Usai sarapan bersama, sesuai perkataan Tareeq kemarin, pagi ini sebelum berangkat pergi kerja, ia dan Zulaikha pindah ke rumah baru mereka. Sepanjang perjalanan tak ada sama sekali pembicaraan, membuat suasana di dalam mobil itu semakin hening.
Zulaikha yang sibuk menatap ke luar jendela, dan Tareeq yang fokus dengan kemudinya.
"Ekhem, apa saja kebiasaanmu sehari-hari?" tanya Zulaikha memecah kehening di antara mereka seraya menoleh ke arah sang suami.
"Kamu tak perlu tahu, dan kamu tak perlu melakukan apa pun untukku," jawab Tareeq cepat.
Zulaikha hanya bisa membuang napas kasar dan kembali menatap keluar jendela, lagi-lagi suaminya mengatakan hal yang sama sejak kemarin. Sikap pria di sampingnya ini benar-benar membuatnya harus ekstra sabar. Mungkin beginilah rasanya menikah mendadak dengan pria berbeda kebangsaan, banyak sekali kebiasaan yang sangat kontras di antara mereka.
Jika Tareeq tidak ingin memberitahukan kebiasaannya, maka Zulaikha akan mencari tahunya sendiri, begitulah rencananya saat ini.
Tak terasa 45 menit telah berlalu, mobil yang membawa mereka kini telah tiba di sebuah rumah besar yang tak kalah mewah dengan mansion Husein bin Ibrahim. Bahkan pohon-pohon kurma tampak berjejer rapi di sepanjang jalan masuk halaman rumah dan terdapat air mancur di bagian tengah yang membentuk jalan bundaran layaknya halaman hotel.
"Masuklah, kamu tidak perlu melakukan apa pun di sini karena sudah ada beberapa pelayan di dalam sana," ujar Tareeq. "Dan ini, pakailah kapan pun kamu mau." Tareeq memberikan sebuah black card kepada sang istri lalu kembali melajukan mobilnya ke kantor setelah Zulaikha keluar dari mobil.
Zulaikha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, di sana ia sudah di sambut oleh 5 orang pelayan yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Assalamu 'alaikum, Nona. Perkenalkan kami adalah pelayan di rumah ini, jika butuh apa-apa silahkan sampaikan kepada kami," ucap kepala pelayan di antara mereka dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Wa'alaikum salam, salam kenal, namaku Zulaikha," balas Zulaikha begitu ramah.
Salah satu pelayan itu pun akhirnya mengantar Zulaikha ke kamarnya yang berada tepat disamping kamar Tareeq. Kamar yang sangat mewah, sangat jauh dari kamarnya yang pernah ia bayangkan di masa depan, lucu sekali bukan? Bahkan saat hanya sekedar membayangkan, pikiran kamarnya tidak pernah sampai semewah kamarnya saat ini.
"Sayang sekali, kehidupan rumah tanggaku tidak seindah kamar dan rumah ini. Tapi tidak apa-apa, cukup lakukan saja tugasku, lagipula tidak terikat perasaan satu sama lain jauh lebih baik," monolognya sembari membaringkan tubuhnya di kasur king size super empuk di kamarnya.
Beberapa jam telah berlalu, Zulaikha mulai merasa bosan berdiam diri di kamar. Ia memutuskan untuk menemui para pelayan yang mayoritas berasal dari luar negara Qatar hanya untuk sekedar berbagi cerita. Barangkali ia bisa menemukan informasi mengenai kebiasaan Tareeq.
***
Di kantor, Tareeq baru saja selesai mengikuti meeting antar divisi di perusahaannya, ia berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Ali di belakang.
"Pak, pertemuan anda selanjutnya dengan perusahaan Qifty Medica yang akan di laksanakan di restoran A siang ini," ujar Ali setelah mereka tiba di ruangan Tareeq.
"Qifty Medica?" ulang Tareeq, ia merasa sering mendengar nama itu akhir-akhir ini.
"Ya benar, Pak. Perusahaan ini beberapa bulan yang lalu mulai bekerja sama dengan kita karena mereka ingin membangun rumah sakit dan mereka mempercayakan kita untuk mengurus pembangunannya hingga selesai," jelas Ali.
"Astaga, aku sampai melupakan itu," ujar Tareeq. "Baiklah Ali bersiaplah, 15 menit lagi kita berangkat ke sana," titah pria itu.
Setelah beberapa menit berlalu, Tareeq dan Ali sudah berada di restoran yang akan menjadi tempat mereka bertemu. Mereka berjalan menuju ruang VIP yang di tunjuk oleh pelayan, dan langsung masuk setelah mengucapkan salam.
Seorang pria paruh baya berkemeja lengan panjang dan seorang gadis muda memakai abayha hitam dan kerundung yang dililit asal di kepalanya dan menampakkan sedikit rambutnya berdiri menyambut kedatangan Tareeq.
"Selamat datang Pak Tareeq," sapa pria paruh baya yang tidak lain adalah CEO Qifty Medica seraya mengulurkan tangannya ke arah Tareeq.
"Terima kasih Pak Ishar." Tareeq menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan.
"Oh iya, perkenalkan, yang di sampingku ini namanya Qifty, putri bungsuku sekaligus sekretarisku hari ini." Pak Ishar memperkenalkan sang putri kepada Tareeq dan hanya ditanggapi anggukan oleh pria itu.
Mereka pun mulai membicarakan masalah kerja sama mereka sembari menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Terima kasih telah mempercayakan kami Pak Ishar, kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin," ucap Tareeq mengakhiri pembicaraan kerja sama mereka.
"Oh iya, Tareeq, kata Bibimu, ia setuju menjodohkanmu dengan Qifty, bagaimana denganmu?" tanya Pak Ishar.
"Apa? Apa Bibiku tidak pernah mengatakan jika saya sudah menikah?"
"Kamu sudah menikah?"
"Iya, Pak. Beberapa hari yang lalu saya berangkat ke Indonesia untuk melangsungkan pernikahan saya di sana."
"Indonesia? Kenapa kau jauh sekali mencari istri? Di sini juga banyak."
"Namanya juga jodoh, Pak." Tareeq menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Meski pun pernikahan ini ia lakukan secara terpaksa waktu itu, tapi ia tetap akan mengumunkan hubungannya kepada siapa pun, ia bahkan berencana akan melakukan resepsi pernikahannya setelah kesibukannya ini sedikit berkurang.
Qifty terlihat berbisik kepada sang ayah, dan mereka berbicara lirih, entah apa yang mereka bicarakan tapi Tareeq maupun Ali tak dapat mendengarnya.
"Maaf, Tareeq, jika saja kamu berencana untuk menikah lagi, putriku siap menunggumu," ucap Pak Ishar, sementara Qifty hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
***
Sore harinya, Zulaikha masih saja asik bercengkerama dengan para pelayan, ia bahkan membawa buku catatan untuk mencatat semua kebiasaan Tareeq dari bangun tidur hingga tidur kembali.
Kebetulan kepala pelayan itu adalah pelayan yang sudah bekerja lama bersama Tareeq, bahkan sejak pria itu tinggal di mansion sang kakek.
"Sekarang sudah pukul 15.55 menit, itu artinya sebentar lagi Tareeq pulang kan?" tanya Zulaikha dan kepala pelayan itu mengangguk sembari tersenyum.
"Baiklah, habis ini dia akan mandi air hangat," monolognya lalu segera pergi ke kamar Tareeq untuk menyiapkan air hangat, serta pakaian yang akan digunakan pria itu nantinya.
Setelah semuanya siap, barulah ia menunggu kedatangan sang suami di teras depan rumah sembari melihat beberapa bunga hias yang dirawat khusus oleh ahli taman di rumah itu.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tareeq keluar dari mobil dan langsung menuju ke teras rumah di mana Zulaikha sudah menunggunya sejak tadi.
Saat hendak memasuki rumah, Zulaikha menghadang jalan pria itu. "Apa boleh aku menyalami tanganmu? Di Indonesia para istri biasa melakukannya saat suaminya pulang kerja," ujar Zulaikha.
"Sayangnya kita sedang di Qatar, tolong minggir, aku ingin masuk," sanggah Tareeq lalu segera masuk meninggalkan Zulaikha di ambang pintu.
Gadis itu hanya membuang napas kasar lalu mengedikkan bahunya tak ingin ambil pusing. Jika hari ini tidak bisa, maka masih ada hari esok dan esoknya lagi. Dia akan terus melakukannya hingga pria itu benar-benar terbiasa.
Tareeq memasuki kamarnya, pandangannya langsung tertuju pada gamis putih berkerah yang telah tersedia di atas tempat tidur. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya sembari membuka pakaian kerja dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Saat sudah berada di kamar mandi, pria itu kembali dibuat terkejut saat mendapati air hangat telah tersedia di dalam bathup. Tak ingin ambil pusing, Tareeq langsung masuk dan berendam di dalamnya selama beberapa menit.
Sementara itu Zulaikha langsung kembali ke dapur untuk membuatkan kopi sebagaimana arahan pelayan. Setelah siap, gadis itu membawanya ke kamar Tareeq dan hendak meletakkannya di atas nakas.
Akan tetapi, bersamaan dengan itu, Tareeq keluar dari kamar dengan hanya mengenakan handuk sepinggang, membuat Zulaikha yang tidak sengaja melihatnya refleks berteriak seraya menutupi matanya dengan satu tangan, ia segera berlari keluar setelah meletakkan cangkir berisi kopi di atas nakas, dan begitu pun dengan Tareeq yang terkejut dengan keberadaan Zulaikha di kamarnya refleks menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangan.
"Astaga, gadis ceroboh itu."
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
ih pak tua maunya anaknya dijadikan istri
2023-10-07
1
Danny Muliawati
lama2 jg cinta krn tiao saat ktm smga di akhir bahagia d saling membuka hati 😍😍
2023-06-09
1
Authophille09
biarpun sikapnya ketus, yang penting masih diakui ya Zul. Semangat💪
2023-03-27
1