Bagaimana Renaga tadi malam sudah menunjukkan apa yang sesungguhnya dia rindukan. Suasana di meja makan keluarga Justin pagi ini sedikit berbeda, tepatnya suram. Gracia yang bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi jelas saja merasa aneh, roti yang ada di mulutnya bahkan benar-benar hambar.
Bahkan setelah Gracia pamit ke kampus, raut wajah Justin maupun Renaga tetap tidak berubah. Hanya Agny yang masih bisa bersikap biasa saja dan menghantar kepergian Gracia hingga ke depan.
"Ehem, Aga boleh Daddy bicara?"
"Silahkan, Dad ... aku dengar," jawab Renaga masih berusaha menelan roti tawar yang dia bantu dengan susu hangat agar bisa lebih mudah masuk ke tenggorokan.
"Tadi malam, seharusnya Daddy saja yang turun tangan mencari Giska ... maaf, Renaga."
Sepanjang malam Justin berpikir keras, racauan Renaga yang terus menyebut nama Zavia benar-benar membuatnya merasa bersalah. Tanpa dia sadari, jika putranya memang sudah dewasa dan bukan lagi Renaga yang bisa dia kendalikan hanya karena lucu melihat interaksi Renaga dan Giska.
"Its okay, Daddy tidak perlu merasa bersalah." Renaga melanjutkan sarapannya, sama sekali dia tidak menduga jika Justin akan mengucapkan hal semacam itu.
"Bagaimana Daddy tidak merasa bersalah, Aga ... melihat kau tadi malam, sepertinya memang Daddy berlebihan."
Renaga mengerutkan dahi, apa semalam dia membuat kesalahan? Renaga terlalu lelah hingga dia tidak bisa mengingat dirinya semalam kenapa. Pria itu berusaha mengingat semampunya, akan tetapi semakin dia ingat semakin bingung saja.
"Semalam? Aku kenapa memangnya?"
Dia tidak mabuk, jadi tidak mungkin melakukan hal di luar kendali. Apalagi, tempat tidur dan kamarnya tetap rapi setelah Renaga membuka mata.
"Hm, kau memanggil Zavia berkali-kali, kenapa memangnya? Apa kalian ada masalah?"
Malu, dia menggigit bibir bawahnya seketika usai mendengar penuturan Justin. Secara jelas menyebut nama Zavia, apa itu mungkin Justin akan marah setelah ini? Tapi, dari caranya menatap, tidak ada kemarahan di sana.
"Tidak, Dad, kami baik-baik saja."
"Kau menyukainya?" tanya Justin sedikit berbisik, khawatir jika Agny muncul dan mendengar ucapannya.
"Ck, apa maksud Daddy?"
Bertahun-tahun Renaga menutup diri, ketika kembali Justin semakin merasa ada yang berbeda. Sejak dahulu dia ketahui, jika Renaga mengutamakan Zavia sewaktu kecil, dia merasa apa yang dia lakukan selama ini bertentangan dari hati Renaga.
"Kau sudah dewasa, menyukai lawan jenis adalah hal yang wajar ... Daddy tidak ingin memaksamu, sejak dulu sudah Daddy katakan kau berhak memilih apapun dalam hidupmu."
"Apapun?" Renaga mengerutkan dahi seraya menatap tajam Justin, apapun yang Justin maksudkan maka artinya tidak hanya melulu tentang pasangan.
"Ya, apapun ... kau tahu, cinta memang serumit itu, tidak dapat dipaksa sekalipun menarik tokoh baru dalam hatimu."
"Ya, seperti Daddy yang tidak bisa mencintai Mommy Vanya."
"Hm, menikahi Mommy-mu dengan harapan bisa melupakan seseorang dalam hati daddy adalah kesalahan besar ... faktanya, jika hatimu benar-benar belum damai, siapapun yang masuk ke dalam hidupmu akan percuma, Ga."
"Kau tidak akan bisa mencintainya sepenuh hati, yah mungkin dulu itu alasan Mommy-mu memilih pergi ... Daddy tidak bisa memberikan cinta yang dia mau," lanjut Justin dengan secebis penyesalan dalam benaknya.
Renaga menghela napas panjang, seorang Justin yang dikhianati saja tidak bisa melupakan cintanya dengan kehadiran orang baru. Lantas, bagaimana dengan dirinya? Tatapan mata Zavia dapat dia terka. Sekalipun wanita itu diam membisu, Renaga bisa merasakan jika hati mereka bertaut.
"Mumpung masih muda, jangan sampai salah ... jangan ikuti jejak Daddy yang memaksakan diri sampai jadi duda dua kali. Selain itu, jangan pernah berpikir untuk mencari wanita seperti cara Daddy mendapatkan Mommy Agny."
"Aku tidak sebe-jat itu, Dad."
Singkat, sederhana dan tampaknya cukup menghujam hati Justin. Beginilah akibatnya jika memiliki sahabat yang tidak bisa menjaga nama baik.
"Hm, jangan jadi be-jat dan jangan jadi pengecut."
"Thanks, Dad."
Tidak lama berselang, pria itu Merogoh sesuatu dari saku celananya. Kartu nama yang Mikhayla berikan beberapa bulan lalu tampaknya akan berguna pagi ini.
"Untuk apa, Dad? Aku tidak ingin ke rumah sakit."
"Hm siapa tahu kau butuh, Daddy tidak bisa mengantarmu ... Zavia di sana."
Dia yang tadinya tidak tertarik, kini berubah pikiran dan menatap kartu nama Mikhayla lekat-lekat. Baru Renaga ingat, jika saat ini Zavia tengah menjalani pendidikan profesi di rumah sakit tempat mamanya bekerja.
"Ah iya, sepertinya aku harus periksa ... tenggorokanku sedikit sakit," ucap Renaga seraya menunduk dan menyimpan kartu nama Mikhayla.
Mudah sekali membaca perubahan putranya, Justin hanya menggeleng kemudian melangkah pergi. Tidak lama berselang, Agny yang kini kembali jelas bingung melihat Renaga yang tiba-tiba beranjak ke kamar padahal susunya belum habis setengah.
"Renaga!!"
"Ya, Mom?" Renaga menghentikan langkahnya sejenak, teriakan Agny sejenak membuatnya terkejut.
"Mau kemana? Sarapanmu belum habis."
"Mandi, kata Daddy aku harus berobat ke rumah sakit."
Belum sempat Agny bertanya lagi, Renaga sudah berlari meniti anak tangga. Sejenak Agny berpikir, ketika dia berjumpa Justin di ruang tamu, sang suami tidak mengatakan hal itu.
"Sakit apanya, Ga? Mommy rasa kamu sudah lebih baik pagi ini."
.
.
- To Be Continue -
Assalamualaikum, selamat pagi semua. Sebelum lanjut ke episode selanjutnya aku ingin menyampaikan hal ini, huft ngetiknya sampai gemeteran. Teruntuk yang nggak punya hati dan tidak bisa menghargai karyaku, silahkan pergi tanpa harus menghancurkan rate. Ini novel baru, tapi karena jemari tidak berhati itu, dalam waktu singkat rate karya menjadi 4,5.
Apa salahku? Karyaku menyinggung? Atau ada yang membenciku kali ini? Aku tidak memaksa kalian mengikuti semua tulisanku, tapi mohon berpikir dulu sebelum melakukan apapun. Entah marah sama salah-satu tokohnya atau kenapa, tapi satu hal yang perlu kamu ingat ... yang menanggung sakitnya rate kalian jatuhkan itu adalah penulisnya, bukan Giska ataupun Zavia.
Aku menulis untuk yang suka, aku juga tidak memaksa semua orang harus suka. Karyaku itu banyak, kalau mau yang ketawa-ketawa ya pilih Zean ataupun Mikhail, aku sebagai penulis mencoba untuk memberikan yang baru dan tidak monoton seperti karya sebelumnya. But, itu sangat salah kah sampai menghancuran rate kisah Renaga?
Cukup luapkan di komentar, jangan membuat performa karya penulisnya jadi jelek sist, kamu tahu nggak kalau udah turun begitu mau ke 5 lagi itu sulit bahkan nggak mungkin. Untuk yang belum rate, mohon bantuin naikin rate Renaga ya. Terkhusus yang ngasih rate rendah, semoga hatinya terbuka dan diberikan hidayah untuk lebih bisa menghargai orang ya. Terima kasih semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Hendri Wahyudi
semangat thor
pokoknya Thor yg terbaik
aku suka karya2 Thor 🥰🥰🥰
2025-01-04
1
mardiana sari
sabar thorr semangat💪
2024-11-03
0
Halimah
sakit tenggorokan mom😂😂😂
2024-09-02
0