Formasi mereka kini kembali lengkap. Tujuh tahun berpisah, banyak yang berubah. Renaga yang menutup diri kehilangan banyak momen dan beberapa hal terlewatkan tanpa sepengetahuannya.
Tidak hanya Zavia yang tumbuh sebagai wanita cerdas dan mengikuti jejak sang mama, melainkan Giska juga. Giska yang awalnya bergantung pada Renaga dalam matematika, kini berhasil menyandang gelar S.Ars (Sarjana Arsitektur).
Terdengar mustahil, tapi perginya Renaga mengajarkan Giska untuk mandiri dalam segala hal. Nekat masuk Fakultas Teknik dengan kelemahannya di matematika. Jangan tanya bagaimana perjuangan Giska dalam menguasai aljabar, geometri dan trigonometri seperti apa.
Sama sekali Giska tidak menyia-nyiakan waktunya walau sehari saja. Semenjak Renaga pergi, kamarnya disulap menjadi perpustakaan. Sesekali mereka bermain bertiga, dengan mobil Fabian lantaran tidak memungkinkan lagi membawa motor jika sahabatnya ada dua.
Ketiganya berusaha baik-baik saja, meski kepergian Renaga sama sekali tidak mereka restui sesungguhnya. Awalnya memang sakit, kehilangan sosok kakak terutama.
Namun, keadaan mendewasakan mereka dan waktu yang bergulir membuat mereka terbiasa. Tertutupnya Renaga tidak membuat mereka membenci pria itu, sama-sama menanti walau memang tidak dijadikan bahan tangis di saat sedang bersama.
"Tujuh tahun, lama ya ternyata ... Kak Aga betah sekali, sayangnya Papa tidak mengizinkanku ke luar negeri," keluh Fabian merenungi nasibnya yang hingga saat ini masih diperlakukan layaknya anak kecil.
"Sendiri, apa enaknya."
Tanpa sengaja, Renaga mengungkapkan kalimat itu. Giska dan Zavia menatap Renaga secara bersamaan. Dia mengatakan begitu, tapi buktinya selama tujuh tahun, Renaga sama sekali tidak pulang.
"Tapi buktinya Kakak tidak pernah pulang."
Renaga adalah pembohong paling besar, dia yang meminta pada Justin agar pindah dengan alasan tidak nyaman di sekolahnya. Padahal, Renaga kala itu tengah lari dari kenyataan dan berpikir jika cara itu adalah jalan paling baik.
Yah, dia belum dewasa kala itu. Meski hubungan mereka terlihat hangat layaknya persahabatan biasa, tapi nurani Renaga sebagai laki-laki tidak bisa berbohong dengan perasaannya.
"Saat ini, Kakak kembali untuk apa?"
"Papa memintaku untuk terjun ke perusahaan ... aku harus cari uang untuk Cia dan Mommy seperti janjiku waktu kecil," jawabnya dengan sedikit bergetar.
"Ah iya, aku lupa ... Kak Aga pengusaha, lalu apakah cita-cita Giska akan segera tercapai?"
Fabian mengulik kenangan itu, cita-cita Giska. Mendengar ucapan Fabian, Giska tersenyum simpul dan mencubit pelan lengan sahabatnya hingga Fabian mengaduh sakit.
"Aawwh sakit!!"
Masih saja Fabian ingat kalimat itu, Renaga hanya terdiam seraya menatap nanar. Siapa yang menduga sebuah cita-cita asal bunyi dari Giska ternyata melekat dalam benak mereka hingga dewasa.
Kedatangan Justin yang menyapa mereka sejenak menghentikan pembicaraan. Hari sudah cukup larut, sementara dua gadis itu sudah harus pulang. Keyvan dan Keny mulai meneror Justin lantaran putri mereka tidak pulang juga.
Mereka memang tidak pulang bersama, ketiga sahabat Justin pulang lebih dulu dan memberikan waktu untuk mereka berempat menuntaskan rindu.
Renaga yang melihat pergerakan mereka seakan paham tugasnya setelah ini. Yah, mengantar Giska pulang ke rumah. Sejak awal dia sadari Fabian dan Zavia sudah bersama maka artinya yang sendiri saat ini adalah Giska.
Namun, yang terjadi justru berbeda. Ketiganya minta antar lantaran mereka sama-sama ikut orangtua ketika mendatangi pesta ulang tahun Gracia. Sempat khawatir akan ada kecemburuan jika dia mengantar Giska, kini Renaga merasa pilihan ini lebih adil.
Mencoba untuk kembali hangat seperti dahulu. Jangan tanya bagaimana kerinduan di hati Renaga, jelas saja sedalam itu. Mereka menelusuri jalanan kota malam ini, dengan alunan musik dan suara serak Fabian sebagai pemimpin.
Zavia yang duduk di samping Fabian tidak mau kalah dan mengeluarkan suara emasnya. Ini adalah hal yang sangat mereka rindukan, kebersamaan semacam ini benar-benar hilang selama tujuh tahun.
Renaga mengantar sesuai dengan urutan terdekat, Giska yang hanya merasakan beberapa menit kebersamaan jelas saja bersedih ketika harus turun.
"See you, Giska ... moga mimpi indah."
Sengaja Fabian membuka kaca jendela demi bisa membuat sahabatnya itu iri. Ingin menolak, tapi memang benar kenyataan dia sungguh iri. Seharusnya pindah rumah saja, pikir Giska.
Renaga menunggunya sampai benar-benar masuk, setelah itu barulah dia melaju untuk mengantar Fabian. Menyadari hal ini, Zavia mendadak panas dingin dan gemetar kala memasuki perumahan keluarga Alexander.
Sebentar lagi, dia hanya akan berdua bersama Renaga. Entah kenapa rasanya aneh sekali, Zavia tidak sanggup dan dia berpikir lebih baik ikut turun bersama Fabian saja. Akan tetapi, kehadiran Zayyan yang berkacak pinggang di depan gerbang utama membuat Zavia mengurungkan niatnya.
Tatapan mata Zavia masih tertuju pada Fabian yang kini dijewer sang papa. Sejenak senyumnya terbit dan merasa pemandangan di depan sana teramat lucu. Namun, setelah Zayyan dan Fabian masuk, Renaga belum juga melajukan mobilnya.
"Kamu pikir aku taksi, Zavia?"
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
masih berusaha mencerna. mereka semua anak anaknya siapa
2024-08-22
0
Ida Faridah
nyimak Thor 🤭
2024-08-21
0
Nanik Kusno
Uuuuhhhhh akhirnya berdua juga......
2024-06-17
1