Mobil hitam yang ditumpangi Adira dan keluarganya terhenti tepat di depan bangunan kantor.
Mereka mengantarkan Adira bekerja sambil berpamitan sebelum mereka berpisah.
"Adira kerja dulu ya Bu, Yah. Kalian hati-hati dijalan, jaga kesehatan disana" ucap Adira menyalami kedua orang tuanya.
"Kamu juga hati-hati selama tidak ada kami, telpon kami jika ada apa-apa. Maaf ya kami cuma pergi berdua" balas Nadin menciumi wajah putri kesayangannya ini.
"Iya Bu, tidak masalah. Adira juga minta maaf karena tidak bisa ikut, semoga perjalanannya lancar ya" harap Adira.
"Ingat Ra, jangan nekat menyusul kami kesana loh!" Gurau sang Ayah ditengah-tengah kesedihan dua wanitanya.
"Ish...! Ayah ini, masih saja mengkhawatirkan Adira pergi sendiri. Kan Ayah yang bilang Adira sudah dewasa, kalau tiba-tiba Adira dibolehkan cuti Adira ingin menyusul kalian ke Malang" cebiknya ditanggapi serius oleh Adira.
"Halahh... Kamu mana berani, yang ada malah nyasar lagi" ledek Bagas yang sangat suka mengusili Adira.
"Enggak mungkin, zaman sekarang bisa liat Maps kalau kesasar" balas Adira tak mau kalah.
"Kalian ini kenapa malah berdebat, kamu bisa terlambat masuk Ra kalau terus menanggapi Ayahmu. Sebaiknya masuk sekarang, kami juga mau berangkat" timpal Nadin menengahi, karena kalau dibiarkan perdebatan mereka tidak akan pernah ada ujungnya.
"Iya Bu, Adira keluar sekarang ya. Jangan lupa beli oleh-oleh yang banyak!"
Setelah turun dari mobil Adira tak langsung masuk, ia menunggu mobil kedua orangtuanya berlalu dari sana sambil melambai-lambaikan tangan, hingga kendaraan beroda empat tersebut menghilang dari pandangan.
"Tak menyangka akhirnya aku ditinggalkan sendiri, biasanya kami selalu pergi bertiga kemana-mana. Tapi tidak apa! Aku bisa mengajak Ayah dan Ibu pergi kalau sudah dapat cuti. Sekarang aku harus bekerja lebih keras supaya bisa membawa mereka pergi liburan, semangat Adira!!" Adira antusias.
***
Adira memasuki ruangan kerja dengan penuh semangat, senyum manis menghiasi wajah cantik nan rupawan itu. Rambut panjang yang sengaja terurai ikut menarik-narik seolah turut dalam kesenangan pagi ini.
"Pagi...." Sapa Adira pada sahabatnya yang tak lain dan tak bukan ialah Marsya.
"Pagi juga, tumben kelihatan senang sekali?" Heran Marsya.
Adira mengedikkan bahunya, "Entah, memang tidak boleh kalau kelihatan ceria? Masa aku harus murung terus" jawab Adira duduk di kursi kerjanya.
"Ya aneh saja, biasanya kamu datang dengan wajah kalem dan hanya menyapaku datar" ungkap Marsya menceritakan kebiasaan Adira setiap datang ke kantor.
"Dari pada kamu, tidak pernah menyapaku!" Cebik Adira menimpali.
"Ya mau bagaimana lagi, aku tidak punya semangat untuk bekerja. Malas setiap datang ke kantor, energi positif ku seakan hangus dalam sekejap" kata Marsya beradu nasib.
"Makanya aku ingin buru-buru menikah supaya tidak usah kerja lagi, mengurus anak lebih lebih baik dari pada harus datang ke kantor setiap hari" Ucap wanita yang belum pernah menikah itu, membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi dalam realita.
Adira hanya menarik nafas dalam, moodnya langsung berkurang kala Marsya mengaitkan pembicaraan dengan pernikahan.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi dulu, rumah tangga itu ada senang juga sedihnya. Kalau suatu saat suamimu dilanda musibah kamu juga harus bantu yang pada akhirnya harus bekerja lagi" Nasihat Adira mengingatkan, ia memang bukan tipe wanita yang suka bergantung pada laki-laki, namun tentu menikah juga menjadi impiannya.
"Ya jangan sampai kena musibah lah, sebagai istri yang baik aku akan selalu mendoakan suamiku yang baik-baik agar hidup kami selalu tentram dan sejahtera" ujar Marsya percaya diri.
Adira tak lagi menanggapi, sampai mulutnya berbusa pun ia akan selalu kalah kalau dikaitkan dengan yang namanya pernikahan.
"Ngomong-ngomong aku penasaran tentang bayi itu, bagaimana kabarnya sekarang?" Masih belum puas mengobrol dengan Adira.
"Baik, tadi aku sempat melihat dia saat sedang dijemur"
"Dia masih disini?" Nampak terkejut mengetahui fakta itu.
"Heem... Belum ada informasi lebih lanjut terkait keluarganya" lirih Adira, berhenti mengetik dengan pandangan kosong menerawang.
"Ya Tuhan aku jadi makin kasihan padanya, jadi ingin adopsi saja deh"
"Ya sudah kenapa tidak benar-benar adopsi saja?" Tengok Adira.
"Sedang banyak pengeluaran akhir-akhir ini, aku belum mampu membesarkan seorang anak secara finansial" menarik lagi niatannya yang semula.
"Ya lebih baik jangan dipaksakan, kalau kamu kasihan lebih baik bantu sebisa kamu atau setidaknya kamu mau mencoba melongok juga boleh. Nanti aku antar"
Marsya menimang-nimang tawaran Adira, bagus juga kalau ia menengok sekaligus menghilangkan rasa penasarannya terhadap bayi itu.
"Nanti deh tunggu gajian saja, aku sedang bokek sekarang. Malu kalau kesana tidak bawa buah tangan" pikirnya.
"Terserah kamu, yang penting ada niat baik itu sudah bagus"
***
Adira turun dari bis setelah mobil itu berhenti di halte bus tempat tinggalnya.
Berjalan sekitar dua menit menuju rumah, bermanfaat juga menghilangkan rasa pegal karena duduk cukup lama.
Lagi-lagi sorot mata Adira terfokus pada rumah pak RT, tentu Adira ingin melihat si bayi untuk kedua kalinya hari ini.
Tapi sayang, rumahnya tertutup dan tak ada siapapun di luar. Hening pula saat melewati tempat tinggal tersebut.
Tak ada polisi serta warga yang berkumpul seperti kemarin, bahkan pemilik rumah pun tak nampak batang hidungnya.
"Padahal aku ingin melihat bayi itu" gumam Adira mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah.
Membuat Adira menyeret kembali kaki jenjangnya.
Saat memasuki rumah suasana di dalam terasa sunyi dan sepi, wajar tidak ada siapapun karena Ibu dan Ayahnya tengah pergi ke Malang.
Adira lantas masuk dan menjatuhkan diri di sofa, merehatkan sejenak raga lelahnya sembari memejamkan mata guna mengumpulkan energi.
Namun hal itu tak berlangsung lama, Adira dikejutkan dengan figura yang jatuh mencium lantai.
Adira sontak terlonjak kaget, ia memegangi dada kirinya yang berdebar.
Dihampirinya benda tersebut, tangan kanan Adira mencoba mengambil figura dengan hati-hati karena kaca foto itu retak berhamburan. Ternyata foto pernikahan orangtuanya semasa muda dulu.
"Astaga, kenapa bisa tiba-tiba jatuh?" Sangking bingungnya Adira melirik seluruh ruangan ia berada.
Mendadak Adira merinding hingga bulu kuduknya berdiri.
"Jangan bilang ada makhluk halus disini" desis Adira ketakutan.
Adira menggeleng-geleng menepis pikiran buruknya, buru-buru meletakkan figura di atas meja dan berlalu mengambil sapu.
Adira membersihkan serpihan kaca sampai benar-benar tak ada yang tersisa.
Lalu meletakkan lagi figura di tempat yang berbeda.
"Huffttt.... Sepertinya aku harus beli figura baru, lagian kenapa bisa tiba-tiba jatuh coba? Mungkin pakunya sudah karatan dan tidak bisa menampung berat figuran itu" tebak Adira menduga-duga, tak mau berpikir lebih jauh hanya karena sebuah benda yang jatuh.
Setelah selesai barulah Adira masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
•
•
•
•
Masih Mau Lanjut? Jangan Lupa Vote Mingguannya🥰
Mamie Tunggu😘
Love❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
lanjuuut thor
2024-10-03
0
Siti Nurjanah
semoga orang tua adira selamat sampai 7an dan kembali lg dgn selamat
2024-07-06
0
Raufaya Raisa Putri
kyk sinetron j... itu teh tanda dir
2024-04-21
0