Munculnya Gavi dengan kalimat-kalimat menyebalkan di hadapan Zavia, hanya membuat jiwa Renaga kian sakit. Dia gila? Anggap saja begitu, hidup harus memenuhi harapan banyak orang bukanlah hal yang mudah.
Sejak kecil dia sudah harus menerima hadirnya Giska setiap hari. Tidak punya hak untuk menolak, bahkan untuk memiliki teman yang lain juga seakan terbatas. Yah, masa remaja yang memang tidak menyenangkan bagi Renaga.
Hingga, ketika dewasa dia dihadapkan dengan hal yang sama. Kembali dan harus memenuhi harapan banyak hati, Giska membuatnya benar-benar sulit. Ditambah Zavia yang memang rumit, dua wanita itu benar-benar menjadi alasan kepala Renaga semakin sakit.
Renaga melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba di kediaman Keny pria itu tidak disambut Sonya yang menyebut Renaga sebagai menantu masa depan sejak kecil. Hanya ada seorang asisten rumah tangga yang mempersilahkan Renaga masuk segera.
"Giska ada?"
"Ada, Den ... di kam_"
"Terima kasih."
Tanpa meminta dipanggilkan, Renaga menerobos masuk dan melangkah menuju kamar Giska. Bukan hal asing sebenarnya, beberapa kali Renaga kerap mengunjungi kamar putri Keny beberapa tahun lalu.
Renaga mendadak kurang ajar dan mengabaikan etika pagi ini, tanpa mengetuk lebih dulu Renaga mendorong pintu kamarnya. Namun, yang dia temui hanya sebuah tempat tidur yang belum sempat dirapikan pagi ini.
"Jam segini dia baru mandi?"
Jiwanya yang sejak tadi meledak-ledak, bahkan keinginan untuk bersikap kasar sudah semantap itu sejenak terhenti kala mendengar gemericik air dari sudut kamarnya. Wanita itu sedang mandi, itu artinya Renaga harus menunggu lebih dulu sembari menenangkan dirinya.
Pria itu menatap sekeliling kamar Giska, rapi dan sangat jauh berbeda dari yang dahulu pernah dia lihat. Berbeda jauh dari kamarnya yang bahkan tidak memiliki kenangan yang bisa dia lihat, kamar Giska justru lebih mirip museum.
Tanpa perlu dia mendekat, semua kenangan tertata di dinding kamarnya dapat Renaga lihat. Sudah menjadi kebiasaan, dan Renaga tidak lupa akan hal itu. Tapi, ada satu foto yang membuat hatinya tercubit seketika.
"Dia mengganti wajahku?"
Melihat wajahnya Giska tutupi dengan stiker hewan liar, Renaga bahkan lupa dengan tujuan awal dia datang. Hingga ketika Giska keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, pria itu justru mempertanyakan hal lain.
"Heh!! Kamu tidak lihat aku di sini?"
Renaga menatap sebal Giska yang seakan sengaja mengabaikannya dan memilih pakaian di lemari. Susah payah dia memantapkan hati tadi malam, pria itu justru datang keesokan harinya.
"Giska!!"
"Bicaralah, aku dengar," ucap Giska masih terus memilih pakaian untuk hari ini, tanpa melihat ke arah tamu tak diundang yang tiba-tiba masuk kamarnya.
"Lihat ke sini, telingamu transparan ... masuk kuping kanan, keluar kuping kiri," ucap Renaga masih meminta Giska baik-baik padanya.
"Jangan, Kak. Mata itu membuatku tidak tahu diri, katakan saja dan aku tetap akan dengar."
Kelemahan Giska adalah mata indah Renaga, setajam apapun dia menatap Giska, tetap saja hati Giska tidak karuan dibuatnya. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, jelas bahagia. Pria yang sejak dahulu dia impikan menginjakkan kaki di kamarnya setelah sekian lama.
"Wajahku kenap_"
"Bukan itu yang ingin Kakak bicarakan," ujar Giska memotong pembicaraaan Renaga.
"Hm, dengarkan baik-baik ... Giska Anamary, tolong berhenti membuatku di posisi sulit. Semua orang hanya peduli tentang perasaanmu, tapi tidak denganku."
"Kamu menyiksaku, Giska ... bahkan Fabian sampai memintaku untuk pergi lagi, sebesar itu kesalahanku karena membuatmu merana. Sejak dahulu aku katakan, aku tidak mungkin bisa menyukaimu ... kamu cantik, baik dan sempurna, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, Giska. Seseorang yang benar-benar menerima dan menyayangimu tanpa paksaan."
Jauh dari dugaan, Renaga sama sekali tidak bersikap kasar sebagaimana yang Zavia pikirkan.
"Iya ... ini juga lagi usaha, jadi jangan menganggapku sebagai penghambat."
Giska menghela napas panjang, kalimat itu berhasil dia ungkapkan. Sakitnya cinta tak terbalas bukan main, tapi seperti yang Fabian katakan, memaksa Renaga hanya akan menyiksanya.
"Jawabanmu seperti orang putus asa."
"Anggap saja begitu, aku memang putus asa."
"Aku ingin kamu bahagia, dan bahagiamu bukan bersamaku ... aku tidak sebaik yang kamu kira, jangan buang air mata hanya untuk orang yang tidak bisa mencintaimu, Giska."
"Iya, paham ... sejak kemarin aku sudah menyerah, kita sama saja ... sama-sama mencintai seseorang yang mustahil dimiliki. Tapi Kakak tenang saja, aku bisa mengubur perasaan itu baik-baik ... aku sudah download Dating App," jawab Giska membuat Renaga memejamkan mata seraya mengurut dada.
"Bukan dengan cara itu."
"Bercanda, aku tidak punya waktu untuk melakukan kencan."
"Sesekali serius, Giska."
"Aku juga serius, keluarlah ... rambutku bahkan sudah kering, jangan di sini terus. Sampai Mama tahu bahaya, Kakak nanti dipaksa menikahiku," usir Giska kemudian yang baru kali ini memberanikan diri menatap mata lawan bicaranya.
.
.
Mendengar ucapan Giska, pria itu tersadar dan segera keluar. Tidak lucu jika candaan semacam itu jadi kenyataan, ketika di depan pintu dia dibuat terkejut dengan tiga orang yang sedang berusaha menguping pembicaraan mereka.
"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Renaga menatap tajam ketiga orang yang pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya.
Fabian terbatuk kecil, terlalu teliti dia menguping hingga tidak menyadari pembicaraan mereka sudah selesai. Belum habis kekesalan Renaga, dia kembali dibuat naik darah kala melihat seorang dokter yang menjadi pemicu amarahnya beberapa saat lalu berdiri di sisi Zavia.
"Kau sendiri mau apa ikut ke sini?"
"Entahlah, penasaran saja," jawab Gavi dengan santainya, dia juga bingung kenapa justru mengikuti taksi yang Zavia tumpangi tadinya.
Dia ingin meluapkan amarahnya, tapi sudah terlalu lelah hingga memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Fabian dan Zavia melangkah masuk ke kamar Giska, sama sekali tidak ada yang mengejar atau menahan kepergiannya, sungguh menyebalkan.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
💙ANGGUN💦
kasihan Aga😌
2025-02-19
0
Erna Wati
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
2024-12-26
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-02
0