Rintik-rintik hujan mengiringi langkah Adira, dalam keadaan basah ia menyusuri jalanan sepi itu.
Diam-diam menangis keras dan dibanjiri air mata, tapi alam menutupinya dengan air Tuhan.
Disinilah Adira merasa hidupnya ada dalam titik terendah, kehilangan kebahagiaan dan juga harga dirinya.
Apa dosa yang telah ia lakukan semasa hidup? Adira berpikir sangat dalam, namun tak ada yang ia temukan. Lantas apa yang membuatnya kini hidup menderita??
Cobaan yang Adira lalui terasa amat menyakitkan, tidak yakin jika ia bisa melalui semua masalah ini. Dirinya yang lemah harus dihadapkan dengan batu besar secara bertubi-tubi.
Adira sudah merasa tak aman disini, ia ingin pergi jauh. Kalau bisa Adira ingin menyusul kedua orangtuanya, mengadu sembari melepas rindu yang telah ia simpan semenjak kepergian mereka.
Mungkinkah Adira harus menerima penawaran Arumi tempo lalu??? Haruskah ia pergi kesana?
Adira merenung ditemani air hujan, tak peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang. Adira merasa nyaman dengan ini, setidaknya mereka tak tau jika ia tengah menangis.
Langkah Adira kini sudah sampai di daerah tempat tinggalnya, ia terus berjalan sambil menatap lurus ke depan, tak ada siapapun disana selain dirinya, wajar saja selain hujan kini sudah memasuki waktu malam.
Entah berapa lama waktu yang Adira lalui untuk bisa sampai kesini.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti di sebuah rumah bercat coklat muda, Adira mematung disana, memandang bangunan yang sering ia lewati ini.
Seolah ada magnet yang menarik Adira untuk berbelok, kenapa ia selalu terpaku pada rumah ini?? Mungkinkah ada sesuatu yang harus ia ambil? Seperti ada hal yang ingin dia bawa pergi.
Terus melangkah sampai berada tepat di depan menghalang rumah, entah sadar atau tidak jari-jari Adira terangkat guna mengetuk pintu rumah.
Hanya beberapa kali ketuk pintu sudah dibukakan oleh si pemilik tempat, seketika orang tersebut terkaget-kaget melihat wanita didepannya.
"Adira?!!"
Adira menelisik pakaian perempuan setengah baya itu, nampak seperti seseorang yang akan keluar, sudah bersiap menuju suatu tempat.
Adira tau lawan bicara tengah terkejut mendapati dirinya dalam keadaan basah kuyup, mata yang memerah akibat tangisan, serta kulit pucat yang mengelilingi seluruh tubuhnya.
"Bayinya...... Masih ada?" Lirih Adira hampir tak bersuara.
Mendengar pertanyaan Adira, ibu RT mengangguk pelan, bingung kenapa Adira menanyakan itu ditambah kedatangannya dengan keadaan yang terbilang kacau.
"Masih, kami baru mau berangkat ke panti. Sore tadi hujan jadi kami menunda waktu keberangkatan, untunglah sekarang sudah reda jadi kami bisa pergi sekarang" jelasnya.
"Tapi... Ada apa Adira? Kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini?" Tambah Bu RT bertanya.
Adira meremass roknya di kedua sisi, masih mengumpulkan keberanian serta keyakinan dalam dirinya, haruskah ia melakukan ini?? Adira sedikit ragu, namun ia tak mau menyesal jika terlalu lama memikirkannya, ia harus cepat-cepat pergi dari kota ini!
"Saya ingin bayi itu!" Seru Adira, membuat Bu RT mengernyit heran.
Masih belum mengerti dengan maksud dari ucapan Adira, pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.
Melihat wanita di depannya yang tak merespon, Adira lantas mendongak sambil memasang wajah yang dipaksakan tegar.
"Saya ingin mengadopsinya, Bu! Izinkan saya membawanya pergi...."
Dan saat itu juga kedua bola matanya terbelalak mendengar penuturan Adira!
"M-mengadopsi??" Ujar Bu RT tergagap.
Tentu ia terkejut dengan keinginan Adira, pasalnya sudah beberapa kali ia menawari Adira hal tersebut namun selalu ditolaknya, tetapi sekarang Adira justru datang dan mengatakan ingin mengadopsi bayi yang kini akan dibawa ke panti asuhan.
Bu RT tak langsung mengiyakan, harus ada alasan yang jelas kenapa sampai mendadak seperti ini.
"Ada apa Ra? Apa terjadi sesuatu? Mari kita bicarakan di dalam" ajaknya, mereka harus berbicara dengan tenang.
Tetapi Adira menggelengkan kepala.
"Tidak terjadi apa-apa Bu, Adira hanya mau pindah dari sini. Adira ingin mengadopsi bayi itu, Adira ingin punya keluarga baru" cicitnya memberi alasan, tentu tak ingin orang lain curiga.
"Kamu mau pergi kemana, Ra?" Sahut Bu RT cemas, perasaannya tak enak dan tiba-tiba saja mengkhawatirkan Adira.
"Ke Malang bu, tempat asal orang tua saya" ujar Adira jujur, ia tak mungkin menutup karena pada akhirnya mereka semua pasti akan tahu.
Bu RT nampak ragu, bukan tidak percaya pada Adira, tapi melihat keadaannya Adira seperti sedang tidak baik-baik saja.
"Tapi Ra......."
"Saya mohon, Bu. Saya benar-benar ingin mengadopsi bayi itu, saya ingin membesarkannya seperti anak saya sendiri, saya menyayanginya. Saya mohon, biarkan dia menjadi anak angkat saya" pinta Adira memohon dengan sepenuh hati, nasib keduanya yang sama membuat Adira bertekad akan memperjuangkan bayi tersebut untuk masa depan mereka bersama-sama.
Akhirnya Bu RT pun mengangguk, mengiyakan. Padahal sebentar lagi mereka akan pergi ke panti asuhan dan suaminya sekarang tengah menuju kesini setelah selesai bekerja.
"Sebentar, biar saya bawa dulu bayinya"
Bu RT masuk ke dalam rumah untuk mengambil bayi yang kini entah sedang apa, Adira hanya menunggu di depan pintu tanpa berniat masuk.
Tak lama Bu RT kembali bersama bayi dan juga tas besar yang tentu saja semua perlengkapan bayi mungil itu.
Bu RT memandang lama wajah bayi yang sudah sebulan ini tinggal bersama dirinya, tak menyangka jika sang tetangga akan mengadopsi bayi ini, namun ia justru tak bisa melihatnya lebih lama sebab Adira akan membawanya pergi.
Kini pandangannya tertuju kembali pada Adira.
"Saya ingin menggendongnya, bu" lirih Adira meminta.
Tak menolak, ibu RT lantas memberikan si bayi pada Adira dengan penuh kehati-hatian.
Sedangkan Adira merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat, untuk pertama kalinya ia menggendong bayi yang selama ini memenuhi pikiran Adira.
Air mata tak bisa dibendung lagi, cairan bening itu menerobos tanpa izinnya, memenuhi kedua pipi Adira.
Hari ini, Adira resmi menjadi seorang Ibu angkat. Ia tak lagi sebatang kara, ada manusia kecil yang harus Adira tumbuh kembangkan, akan ada seseorang yang memanggilnya Ibu dan menunggunya pulang.
Bayi tampan, aku janji akan berusaha untuk menjadi ibu yang pantas untukmu. Ayo kita hidup bersama-sama, melewati kejamnya dunia yang penuh kegelapan ini, mari kita berjuang untuk masa depan bersama-sama. Sekarang aku Ibumu! Tumbuhlah menjadi anak yang baik ya nak, Ibu menyayangimu.
Sebuah kecupan mendarat tepat di kening sang buah hati, diikuti senyum bahagia dari bibir Adira, semangat hidupnya muncul dengan adanya sosok baru dalam hidup Adira.
Detik ini Adira mempunyai tanggung jawab penuh terhadap putra angkatnya, ia harus bisa menjadi tameng walau punggungnya mungkin tak sekuat baja, dan menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk putranya.
Ia akan memulainya dari nol, menata kembali jiwanya yang hilang terbengkalai, menyusun rencana masa depan dengan bayinya, Adira akan menjalani semua itu meski mungkin langit akan menimpanya ribuan kali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
mantab sudah 👍
2024-10-03
0
Raufaya Raisa Putri
akhirnya... setelah perang batin
2024-04-21
0
Nur fadillah
Hickk...hick.. sedih banget....huaaaa...Makkk...😭😭😭
2023-10-22
1