"Kenapa juga harus begitu, pagi ini aku sudah dua kali dibentak Mama ... kakak jangan nambahin beban," sungut Zavia menikmati jus mangga di hadapannya, kehadiran Renaga benar-benar membuatnya terjebak masalah.
"Terpaksa, kamu susah ditemui."
Sebenarnya bukan sulit untuk bertemu, tapi ruang untuk mereka berdua. Terlebih lagi, jika berempat. Akan sangat sulit bagi Renaga untuk leluasa bicara dan menghabiskan banyak waktu bersama Zavia.
"Tapi sepertinya memang kurang istirahat, begadang ya?" tanya Zavia mencoba bersikap tenang sebagaimana dia bicara pada Fabian.
"Iya, aku cari Giska semalam."
"Cari Giska?"
Di antara mereka bertiga, hanya Zavia yang tidak mengetahui kabar tentang Giska. Sebenarnya biasa, Keny hanya bertanya pada Keyvan. Jika sudah mendapat jawaban dari pria itu, maka Keny tidak akan bertanya untuk kedua kali.
"Iya, dia selalu saja begitu ... kepalaku sakit, Via."
"Dia benar-benar sedih karena kemarin? Kakak bentak dia ya?"
Salah satu yang paling melekat dalam diri Renaga adalah caranya bicara, beberapa kali Zavia kerap mendapati Giska terdiam akibat mulut pedas Renaga sewaktu sekolah. Mendengar jika Giska sampai pergi seperti semalam, jelas saja Zavia berpikir itu akibat mulut pedasnya.
"Tidak, sama sekali tidak kubentak ... pakai cara halus saja dia begitu, kalau kubentak bagaimana? Overdosis mungkin."
"Renaga!!"
"Maaf, bukan begitu maksudku, Via. Tapi aku ingin menegaskan saja betapa sulit aku menghadapi gadis itu. Terlebih lagi dia didukung papa dan juga orang tuanya, aku risih intinya."
"Risih? Apa yang Giska lakukan sampai Kakak merasa terganggu? Dia hanya mencoba agar Kakak lihat sebagai wanita, begitu saja tidak mengerti."
"Ck, kamu kenapa selalu membela dia? Ini yang buat Giska jadi keras kepala ... semua orang hanya menatapnya, jangan hanya memikirkan perasaan dia sekali saja bisa?"
Baru juga sepuluh menit mereka duduk berdua, Renaga meluapkan kekesalannya hingga black coffe yang sejak tadi belum tersentuh habis sekali tenggak.
Dia marah, sejak dahulu Zavia takut jika Renaga sudah serius begini. Aneh sekali, padahal Justin tidak begini di mata zavia.
"Ya maaf," ucap Zavia memutar bola matanya malas, biasanya Renaga tidak akan lanjut bicara sebelum kalimat itu keluar dari lawan bicaranya, sekalipun yang salah adalah dia.
"Jangan minta maaf kalau tidak ikhlas," ucapnya kemudian menghela napas panjang, Renaga merogoh sesuatu dari saku celananya.
Mata Zavia membola, sebenarnya wajar saja seorang pria seperti Renaga menghisap zat nikotin itu. Namun, batinnya sontak melarang dan hendak merampas rokok yang terselip di sela jemari pria itu.
"Mau apa?" tanya Renaga mengerutkan dahinya,dia sedikit menjaga jarak agar Zavia tidak berhasil menghalanginya.
"Sejak kapan?"
Bukannya menjawab, Zavia justru balik bertanya. Tatapan keduanya terkunci sejenak, Zavia yang menatap penuh kemarahan, sementara Renaga terlihat amat tenang.
"Sudah lama, kenapa memangnya?"
"Masih tanya kenapa, Kakak tahu sendiri bahayanya gimana," tegas Zavia mendelik tajam.
"Iya, nanti saja aku berhenti," jawab Renaga dengan santainya, sudah tahu wanita di sampingnya tidak suka, dia tetap melakukan apa yang dia suka.
"Nanti kapan? Tunggu penyakitan dulu?" tanya Zavia menekan kalimatnya, sama seperti bicara pada Fabian, pria ini punya seribu alasan untuk menjawabnya.
"Nanti ... beberapa tahun lagi. Ketika kamu hamil, maka aku akan berhenti."
Jawaban Renaga sontak membuat Zavia merinding, beruntung saja dia tidak sedang minum saat ini. Baru beberapa saat lalu Renaga membahas masalah risih dengan kehadiran Giska, sementara dia melakukan hal yang sama.
"Kenapa harus begitu?"
"Hm Daddy dulu begitu, Mommy hamil dia baru berhenti total."
Pembicaraan mereka terlalu dalam, Zavia awalnya berpikir renaga tidak akan bermaksud ke sana. Nyatanya, dia benar-benar salah dan kini mulai berusaha mencari alasan untuk bisa melarikan diri dari hadapan Renaga.
Tampaknya dewi keberuntungan memang selalu berpihak pada Zavia. Baru saja dia hendak mencari alasan agar bisa menjauh dari Renaga, seseorang yang cukup Zavia kenali justru menghampiri mereka.
"Ya Tuhan terima kasih."
"Zavia selamat pagi."
"Dokter Gavi, selamat pagi. Bagaimana keadannya?" sapa Zavia ramah sekali, sellau saja ada yang membuat Renaga semakin iri.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
OMG gw yg salting
2024-11-22
0
Halimah
aseeeekkkk👏👏👏😂😂
2024-09-02
0
Nanik Kusno
Lanjuuut kak . ..
2024-06-17
1