Semua sudah berlalu, tujuh tahun lalu cukup menjadi cerita yang tidak seharusnya Renaga ulang. Kini, dia kembali menginjakkan kaki di kediaman orang tuanya.
Ruang tamu yang disulap sedemikian rupa, kini tampak indah layaknya pesta di hotel bintang lima. Beberapa tamu mulai berdatangan, tak sedetikpun Renaga berhenti memantau dari lantai dua.
Sengaja tidak memberitahukan kapan dia tiba, Justin dan Agny saja terkejut dia mengetuk pintu tadi siang. Malam ini dia memilih menepi, sejak dahulu Renaga tidak begitu suka keramaian.
"Kau tidak turun? Mereka menunggumu, Ga."
Suara Justin sejenak membuyarkan lamunan Renaga. Pria itu menghela napas panjang sebelum kemudian menggeleng pelan. Matanya menatap jauh tiga orang yang tampak bercengkrama di sana.
Mereka begitu dekat, Renaga iri melihatnya. Apalagi, kala dia menyadari Fabian mengusap pelan rambut Zavia, entah apa yang dia singkirkan yang jelas Renaga sedikit tidak terima.
"Tidak, Dad ... nanti saja."
Sementara di sisi lain, jauh dari ekspetasi Renaga. Zavia yang dia kira tengah tersenyum dan bercanda nyatanya tengah berdebat dan hampir saja menarik rambut Fabian hingga ke akarnya.
"Zavia udah, rame ... tahan emosinya."
"Dia cabut rambut aku!! Kamu pikir enak? Sakit, Giska."
"Ya maaf, Via ... aku pikir uban," jawab Fabian menunjukkan rambut Zavia yang berhasil dia cabut, nyatanya masih berwarna hitam.
Zavia membuang napas kasar, sudah dia katakan tidak bersedia datang malam ini. Fabian yang memaksa dengan mengatasnamakan Gracia membuatnya mengalah.
"Via kenapa sih? Badmood ya?" tanya Giska bingung kenapa sahabatnya ini mendadak muram, padahal di ulang tahun Gracia sebelumnya Zavia tidak begini.
"Senyum coba, kak Renaga di sini loh ... tapi mana ya? Dari tadi aku aku belum lihat dia."
Giska mengedarkan pandangannya, sejak kemarin dia tidak sabar menanti kepulangan Renaga. Dia bahkan sudah bersiap-siap jika sewaktu-waktu Gracia mengajaknya ke bandara untuk menjemput Renaga.
Namun, hingga saat ini pria itu belum memperlihatkan batang hidungnya. Kemanakah gerangan pangeran Giska? Sungguh, dia tidak sabar ingin menyapa Renaga nantinya.
"Mungkin males ketemu kamu, Gis."
"Ih Bian jaga mulutnya ya."
Fabian terkekeh melihat reaksi Giska. Padahal, hal itu mungkin saja terjadi lantaran Fabian adalah salah satu saksi betapa sakitnya kepala Renaga jika sedang bersama Giska.
"Semangat, kejar pangerannya ... Giska fighting!!"
Zavia tersenyum tipis menatap manik Giska yang penuh harap kala Fabian memberikan semangat untuknya. Sama sekali tidak Zavia duga, jika perasaan Giska kecil justru bertahan hingga dia dewasa.
Merasa dirinya semakin tidak nyaman di tengah keramaian, Zavia berlalu pergi setelah sempat pamit pada Fabian untuk buang air kecil. Padahal, kenyataannya tidak begitu, Zavia ingin lebih tenang untuk sesaat, itu saja.
Bermaksud ke kamar kecil, Zavia justru menetap di taman belakang. Dia merindukan suasana ini, dimana sebagian masa kecilnya dia habiskan di tempat ini.
Zavia tersenyum getir, tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dia membuang napas kasar dan berkacak pinggang, bisa-bisanya setelah sekian lama meninggalkan mereka pria itu sama sekali tidak berniat menyapa.
Kenapa? Apa mungkin karena dia sudah menemukan dunianya hingga semudah itu lupa? Cih, sungguh Zavia tidak habis pikir dengan pria menyebalkan itu.
Padahal, dulu dia berjanji tidak akan lama. Nyatanya justru hampir sewindu, dia ingin memakinya, Menarik rambutnya dan mendorong Renaga ke dalam kolam lantaran kerap kali menjadi penyebab Giska mabuk dan Zavia yang terkena batunya.
"Giska bohong, dia tidak pulang ternyata."
Zavia menghela napas panjang, matanya menengadah ke langit seperti hal yang biasa dia lakukan selama ini. Hingga, seketika pandangannya menjadi gelap. Bukanya panik, wanita itu tampak tenang dan berpikir akan berhenti dengan sendirinya.
Sudah biasa, hal semacam ini adalah kebiasaan basi Fabian yang bercanda tidak kenal tempat. Dia masih bungkam, karena biasanya Fabian akan menyerah. Namun, untuk kali ini berbeda dan telapak tangan itu tetap bertahan menutup mata Zavia untuk waktu lama.
"Bian ... jangan buat aku marah!!"
"Fabi_"
Zavia berbalik, kala pandangannya kini terbuka. Matanya membulat sempurna, jantung Zavia berdetak lebih kencang. Dadanya mendadak panas kala menyadari yang didepannya bukan tawa renyah Fabian, melainkan senyum tipis Renaga.
"Apa kabar? Kenapa sendirian? Sengaja mencariku, Zavia?"
"Kak Aga?"
"Iya, kamu tidak ingin memelukku?" tanya Renaga merentangkan tangannya, sejak tadi dia pandangi wanita ini. Sampai pada akhirnya dia tidak mampu menahan diri untuk tidak menghampirinya.
Pertahanan Renaga kalah, apa yang dia bangun memang sudah hancur sedari awal. Sadar jika Zavia tidak akan meghambur ke pelukannya, Renaga yang bergerak lebih dulu dan merengkuh tubuh Zavia dengan sejuta kerinduan yang membelenggunya.
Belum usai Renaga memeluknya, Zavia mendorong tubuh Renaga menjauh. Tidak berselang lama, Giska yang memekik memanggil namanya menghambur ke pelukan Renaga. Renaga yang tidak siap dengan kedatangan Giska membuat keduanya tercebur ke kolam renang.
Zavia hanya berniat, kenapa justru jadi kenyataan. Fabian yang melihat kejadian itu hanya menggeleng pelan seraya mendekat ke arah Zavia.
"Kita masuk saja, biarkan mereka basah-basahan berdua ... tidak baik ikut campur urusan rumah tangga orang, Zavia." Tanpa pikir panjang, Zavia menurut begitu saja. Ini adalah kali pertama dia menerima ajakan Fabian tanpa harus marah-marah lebih dulu.
"Yah basah deh."
"Ya basah tentu saja!! Ays Giska, Hp-ku ya Tuhan."
Baru juga beberapa detik dia bertemu gadis ini. Renaga sudah sial begini, memang salah Renaga tidak mengunci pintu itu lebih dulu.
"Kakak marah ya?"
"Tidak, Giska ... tidak sama sekali," jawab Renaga menekan setiap kata-katanya seraya menghela napas panjang.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Leni
kurng memahami
giska kok nyebelin y
2024-12-04
0
Anggia a
kak aku mau nanya. setau aku pas zavia lahir Justin temen nya zayyan dia belom nikah trus si tenaga anak Justin kapan lahir nya
2024-08-07
0
Nanik Kusno
Masih berliku-liku dan naik turun...
2024-06-17
1