Seminggu berlalu, Adira memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Banyak yang harus di lakukan disana contohnya bekerja, ia juga tak mau terlalu lama merepotkan Arumi yang sudah berbaik hati membantu dirinya dari mulai hari pertama Adira datang ke Malang.
Dan lagi ia tak mungkin membiarkan Marsya terus menemaninya, perempuan itu juga punya aktivitas sendiri yang harus dijalani.
"Kamu yakin mau pulang sekarang, Ra?" Tanya Arumi pada Adira yang tengah menunggu taksi jemputan.
"Iya Tante, Adira harus kembali ke Jakarta. Banyak yang Adira tinggalkan selama Adira tidak ada, Adira sangat berterimakasih pada Tante dan keluarga karena sudah membantu Adira selama disini" ucap Adira tulus dari hati yang paling dalam.
"Kapan pun kamu butuh bantuan datanglah pada Tante, pasti akan Tante bantu sebisa Tante" balas Arumi membuat Adira tersenyum teduh.
"Iya Tante, sekali lagi terimakasih banyak"
"Untuk tawaran Tante yang kemarin bagaimana, Ra? Apa kamu berencana untuk pindah ke malang?" Tanya lagi, mengingatkan Adira tentang pembahasan tempo hari.
Adira berpikir sejenak sebelum menjawab, niat untuk pindah sudah terbesit di pikirannya namun untuk merealisasikan hal itu masih banyak yang harus Adira pertimbangkan, namun tak dipungkiri jika nanti Adira akan menerima tawaran tersebut.
"Adira akan lihat situasi dan kondisinya dulu, Tan. Pindah rumah juga berat bagi Adira karena banyak kenangan disana" tuturnya.
Dan Arumi pun memahami hal tersebut, jika saja Adira sudah menikah mungkin ia tak akan secemas ini sebab akan ada yang menjaga Adira disana. Tapi perempuan itu masih gadis lajang dan tak punya siapa-siapa, Arumi takut jika sewaktu-waktu ada yang berniat jahat pada Adira.
"Tante mengerti, tapi jika terjadi apa-apa katakan pada Tante. Jujur Tante tidak tenang membiarkan kamu hidup sendirian di Jakarta" gusarnya.
Marsya yang berada disana seketika merangkul Adira.
"Tenang saja Tante, sekarang aku akan lebih sering menemani Adira, bahkan kalau bisa aku akan menginap setiap hari di rumahnya. Tentu aku juga tidak akan membiarkan Adira sendiri, iya kan Ra?" Jelas Marsya menimpal.
Adira membalas dengan senyum serta anggukkan kecil.
"Syukurlah, Tante titip Adira padamu ya nak Marsya. Jaga dia karena hanya kamu yang bisa Tante percayai"
"Iya Tante, aku pastikan Adira akan baik-baik saja" ucapnya penuh keyakinan.
Tin... Tin... Tin...
Suara klakson mobil memotong pembicaraan ketiga wanita itu, mereka tau itu pasti taksi yang menjemput Adira dan Marsya.
"Sepertinya taksi kita sudah datang, ayo kita keluar" ajak Adira pada Marsya.
Ketika sampai di teras rumah pak supir sudah menunggu di depan, pria itu dengan sigap membawa kedua koper penumpangnya ke dalam taksi.
"Terimakasih, pak"
"Sama-sama mbak"
Kini waktunya ia dan Marsya berpamitan dengan Arumi.
"Kami pergi dulu Tante, terimakasih atas segala bantuan Tante dan keluarga. Maaf Adira tidak bisa membalas satu persatu semua kebaikan kalian"
"Jangan sungkan untuk selalu menghubungi Tante, maaf suami dan anak Tante tidak bisa pergi mengantar kamu karena harus bekerja. Beritahu jika kalian sudah sampai di Jakarta"
Mereka pun saling berpelukan dengan tangis sedih bercampur haru, kini sudah waktunya Adira harus pulang.
Taksi yang mengantarkan Adira dan Marsya menuju ke bandara kini berlalu dari area pekarangan rumah itu.
***
Sesampainya di Jakarta Adira hanya diberi waktu istirahat sebentar saja, sebab para tetangga sedikit demi sedikit melayat ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa.
Adira pun menerima semua pelayat dengan baik meski sebenarnya ia sangat ingin beristirahat dan mencari ketenangan untuk sesaat.
"Saya benar-benar tidak menyangka, orang sebaik mereka harus tewas dengan cara mengenaskan"
"Betul, rasanya seperti mimpi mendengar fakta tersebut"
"Padahal sebelum berangkat ke Malang sempat mengobrol dulu dengan saya"
"Tuhan lebih sayang mereka, kita doakan yang terbaik untuk keduanya"
Desas-desus dari para tetangga memenuhi rumah Adira, mereka membicarakan ketidakpercayaan atas wafatnya orang tua Adira. Bahkan tidak ada tanda-tanda jika mereka akan pergi secepat ini.
Disaat bersamaan Bu RT datang sembari membawa bayi dalam gendongannya.
Sontak membuat perhatian Adira tertuju pada bayi tersebut, rupanya selama seminggu Adira tak ada bayi itu masih tetap disini.
"Adira ibu turut berdukacita ya nak, kamu yang sabar ya" ibu RT memeluk Adira setelah mereka bersalaman.
"Iya Bu, maaf jika orang tua saya punya salah selama ini" balas Adira.
"Sama sekali tidak, mereka berdua orang baik. Saya ikut kehilangan mendengar mereka telah tiada" sambungnya.
"Mohon doanya ya, Bu"
"Tentu, Ra. Ibu pasti mendoakan mereka"
Ibu RT lantas memilih duduk di sebelah Adira bersamaan dengan ibu-ibu lainnya yang masih sibuk berbincang.
Pandangan Adira tak lepas dari bayi yang berada dalam gendongan Bu RT, Adira bisa melihat dengan jelas bayi itu, nampak tertidur dengan tenang.
"Bayinya masih disini, Bu?" Seru Adira.
Bu RT sontak menoleh, ia tak mendengar jelas apa yang Adira ucapkan.
"Maaf Adira, bagaimana?" Balik bertanya.
"Bayinya, apa belum ada yang menjemput?" Jelas Adira.
"Oh... Iya, selama hampir dua minggu ini belum ada informasi terkait pelaku maupun keluarganya. Jadi masih saya urus hingga sekarang, rencananya menunggu satu bulan dulu baru akan dititipkan di panti asuhan" sahut Bu RT menuturkan.
Adira menatap sendu si bayi, kini Adira merasa nasib mereka sebelas dua belas. Sama-sama yatim piatu dan tak punya sanak saudara, benar-benar sebatang kara dengan sebab yang berbeda.
Bedanya Adira lebih beruntung karena bisa merasakan kasih sayang orang tua hingga umur 23 tahun, sedangkan bayi ini belum pernah merasakan bahkan dibuang sia-sia entah oleh siapa.
Hei, tidakkah nasib kita sama? Yatim piatu, sebatang kara, ditinggalkan orang tua dengan cara yang mengenaskan.
Gumam Adira dalam hati pada si bayi, baru kali ini ia merasa harus lebih bersyukur meski sudah ditinggalkan kedua orang sekaligus.
Bayi itu sudah dibuang tak sempat merasakan kasih sayang keluarganya.
"Saya kira sudah diambil keluarganya" lirih Adira menduga.
"Entah, sepertinya memang keluarganya tidak punya niat untuk mencari bayi ini" ungkap Bu RT.
"Kenapa begitu?" Adira mengernyit.
"Bayi ini mungkin memang sengaja di buang oleh orang tuanya, dan tidak mungkin untuk dicari kembali. Tapi kita tentu masih berharap yang terbaik, meski kemungkinan kecil akan terjadi" ucapnya panjang lebar.
Adira makin prihatin ditengah-tengah warga yang memprihatinkan dirinya, hatinya selalu berdesir ketika melihat bayi kecil ini, seolah ada magnet yang membuatnya selalu tertuju pada sosok mungil tersebut.
Satu jam kemudian beberapa warga mulai berpamitan pulang begitupun dengan Bu RT, namun Adira meminta beliau untuk menunggu sebentar.
"Bu RT, tunggu sebentar!" Cegah Adira.
"Ada apa, Ra?" Bingung ketika Adira memintanya menunggu, tetapi perempuan itu malah masuk ke dalam kamar.
Adira kembali tak lama, ia memberikan sebuah amplop yang berisi uang pada Bu RT.
"Untuk kebutuhan bayinya, saya ada sedikit rezeki"
Sontak Bu RT terkejut tak menyangka.
"Lho... Jangan Ra, untuk kamu saja. Kamu kan sedang tertimpa musibah" tolaknya halus.
"Sudah Bu tolong diterima, Adira memang dari waktu itu ingin memberinya tapi tidak sempat. Semoga bermanfaat ya"
Bu RT pun menerima karena merasa ini sudah rezeki si bayi, tak boleh memaksa untuk menolaknya.
"Terimakasih ya, Ra. Pasti akan sangat bermanfaat sekali, kalau begitu kami pamit pulang dulu"
"Iya Bu, terimakasih juga sudah datang kesini'
Dan pertemuan Adira dengan bayi itu pun hanya berlangsung saat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
kirain mau lgsg diboyong tuh baby ny
2024-04-21
0
hìķàwäþî
omongan yg ga perlu buuu.. lo kira bs milih cara mati? ngrusak suasana duka org aj.. jitak aj ra..
2023-10-12
0
rindu rindu
Marsyah ikutan cuti seminggu di malang 😁
2023-09-25
0