi mendengar fakta tersebut"

"Padahal sebelum berangkat ke Malang sempat mengobrol dulu dengan saya"

"Tuhan lebih sayang mereka, kita doakan yang terbaik untuk keduanya"

Desas-desus dari para tetangga memenuhi rumah Adira, mereka membicarakan ketidakpercayaan atas wafatnya orang tua Adira. Bahkan tidak ada tanda-tanda jika mereka akan pergi secepat ini.

Disaat bersamaan Bu RT datang sembari membawa bayi dalam gendongannya.

Sontak membuat perhatian Adira tertuju pada bayi tersebut, rupanya selama seminggu Adira tak ada bayi itu masih tetap disini.

"Adira ibu turut berdukacita ya nak, kamu yang sabar ya" ibu RT memeluk Adira setelah mereka bersalaman.

"Iya Bu, maaf jika orang tua saya punya salah selama ini" balas Adira.

"Sama sekali tidak, mereka berdua orang baik. Saya ikut kehilangan mendengar mereka telah tiada" sambungnya.

"Mohon doanya ya, Bu"

"Tentu, Ra. Ibu pasti mendoakan mereka"

Ibu RT lantas memilih duduk di sebelah Adira bersamaan dengan ibu-ibu lainnya yang masih sibuk berbincang.

Pandangan Adira tak lepas dari bayi yang berada dalam gendongan Bu RT, Adira bisa melihat dengan jelas bayi itu, nampak tertidur dengan tenang.

"Bayinya masih disini, Bu?" Seru Adira.

Bu RT sontak menoleh, ia tak mendengar jelas apa yang Adira ucapkan.

"Maaf Adira, bagaimana?" Balik bertanya.

"Bayinya, apa belum ada yang menjemput?" Jelas Adira.

"Oh... Iya, selama hampir dua minggu ini belum ada informasi terkait pelaku maupun keluarganya. Jadi masih saya urus hingga sekarang, rencananya menunggu satu bulan dulu baru akan dititipkan di panti asuhan" sahut Bu RT menuturkan.

Adira menatap sendu si bayi, kini Adira merasa nasib mereka sebelas dua belas. Sama-sama yatim piatu dan tak punya sanak saudara, benar-benar sebatang kara dengan sebab yang berbeda.

Bedanya Adira lebih beruntung karena bisa merasakan kasih sayang orang tua hingga umur 23 tahun, sedangkan bayi ini belum pernah merasakan bahkan dibuang sia-sia entah oleh siapa.

Hei, tidakkah nasib kita sama? Yatim piatu, sebatang kara, ditinggalkan orang tua dengan cara yang mengenaskan.

Gumam Adira dalam hati pada si bayi, baru kali ini ia merasa harus lebih bersyukur meski sudah ditinggalkan kedua orang sekaligus.

Bayi itu sudah dibuang tak sempat merasakan kasih sayang keluarganya.

"Saya kira sudah diambil keluarganya" lirih Adira menduga.

"Entah, sepertinya memang keluarganya tidak punya niat untuk mencari bayi ini" ungkap Bu RT.

"Kenapa begitu?" Adira mengernyit.

"Bayi ini mungkin memang sengaja di buang oleh orang tuanya, dan tidak mungkin untuk dicari kembali. Tapi kita tentu masih berharap yang terbaik, meski kemungkinan kecil akan terjadi" ucapnya panjang lebar.

Adira makin prihatin ditengah-tengah warga yang memprihatinkan dirinya, hatinya selalu berdesir ketika melihat bayi kecil ini, seolah ada magnet yang membuatnya selalu tertuju pada sosok mungil tersebut.

Satu jam kemudian beberapa warga mulai berpamitan pulang begitupun dengan Bu RT, namun Adira meminta beliau untuk menunggu sebentar.

"Bu RT, tunggu sebentar!" Cegah Adira.

"Ada apa, Ra?" Bingung ketika Adira memintanya menunggu, tetapi perempuan itu malah masuk ke dalam kamar.

Adira kembali tak lama, ia memberikan sebuah amplop yang berisi uang pada Bu RT.

"Untuk kebutuhan bayinya, saya ada sedikit rezeki"

Sontak Bu RT terkejut tak menyangka.

"Lho... Jangan Ra, untuk kamu saja. Kamu kan sedang tertimpa musibah" tolaknya halus.

"Sudah Bu tolong diterima, Adira memang dari waktu itu ingin memberinya tapi tidak sempat. Semoga bermanfaat ya"

Bu RT pun menerima karena merasa ini sudah rezeki si bayi, tak boleh memaksa untuk menolaknya.

"Terimakasih ya, Ra. Pasti akan sangat bermanfaat sekali, kalau begitu kami pamit pulang dulu"

"Iya Bu, terimakasih juga sudah datang kesini'

Dan pertemuan Adira dengan bayi itu pun hanya berlangsung saat itu.

Terpopuler

Comments

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

kirain mau lgsg diboyong tuh baby ny

2024-04-21

0

hìķàwäþî

hìķàwäþî

omongan yg ga perlu buuu.. lo kira bs milih cara mati? ngrusak suasana duka org aj.. jitak aj ra..

2023-10-12

0

rindu rindu

rindu rindu

Marsyah ikutan cuti seminggu di malang 😁

2023-09-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 KARYA BARU
102 Satu Atap dengan Bandar Narko-CINTA
103 My Perfect (Bad) Marriage
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
KARYA BARU
102
Satu Atap dengan Bandar Narko-CINTA
103
My Perfect (Bad) Marriage

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!