Giska menghela napas kasar, melihat Renaga yang belum berlalu di sana. Dadanya naik turun, tidak mengerti apa sebenarnya yang membuat dia marah. Selama mengenal Renaga, hari ini adalah pertama kalinya dia bersikap seperti tadi.
Entah kenapa dia marah sekali hari ini, marah pada siapa juga dia bingung. Yang jelas, tentu saja diri sendiri. Sedikit menyesal, tapi tidak mengapa. Setidaknya dia sedikit puas kali ini.
Di ruang tamu, Giska dibuat terkejut dengan kehadiran Keny, sang papa yang tengah menatapnya penuh tanya. "Papa kenapa? Bukannya kerja?"
"Tadi yang anterin kamu siapa? Aga atau Bian?"
"Kak Aga," jawab Giska sedikit malas.
Jika biasanya dia akan bersemangat, kali ini berbeda bahkan Keny bingung dengan perubahan putrinya.
"Mukanya kenapa begitu? Harusnya Giska bahagia jodohnya sudah kembali."
"Jodoh apanya, Pa ... Kak Aga tidak suka Giska sampai sekarang."
Keny menangkap bagaimana lelah putrinya. Kepulangan Renaga adalah berita bahagia untuknya, akan tetapi melihat bagaimana Giska hari ini tampaknya dugaan Keny salah besar.
Dia yang memang lelah, tidak ingin berlama-lama bersama sang papa. Giska akan mengurung diri di kamar untuk beberapa waktu, menenangkan pikiran dan sejenak membuang Renaga dalam benaknya.
Namun, Giska sangat salah jika menjadikan kamar tempat menenangkan diri. Semua tentang Renaga dan masa lalunya tersimpan rapi di tempat ini.
Beberapa kenangan yang selalu dia abadikan Giska tata. Zavia yang anti kamera, Fabian yang tidak pernah marah dan Renaga yang setia dengan wajah datarnya Giska jadikan satu.
Mungkin memang sedikit aneh, bahkan Fabian kerap menganggapnya lebay. Namun, bagi Giska hanya dengan cara itu dia bisa terus merasa dekat.
Cukup lama Giska memandangi wajah mereka yang sama-sama tersenyum di sana. Satu-satunya foto yang menampilkan mereka berempat sebahagia itu. Padahal, foto itu diambil satu jam sebelum Renaga meninggalkan mereka selama tujuh tahun itu.
"Maaf, aku terlalu lancang ... sampai lupa yang punya cita-cita bukan hanya aku."
Giska meneteskan air mata pada akhirnya, setelah dia tahan sejak tadi pertahanannya usai sudah. Merasa dirinya tidak bisa lebih baik disini, Giska kembali berlalu pergi sendirian.
Perasaan yang dia miliki hanya semakin menyakitkan, harapannya tentang Renaga yang luluh dan merasa kehilangan setelah berjauhan dengannya ternyata salah.
Beberapa orang mengatakan, bahwa pria tidak suka wanita yang selalu memperlihatkan perasaan. Sayangnya, hal itu tampaknya tidak akan berhasil untuk Giska. Jika hanya perihal menjauh, Renaga sudah pergi sejauh itu.
Tidak hanya sebatas itu, dia juga tidak mengusik Renaga selama dia di sana. Giska sadar ada sesuatu yang Renaga hindari, dia yang ke luar negeri tiba-tiba tentu ada alasan tersendiri.
Namun, setelah kembali tampaknya tidak ada sedikitpun Renaga merasa kehilangan tentang dirinya. Hendak kemana dia? Pergi? Giska bukan pengecut. JIka dia menjauh, lalu siapa yang akan dia peluk.
Giska akui dia bukan seseorang yang mampu hidup sendiri, sekalipun tidak ada Renaga, tapi masih ada Fabian dan Zavia. Selama ini mereka bertiga baik-baik saja sekalipun tanpa Renaga.
.
.
Kepergian Giska nyatanya berlangsung lama, hampir tengah malam wanita itu belum pulang juga. Sebagai seseorang yang paling terakhir berinteraksi, tentu saja Renaga yang kena imbasnya.
Justin mendesak putranya untuk mencari keberadaan Giska. Renaga yang baru saja hendak tidur beberapa menit lalu jelas saja kesal luar biasa.
"Kemana lagi gadis bodoh itu?"
"Aga!! Cepat cari ... dia pergi pasti karena kau."
Terpaksa, Renaga harus mencari keberadaan Giska. Keny sudah berusaha, tapi Justin tidak ingin putranya hanya diam saja.
Nyawanya masih belum terkumpul semua, Renaga berlalu usai meraih jaket dan kunci mobilnya. Sama seperti pada Gracia, Renaga juga bertanggung jawab atas Giska. Karena Memang sejak dahulu, Renaga seakan memiliki tiga adik perempuan sekaligus.
Renaga melaju dengan kecepatan tinggi, berkali-kali dia berusaha menghubungi Giska. Seakan sengaja mengabaikan, Giska sama sekali tidak menerima panggilannya.
Jalanan mulai sepi, Renaga menatap sekeliling demi mencarinya. Meski begitu banyak dugaan Justin, akan tetapi Renaga mengikuti kata hatinya hendak mencari gadis itu kemana.
.
.
- To Be Continue -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
mardiana sari
sebel sm giska jd cewek kecentilan aganya ga suka sm dia malah paksa ky cewek murahan.
2024-11-03
1
Halimah
Giska....yg namanya perasaan itu ga bs d paksain n km sebagai perempuan harusnya bs menjaga harga diri km bukan malah mepet trs k Aga seperti cewek ga punya harga diri
2024-09-01
1
Nanik Kusno
Klu memang g cinta...mau diapakan lagi tetep g cinta
2024-06-17
2