Tidak ada yang lebih sakit, selain jatuh cinta sendirian bagi Giska. Dia menjalaninya sangat lama, berawal dari candaan hingga lama kelamaan perasaan itu kian dalam saja. Giska menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya perlahan.
Dingin menusuk kulit, persendiannya terasa ngilu. Akan tetapi, tempat ini adalah pelarian paling menenangkan untuk dirinya. Riuh kendaraan yang mulai redup, pantulan cahaya dari aliran sungai di bawah sana lebih damai dari hidupnya.
Sempat terbesit di pikirannya untuk terjun dalam hitungan ketiga. Namun, sejak sepuluh menit yang lalu hitungannya hanya sampai dua dan itu dia ulang berkali-kali.
Terlalu banyak yang Giska pikirkan, orangtua, sahabat dan juga cintanya. Yah, itupun hanya kemungkinan kecil. Jika saja dia melakukan hal sebodoh itu, maka bukan hanya persahabatan mereka yang mungkin hancur, melainkan persahabatan orangtua mereka.
Sejak dahulu mereka ketahui, betapa Giska menginginkan Renaga. Jika sampai dia bunuh diri di saat Renaga kembali, maka itu sama artinya dengan dia membunuh banyak hati tanpa sengaja.
Hubungan Keny dan Justin tentu akan hancur, saling menyalahkan dan bukan tidak mungkin Renaga yang akan dihajar sang papa. Yah, Meski Giska sedikit berisik, bukan berarti otaknya tidak dapat berpikir panjang.
Di saat dirinya tengah memantapkan niat, seseorang memeluknya begitu erat hingga Giska merasakan sesak. Secepat itu niatnya untuk mati menghilang, apalagi kala dia merasakan tubuhnya sudah ambruk begitu saja di atas tubuh seseorang yang menariknya mundur.
"Aaawwh."
Mata Giska membola kala menyadari seseorang yang sekarang ada di bawahnya adalah seoprang pria. Tunggu? Apa mungkin Renaga? Tapi kenapa dia sampai memeluknya dengan cara ini.
"Tolong berdiri, tubuhmu berat."
Mendengar suaranya asing sekali, Giska yakin dugaan awalnya salah. Sontak Giska menjauh dan duduk di sisi pria itu. Sedikit kecewa, karena dia berharap yang memeluknya adalah Renaga.
"Woah, kaum hawa di negeri tampaknya sudah hilang akal semua ... tidak ada cara lain selain bunuh diri? Hei, bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, paham?"
Lihatlah pria ini, sama sekali tidak tahu duduk perkaranya. Dia mengira jika Giska salah langkah, yah memang sempat terpikir dia akan mengambil jalan itu. Akan tetapi, Giska tidak senekat itu.
"Kau tahu berapa banyak di luar sana yang ingin hidup? Lihat ke bawah, bersyukur jadi manusia ... kau tahu di bawah kolong jembatan ini bahkan ada yang bertahan hidup, dan kau!! Coba buka matamu!!"
Mata Giska mengembun, ini adalah pertemuan pertama yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Entah dari mana pria ini datang, dia marah dan membentak Giska seakan telah melakukan kesalahan besar.
"Nangis? Jangan bodoh, jika memang benar-benar ingin mati di rumah saja, jangan di sungai ... karena pasti merepotkan tim evakuasi untuk mencari jasadmu."
Giska yang belum bisa berpikir jernih, kembali dibuat tidak bisa berkata-kata setelah mendengarnya. Melihat pria itu berdiri, dan mengusap sikunya yang sedikit berdarah, Giska melakukan hal yang sama.
"Pulanglah, masih punya orangtua, 'kan?"
Tanpa Giska sadari, dia mengangguk pelan. Seakan patuh meski tidak dipinta, tapi dia lupa jika sebelumnya pergi jalan kaki. Dia membuang kesedihan dengan cara lama, Giska yang menyedihkan akan pulang dengan cara yang sama.
"Woey pulang!!"
"Ck, kenapa kau selalu berteriak kepadaku? Heh dengar ya, kau salah paham dan aku belum mau mati!!"
Sejak tadi terlihat diam, dan kesabaran Giska habis ketika pria itu kembali meneriakinya. Entah apa salah Giska, mungkin belum sempat minta maaf, pikirnya.
"Pulang, kenapa ke arah sana."
"Hah?"
Benar, Giska salah arah. Tapi dari mana pria itu tahu dia salah arah. Di saat dia yang terlihat bingung, mobil putih yang melaju cepat dari arah berlawanan tampak mendekat.
"Kak?"
Senyumnya kembali terbit, tidak dapat dipungkiri Renaga benar-benar obatnya. Giska yang terlihat menyedihkan membuat Renaga menghela napas perlahan, tempat favorit Giska masih sama.
"Ya Tuhan, Giska."
Bibirnya bergumam, sementara matanya menatap tajam pria yang berdiri tidak jauh darinya. Mata Giska yang memerah membuat Renaga berpikir macam-macam, terlebih lagi ketika dia melihat rambut Giska sedikit berantakan.
"Siapa?"
"Tidak kenal," jawab Giska apa adanya, sejak dahulu dia memang sejujur itu jika Renaga bertanya.
Renaga yang tidak percaya segera menghampiri pria itu dan menatapnya seakan musuh bebuyutan. Melihat Renaga seperti itu, Giska segera menahannya karena paham betul emosi Renaga biasanya tidak bisa terkontrol dengan baik.
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Kau pacarnya? Jaga baik-baik, dia hampir loncat beberapa menit lalu."
Tanpa menunggu jawaban Renaga, pria itu berlalu meninggalkan mereka. Giska belum mengucapkan terima kasih, tapi buat apa juga, pikir Giska.
Selepas pria itu pergi, hanya mereka berdua yang berada di sana. Giska seakan deja vu, mereka yang berdiri berhadap-hadapan dengan Renaga yang terlihat marah padanya.
"Benar kata orang itu tadi?"
"Tidak, Kak ... aku tidak sebodoh itu," jawab Giska pelan, Renaga menatap gurat kesedihan begitu dalam di matanya.
"Hm, tujuh tahun aku tinggalkan, seorang Giska pasti sudah lebih dewasa dan paham keadaan ... Ayo pulang, semua orang khawatir ... terutama Papamu."
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Ida Faridah
kayaknya jodoh Giska ya Thor 🤔
2024-08-21
1
Nanik Kusno
Jodoh mu Giska ...jgn mengharap pada org yg tdk menginginkanmu
2024-06-17
3
LiMa
waaah...ada penggemar diam-diam Giska nih
2023-06-11
3