Sama seperti sewaktu mengantar Zavia, malam ini Giska bersikap sama. Sungguh, Renaga benar-benar tidak mengerti kenapa dua wanita ini kerap kali membuatnya bingung.
"Giska, jangan buka jendelanya."
Renaga sangat paham wanita itu tampaknya tengah merana, dia juga sadar sebagai sebabnya. Melihat Giska yang persis batu dan mendadak tuli, Renaga menutup jendela tersebut hingga Giska memperbaiki duduknya dengan segera.
"Nanti masuk angin, cukup Zavia saja yang sakit setelah bersamaku ... kamu jangan, Giska."
"Iya," jawabnya singkat, bahkan Renaga hanya bisa menghela napas pelan.
Mungkin dia yang berubah seperti itu akibat ucapan Renaga pagi tadi. Sikap Giska yang selalu saja bercanda dan bicara persis petasan sepertinya akan mulai dia kurangi lantaran pria itu memintanya bersikap dewasa.
Hingga tiba di kediamannya, Giska segera turun dan sempat mengucapkan terima kasih seadanya. Tanpa menatap ataupun memberikan harapan baik untuk Renaga di keesokan hari seperti dahulu.
Sementara Renaga yang dipercayai Justin untuk mencari Giska, bermaksud menemui Keny lebih dulu. Dia hanya ingin memperlihatkan jika telah berhasil membawa pulang Giska ke rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
Namun, belum memasuki gerbang utama, Giska berhenti dan menoleh ke arahnya. Hal aneh, dahulu Giska akan memaksa Renaga untuk masuk lebih dulu. Akan tetapi , kali ini dia justru menghalangi langkah Renaga.
"Pulanglah, hari sudah malam, kak."
"Iya tahu, tapi aku mau mengantarmu ke hadapan om keny," jawab Renaga meluruskan niatnya, khawatir jika Giska salah paham nantinya.
"Tidak perlu, Kak ... biar aku yang jelaskan, terima kasih untuk malam ini. Lain kali, Kakak tidak perlu menuruti keinginan Papa ataupun Daddy, aku bisa pulang sendiri."
Giska tidak senaif itu, sejak dahulu dia sangat tahu bagaimana malasnya Renaga jika harus mengantar ataupun menjemputnya. Meski akhirnya pria itu mau, itupun karena dipaksa atupun Giska sendiri yang merengek padanya.
"Hm, jangan pergi seperti tadi ... mataku perih mencarimu malam-malam begini, Giska."
Sama sekali dia tidak berbohong, wajahnya tampak sembab dan matanya memang selelah itu Giska lagi-lagi merepotkan Renaga, tanpa sengaja dan jujur dia tidak sama sekali merencanakan pergi agar dicari.
"Iya, tidak lagi."
Demi mencari Giska malam ini, kepala Renaga sedikit sakit. Mungkin karena Justin berteriak di saat dia baru saja terlelap. Dia bahkan menguap lebar-lebar seraya berlalu meninggalkan kediaman Giska.
"Kak Aga!!"
Fabian berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Sama seperti Renaga yang tapaknya kurang tidur, pria itu juga sama. Dia mendongak, menatap ke arah lampu kamar Giska yang masih menyala, sontak dia curiga Giska belum kembali.
"Kau kenapa?"
"Giska, aku terlambat baca pesan om Keny ... ketiduran soalnya, apa dia sudah pulang, Kak?" tanya Fabian masih dengan napas terengah-engah, dia mengedarai motor dengan kecepatan tinggi dan pergi tanpa seizin orang tuanya.
"Telat, Fabian!!"
"Huft, syukurlah kalau Giska sudah pulang ... aku benar-benar tidak sengaja, Kak."
Sebenarnya Keny hanya bertanya tentang keberadaan Giska, akan tetapi dia baru menyadari pesan Keny ketika terbangun dari tidurnya. Dia masih mengatur napas, demi apapun dia khawatir walau Giska terkadang menyebalkan setiap menit.
"Ketemu dimana, kak?"
"Tempat biasa," jawab Renaga yang mengira Fabian juga mengetahui tempat itu.
"Club? Astaga ... anak itu mabuk lagi?"
Ucapan Fabian sontak membuat Renaga mengerutkan dahi. Apa tadi? Seorang Giska mabuk? Sungguh, dari semua fakta yang Fabian utarakan, ini adalah yang paling tidak masuk akal.
"Mabuk? Giska sering mabuk?"
"Tidak juga, tapi biasanya kalau stres ya mabuk ... paling Zavia yang kena imbasnya," jelas Fabian semakin membuat Renaga tidak habis pikir.
"Tu-tunggu, maksudmu Zavia juga? Mereka berdua?"
Kedua gadis periang yang begitu jauh dari lingkungan semacam itu bisa melarikan diri dengan cara itu, jelas saja dia marah. Pria itu mendelik tajam, menatap Fabian lantaran tidak menghalangi mereka.
"Bertiga, aku juga ikut, tapi yang mabuk biasanya Giska. Ta-tapi itu tidak setiap kali, Kak, akhir semester kemarin saja ... Giska terlalu lelah dan dia tertekan, jadi begitu."
Seorang Renaga memang selalu berhasil membuat Fabian ciut. Tatapan tajam pria itu menegaskan jika dia tidak suka dengan apa yang mereka lakukan. Meski, jujur saja dia juga tidak jauh berbeda, tapi masalahnya seorang Giska sangat dia sayangkan merusak diri dengan cara itu.
"Ya Tuhan, kenapa kau biarkan, Fabian?'
"Semua orang punya beban, Kak ... hanya di saat itu Giska melepaskan semua yang dia pendam. Aku tidak bisa memaksa karena jika tidak begitu, aku dan zavia tidak akan mengetahui seberapa bodohnya anak itu menunggu kakak bertahun-tahun."
Fabian mengungkapkannya dengan perasaan menggebu, pemandangan Giska mabuk dengan menyebut nama Renaga adalah hal yang sangat mengganggu matanya. Kini, setelah pria itu kembai Giska menghilang hingga larut malam begini.
"Bian, apa maksudmu?"
.
.
- To Be Continue -
Hallo, selamat hari senin ... buat yang belum kilk favorit, jan lupa ya. Sama Renaga minta vote dong, Besti❤ Tapi vote Syila juga boleh❤😌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
💙ANGGUN💦
gmn aga bisa suka Giska,klo kelakuannya semenyebalkan itu😌
2025-02-19
0
Nanik Kusno
Klu tingkah Giska sangat buruk seperti itu....org semakin sebel melihatnya
2024-06-17
3
Puji Hartati Soetarno
tingkah Giska yg nyebelin kok bikin aku inget Lorenza sahabatnya oma Kanaya ya...
2024-03-01
1