Malam semakin larut, semua orang di rumah Paman Harun sudah tidur di kamar masing-masing. Kecuali pasangan pengantin baru yang sore tadi telah resmi menjadi suami istri.
Meski begitu, belum ada sentuhan apa pun diantara mereka kecuali saat pemasangan cincin, semua atas permintaan Tareeq dengan alasan tak ingin menjadi bahan tontonan, padahal ia hanya takut tidak bisa menutupi kegugupannya karena tak pernah sekali pun bersentuhan dengan wanita.
Dan saat ini, mereka telah berbaring di kasur yang sama, saling membelakangi di kedua tepi kasur. Entah kenapa keduanya merasa gelisah berada di kasur yang sama.
"Zulaikha."
"Hmm?"
"Apa kamu punya kasur lain? Aku merasa tidak nyaman seperti ini," ujar Tareeq.
"Tidak ada," jawab Zulaikha singkat, membuat pria itu membuang napas kasar.
Beberapa kali memperbaiki posisinya untuk mencari posisi yang sesuai. Namun, kasur yang sempit, tipis dan keras membuat tidurnya benar-benar tidak nyaman. Hingga akhirnya pria itu bangkit dan duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur menghadap ke arah Zulaikha yang masih setia membelakanginya.
"Zulaikha," panggilnya lagi.
"Hmm?"
"Maaf karena sudah berlaku kasar padamu di awal pertemuan kita, maaf juga karena sudah mengikatmu dalam pernikahan ini secara mendadak," ucap Tareeq.
Zulaikha hanya memilih diam menyimak perkataan pria itu.
"Tolong jangan berharap lebih dari pernikahan ini .... Sebenarnya aku belum siap menjalani sebuah hubungan, hanya saja, desakan dari Nameera dan Kakek membuatku mengambil keputusan ini," lanjut pria itu, membuat Zulaikha langsung membalikkan tubuh ke arahnya.
"Berharap lebih seperti apa yang kamu maksud?" tanya gadis itu.
"Seperti mengharapkan cinta, perhatian, dan kehangatan dalam rumah tangga. Di Qatar nanti sebaiknya kita tidur di kamar yang berbeda agar di antara kita tidak tumbuh benih cinta. Jujur saja aku benar-benar trauma dengan pernikahan ayahku. Dan kurasa ini lebih baik dari pada nantinya kita terluka karena cinta .... Maaf bukannya aku ingin egois, tapi aku sadar kamu juga tentu tidak mencintaiku," ungkap pria itu.
Zulaikha membuang napas kasar mendengar perkataan Tareeq, meski pun ia menyadari belum ada cinta di antara mereka, tapi tanpa pria itu sadari, perasaannya telah terluka sebagai wanita bahkan statusnya sebagai istri seolah tidak di hargai sama sekali. Namun, mau bagaimana lagi? Dia juga menerima pernikahan ini karena Nameera.
Lucu sekali bukan? Ia baru saja batal nikah beberapa minggu yang lalu, dan sekarang ia telah menikah tapi tak akan merasakan indahnya pernikahan. Sungguh miris nasibnya, apakah kebahagiaan akan menghamprinya suatu saat nanti? Hanya Allah yang mengetahuinya.
"Terserah kamu saja, tapi ku harap kamu tidak jatuh cinta padaku lebih dulu, karena jika sampai itu terjadi berarti kamu telah menj!lat ludahmu sendiri," ucap Zulaikha lalu kembali membelakangi pria itu dengan perasaan yang campur aduk. Ingin marah, menangis, dan tertawa di waktu yang bersamaan.
"Baik, tenang saja sebab itu tidak akan terjadi," ucap Tareeq sangat yakin karena selama ini tak ada satu pun wanita yang mampu menarik hatinya.
Tareeq sama sekali tidak ingin memikirkan kehidupan rumah tangganya dalam jangka waktu panjang, karena pada akhirnya semua perkataan ibunya saat bertengkar dan sebelum meninggalkan sang ayah kembali berputar dalam ingatan hingga membuat dadanya terasa sesak.
Ia tahu, keputusannya ini jelas tidak dibenarkan dalam agama, tapi mau bagaimana lagi, rasa trauma telah menguasai akal sehatnya sehingga yang ada di pikirannya saat ini adalah ia tidak ingin membuka hati atau pun mendekati hal-hal yang dapat membuat hatinya luluh. Jadi, jika saja suatu saat nanti apa yang terjadi pada ayahnya dulu juga terjadi pada dirinya, maka ia tidak akan sakit hati seperti ayahnya.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
sama2 sakit hati dengan masalah masing2
2023-10-07
1
Qilla
otornya dendam bgt kayaknya ama zul
2023-08-09
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu
2023-02-09
2