Semilir angin dingin perlahan berganti oleh hangatnya sinar surya, membelai pori-pori dan menghangatkan raga para makhluk Tuhan.
Begitu pula dengan yang dirasakan salah satu wanita yang tengah tertidur pulas di ranjang empuknya.
Silau matahari terasa mengganggu aktivitas Adira di dalam mimpi.
Kelopak matanya sedikit demi sedikit terbuka terbuka meski tak sepenuhnya, sang Surya seketika menyambut Adira hingga membuatnya menyipitkan mata.
Adira bangun sambil merenggangkan otot-otot yang kaku, cuaca hari ini sangat cerah namun entah kenapa Adira merasa malas untuk berkegiatan.
Tetapi hari ini bukan weekend, mau tidak mau Adira harus beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi bersiap berangkat bekerja.
Sepuluh menit kemudian Adira sudah rapi dengan pakaian formal, ia berdandan guna menyempurnakan tampilannya.
Seusai itu Adira tak langsung keluar dari kamar, ia duduk sebentar sambil memandangi dirinya di kaca cermin.
"Kenapa perasaan ku tidak enak hari ini, padahal semuanya baik-baik saja" lirih Adira bergumam.
Suasana pagi hari tak sejalan dengan suasana hatinya, mendadak ia gelisah tanpa alasan, hawa dingin menembus kulit Adira padahal matahari bersinar terang.
Adira melangkah ke meja makan dan menyiapkan roti selai untuk ia bekal saja ke kantor.
Kini Adira sudah siap berangkat, ia mengunci pintu rumah sebelum akhirnya pergi dari sana.
Di kantor seperti biasa Adira menyapa sang sahabat dengan lesu.
"Pagi..." Adira singkat.
"Ada apa kali ini? Sepertinya sedang tidak baik-baik saja" Marsya melihat keanehan dari raut wajah perempuan seumurannya itu.
"Tidak ada apa-apa, tapi perasaan ku tidak enak hari ini" ungkap Adira tak bersemangat.
"Kenapa?"
Adira mengangkat kedua bahu sebagai jawaban.
"Entah"
"Kamu sakit?"
Dengan cepat Adira menggeleng.
"Tidak, aku baik-baik saja" bantah Adira.
Marsya tak bertanya lagi, khawatir semakin memperburuk mood Adira.
Siang menjelang, Marsya mengajak Adira makan siang di kantin karena perutnya juga sudah merengek minta diisi.
"Ra kita ke kantin sekarang yuk, aku lapar sekali nih" ajaknya sambil memegang perut yang keroncongan.
"Oke, sebentar..." Adira merapikan berkas yang memenuhi meja kerjanya, kemudian bangkit dari kursi.
Namun saat Adira baru saja melangkah, gelas yang ada di mejanya tersandung hingga jatuh dan pecah.
Prankkk....!!
Bunyi nyaring seketika memenuhi ruangan itu.
"Astaga...!" Teriak mereka kaget.
Marsya menarik Adira agar menjauh dari serpihan kaca yang berserakan.
"Kamu tidak apa-apa, Ra?!" Cemas Marsya.
Pertanyaan Marsya tak masuk ke dalam telinga Adira, ia hanya terpaku pada gelas pecah itu dengan nafas yang terengah-engah, jantung Adira berdebar kencang, perasaannya benar-benar tidak enak, firasat Adira mengatakan akan terjadi hal buruk padanya.
"Ra? Kamu kenapa?"
Disaat bersamaan ponsel Adira berdering pertanda ada telepon masuk, Adira melangkah mengambil ponsel di tasnya.
Saat benda pipih itu sudah berada dalam genggamannya tertera nama sang ibu di layar ponsel.
Alis Adira mengernyitkan bingung, tak biasanya orang tuanya menelpon di saat jam kerja.
Tanpa menunggu lama Adira mengangkat telpon tersebut.
"Hallo?"
"Apa benar ini dengan putri dari ibu Nadin?" Ucap seorang lelaki yang tidak Adira kenali.
Dahinya makin mengkerut, bertanya-tanya dalam hati kenapa ponsel sang ibu bisa ada di tangan orang lain.
"B-benar saya anaknya, anda siapa? Kenapa bukan ibu saya yang berbicara?" Desak Adira menuntut jawaban.
"Mohon maaf tapi pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan mobil, saya polisi yang menangani kecelakaan ini. Kami ingin menginformasikan pada keluarga korban"
Duarrr!!!
Seketika langit terasa jatuh diatas kepalanya, organ jantung seakan copot dari tempat, ponsel yang Adira pegang pun hampir terlepas dari genggaman.
"A-apa?? Apa yang anda katakan?!!" Suara gemetar Adira membuat Marsya ikut panik dan mendekat.
"Korban sepasang suami istri, kami sedang menunggu ambulan datang. Keluarga korban dimohon untuk datang ke rumah sakit yang dituju, nanti saya kirimkan alamatnya" jelas polisi dari sebrang sana.
"Bagaimana keadaan orang tuaku sekarang?? Tolong aku ingin melihat kondisi mereka!!"
"Korban tidak sadarkan diri karena mengalami benturan parah di beberapa bagian, harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kami cukupkan dulu telponnya, sebentar lagi ambulan sampai"
Ponsel pun langsung dimatikan oleh lelaki itu, berbarengan dengan air mata Adira yang lolos berjatuhan.
"Ra, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Marsya panik.
"Ibu dan ayah kecelakaan, Sya!! Aku harus segera kesana"
"APA???"
Adira memasukan seluruh barang ke dalam tas untuk bergegas pergi.
"Kamu mau ke Malang sekarang, Ra? Dengan siapa?"
"Aku akan pergi kesana sendiri, aku mau melihat ibu dan ayahku Sya" ucapnya sambil terisak.
"Kalau begitu aku ikut!" Marsya pun melakukan hal yang sama seperti yang Adira lakukan, memasuki barang-barang miliknya ke dalam kantong.
"Jangan Sya, aku tidak mau merepotkan mu" cegah Adira ditengah-tengah kesedihannya.
"Sudah Ra jangan pikirkan aku, sekarang ayo kita pergi!" Menarik tangan Adira dan pergi dari kantor menuju Malang.
Kini Adira tau kenapa tiba-tiba perasaannya tidak karuan dan terjadi sesuatu yang buruk sejak kemarin. Dan inilah jawabannya!
Secepat mungkin Marsya membantu Adira mencarikan tiket pesawat paling awal, sebisa mungkin ia harus sigap membantu sang sahabat sebab Marsya tau jika Adira tak punya siapa-siapa selain kedua orangtuanya.
Marsya juga yang mengajukan cuti darurat agar perusahaan tidak mengeluarkan surat peringatan pada mereka meski Adira tak memintanya.
Marsya paham posisi Adira sekarang, tak ada yang lebih penting dibanding keadaan orang tua yang saat ini tengah mengalami kecelakaan.
Dan kini waktunya mereka menaiki pesawat menuju Malang.
***
"Polisi sudah memberikan mu alamat rumah sakitnya?" Tanya marsya ketika mereka sudah berada di pesawat.
Adira hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan suara, hanya tangis yang keluar tanpa bisa dihentikan.
Beberapa penumpang melirik ke arah kursi mereka ketika mendengar ada suara Isak tangis, meski begitu tak ada yang menegur Adira karena memaklumi masalah yang tengah dihadapi oleh wanita cantik tersebut, meski tak tau apa yang membuat sosok perempuan itu merintih.
"Hikss..... Aku takut Sya...! Aku takut orang tuaku kenapa-kenapa" Isak Adira menutup wajah yang penuh air mata dengan kedua telapak tangan.
Marsya mencoba menenangkan Adira dengan mengusap lembut punggung sahabatnya.
"Aku paham, Ra. Yang terpenting sekarang kita berdoa untuk keselamatan orang tuamu. Aku yakin Tuhan akan mengabulkan doa kita, percayalah" Marsya menyemangati.
"Aku belum siap kehilangan mereka... Hikss..."
"Jangan bicara seperti itu, kau harus tetap berpikir positif. Ada aku disini, jangan merasa sendiri Ra" Marsya ikut berkaca-kaca, tak dipungkiri ia juga memiliki firasat buruk mendengar kabar duka ini. Tapi ia tak mau menunjukkannya pada Adira, pasti akan membuat perempuan disampingnya ini makin gusar dan emosional.
"Hiksss... Aku takut Sya....."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
sediih... 😭😥😢
2024-04-21
0
Turifatul Hasanah
seberapa jauh ke malang si dari pagi ke pagi lagi belum sampe
2023-10-21
0
Giana
bikin cerita memberi kesan begini sejak awal Ikin males bacanya. sangat tdk menarik
2023-10-09
0