Bohong jika dia baik-baik saja, Giska meraung ketika Renaga berlalu dari kamarnya. Sama sekali tidak sadar jika kedua sahabatnya masuk kini. Masih dengan penampilan yang sedikit menantang untuk dipandang mata, bahkan Fabian jadi tahu ukuran bra Giska akibat hal ini.
Giska menghapus air matanya kasar, dia ingin menghabiskan jerit tangisnya hari ini. Dia menarik napas dalam-dalam hingga menghelanya perlahan. "Kalian sejak kapan di sini?"
Pertanyaan yang sama, Renaga juga mempertanyakan hal ini. Giska menatap Fabian dan Zavia bergantian. Tubuhnya menerima saja ketika Zavia memakaikan baju, Fabian yang terlanjur melihat Giska sedikit terbuka begitu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Belum lama," jawab Zavia bergetar, dia kacau melihat Giska pagi ini.
Giska duduk di tepian tempat tidur dengan tubuh lemasnya, meski memang niat untuk melupakan Renaga sudah sangat matang, tapi kehadirannya beberapa saat lalu cukup membuat Giska terhempas.
Seolah tengah berjalan pelan di tepian jurang, dia ingin melompat ke sisi sebelahnya. Giska tengah mencari celah dan melupakan dengan cara pelan, sayangnya Renaga datang dan memaksa Giska loncat segera.
"Sudah, Giska ... jangan ditangisi, sudah kukatakan percuma. Jangan menjadi pelangi untuk orang yang buta warna seperti kak Aga," ucap Fabian seraya menepuk pundaknya berkali-kali.
"Ck, aku lagi sedih, Fabian."
"Ya aku tahu kamu sedih, maka dari itu aku ingatkan lagi."
"Kak Aga tidak buta warna ... Dia juga suka pelangi, tapi di matanya aku ini kilatan petir, bukan pelangi."
"Lebih tepatnya awan hitam," tambah Fabian yang membuat Giska tertawa sumbang.
Semudah itu Giska kembali tersenyum, kalimat Fabian justru membuatnya tergelitik. Sementara Zavia, saat ini tidak bisa berpikir tenang. Dia paham kesedihan Giska, tapi di sisi lain hatinya juga khawatir tentang Renaga.
"Zavia, kenapa manusia itu ada di sini?"
Pertanyaan Giska memecah lamunan Zavia, sama sekali tidak sadar jika Gavi ikut masuk ke kamar Giska. Fabian yang juga sejak tadi bingung dengan kehadiran pria itu mengerutkan dahi seraya menatap teliti wajahnya.
"Dia dokter Gavi, semalam kalian berdua bertemu dengannya, 'kan?"
"Berdua siapa?" Fabian merasa benar-benar tidak dianggap, di antara mereka bertiga hanya dia yang tidak mengetahui siapa pria itu.
"Apa iya? Cowok semalem? Yang ngira aku bunuh diri dan maki-maki terus ngatain bodoh itu?"
Pertanyaan Giska seketika membuat Zavia benar-benar merasa bersalah. Nyatanya pernyataan Gavi benar-benar menjadi pemicu masalah di antara mereka bertiga.
"Pasti kak Aga marah karena kamu," tuduh Giska melemparkan handuk lembabnya ke arah Gavi, beruntung saja pria itu menghindari benda itu.
"Ya maaf, kukira benar bunuh diri ... aku hanya peduli padanya sebagai sesama manusia, Zavia, tidak bermaksud ikut campur."
Mereka yang berdebat, Fabian yang bingung. Belum lagi, tadi malam dia marah besar bahkan mengusir Renaga agar pergi lagi, sungguh Fabian menyesal tanpa akhir saat ini.
"Jadi benar kamu tidak coba-coba bunuh diri?"
"Tidak, Zavia ... aku hanya menenangkan diri, aku tidak sebodoh itu. Tapi orang itu yang berpikir macam-macam tentangku semalam," tutur Giska penuh penekanan, tampaknya sejak tadi malam pria itu membuat Giska terjebak amarah Renaga.
"Ya Tuhan, aku sudah bicara macam-macam pada kak Aga tadi malam, Giska!!" sesal Fabian kemudian, sama halnya seperti Zavia yang tidak melihat dari sisi Renaga, pria itu jelas merasa bersalah, sekaligus durhaka.
"Bicara apa kamu?"
"Ya macam-macam, aku mengatakan dia pengecut atau apalah gitu, tapi yang paling ingat ... aku usir dia, suruh balik lagi ke luar negeri," jelas pria itu seketika membut mata Giska dan Zavia membulat sempurna.
"Apa? Kamu sekasar itu, Fabian? Kalau sampai dia benar-benar pergi lagi bagaimana?" Zavia menghela napas panjang, dari cerita Renaga, dia tidak sekasar itu dan nyatanya justru berbeda.
"Ya mau bagaimana lagi, hak dia juga. Lagian dia di sini cuma sakit kepala, mending pergi saja. Kita bertiga baik-baik saja tanpa kak Aga, kenapa harus panik."
"Fabian!!"
"Kejar, Via ... kak Aga hanya luluh jika kamu yang bicara," titah Giska mendongak, menatap Zavia yang kini melayangkan tatapan tajam ke arah Fabian.
"Giska what wrong with you? Apa kak Aga menamparmu tadi? Dibagian mana sampai bisa sedikit sadar begini?"
"Di sini, Bian."
Giska menempelkan tangan di dadanya, Renaga sama sekali tidak pernah menyakitinya secara fisik, tapi di hati ya selama ini sudah sakit. Tepatnya dia yang menyiksa diri tiada habisnya hingga buta dan tidak sadar air matanya menjadi beban untuk Zavia dan Fabian selama bertahun-tahun.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
💙ANGGUN💦
Alhamdulillah klo Giska sadar diri
2025-02-19
0
Tiffany_Afnan
wkwkwkk... tkut kesambar lalu gosong yak..
2024-10-31
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-02
0