Renaga masih sama, meski dia kembali dengan sosok yang semakin dewasa beberapa bagian dari hidupnya belum berubah. Duduk berdampingan begini rasanya lebih aneh lagi, sejak dahulu dia memang tidak terbiasa hanya berdua dengan pria ini.
Keduanya masih betah dalam kebisuan, Renaga meliriknya dengan ekor mata sesekali. Masih seperti ketika dia pamit tujuh tahun lalu, entah apa yang membuat Zavia benar-benar berbeda dan tidak seperti pada Fabian.
Bibir Renaga sudah mengambil ancang-ancang hendak bicara, akan tetapi lidahnya seakan kelu hingga pada akhirnya dia mengurungkan niat. Sengaja mengurangi kecepatan demi bisa lebih lama bersamanya.
"Bisa tolong cepat, Kak? Mama sudah telepon," ucap Zavia memperlihatkan ponselnya pada Renaga.
Sejak tadi dia merasa Renaga aneh dan sengaja mengurangi kecepatan. Akan tetapi, dia bingung hendak memerintahkan Renaga untuk cepat jika tidak ada alasannya. Terpaksa, dia menggunakan cara itu.
Tanpa terduga, Renaga justru menarik ponsel Zavia begitu mudahnya. Jelas saja dia panik, apalagi ketika Renaga justru menerima panggilan dari Mikhayla, sang mama.
"Via kenapa, Sayang? Ini sudah Mama telepon ... kamu sudah di jalan, 'kan?"
Renaga menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis sekali bahkan hampir tidak terlihat. Wanita di sampingnya sedang berusaha mencari cara agar bisa meminta Renaga untuk cepat.
Mudah sekali tertebak, Zavia kecil tidaklah berubah. Sayangnya, yang dia hadapi saat ini adalah Renaga Anderson, seseorang yang sudah mengenalnya sejak usia 2 tahun.
Sebagian hidup Zavia bersama Renaga, bahkan tidur di tempat yang sama jelas saja pernah. Wajar saja jika perubahan Zavia ketika mulai remaja membuat Renaga merasa ada yang hilang.
Bahkan, di saat Tuhan mempertemukan mereka setelah dewasa. Sikap itu tetap Zavia pertahankan, beberapa kali Renaga bertanya, tidak ada jawaban. Justru yang Renaga dengar hanya kemarahan lantaran sikapnya pada Giska.
"Zavia?"
"Ehem ... Hallo, Tante ini Aga. Jangan khawatir, Zavia bersamaku."
"Huft syukurlah, hati-hati ya, Aga."
Renaga mengembalikan ponsel Zavia dengan tatapan tak terbaca. Sedikit kecewa, tapi entahlah dia juga bingung dengan perasaan semacam ini. Satu hal yang bisa disimpulkan, Renaga benci dihindari.
"Kamu masih menghindariku? Tujuh tahun aku pergi ... kamu masih sama, Zavia?"
"Semua masih sama, Kak. Termasuk Giska."
Jawaban Zavia membuat Renaga menelan salivanya pahit. Bukan jawaban semacam itu yang ingin dia dapatkan, pria itu kembali melaju dengan kecepatan sedang, sedikit lebih cepat dari pada sebelumnya.
Selang beberapa lama, Renaga berhenti dan menatap sendu dua istana mewah yang sejak dahulu berdampingan. Bersamaan dengan itu, Zavia melepas seatbelt hingga membuat Renaga tersadar, waktunya malam ini sudah benar-benar habis.
"Makasih, Kak."
Belum mendapat jawaban dari Renaga, Zavia benar-benar turun dan meninggalkannya. Secepat itu dia bergerak, tapi Renaga jelas tidak akan tinggal diam. Pria itu bergegas mengejar meski tahu ini sedikit nekat.
"Zavia tunggu!!"
Hampir saja, Zavia menoleh dan menghentikan langkahnya. Wanita itu was-was dan berharap Rahman akan segera membukakan gerbang utama. Langkah Renaga semakin cepat, hingga kini dia benar-benar dekat dan berdiri tepat di hadapan Zavia.
Tatapan Renaga tidak terbaca, hingga tanpa permisi pria itu menarik Zavia dalam pelukannya. Erat, sangat erat dan dia tengah melepaskan kerinduan.
"Sebentar, Zavia ... tetaplah seperti ini."
Beberapa jam lalu, Renaga sempat memeluknya. Sayang sekali, hanya beberapa detik itupun mendapat penolakan kala Fabian dan Giska muncul di antara mereka.
Dia sedikit egois, tapi setidaknya Renaga ingin mengabulkan keinginan dalam benaknya sekali saja. Dadanya berdegub kencang, sejak dahulu dia ingin memeluknya. Melihat Zavia yang selalu memilih Fabian sewaktu remaja pria itu iri luar biasa.
"Jangan begini, Kak."
"Sebentar, aku mohon."
Keduanya baru tersadar kala pintu gerbang terbuka. Renaga melepaskan pelukannya perlahan, dia menggigit bibir kala melihat mata tajam Keyvan seakan hendak mengulitinya.
"Masuk, Zavia ... Aga pulanglah, sudah malam."
Pria itu memang tidak semenyeramkan wajahnya. Renaga berlalu usai memastikan Zavia benar-benar menghilang dari pandangannya.
.
.
Tiba dikamar, Zavia rapuh. Sejak tadi berusaha melangkah baik-baik saja, kini dia seakan kehabisan tenaga. Susah payah dia berusaha mengubur perasaan itu, sikap Renaga seperti tadi membuatnya semakin tersiksa.
"Zavia ... Kak Aga pulang."
"Zavia ... Ganteng, 'kan!!"
"Zavia ... fotoin kak Aga lagi dong, dia mau kalau kamu yang fotoin."
"Zavia ... lihat, arsitektur ... sudah pantas jadi istri kak Aga?"
"Giska," lirih Zavia di sela tangisnya, dadanya sesak bahkan bibirnya mungkin sakit menahan tangis.
Satu hal yang Zavia benci dalam dirinya, yaitu hati. Sembilan tahun dia memendam itu semua. Tidak hanya memendam, tapi berusaha mengubur perasaannya. Mejauhi Renaga, memberikan ruang untuk Giska, melakukan apa yang Giska mau bahkan ketika dewasa dia mencoba berkenalan dengan pria lain yang mungkin bisa membuatnya lupa.
Sayangnya, cara itu tidak berguna sama sekali dan justru membuat Zavia merasa bersalah. Bukan hanya soal Giska. Sekalipun tidak ada Giska di antara mereka, sedari dulu Zavia sadar tidak mungkin bersama. Namun, entah kenapa perasaan yang dia coba kubur itu nyatanya kian dalam tanpa dia kehendaki.
Kenapa tidak mencoba bersama Fabian? Zavia menyayangi Fabian, bukan sebagai pasangan dan dia tidak ingin menjadikan Fabian alat untuk membuat perasaan itu terhapus begitu saja.
"Hapuskan dia Tuhan, aku mohon."
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
citra marwah
sabar Via...nnti jg aga bakal jdi jdoh mu,,,dan akan selalu jadi yg kamu ingin kan....
2024-11-05
0
mardiana sari
disini yg egois giska.yg terlalu kecentilan pdahal.via dan renaga sama2 suka.tp giskanya aj yg kecentilan sm aga.
2024-11-03
1
Halimah
😭😭😭😭😭
2024-09-01
0