"Bian, apa maksudmu?"
Renaga memejamkan mata, suara Fabian yang naik satu oktaf masih bisa dia toleransi dan tidak ada keinginan untuk membalas.
"Kenapa? Terkejut ya? Begitulah Giska, dia bahkan tidak melihat berapa banyak yang mengagumi dia, di matanya hanya ada renaga seorang ... cinta memang semenakutkan itu, apalagi jika tidak terbalas. Apa Kakak tidak kasihan?" Fabian tersenyum getir, matanya sesekali menatap ke arah kamar Giska.
"Kasihan? Tidak, aku tidak bisa mengatasnamakan kasihan."
Dia tidak ingin menyiksa diri atas dasar kasihan, tatapannya tertuju pada Fabian saat ini. Biasanya, pembicaraan antar sesama laki-laki akan lebih mudah untuk saling memahami.
"Dari dulu kau tahu perasaanku, Fabian ... penjelasanmu begini hanya membuat aku berpikir keputusanku pergi sia-sia," tutur Renaga seraya menghela napas pelan, sejak dahulu Renaga memperlihatkan jelas jika dia risih, dan Fabian tahu sendiri akan hal itu.
"Iya!! Sia-sia memang, Giska tetap menjadi Giska yang bodoh!! Mengharapkan Renaga sialan yang lari dari kenyataan tujuh tahun lalu."
Habislah Renaga, ketiga orang ini sama-sama menyerang mentalnya. Tanpa terduga, Fabian yang terlihat seakan tidak punya masalah dengannya akan mengungkapkan hal yang justru membuat Renaga bungkam.
"Jika memang kakak tidak menyukainya, katakan dengan jelas!! Kakak tahu sendiri otak Giska hanya semili ... menyebalkan sekali, pulang-pulang buat emosi, balik lagi ke luar negeri sana."
Sebenarnya Fabian datang ke sini untuk memastikan keberadaan Giska. Hanya saja, begitu melihat Renaga tujuan pria itu justru berubah.
Sebelum Renaga menghantamnya dengan bogem mentah, secepat mungkin Fabian berlari dan berlalu pergi dengan kendaraan roda dua kesayangannya. Yah, meski sudah berteriak dan memaki Renaga beberapa saat lalu, mental Fabian tidak sekuat itu sebenarnya.
Keadaannya menjadi serius begini, Renaga mengusap wajahnya kasar. Baru juga sehari dia di sini, masalah hidupnya seakan menghantam secara bersamaan. Zavia yang enggan bicara, suasana hati Giska yang berubah secepat kilat, malam ini ditambah dengan Fabian yang mendadak jadi pembela Giska membuat Renaga benar-benar lelah.
Dia ingin terlelap, jika bisa setenang-tenangnya. Ini adalah salah-satu alasan kenapa dia tidak mau pulang sejak dahulu. Selain karena sikap Sonya yang membuatnya risih, kejadian semacam ini sudah Renaga duga tentu akan kerap terjadi.
Keinginan Justin tentang dia untuk pria sempurna dengan sejuta bakat dalam dirinya adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi, dia yang pindah sekolah memang tidak sepenuhnya karena pertikaian hati, melainkan Renaga berusaha menata diri agar tidak mengecewakan keuarganya.
Hingga pukul dua pagi, Renaga baru tiba di kediamannya. Wajah pucat pria itu mejelaskan dia kurang istirahat. Hingga, tubuh lemahnya terhempas begitu saja ketika tiba di tempat tidur.
Jaketnya bahkan belum diepas, Renaga benar-benar lelah dan dia lupa menutup pintu kamar. Justin yang sejak tadi menunggunya pulang, jelas merasa lebih tenang kala Renaga telah kembali.
"Kamu terlalu kejam, lihat dia selelah itu."
"Tapi sudah seharusnya Renaga menjaga Giska, Sayang," tutur Justin sembari menatap sendu Renaga yang betah tidur tanpa mematikan lampu.
"Seharusnya kamu bisa minta bantuan pak Sofian, atau siapapun jangan Renaga ... lihat, dia bahkan tidur dengan posisi begitu karena lelah," ungkap Agny benar-benar tidak tega melihat putra sambungnya harus turun tangan mencari Giska.
"Sayang, Giska hanya luluh pada Renaga ... aku tidak ingin mengecewakan Keny, itu saja."
Salah, cara Justin sangat salah bagi Agny. Wanita itu melangkah masuk dan melepas jaket yang melekat di tubuh lelah Renaga. Meski usianya sudah dewasa saat ini, bagi Agny dia tetap Renaga kecil yang dahulu memilih pergi di saat Agny sebahagia itu dengan pencapaian yang dia berikan.
Putranya kembali, seharusnya dia nyaman dan bukan dipaksa ini dan itu hingga tidur saja tidak bisa. Melihat istrinya yang kini menangani sang putra, Justin ikut membantu lantaran berat badan Renaga memang cukup menguras tenaga.
Merawat Renaga sejak usia lima tahun, demi Tuhan Agny menyayangi pria ini layaknya anak kandung. Kehilangan momen selama tujuh tahun, Agny masih melakukan hal manis sebagaimana yang dahulu kerap dia lakukan untuk Renaga.
Di saat yang sama, tangan Renaga tiba-tiba menggenggam erat jemari Agny. Jelas hal itu membuat Justin bingung, dia mendekat dan turut memastikan siapa tahu Renaga demam atau lainnya.
"Tidak panas ... Aga, are okay?" tanya Justin memastikan keadaan putranya.
"Viaa ...." Terdengar lemas, tapi masih cukup jelas. Dia memanggil nama Zavia tidak hanya sekali, tapi beberapa kali hingga Agny dan Justin saling menatap untuk beberapa waktu.
"Zavia, tunggu."
Renaga meracau, matanya tertutup begitu rapat dengan jemari yang terus menggenggam erat jemari Agny. Hal itu jelas membuat Justin bingung, dia menatap sang istri yang juga sama bingungnya.
"Apa katanya?" tanya Agny khawatir jika telinganya yang bermasalah.
"Renaga ... kau mau apa? Dingin atau kenapa?"
"Via, Dad." Dia merespon dan sepertinya itu bukan sekadar meracau biasa.
"Sudah, sepertinya dia memang kelelahan." Melihat Renaga yang begini, hati kecilnya merasa bersalah. Benar kata Agny, dia terlalu memaksakan Renaga melakukan ini dan itu.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
💙ANGGUN💦
udhlahh Ga mending Lo pergi lagi aj.drpd berharap zavia yg belum ap2 mundur,terus ngadepin Giska yg cinta pemaksaan
2025-02-19
0
💙ANGGUN💦
Lo mikirin anak org,anak Lo sendiri menderita 😒
2025-02-19
0
💙ANGGUN💦
cinta ga bisa dipaksakan fab....
2025-02-19
0