Malam sudah semakin larut, Zulaikha sudah bersiap untuk tidur di kamar milik suaminya dengan memakai piyama tidurnya. Namun, di mana pria itu? Sejak kedatangan mereka dari Indonesia, Tareeq tidak pernah menampakkan batang hidungnya hingga saat ini.
Sebagai gadis yang telah berstatus sebagai istri, Zulaikha tentu merasa penasaran dengan keberadaan suaminya, tapi bagaimana ia bisa mengetahui jika nomor ponsel pria itu saja ia tak punya.
Hingga suara langkah kaki yang mendekat ke arah kamar, membuat Zulaikha dengan cepat berbaring dan berpura-pura tidur. Suara pintu yang di buka perlahan mulai menyapa indera pendengarannya, tapi ia tetap enggan membuka mata.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka dan suara gemericik air membuatnya tahu kalau saat ini pria yang ia duga adalah Tareeq sedang membersihkan diri. Ingin sekali rasanya Zulaikha membantunya menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya sebagaimana yang telah ia pelajari beberapa minggu sebelum pernikahannya dengan Surya yang pada akhirnya batal.
Zulaikha ingin mengabdikan dirinya dengan sebaik mungkin sebagai istri, karena baginya pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, meski ia tak ingin melibatkan perasaan di dalamnya. Setelah metakinkan diri, gadis itu bangkit dari tidurnya dan melihat ke arah kamar mandi yang masih tertutup.
Gegas ia beranjak dari tempat tidur dan mengambil piyama tidur sang suami yang berada di walk in closet dan menaruhnya di tepi tempat tidur. Setelah itu dengan cepat ia kembali ke tempatnya semula untuk berpura-pura tidur.
Napasnya yang memburu gara-gara bergerak cepat membuatnya harus mengatur napasnya dengan baik terlebih dahulu. Bukannya ingin main kucing-kucingan dengan sang suami, hanya saja perkataan Tareeq di malam setelah aqad membuatnya sedikit takut untuk menunjukkan tindakan yang pada akhirnya disalah artikan oleh pria itu sebagai usaha untuk mendekatinya.
Ceklek
Zulaikha dengan cepat kembali memejamkan matanya saat terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Tareeq hendak berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil baju piyama. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat piyama miliknya yang sudah tersedia di atas kasur. Pria itu melangkah mendekati tempat tidur dan mengambil piyama itu dengan alis yang bertautan.
"Perasaan tadi belum ada piyamaku di sini, kenapa sekarang sudah ada? Apa jangan-jangan ...."
Tareeq beralih menatap sang istri yang sudah tertidur di tempatnya sejak awal ia masuk kamar, pria itu menerka-nerka, dan sepertinya ia sudah mengetahui jawabannya.
Setelah memakai piyama itu, Tareeq perlahan naik di atas kasurnya lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia sedikit menoleh ke arah Zulaikha yang tidur tanpa menggunakan selimut. Bukanya membantu menyelimuti sang istri, pria itu hanya mengedikkan bahunya lalu membaca doa dan mulai masuk ke alam mimpinya.
Suara dengkuran halus dari Tareeq membuat Zulaikha kembali membuka matanya dan menatap tajam ke arah pria itu. "Dasar suami tidak peka, sudah tahu sekarang lagi musim dingin, malah nggak ada inisiatif menyelimuti," gerutunya seraya menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Hufth, sabar Zulaikha, ingat, jangan mengharapkan apa pun darinya. Lakukan tugasmu saja dengan baik meski dalam senyap, buat dia terbiasa dengan kehadiranmu, setelah itu cueki dia," monolognya lalu mulai memejamkan mata.
***
Kesesokan harinya, Zulaikha mulai menjalankan rencananya sedikit demi sedikit. Ia belajar bangun lebih awal sendiri tanpa dibangunkan oleh siapa pun. Ia mandi dan mempersiapkan segala keperluan Tareeq untuk pergi kerja, mulai dari pakaian hingga sepatu yang akan di gunakan sebagaimana hasil pengamatannya selama ini. Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Tareeq.
Setelah semua itu siap, barulah ia pergi ke kamar Nameera untuk sholat subuh bersama. Sementara Tareeq baru bangun beberapa menit setelah kepergian Zulaikha. Ia menatap tempat sang istri yang sudah kosong dan rapi.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya dan mendapati pakaian sholat dan pakaian kantornya yang sudah tersedia di tempat tidur, membuat pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia jelas tahu siapa pelaku dari semua itu.
"Kenapa kamu tidak menemani kak Tareeq di kamar, Kak?" tanya Nameera saat mereka telah selesai menunaikan sholat subuh berjama'ah
"Aku hanya ingin menemanimu dulu, sebelum nanti kami pindah ke rumah milik Tareeq," jawab Zulaikha.
"Rumah kalian, bukan rumah milik Tareeq saja, karena kalian udah nikah," ralat Nameera.
"Hehe, iya. Aku hanya merasa bukan apa-apa di antara kalian yang serba ada," cicitnya.
"Kak, bagaimana pun keadaan seseorang, mau kaya, mau sehat, mau sakit, mau tinggi jabatan atau sebaliknya, semuanya tetap sama di mata Allah, yang membedakan hanya ketaqwaannya saja," jelas Nameera.
"Kamu benar, aku salut sama kamu. Usiamu lebih muda dariku tapi dari segi kedewasaan dan keteguhan hati kamu sangat hebat. Itu sebabnya aku kemari karena aku igin berguru sama kamu," pungkas Zulaikha, membuat Nameraa mengerutkan keningnya.
"Berguru?"
"Iya, mulai saat ini, aku ingin belajar bertahap sama kamu, di mulai dari belajar mengaji, aku sudah lama tidak membacanya, jadi aku sedikit lupa," cicitnya jujur.
"Anggap saja kita belajar bersama Kak, jangan berlebihan deh," balas Nameera sedikit malu-malu, membuat Zulaikha menganggukkan kepala seraya tersenyum.
Mereka pun mulai mengaji bersama, sesekali Nameera mengoreksi kesalahan penyebutan huruf hingga tajwid Zulaikha yang pernah ia lupakan. Hingga beberapa menit telah berlalu, kedua gadis itu akhirnya menyelesaikan bacaan Qur'annya.
Zulaikha hendak keluar dari kamar itu setelah memastikan Nameera kembali beristirahat di tempat tidurnya. Namun, baru saja ia menutup pintu kamar Nameera dari luar, tangannya langsung di tarik oleh seseorang dari arah samping.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
siapa sih menganggu ajha
2023-10-07
1
Authophille09
Selalu sabar dan tetap semangat ya Zul💪
2023-03-23
1
Ria dardiri
nameera good looking😘😘😘
2023-02-10
1