Sementara di sisi lain, jauh dari pandangan Giska dan Fabian, Renaga berlari mencari keberadaan Zavia. Sulit sekali untuk bisa bertemu gadis itu secara langsung, bahkan ketika Renaga datang ke rumahnya, Zavia tetap enggan ditemui.
Senyum di bibir Renaga terbit kala punggung Zavia kian dekat. Sengaja memelankan langkah, hingga kala Zavia menoleh dan sadar Renaga di belakangnya, Zavia sontak berlari seakan sengaja menghindarinya.
"Zav ... Zavia tunggu!!"
Berhasil, tangannya mungilnya Renaga genggam saat ini. Napasnya terengah-engah, bahkan keringat yang sempat Giska keringkan beberapa saat lalu kembali bercucuran kini.
"Kenapa selalu menghindariku? Kamu marah? Atau kita ada masalah, katakan, Via salahku dimana?"
Zavia menggeleng, dia meghindari tatapan Renaga seraya sesekali berusaha melepaskan genggaman tangan Renaga. Semakin berusaha, semakin kuat pula dia mencengkramnya.
"Lepas, Kak!! Sakit!!"
"Tidak akan sebelum kamu jelaskan, apa salahku sampai kamu begini? Jika hanya soal Giska, kami tidak ada hubungan apapun ... dia datang tiba-tiba dan kalau aku tahu niatnya seperti tadi aku pasti melarangnya."
Renaga menjelaskan panjang lebar, padahal sama sekali Zavia tidak meminta penjelasan. Dia juga tidak mengerti, kenapa dia berlalu pergi.
"Jangan pernah permainkan Giska."
"Permainkan apa, Zavia? Aku tidak melakukan apapun padanya."
Karena sikap Giska, semua yang mengenal mereka memang menduga Giska sebagai kekasih Renaga. Padahal, kehadiran wanita itu dalam hidup Renaga tidak lebih dari bencana.
"Menurut Kakak tidak, tapi aku yang melihat bagaimana dia menangis dan tertawa bergantian setiap harinya karena perlakuan Kakak yang gila itu!!"
Tidak pernah bicara setelah cukup lama, tanpa diduga Zavia meledak-ledak hingga Renaga tidak mengenalinya lagi.
"Hargai dia, Kak. Apa tidak kasihan, gunakan hatimu sedikit saja."
"Lalu bagaimana denganku, Zavia? Apa kamu tidak kasihan.
.
.
Renaga hendak pulang lebih dulu usai pertemuannya dengan Zavia. Sialnya, kontak motor ada di tas Giska hingga dia terpaksa menunggu gadis itu muncul. Mata Renaga masih menatap sendu Zavia yang dengan setia menunggu Fabian, andai saja kontak motor itu ada padanya mungkin Renaga sudah membawa Zavia secara paksa.
Selang beberapa lama, Giska dan Fabian muncul bersamaan. Ingin dia bentak, tapi tertahan lantaran mengingat kehadiran Zavia di sini. Ucapan Zavia sejenak membuatnya tersadar jika memang terlalu kejam pada Giska, akan tetapi percayalah memang Giska penyebab Renaga naik darah.
"Wow mukanya, lagi berantem ya?"
"Udah cepetan, kebelet."
Selalu saja ada alasan Zavia menghindar jika sudah bersama Fabian. Dua orang itu sedikit menyebalkan jika sudah bersatu menurut Renaga. Hingga keduanya benar-benar berlalu dan hanya Fabian yang mengucapkan kata pamit.
"Kak Aga marah ya?"
Pertanyaan template yang sudah sangat Renaga hapal. Selalu saja, sudah jelas sekali Renaga marah masih dia tanya. Renaga bingung hatinya terbuat dari apa hingga sama sekali tidak memahami situasi.
"Maaf, Giska kebablasan."
Renaga hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia ingin marah. Akan tetapi, ucapan Zavia benar-benar dia pikirkan. Renaga mengulurkan telapak tangannya, meminta kontak motornya segera.
Akan tetapi, yang terjadi justru berbeda dan Giska justru memberikan telapak tangannya. Lihat, bagaimana seorang Renaga tidak akan marah.
"Kontak motorku."
"Oho kirain mau pegangan."
Renaga menghela napas panjang, bayangkan jika seumur hidup dia akan bersama gadis ini. Bisa dipastikan Renaga terkena serangan jantung secepat mungkin.
Renaga melaju dengan kecepatan sedang, karena jika begini maka Giska tidak akan memeluknya. Tidak lama berselang, Giska menepuk pundak Renaga sebagai isyarat dia ingin berhenti.
"Apa?"
"Makan, ada bakso di sana enak."
Meski menyebalkan, pada akhirnya dia ikuti juga. Renaga menepi dan dia menemukan pemandangan yang sangat mengganggu matanya. Motor Fabian ada di sana, Giska sudah terlanjur turun dan tidak mungkin Renaga tinggalkan.
"Ck, kenapa juga mereka harus di sini?"
Renaga bukan tidak suka dengan kehadiran Zavia. Akan tetapi, yang membuatnya tidak suka adalah Fabian yang persis perangko bersama Zavia. Teriakan Giska membuatnya mendengkus kesal dan kini melangkah masuk.
Kedatangannya disambut baik oleh mulut Fabian yang memintanya untuk duduk di satu meja. Wajah datar Zavia dapat Renaga saksikan, tapi itu bukan masalah selagi bisa berdekatan.
Sempat kesal sebelumnya, tapi kini semua terganti dengan dia yang mampu melihat wajah cantik Zavia lebih dekat. Selama menikmati makan siangnya, Renaga tidak fokus ke makanan.
Hal semacam ini terulang lagi, makan di meja yang sama dengan gelak tawa yang diciptakan Fabian sebagai penghidup suasana. Mereka membahas banyak hal, hingga semua terdiam ketika Renaga mengatakan dia akan ke luar negeri dalam waktu dekat.
"Kenapa mendadak?"
"Tidak, Daddy yang merencanakannya sejak lama ... mau bagaimana lagi."
Semua terdiam mendengar ucapan Renaga, termasuk Zavia yang tiba-tiba merasa bersalah padanya. Giska yang hampir setiap hari bersamanya jelas saja bingung kenapa sama sekali tidak tahu masalah ini.
Renaga tidak ingin terlalu lama, dia tersiksa. Permintaan pindah itu dia utarakan pertemuan mereka malam itu. Hatinya akan selalu sakit jika menatap Zavia lebih lama yang selamanya tidak akan pernah berhasil dia gapai.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Evi Aseh
temboknya tinggi banget ya ga, ....
2024-12-31
0
Ida Faridah
itu karena aga dan via tak sama
2024-08-20
1
Nanik Kusno
Ceritanya ini cinta segi empat tidak beraturan.....g tentu arahnya....
2024-06-17
2