"Memangnya siapa yang nyuruh kamu ke sini? Lagian sikapmu padaku waktu itu jauh lebih buruh dari sikapku padamu saat ini."
Perkataan Zulaikha seketika membungkam mulut Tareeq, ia tak lagi tahu harus menjawab apa atas perkataan gadis di hadapannya.
"Pokoknya kamu harus pulang sekarang, ada yang ingin disampaikan Pamanmu," ujar Tareeq.
"Nggak bisa, aku masih kerja," tolak Zulaikha.
"Nggak apa-apa, aku akan membayar ganti rugi atas semuanya," tutur pria itu, membuat Zulaikha langsung memutar bola mata jengah.
"Dasar sombong."
"Apa? kamu itu tidak tahu terima kasih sekali, sudah bagus aku yang membayar ganti rugi, dan bukan kamu."
"Ya kan kamu yang minta aku pulang."
"Bukan aku, tapi Pamanmu. Cepatlah!"
"Iya-iya, aku izin dulu sama bosku."
Zulaikha akhirnya pergi meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Shobri, lalu ia kembali ke tempat di mana Tareeq menunggunya. Gadis itu mulai menaiki sepedanya, dan Tareeq pun hendak duduk di boncengannya.
"Eh eh, kok naik? Kamu ke sini tadi naik apa?" tanya Zukaikha heran.
"Aku jalan kaki, Pamanmu mengatakan jika tempat kerjamu dekat, jadi aku memilih jalan kaki, eh tahu-tahunya jauh bangat," oceh pria itu.
"Jadi?"
"Ya aku akan pulang bersamamu."
"Kalau gitu kamu yang bawa sepedanya, malu-maluin banget bonceng cowok gede kayak kamu."
"Aku nggak bisa, aku nggak pernah naik sepeda, paling jika naik sepeda itu hanya sepeda statis."
"Astaga, menyusahkan sekali," gerutu Zulaikha lalu naik lebih dulu. Cepetan naik!" titah gadis itu.
Tareeq akhirnya naik, tapi, kali ini ia dibuat bingung karena tidak ada tempat untuk tumpuan kakinya, sementara kakinya yang panjang dengan sepeda pendek, membuat kakinya tertekuk layaknya menaiki sepeda anak kecil.
"Hey, ini kakiku bagaimana?" tanya Tareeq.
Zulaikha menoleh dan melihat ke arah kaki Tareeq.
"Oh, gampang, gantung aja kakimu di mana pun kamu mau," jawab gadis itu asal
"Apa? Tapi bagaima .... Eeeh eeh eehhh." Ucapan Tareeq terputus saat Zulaikha langsung mengayuh sepedanya tanpa memberi aba-aba, membuat pria itu hampir terjungkal ke belakang.
Di sepanjang perjalanan, tak ads sama sekali pembicaraan, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Zulaikha sibuk mengayuh sepeda yang semakin terasa berat karena adanya pria bertubuh tinggi besar di belakang. Sementara Tareeq sibuk mengurus kakinya yang kadang di angkat, dan kadang dibiarkan terseret karena lelah diangkat.
Selama perjalanan itu, tak jarang para tetangga meneriakinya dengan kata-kata menyindir hingga menyudutkan.
"Udah ada gantinya nih."
"Gila, pria lokal gagal, pria bule jadilah."
"Jangan pamer, nanti gagal lagi, malu loh."
"Ganteng benget sih tuh cowok."
"Belum nikah aja udah bonceng-boncengan kayak gitu, duh."
Telinga Zulaikha rasanya akan terbakar oleh kata-kata mereka yang hampir tidak ada yang baik untuknya. Rasanya ia ingin melajukan sepedanya lebih cepat, tapi ia merasa begitu sulit mengayuh sepedanya karena tambahan beban di belakang.
Tak lama kemudian, Zulaikha tiba di delan sebuah rumah sederhana di mana sudah ada mobil yang terparkir di sana. Gadis itu segera turun dan membiarkan Tareeq tinggal di sepeda sendirian dengan sejuta kedongkolannya, apes sekali nasibnya hari ini.
"Assalamu 'alaikum," ucap Zulaikha seraya melangkah masuk rumah dan mencium punggung tangan paman dan bibinya yang duduk di ruang tamu.
"Kakek Husein?" ucapnya yang baru menyadari kehadirannya, lalu mencium punggung tangan pria usia lanjut itu.
"Assalamu 'alaikum," ucap Tareeq dengan wajah yang kusut karena kesal dan lelah.
"Kalian tadi naik sepeda bareng?" tanya Bibi Anisa dengan bahasa Indonesia.
"Iya, Bi. Terpaksa," jawab Zulaikha dengan bahasa Indonesia juga.
"Zul, Paman tidak menyangka kamu akan bertemu dengan Pak Husein di Qatar." Paman Harun mulai bercerita dengan bahasa Indonesia.
"Jadi, dulu saat paman masih bekerja sebagai TKI di Arab Saudi sebagai supir, paman mengalami kecelakaan parah, mungkin bisa dikatakan kecelakaan maut tapi alhamdulillah Allah masih menyelamatkan paman dari maut itu. Dan selama di rumah sakit, hingga terapi penyembuhan, Pak Husein yang menemani paman seperti keluarga hingga paman sembuh dan bisa pulamg kembali ke Indonesia," jelas Paman Harun.
Zulaikha menganggukkan kepalanya usai mendengar cerita sang Paman, kini ia tahu alasan sang Paman mengatakan bahwa Kakek Husein adalah orang baik.
"Tadi kami sudah berbincang-bincang sejenak, dan paman setuju dengan niat baik Pak Husein," lanjut Paman Harun, membuat Zulaikha seketika menautkan alisnya.
"Niat baik?" ulang gadis itu karena tidak paham.
"Pak Husein ingin menikahkan kamu dengan cucunya, Tareeq," ungkap Paman Harun.
Degh
Zulaikha terdiam sejenak mencerna kata demi kata yang di ucapkan sang Paman, tak ada nada bercanda, pun tak mungkin Paman membohonginya. Ia menatap semua yang ada di sana, dan hanya ada sorot mata kejujuran dari Kakek Husein dan sorot mata penuh harap dari Paman Harun.
"Nak, bagaimana? Pak Harun adalah orang yang sangat baik, terima saja, Nak," bisik Bibi Anisa, membuat gadis itu semakin dilema.
"Apa ini maksud dari Paman waktu itu yang mengatakan jika orang yang ada di foto itu meminta bantuan, maka penuhi semuanya selama kamu masih bisa?" batin Zulaikha.
Apa dia harus menerima lamaran Tareeq? Meski tak ada cinta yang terlibat di dalam, atau menolaknya dan mengecewakan paman dan bibinya, terutama Nameera yang ia tahu gadis itu juga menginginkan hal yang sama. Namun, menerima langsung juga terkesan mudah sekali.
"Nak Zukaikha, bagaimana?" tanya Kakek Husein dengan bahasa Inggris, ia paham jika tadi Paman Harun telah menyampaikan niat baiknya.
"Kenapa harus saya, Kek? Bukankah bersama dengan yang satu negara itu jauh lebih mudah?" Setelah sekian lama berpikir, akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulutnya.
"Karena Tareeq yang langsung memilihmu, Nak. Bukan begitu Tareeq?" Kakek Husein menepuk paha Tareeq sedikit kuat hingga membuat pria itu sedikit terperanjat karena kaget.
"I-iya, Kakek," jawabnya singkat.
"Kenapa kamu ingin memilihku? Bukankah sebelumnya kamu sabgat tidak menyukai orang Indonesia sepertiku?" Zulaikha kini mengalihkan pertanyaannya pada Tareeq.
"Eh, itu, itu aku baru menyadari bahwa orang Indonesia tidak seburuk yang ada di pikiranku, ternyata mereka baik," jawab Tareeq sedikit gelagapan. "Dan aku menyadari sikapmu yang tulus dan baik saat bersama adikku," lanjutnya dengan raut wajah serius kali ini.
"Nameera, bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Zulaikha yang seketika teringat akan kondisi gadis itu.
"Saat mengetahui kamu pergi, dia banyak menangis, bahkan dia sempat drop. Kamu tahu sendiri kan saat kamu di sana, Nameera tidak memiliki teman lain selain kamu, dan sepertinya dia sudah menganggapmu seperti Kakak perempuannya."
Zulaikha kembali berpikir, sejujurnya ia yang merupakan anak tunggal juga merasakan hal yang sama, Nameera telah ia anggap seperti adiknya sendiri, dan tak bisa ia pungkiri jika ia ingin dekat dengannya, setidaknya ia bisa merawatnya dan memberikan semangat pada gadis malang itu.
"Baiklah, bismillah saya menerima lamaran ini," ucap Zulaikha pada akhirnya membuat semua yang ada di sana mengucapkan hamdalah denganpenuh rasa syukur.
Usai lamaran tersebut oleh Zulaikha, Paman Harun langsung memanggil beberapa kebarabat dan pejabat KUA untuk mendaftarkan pernikahan dan langsung melakukan aqad nikah sore nanti lalu berlanjut resepsi keesokan harinya, hal itu ia maksudkan agar terhindar dari fitnah karena Tareeq dan Kakek Husein yang menginap di rumahnya.
***
Malam harinya, Kakek Husein dan Tareeq bersama Paman Harun dan Bibi Anisa sedang bercengkerma di ruang tamu. Sementara Zulaikha telah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya karena merasa sedikit pusing.
"Nak, Tareeq, istirahatlah jika sudah lelah, kamar Zulaikha ada di balik pintu bagian tengah, maaf rumah kami sangat kecil," ujar Paman Harun sedikit tidak enak dengan menggunakan bahasa Arab.
"Baik, Paman," balas Tareeq lalu berjalan ke kamar yang dimaksud tadi.
Merasa sedikit ragu karena baru pertama kali akan memasuki kamar wanita selain adiknya, membuat Tareeq diam sejenak sembari menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
Tok tok tok
Tak ada sahutan dari dalam kamar itu, membuat Tareeq akhirnya memutuskan untuk membuka pintu. Tak langsung masuk, pria itu mengamati kondisi kamar di ambang pintu.
Kamar yang sangat sempit jika dibandingkan dengan kamarnya yang mungkin 10 kali lebih besar dari kamar di hadapannya ini, di tambah ukuran tempat tidur yang hanya cukup dua orang, bahkan ukuran pintu yang kemungkinan tingginya hanya 180 cm, tentu Tareeq yang memiliki tinggi 185 cm harus sedikit membungkuk saat akan masuk.
"Tolong tutup pintunya agar nyamuk tidak masuk."
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
Alhamdulillah sah. Hem bagaimana yah selanjutnya
2023-10-07
1
Ria dardiri
saknoe ndaniio pegele,,,,,,😀
2023-02-08
1
Ria dardiri
udah nikah aja ternyata,,,
2023-02-08
1