BAB 17 - Sama Saja

Munculnya Gavi dengan kalimat-kalimat menyebalkan di hadapan Zavia, hanya membuat jiwa Renaga kian sakit. Dia gila? Anggap saja begitu, hidup harus memenuhi harapan banyak orang bukanlah hal yang mudah.

Sejak kecil dia sudah harus menerima hadirnya Giska setiap hari. Tidak punya hak untuk menolak, bahkan untuk memiliki teman yang lain juga seakan terbatas. Yah, masa remaja yang memang tidak menyenangkan bagi Renaga.

Hingga, ketika dewasa dia dihadapkan dengan hal yang sama. Kembali dan harus memenuhi harapan banyak hati, Giska membuatnya benar-benar sulit. Ditambah Zavia yang memang rumit, dua wanita itu benar-benar menjadi alasan kepala Renaga semakin sakit.

Renaga melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba di kediaman Keny pria itu tidak disambut Sonya yang menyebut Renaga sebagai menantu masa depan sejak kecil. Hanya ada seorang asisten rumah tangga yang mempersilahkan Renaga masuk segera.

"Giska ada?"

"Ada, Den ... di kam_"

"Terima kasih."

Tanpa meminta dipanggilkan, Renaga menerobos masuk dan melangkah menuju kamar Giska. Bukan hal asing sebenarnya, beberapa kali Renaga kerap mengunjungi kamar putri Keny beberapa tahun lalu.

Renaga mendadak kurang ajar dan mengabaikan etika pagi ini, tanpa mengetuk lebih dulu Renaga mendorong pintu kamarnya. Namun, yang dia temui hanya sebuah tempat tidur yang belum sempat dirapikan pagi ini.

"Jam segini dia baru mandi?"

Jiwanya yang sejak tadi meledak-ledak, bahkan keinginan untuk bersikap kasar sudah semantap itu sejenak terhenti kala mendengar gemericik air dari sudut kamarnya. Wanita itu sedang mandi, itu artinya Renaga harus menunggu lebih dulu sembari menenangkan dirinya.

Pria itu menatap sekeliling kamar Giska, rapi dan sangat jauh berbeda dari yang dahulu pernah dia lihat. Berbeda jauh dari kamarnya yang bahkan tidak memiliki kenangan yang bisa dia lihat, kamar Giska justru lebih mirip museum.

Tanpa perlu dia mendekat, semua kenangan tertata di dinding kamarnya dapat Renaga lihat. Sudah menjadi kebiasaan, dan Renaga tidak lupa akan hal itu. Tapi, ada satu foto yang membuat hatinya tercubit seketika.

"Dia mengganti wajahku?"

Melihat wajahnya Giska tutupi dengan stiker hewan liar, Renaga bahkan lupa dengan tujuan awal dia datang. Hingga ketika Giska keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya, pria itu justru mempertanyakan hal lain.

"Heh!! Kamu tidak lihat aku di sini?"

Renaga menatap sebal Giska yang seakan sengaja mengabaikannya dan memilih pakaian di lemari. Susah payah dia memantapkan hati tadi malam, pria itu justru datang keesokan harinya.

"Giska!!"

"Bicaralah, aku dengar," ucap Giska masih terus memilih pakaian untuk hari ini, tanpa melihat ke arah tamu tak diundang yang tiba-tiba masuk kamarnya.

"Lihat ke sini, telingamu transparan ... masuk kuping kanan, keluar kuping kiri," ucap Renaga masih meminta Giska baik-baik padanya.

"Jangan, Kak. Mata itu membuatku tidak tahu diri, katakan saja dan aku tetap akan dengar."

Kelemahan Giska adalah mata indah Renaga, setajam apapun dia menatap Giska, tetap saja hati Giska tidak karuan dibuatnya. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, jelas bahagia. Pria yang sejak dahulu dia impikan menginjakkan kaki di kamarnya setelah sekian lama.

"Wajahku kenap_"

"Bukan itu yang ingin Kakak bicarakan," ujar Giska memotong pembicaraaan Renaga.

"Hm, dengarkan baik-baik ... Giska Anamary, tolong berhenti membuatku di posisi sulit. Semua orang hanya peduli tentang perasaanmu, tapi tidak denganku."

"Kamu menyiksaku, Giska ... bahkan Fabian sampai memintaku untuk pergi lagi, sebesar itu kesalahanku karena membuatmu merana. Sejak dahulu aku katakan, aku tidak mungkin bisa menyukaimu ... kamu cantik, baik dan sempurna, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, Giska. Seseorang yang benar-benar menerima dan menyayangimu tanpa paksaan."

Jauh dari dugaan, Renaga sama sekali tidak bersikap kasar sebagaimana yang Zavia pikirkan.

"Iya ... ini juga lagi usaha, jadi jangan menganggapku sebagai penghambat."

Giska menghela napas panjang, kalimat itu berhasil dia ungkapkan. Sakitnya cinta tak terbalas bukan main, tapi seperti yang Fabian katakan, memaksa Renaga hanya akan menyiksanya.

"Jawabanmu seperti orang putus asa."

"Anggap saja begitu, aku memang putus asa."

"Aku ingin kamu bahagia, dan bahagiamu bukan bersamaku ... aku tidak sebaik yang kamu kira, jangan buang air mata hanya untuk orang yang tidak bisa mencintaimu, Giska."

"Iya, paham ... sejak kemarin aku sudah menyerah, kita sama saja ... sama-sama mencintai seseorang yang mustahil dimiliki. Tapi Kakak tenang saja, aku bisa mengubur perasaan itu baik-baik ... aku sudah download Dating App," jawab Giska membuat Renaga memejamkan mata seraya mengurut dada.

"Bukan dengan cara itu."

"Bercanda, aku tidak punya waktu untuk melakukan kencan."

"Sesekali serius, Giska."

"Aku juga serius, keluarlah ... rambutku bahkan sudah kering, jangan di sini terus. Sampai Mama tahu bahaya, Kakak nanti dipaksa menikahiku," usir Giska kemudian yang baru kali ini memberanikan diri menatap mata lawan bicaranya.

.

.

Mendengar ucapan Giska, pria itu tersadar dan segera keluar. Tidak lucu jika candaan semacam itu jadi kenyataan, ketika di depan pintu dia dibuat terkejut dengan tiga orang yang sedang berusaha menguping pembicaraan mereka.

"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Renaga menatap tajam ketiga orang yang pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya.

Fabian terbatuk kecil, terlalu teliti dia menguping hingga tidak menyadari pembicaraan mereka sudah selesai. Belum habis kekesalan Renaga, dia kembali dibuat naik darah kala melihat seorang dokter yang menjadi pemicu amarahnya beberapa saat lalu berdiri di sisi Zavia.

"Kau sendiri mau apa ikut ke sini?"

"Entahlah, penasaran saja," jawab Gavi dengan santainya, dia juga bingung kenapa justru mengikuti taksi yang Zavia tumpangi tadinya.

Dia ingin meluapkan amarahnya, tapi sudah terlalu lelah hingga memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Fabian dan Zavia melangkah masuk ke kamar Giska, sama sekali tidak ada yang mengejar atau menahan kepergiannya, sungguh menyebalkan.

.

.

- To Be Continue -

Terpopuler

Comments

💙ANGGUN💦

💙ANGGUN💦

kasihan Aga😌

2025-02-19

0

Erna Wati

Erna Wati

/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/

2024-12-26

0

Halimah

Halimah

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-09-02

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Biar Waktu Yang Menjawab
2 BAB 02 - Kilas Balik
3 BAB 03 - Akhiri
4 BAB 04 - Tujuh Tahun Itu Lama.
5 BAB 05 - Didewasakan Keadaan
6 BAB 06 - Sebentar Saja
7 BAB 07 - Sakit
8 BAB 08 - Seperti Dahulu
9 BAB 09 - Harus Apa?
10 BAB 10 - Sadar
11 BAB 11 - Pengakuan Fabian
12 BAB 12 - Terlalu Lelah
13 BAB 13 - Kau Berhak Memilih
14 BAB 14 - Demi Dia
15 BAB 15 - Nanti Saja
16 BAB 16 - Selalu Salah
17 BAB 17 - Sama Saja
18 BAB 18 - Renaga Buta Warna
19 BAB 19 - Dia Galak
20 BAB 20 - Belum, Bukan Berarti Tidak.
21 BAB 21 - Tetaplah Begini
22 BAB 22 - Jangan Dipaksa
23 BAB 23 - First Time
24 BAB 24 - Rosalin
25 BAB 25 - Pertama?
26 BAB 26 - Firasat Seorang Papa
27 BAB 27 - Jaga Dia Sepenuhnya
28 BAB 28 - Terbuka
29 BAB 29 - Egois Sedikit Saja
30 BAB 30 - Hingga Esok Hari
31 BAB 31 - Nanti Malam?
32 BAB 32 - Munafik
33 BAB 33 - Dia Selemah Itu
34 BAB 34 - Kamu Tidak Sendiri
35 BAB 35 - Aku Walimu
36 BAB 36 - Mati Rasa
37 BAB 37 - Pulang
38 BAB 38 - Apa Mungkin Salah?
39 BAB 39 - Muak
40 BAB 40 - Jangan Asing Ya
41 BAB 41 - Tawaran
42 BAB 42 - Tidak Begitu Awalnya
43 BAB 43 - Menjemputmu
44 BAB 44 - Luka dan Rasa Bersalah
45 BAB 45 - Mengulang
46 BAB 46 - Terakhir
47 BAB 47 - Ujian Suami
48 BAB 48 - Tertangkap Mertua
49 BAB 49 - Aku Takdirmu
50 BAB 50 - Keraguan
51 BAB 51 - Kerinduan
52 BAB 52 - Baik Sekali
53 BAB 53 - Beruntungnya Dia
54 BAB 54 - Permintaan Maaf
55 BAB 55 - Tidak Seindah Bayangan
56 BAB 56 - Kabar Baik
57 BAB 57 - Tidak Akan Lama
58 BAB 58 - Hadiah Paling Istimewa
59 BAB 59 - Belum Jodoh
60 BAB 60 - Bertemu
61 BAB 61 - Jangan Becanda
62 BAB 62 - Permintaan
63 BAB 63 - Benar-Benar Bertemu
64 BAB 64 - Dia
65 BAB 65 - Terima kasih dan Maaf
66 BAB 66 - Tidak Sesuai Harapan
67 BAB 67 - Sepotong Hati
68 BAB 68 - Tidak Semengerikan Itu
69 BAB 69 - Persahabatan (Kalian)
70 Promo Karya Baru (Sean) - Pernikahan Tak Terduga
71 BAB 70 - Kehidupan Setelahnya
72 BAB 71 - Sudah Tua
73 BAB 72 - Aruni Giova Anderson
74 BAB 73 - Garis Takdir (End)
75 Season Dua - BAB 01- Sendiri
76 Season Dua - BAB 02 - Merindu
77 Season Dua - BAB 03 - Tidak Ada Yang Berbeda
78 Season Dua - BAB 04 - Penasaran
79 Season Dua - BAB 05 -Dibalik Tirai
80 Season Dua - BAB 06 - Bayar?
81 Season Dua - BAB 07 - Kau Menghinaku?
82 Season Dua - BAB 08 - Rindu Yang Sama
83 Season Dua - BAB 09 - Tidak Sesuai Harapan
84 Season Dua - BAB 10 - Mahal
85 Season Dua - BAB 11 - Basa-Basi
86 Season Dua - BAB 12 - Dua Minggu
87 Season Dua - BAB 13 - Terbongkar
88 Season Dua - BAB 14 - Tidak Terduga
89 Season Dua - BAB 15 - Kau Mempermainkanku?
90 Season Dua - BAB 16 - Lupakan?
91 Season Dua - BAB 17 - Wanita Jinak
92 Promo Karya - Unchichah Sanskeh
93 Season Dua - BAB 18 - Masih Waras
94 Season Dua - BAB 19 - Bicara Dari Hati
95 Season Dua - BAB 20 - Calon Suami
96 Season Dua - BAB 21 - Menikahlah Denganku
97 Season Dua - BAB 22 - Mine
98 Season Dua - BAB 23 - Melihat Diri Sendiri
99 Season Dua - BAB 24 - Mommy?
100 Season Dua - BAB 25 - Serti Daddy
101 Season Dua - BAB 26 - Jungkir Balik
102 Season Dua - BAB 27 - Buktikan
103 Season Dua - BAB 28 - Pasangan
104 Season Dua - BAB 29 - Janji Setia
105 Season Dua - BAB 30 - Takut?
106 Season Dua - BAB 31 - Sungguh
107 Season Dua - BAB 32 - Mahligai Impian (Giska End)
108 Bonus Visual Mahligai Impian
Episodes

Updated 108 Episodes

1
BAB 01 - Biar Waktu Yang Menjawab
2
BAB 02 - Kilas Balik
3
BAB 03 - Akhiri
4
BAB 04 - Tujuh Tahun Itu Lama.
5
BAB 05 - Didewasakan Keadaan
6
BAB 06 - Sebentar Saja
7
BAB 07 - Sakit
8
BAB 08 - Seperti Dahulu
9
BAB 09 - Harus Apa?
10
BAB 10 - Sadar
11
BAB 11 - Pengakuan Fabian
12
BAB 12 - Terlalu Lelah
13
BAB 13 - Kau Berhak Memilih
14
BAB 14 - Demi Dia
15
BAB 15 - Nanti Saja
16
BAB 16 - Selalu Salah
17
BAB 17 - Sama Saja
18
BAB 18 - Renaga Buta Warna
19
BAB 19 - Dia Galak
20
BAB 20 - Belum, Bukan Berarti Tidak.
21
BAB 21 - Tetaplah Begini
22
BAB 22 - Jangan Dipaksa
23
BAB 23 - First Time
24
BAB 24 - Rosalin
25
BAB 25 - Pertama?
26
BAB 26 - Firasat Seorang Papa
27
BAB 27 - Jaga Dia Sepenuhnya
28
BAB 28 - Terbuka
29
BAB 29 - Egois Sedikit Saja
30
BAB 30 - Hingga Esok Hari
31
BAB 31 - Nanti Malam?
32
BAB 32 - Munafik
33
BAB 33 - Dia Selemah Itu
34
BAB 34 - Kamu Tidak Sendiri
35
BAB 35 - Aku Walimu
36
BAB 36 - Mati Rasa
37
BAB 37 - Pulang
38
BAB 38 - Apa Mungkin Salah?
39
BAB 39 - Muak
40
BAB 40 - Jangan Asing Ya
41
BAB 41 - Tawaran
42
BAB 42 - Tidak Begitu Awalnya
43
BAB 43 - Menjemputmu
44
BAB 44 - Luka dan Rasa Bersalah
45
BAB 45 - Mengulang
46
BAB 46 - Terakhir
47
BAB 47 - Ujian Suami
48
BAB 48 - Tertangkap Mertua
49
BAB 49 - Aku Takdirmu
50
BAB 50 - Keraguan
51
BAB 51 - Kerinduan
52
BAB 52 - Baik Sekali
53
BAB 53 - Beruntungnya Dia
54
BAB 54 - Permintaan Maaf
55
BAB 55 - Tidak Seindah Bayangan
56
BAB 56 - Kabar Baik
57
BAB 57 - Tidak Akan Lama
58
BAB 58 - Hadiah Paling Istimewa
59
BAB 59 - Belum Jodoh
60
BAB 60 - Bertemu
61
BAB 61 - Jangan Becanda
62
BAB 62 - Permintaan
63
BAB 63 - Benar-Benar Bertemu
64
BAB 64 - Dia
65
BAB 65 - Terima kasih dan Maaf
66
BAB 66 - Tidak Sesuai Harapan
67
BAB 67 - Sepotong Hati
68
BAB 68 - Tidak Semengerikan Itu
69
BAB 69 - Persahabatan (Kalian)
70
Promo Karya Baru (Sean) - Pernikahan Tak Terduga
71
BAB 70 - Kehidupan Setelahnya
72
BAB 71 - Sudah Tua
73
BAB 72 - Aruni Giova Anderson
74
BAB 73 - Garis Takdir (End)
75
Season Dua - BAB 01- Sendiri
76
Season Dua - BAB 02 - Merindu
77
Season Dua - BAB 03 - Tidak Ada Yang Berbeda
78
Season Dua - BAB 04 - Penasaran
79
Season Dua - BAB 05 -Dibalik Tirai
80
Season Dua - BAB 06 - Bayar?
81
Season Dua - BAB 07 - Kau Menghinaku?
82
Season Dua - BAB 08 - Rindu Yang Sama
83
Season Dua - BAB 09 - Tidak Sesuai Harapan
84
Season Dua - BAB 10 - Mahal
85
Season Dua - BAB 11 - Basa-Basi
86
Season Dua - BAB 12 - Dua Minggu
87
Season Dua - BAB 13 - Terbongkar
88
Season Dua - BAB 14 - Tidak Terduga
89
Season Dua - BAB 15 - Kau Mempermainkanku?
90
Season Dua - BAB 16 - Lupakan?
91
Season Dua - BAB 17 - Wanita Jinak
92
Promo Karya - Unchichah Sanskeh
93
Season Dua - BAB 18 - Masih Waras
94
Season Dua - BAB 19 - Bicara Dari Hati
95
Season Dua - BAB 20 - Calon Suami
96
Season Dua - BAB 21 - Menikahlah Denganku
97
Season Dua - BAB 22 - Mine
98
Season Dua - BAB 23 - Melihat Diri Sendiri
99
Season Dua - BAB 24 - Mommy?
100
Season Dua - BAB 25 - Serti Daddy
101
Season Dua - BAB 26 - Jungkir Balik
102
Season Dua - BAB 27 - Buktikan
103
Season Dua - BAB 28 - Pasangan
104
Season Dua - BAB 29 - Janji Setia
105
Season Dua - BAB 30 - Takut?
106
Season Dua - BAB 31 - Sungguh
107
Season Dua - BAB 32 - Mahligai Impian (Giska End)
108
Bonus Visual Mahligai Impian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!