Beberapa kali Renaga memastikan, rumah sakitnya sudah sangat benar. Hanya saja, dia butuh keyakinan untuk bisa melangkah masuk. Renaga kembali memastikan bagaimana wajahnya. Sudah cukup pucat dan matanya benar-benar terlihat nyata sedang sakit parah.
Ya Tuhan, demi siapa dia begini? Padahal, dirinya memang tidak begitu fit. Hanya saja dia demi membuat semuanya terlihat realistis dia nekat masuk ke kamar adiknya.
"Perfect."
Renaga turun dengan langkah cepat, sama sekali tidak sesuai dengan wajahnya yang terlihat pucat dan merah di bagian mata. siapapun yang melihat pria itu sekarang, jelas dapat menyimpulkan jika yang sakit adalah otaknya.
Hatinya benar-benar berharap, jika dokter muda yang sedang terjun ke lapangan secara langsung itu akan menjadi takdirnya pagi ini. Renaga menunggu dengan sabar, sebenarnya dia jarang masuk rumah sakit. Sekali masuk rumah sakit, itupun karena dipaksa teman dekatnya.
Kini, dia mendatangi tempat itu padahal kondisinya masih sanggup jika diajak menjelajahi puncak Rinjani. Jantung Renaga kian berdegub tak karu-karuan, sosok yang sejak semalam dia rindukan kini menghampirinya.
Dia terlihat cantik, tidak, tepatnya sangat cantik. Wajah ayu dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, sesaat membuat Renaga lupa jika Zavia belum menjadi miliknya.
Sementara Zavia yang kini baru menyadari siapa pasien yang dimaksud mamanya, hanya menghela napas pelan seraya berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Tenang, Zavia ... hanya memeriksa, setelahnya serahkan pada Mama."
Zavia melakukan pemeriksaan awal sebagaimana yang diperintahkan sang mama. Detak jantung Renaga yang akan dia periksa, tapi kenapa miliknya justru ikut menggila.
Dia juga tidak mengerti kenapa Mikhayla justru percaya dia benar-benar terjun sendiri. Hanya sendiri, seakan sengaja agar keadaan menjebak mereka berdua.
Belum ada pembicaraan yang terjadi antara keduanya. Hingga ketika selesai, Zavia menghela napas panjang dan memberanikan diri menatap Renaga. Dia harus berusaha biasa saja, lagipula bukankah menyapa pasien adalah hal yang biasanya dia lakukan.
"Apa yang ...."
Tunggu, rasanya ada yang aneh dengan wajah pasiennya kali ini. Zavia mengerutkan dahi, dia yang tadinya berusaha menghindari tatapan Renaga. Kini, justru memandanginya lekat-lekat.
Bukan karena jatuh cinta atau bagaimana, akan tetapi ada sesuatu yang membuatnya curiga. Merah di bawah mata Renaga sedikit berlebihan, belum lagi bibir pucatnya tidak seperti pucat orang sakit, melainkan bedak tabur.
"Apa keluhannya, Kak?" tanya Zavia masih tetap bertanya meski otaknya tengah memastikan dugaannya.
"Bagaimana jawabnya? Jawab flu, tapi hidungku baik-baik saja ... ays harusnya aku kecelakaan saja tadi malam."
"Ehem, te-tenggorokanku sakit."
Dia tidak berbohong untuk hal itu, memang benar dia merasakan sakitnya. Akan tetapi, jika dilihat jenis pucatnya Renaga, dia sangat yakin ada yang tidak beres.
"Woah, sepertinya Kakak sakit parah ... pucat sekali, coba diingat-ingat, apa mungkin salah makan?" tanya Zavia seakan benar-benar bermaksud menanyakan hal itu, padahal tujuannya justru berbeda.
"Mungkin, sakitku memang parah sekali ... bisakah kamu mengobatinya? Aku merasa, rumah sakit di Washington sekalipun tidak berhasil, makanya aku kembali," ucap Renaga tersenyum getir kemudian.
Zavia tengah berusaha membongkar kebohongannya, tapi yang terjadi justru berbeda. Renaga membahas hal lain, sakit yang dia maksudkan bukan tentang luka ataupun panas di fisiknya, tapi hati.
Wanita itu mengerti arah pembicaraan Renaga, akan tetapi dia tidak memiliki jawabannya. Zavia menoleh berkali-kali, berharap seorang Mikhayla akan menjadi penyelamatnya kali ini.
"Hm, mau ya?"
Belum sempat Zavia menjawab, Mikhayla datang dengan langkah tergesa. Sebenarnya sejak awal dia sudah melihat Renaga, hanya saja ada hal yang harus dia lakukan hingga memanfaatkan sumber daya manusia yang kebetulan ada di hadapannya beberapa saat lalu.
"Sudah, Via?"
"Sudah, Ma ... semua normal, aku rasa kak Aga cuma radang tenggorokan."
"Normal? Normal dari mana, Via? Kamu jangan asal-asalan ya."
Hanya karena Renaga yang sengaja berkamuflase seakan tengah sakit parah, Zavia kembali disemprot Mikhayla. Entah kenapa mamanya kejam sekali, jika bukan karena sang papa mungkin Zavia lebih memilih jadi koki.
"Mama periksa ulang deh, memang baik-baik saja."
"Tapi Aga pucat, Sayang ... matanya juga mer_"
"Merah? Eyeshadow Gracia," ucap Zavia memperlihatkan jempolnya usai menggosok area bawah mata Renaga yang dibuat sedramatis mungkin, ketahuan sekali berbohong karena Zavia hapal betul seluruh warnanya.
"Terus apalagi? Pucat? Nih bedak Gracia."
Renaga memejamkan mata, sama sekali tidak dia duga jika Zavia akan mengatakan itu pada Mikhayla. Malu sekali rasanya, tapi jujur dia suka karena jemari lentik Zavia menyentuh wajahnya walau hanya beberapa detik saja.
"Astaga, Renaga? Tante sampai tidak bisa berkata-kata ... ada apa denganmu, Ga?" tanya Mikhayla menggeleng pelan, putra Justin yang dia kenal begitu jujur tampaknya berubah ketika dewasa.
"A-aku memang sakit, Tante sumpah, tapi memang tidak parah jadi aku mencari cara agar lebih cepat ditangani."
"Bikin Tante jantungan kamu begini, Aga ... kalau cuma mau ketemu Zavia, telepon bisa atau tunggu dia pulang nanti malam, kenapa harus begitu?"
Niatnya tertangkap basah, Renaga hanya menatap kesal Zavia. Tega sekali membongkar penyamarannya di hadapan calon mertua, semoga maksudnya.
"Wajahnya, benar-benar tidak merasa bersalah," batin Renaga seraya menatap Zavia yang terlihat santai lantaran berhasil mematahkan ucapan Mikhayla kali ini.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Dwi Puji Astuti
jatuh cinta memang bisa membuat orang hilang akal🤭😂
2025-02-15
1
💙ANGGUN💦
ternyata aga bisa bikin drama juga yak😅
2025-02-19
0
💙ANGGUN💦
astaga.....😅🤣
2025-02-19
0