Adira keluar kamar setelah mencuci muka dan menggosok gigi, saat Adira melangkahkan kakinya ke ruang tengah ia disambut oleh pemandangan dua koper besar milik orang tuanya.
Disana sang Ibu sedang sibuk mem-packing barang-barang ke dalam koper, tak menyadari kedatangan putrinya yang masih berdiri memperhatikan.
"Ibu mau kemana?" Seru Adira mengagetkan perempuan paru baya disitu.
Nadin pun menoleh, lalu kembali lagi pada aktivitasnya.
"Ibu dan Ayah kan mau malang, kamu lupa ya?"
Adira mengerjap sembari mengingat-ingat, mungkin memang Adira tak ingat jika orang tuanya pernah berkata begitu.
"Memang ada acara apa kalian ke malang?"
"Kami mau mengunjungi makam Mbah mu, mumpung Ayah sedang libur tiga hari kami manfaatkan untuk ziarah kesana" jelas Nadin disertai senyum lembut penuh kerinduan.
Adira langsung melayang protes pada sang Ibu.
"Lho, Adira kan juga mau ikut! Kenapa tidak tunggu akhir bulan saja agar Adira bisa mengajukan cuti?" Tuntutnya merengek.
"Kalau dinanti-nanti yang ada malah tidak jadi, kita bertiga bisa kesana lain kali. Sekarang Ibu dan Ayah sedang ingin sekali kesana, Ibu sudah sangat rindu bertemu mendiang kakek dan nenekmu" ujarnya memberi Adira pengertian, tadinya memang ia dan sang suami berencana ke malang bertiga bersama Adira. Namun karena mengetahui putri mereka sedang sibuk-sibuknya dan tak mungkin dipaksa untuk mengambil cuti sekarang mereka pun sepakat untuk ke malang berdua saja.
Bukan tak sabar menunggu, akan tetapi seiring dengan mendiang orang tuanya yang sering datang ke dalam mimpi membuat Nadin tak bisa menunggu lama lagi.
Dan besok ia serta suaminya akan berangkat ke malang setelah mengantarkan Adira bekerja sekaligus berpamitan.
Bagas, sang Ayah muncul dari balik pintu kamar sambil membawa pakaian yang bertumpuk.
"Kenapa mukamu begitu?" Timpal Bagas melihat ekspresi Adira.
"Berapa lama kalian ke malang?" Tak menjawab pertanyaan Bagas, Adira justru menanggapinya dengan pertanyaan lagi.
"Cuma dua hari, mengejar cuti Ayahmu saja" balas Nadin.
Adira menghela nafas panjang, ia juga rindu dengan mendiang kakek dan neneknya, tapi Adira belum diberi waktu untuk kesana, ia juga tak bisa mencegah niat baik Ibu dan Ayahnya untuk berziarah hanya karena dirinya tak bisa ikut.
"Kamu berani kan tinggal sendiri disini selama kami pergi? Kamu kan sudah dewasa, apalagi cuma dua hari" kata Bagas tanpa berhenti mengemasi pakaian-pakaiannya.
"Iya Adira berani kok, asal kalian jangan terlalu lama disana kalau tidak Adira akan nekat menyusul" sambung Adira bernada serius.
Tetapi Bagas dan Nadin justru tertawa kecil, mereka mengira kata-kata Adira hanyalah sebuah candaan belaka.
"Tidak akan lama, Ayah tidak bisa memperpanjang cuti. Yang ada Ayah dipecat dari kantor" tutur Bagas bergurau.
"Makanya cepat menikah supaya ada yang menemani kamu setiap waktu" lanjut Bagas merecoki Adira tak jauh seperti istrinya.
Adira hanya tersenyum malas, tau jika Ayahnya tengah menggoda Adira dengan mengaitkan seputar pernikahan.
"Jangan mulai, Yah"
"Mulai apa?" Bagas pura-pura tak paham.
"Sudah ah, Adira mau bantu Ibu dan Ayah beres-beres barang bawaan. Sini Bu biar Adira saja" Adira duduk dan merebut apa yang ada ditangan Ibunya, merapikan peralatan yang akan dibawa, ketiganya berbincang sambil sesekali melepas tawa hingga tanpa terasa jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh. Akhirnya mereka menyudahi kegiatan lalu beranjak menuju kamar.
***
Hari ini Adira masuk agar siangan, ia bisa membantu menggantikan Ibunya ke pasar lantaran Nadin sibuk kembali berbenah.
Pukul tujuh Adira sudah kembali dari pasar, ia membawa jinjingan kresek dikedua tangan.
Dari jauh Adira melihat Ibu RT yang tengah duduk sembari menggendong seorang bayi. Dengan penuh semangat Adira mempercepat langkahnya.
Ia menghampiri wanita tersebut sambil menyapa.
"Pagi Bu, RT" sapa Adira ramah.
"Eh Adira, habis dari pasar ya?" Melihat kantung belanjaan Adira.
"Iya, Bu RT"
"Bu Nadin nya kemana? Tumben kamu yang ke pasar"
"Ibu lagi sibuk beres-beres barang, soalnya hari Ibu mau ke malang dengan Ayah" ungkap Adira sambil mencuri pandang pada bayi imut itu.
"Kamu juga ikut, Ra?"
"Enggak Bu, Adira tidak ikut karena belum boleh mengajukan cuti"
"Memang ada acara apa orang tua kamu ke malang?" Tanya Bu RT menggali informasi.
"Mau mengunjungi makam Mbah"
"Ohh...." Balasnya ber oh ria.
Pandangan Adira sudah terkunci pada wajah lucu bayi mungil ini, mulut yang menguap membuat Adira gemas ingin mencolek pipi gembul itu.
"Baik banget bayinya, apa gak rewel Bu?"
"Sama sekali enggak, kalau nangis paling minta susu atau karena popoknya penuh. Pagi ini mumpung cuacanya cerah jadi sengaja di jemur supaya dapat vitamin D" jelas wanita berdaster itu, mengayunkan si bayi dengan gerakan kecil.
"Lucunya....." Lirih Adira.
"Mau coba gendong?" Tawar Bu RT.
Adira berpikir sejenak, ingin sebenarnya menimang sebentar tetapi Adira baru saja dari pasar takut ada virus yang menempel di badannya dan malah berpindah pada sang bayi.
"Nanti saja Bu kalau saya sudah bersih, sekarang masih bau karena habis dari pasar" tolak Adira halus meski hatinya sangat ingin memindahkan bayi itu padanya.
Bu RT pun mengangguk paham.
"Bayinya sudah punya nama belum, Bu?"
"Belum, saya gak berani memberikannya nama" tukas Bu RT.
Adira manggut-manggut tanda mengerti, mungkin memang keluarganya yang berhak memberi nama pada bayi itu, meski tidak tahu kapan si bayi akan bertemu dengan sanak keluarga.
"Kalau keluarganya masih belum ditemukan bagaimana dengan nasib bayi ini, Bu RT?" Tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Adira, ia mengusap lembut pipi chubby si mungil dengan jari telunjuknya.
"Kalau memang identitas keluarganya tidak di temukan, mungkin bayi ini akan diserahkan pada panti asuhan. Sebenarnya kasihan dan tidak tega melihatnya, tapi kami juga tidak bisa membantu lebih jauh" sahut Bu RT berlirih, sebagai seorang Ibu ia tentu merasakan kesedihan yang dialami oleh bayi dalam gendongannya ini, Ibu mana yang tega menelantarkan seorang anak dengan usia yang baru beberapa hari di dunia.
"Ra....."
"Iya Bu?" Sahut Adira.
"Kamu tidak berniat mengadopsinya? Umur kamu sudah cocok memiliki seorang bayi" celetuk Bu RT.
Lagi-lagi Adira termangu akan kalimat tanya dari istri RT nya ini, sudah dua kali Adira mendapatkan pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda
Tapi tetap, ia belum ada niat mengadopsi bayi tersebut.
Adira hanya tersenyum kaku, "Adira belum siap Bu, masih mau fokus dulu bekerja. Mungkin suatu saat nanti ada orang baik yang mau menjadikan bayi ini anak angkatnya"
"Anaknya baik dan tampan, pasti banyak yang menginginkannya. Adira yakin" tambah Adira, memandang rinci manusia kecil yang terbalut kain berwarna biru yang tengah tertidur menikmati hangatnya matahari pagi.
Tangan mungilnya menggenggam erat jari telunjuk Adira, seolah tak ingin ia beranjak pergi.
Tapi sayang Adira harus segera pulang ke rumah, dengan terpaksa ia menarik jarinya hingga genggaman itu pun terlepas. Membuat sang bayi terusik dan perlahan menangis tanpa disangka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
knp ngg nyuruh emak bpk ny aj yg adopsi
2024-04-21
0
Fajar Ayu Kurniawati
.
2023-10-16
0
hìķàwäþî
bu rt gmn sih? kdn lg nyari ortunya.. ngapa nanya gt dah?
2023-10-11
0