Dia Calon Istriku

Jangan pernah bercanda dengan pernikahan, karena aku pernah mengira pernikahanku akan benar-benar terjadi, nyatanya dia hanya sedang bercanda denganku.

Selama ini aku tenang bukan berarti aku baik-baik saja, aku hanya sedang berusaha menerima kenyataan, kenyataan yang telah mempermainkan perasaanku.

Dan jika kamu bertanya, apa aku akan menerima sebuah hubungan lagi? Jawabannya aku siap, tapi mungkin aku tidak akan lagi melibatkan perasaan di dalamnya.

(Zulaikha Azkadina)

***

Mobil yang di kemudikan oleh supir pribadi Kakek Hasan kini telah tiba di mansion milik keluarga Husein bin Ibrahim diikuti oleh mobil Tareeq di belakang. Rumah yang begitu mewah, besar dan indah bagaikan istana di negeri dongeng. Di sinilah Tareeq dan Nameera di besarkan usai perpisahan kedua orang tua mereka.

Mata Zulaikha tampak tidak berkedip melihat rumah yang bahkan ukurannya 10 kali lebih besar dari rumah mewah dari juragan terkaya di desanya.

"Ini rumah bisa gede gini buatnya gimana yah? Rumah Paman di desa aja yang besarnya cuma sebesar pos satpam rumah ini buatnya sampai banjir air mata," gumam Zulaikha dengan bahasa Indonesia.

"Kamu bilang apa, Zulaikha?" tanya Nameera yang tidak paham akan perkataan gadis di sampingnya.

"Oh tidak apa-apa. Karena kamu sudah sampai, berarti aku langsung pulang saja yah," ujar Zulaikha hendak keluar dari mobil, tapi langsung ditahan oleh Nameera.

"Jangan pulang dulu, kamu sudah sampai di sini, setidaknya kamu harus mampir ke dalam, bermalam pun tidak apa-apa, aku malah senang, mau yah, please," ucap Nameera penuh harap.

"Hmm, baiklah," jawab Zulaikha.

"Nameera, apa kamu ingin Kakek membantumu turun?" tanya Kakek Husein.

"Nameera sama Zulaikha saja, Kek," ucap gadis itu bersemangat.

"Oke, kalau begitu Kakek turun duluan yah, kursi roda sudah di keluarkan Pak Abu tadi," ujar Kakek lalu turun lebih dulu.

Bersamaan dengan itu Tareeq berjalan menyusul sang Kakek menuju ke teras rumah. Setelah itu, Zulaikha turun lebih dulu lalu membantu Nameera duduk di kursi roda kemudian mendorongnya.

"Tareeq, lihatlah ke belakang." Kakek Husein merangkul sang cucu, membuat Tareeq menoleh ke belakang di mana Zulaikha dengan sedang membantu Nameera, ia terlihat sedang bercerita sambil sesekali bercanda dengan Nameera.

"Apa kamu pernah melihat gadis setulus dia? Bahkan bibimu saja tidak pernah melakukannya, lalu dia? Dia bukan siapa-siapa, dia tidak mengenal kita, tapi dia mau membantu Nameera. Jika orang lain, mungkin dia sudah pergi karena merasa di repotkan, pikirkanlah, Nak." Kakek Husein menepuk pelan pundak Tareeq lalu masuk ke rumah lebih dulu.

Tareeq mematung di posisinya menatap Zulaikha dari jauh, entah apa yang dia pikirkan, tapi setelah itu dia langsung masuk ke dalam rumah.

"Kebetulan sekali kamu pulang siang-siang begini Tareeq." Bibi dari Tareeq langsung menyambut kedatangan pria itu dan membawanya duduk di sofa, di mana sudah ada dua wanita cantik beda usia yang sudah duduk di hadapannya.

"Tareeq, kenalkan, ini teman bibi, dan ini putri sulungnya, Qifty Humairah. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dengan predikat Cumlaude, bagaimana menurutmu? Dia cantik kan? Oh iya, kami berencana ingin menikahkanmu dengannya," ujar Bibi Afra dengan begitu yakin.

Bibi Afra, begitulah Tareeq dan Nameera memanggilnya. Dia adalah adik dari ayahnya yang membantu mengurus mereka saat ibu mereka pergi. Sayangnya, wanita paruh baya itu hanya peduli dengan kehidupan Tareeq, sangat berbeda dengan adiknya Nameera yang semenjak di vonis mengidap leukimia, ia malah menyuruh suster untuk mengurusnya, jangankan mengurus, dekat saja dia enggan.

"Apa? Maaf, Bibi, Tareeq tidak bisa," tolak Tareeq lalu bangkit dari duduknya dan segera pergi ke ruang keluarga.

"Tareeq." Bibi Afra rupanya tidak tinggal diam, dia bahkan menyusul Tareeq dan meninggalkan tamunya.

"Berani kamu melawan bibimu? Ingat yah, Bibilah yang sudah merawatmu dan menggantikan peran ibumu sejak kamu remaja, dan bibi tidak pernah memintamu melakukan sesuatu yang kamu benci kan? Jadi tolong, kali ini saja terima permintaan bibi yah," pinta wanita paruh baya itu sembari memegang satu tangan Tareeq.

Tareeq tak lantas menjawab, ia justru memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Apa yang harus ia katakan, sementara ia benar-benar tidak ingin menikah dengan wanita yang dikenalkan oleh Bibinya itu.

Di tengah-tengah kegusarannya, ia melihat Zulaikha masuk sembari mendorong kursi roda Nameera menuju kamar Nameera.

"Maaf, Bibi. Tareeq tidak bisa menerima tawaran Bibi, karena sebenarnya Tareeq sudah memiliki calon istri pilihan Tareeq sendiri," jawab Tareeq akhirnya.

"Apa? Siapa dia? Kenapa kamu tidak pernah memberitahukan bibi?" tanya Bibi Afra dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Itu dia." Tareeq menunjuk Zulaikha yang hendak masuk ke kamar Nameera.

"Zukaikha!" panggil pria itu seraya menghampirinya.

Zulaikha yang mendengar namanya dipanggil seketika menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara bersamaan dengan Nameera yang duduk di kursi roda.

"Kenalkan namanya Zulaikha, dia ...." Tareeq menatap sekilas Zulaikha yang sedang tersenyum ke arah Bibi Afra. "Dia calon istri Tareeq." Senyuman di wajah Zulaikha seketika hilang tak berbekas dengan tatapan tanda tanya yang kini ia layangkan ke pria itu.

"Apa-apaan ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba bilang 'calon istri,' apa dia sedang bercanda?" batin Zulaikha penuh tanda tanya.

Berbeda dengan Zulaikha, Nameera justru mengulum senyum, ia merasa sangat bahagia akhirnya sang Kakak mau mengabulkan permintaannya malam itu. Dan itu artinya, Zulaikha akan tinggal bersamanya.

"Apa? Dia?" Jari telunjuk Bibi Afra bahkan sudah berada tepat di depan wajah Zulaikha.

"Iya, Bi. Apa ada yang salah?" tanya Tareeq.

"Dari wajahnya, dia bukan orang Timur Tengah, jangan bilang dia orang Indonesia," selidik Bibi Afra.

"Dia memang orang Indonesia, tapi dia berbeda dengan apa yang Bibi pikirkan," bela Tareeq.

"Oh yah? Lalu apa yang membuatmu tertarik padanya? Apa dia dokter? Apa dia keturunan konglomerat? Apa dia pengusaha?" Pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu bagaikan hantaman bagi Zulaikha.

"Tidak semuanya, Bibi," jawab pria itu jujur.

"Astaga, apa kamu bercanda? Tidak! Bibi tidak akan merestui pernikahan kalian," tolak Bibi Afra dengan tegas.

Zulaikha hanya bisa mencengkram kuat pegangan kursi roda milik Nameera saat direndahkan oleh wanita paruh baya itu tepat di hadapannya.

"Maaf, Bi. Kali ini, biarkan Tareeq sendiri yang menentukan pilihan, karena yang menjalani pernikahan nanti adalah Tareeq sendiri," pinta Tareeq, membuat Bibi Afra membuang napas kasar seraya menatap tajam ke arah Zulaikha yang masih saja tertunduk.

"Kalian, masuklah, aku akan kembali ke kantor," ucap Tareeq menyuruh dua gadis itu untuk segera masuk ke kamar sebelum mendapat kata-kata kasar dari Bibi Afra.

Zulaikha dan Nameera kini sudah berada di dalam kamar Nameera. Namun, Zulaikha kini lebih banyak diam. Bahkan panggilan dari Nameera pun tak di dengarnya.

"Zulaikha."

"Zulaikha?"

"Nameera, aku pamit pulang sekarang yah, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi."

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

diakui biar lari dari perjodohan kasian Zulaikha di hina

2023-10-07

1

Anonymous_cinta

Anonymous_cinta

hahahhaaha.....tulisannya berasa nyata saat dibaca, berasa benar benar terjadi. celotehnya siapa ne, outhornya atau zul y hehehhe

2023-02-15

1

manda_

manda_

lanjut

2023-02-08

1

lihat semua
Episodes
1 Surya yang Meredup
2 Welcome to Qatar
3 Nameera si Gadis Qatar
4 Dua Pria Beda Generasi
5 Menyampaikan Amanah
6 Korban Broken Home
7 Bakso ala Zulaikha
8 Dia yang Tidak Sempurna
9 Kakak Ipar
10 Gadis dengan Abayha
11 Dia Calon Istriku
12 Aku Pamit
13 Pengakuan Sang Mantan
14 Hubungan Tanpa Cinta
15 Jangan Berharap Lebih
16 Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17 Ancaman Bibi Afra
18 Bekerja dalam Senyap
19 Kebiasaan Makan
20 Membuatnya Terbiasa
21 Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22 Nameera Drop
23 Memiliki Dua Istri?
24 Mulai Terbiasa
25 Rindu yang Tak Sampai
26 Ternyata Kamu Cantik juga.
27 Kemarahan Tareeq
28 Di mana Dia?
29 Merindukannya
30 Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31 Gombalan Pria Qatar
32 Angin Segar Untuk Nameera
33 Saat Harus Memilih
34 Misi Zulaikha dan Tareeq
35 Pertemuan dengan Billy
36 Liciknya Qifty
37 Saat Ujian Kembali Menghampiri
38 Kamu Licik Aku Lebih Licik
39 Hikmah dari Allah
40 Memafkan itu Menenangkan
41 SPA dan Setrika
42 Pertemuan Karena Ngidam
43 Rencana Buruk
44 Kadatangan Tiga Pria
45 Keberanian Zulaikha
46 Misi Penyelamatan
47 Curi Pandang
48 Cerita Tiga Pria
49 Permintaan Nameera
50 Jawaban Khalid dan Ali
51 Keputusan Nameera
52 Uhibbuka Fillah
53 Rasa Gelisah
54 Kembali Hancur
55 Terpuruk Lagi
56 Kembalilah ke Qatar
57 Menuju Pernikahan Nameera
58 Pesta Pernikahan di Qatar
59 Melepas Kerinduan
60 Hamidun?
61 Ujian Kesabaran
62 Pria Baik
63 Dijodohkan Lagi
64 Balapan Unta
65 Welcome Baby F
66 Kebahagiaan Zulaikha
67 Permintaan Maaf Qifty
68 Saran Untuk Khalid
69 Kejutan Untuk Zulaikha
70 Tasbih Cinta (TAMAT)
71 He's Not A Bad Boy
72 PROMO NOVEL BARU
73 MOZAIK KENANGAN
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Surya yang Meredup
2
Welcome to Qatar
3
Nameera si Gadis Qatar
4
Dua Pria Beda Generasi
5
Menyampaikan Amanah
6
Korban Broken Home
7
Bakso ala Zulaikha
8
Dia yang Tidak Sempurna
9
Kakak Ipar
10
Gadis dengan Abayha
11
Dia Calon Istriku
12
Aku Pamit
13
Pengakuan Sang Mantan
14
Hubungan Tanpa Cinta
15
Jangan Berharap Lebih
16
Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17
Ancaman Bibi Afra
18
Bekerja dalam Senyap
19
Kebiasaan Makan
20
Membuatnya Terbiasa
21
Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22
Nameera Drop
23
Memiliki Dua Istri?
24
Mulai Terbiasa
25
Rindu yang Tak Sampai
26
Ternyata Kamu Cantik juga.
27
Kemarahan Tareeq
28
Di mana Dia?
29
Merindukannya
30
Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31
Gombalan Pria Qatar
32
Angin Segar Untuk Nameera
33
Saat Harus Memilih
34
Misi Zulaikha dan Tareeq
35
Pertemuan dengan Billy
36
Liciknya Qifty
37
Saat Ujian Kembali Menghampiri
38
Kamu Licik Aku Lebih Licik
39
Hikmah dari Allah
40
Memafkan itu Menenangkan
41
SPA dan Setrika
42
Pertemuan Karena Ngidam
43
Rencana Buruk
44
Kadatangan Tiga Pria
45
Keberanian Zulaikha
46
Misi Penyelamatan
47
Curi Pandang
48
Cerita Tiga Pria
49
Permintaan Nameera
50
Jawaban Khalid dan Ali
51
Keputusan Nameera
52
Uhibbuka Fillah
53
Rasa Gelisah
54
Kembali Hancur
55
Terpuruk Lagi
56
Kembalilah ke Qatar
57
Menuju Pernikahan Nameera
58
Pesta Pernikahan di Qatar
59
Melepas Kerinduan
60
Hamidun?
61
Ujian Kesabaran
62
Pria Baik
63
Dijodohkan Lagi
64
Balapan Unta
65
Welcome Baby F
66
Kebahagiaan Zulaikha
67
Permintaan Maaf Qifty
68
Saran Untuk Khalid
69
Kejutan Untuk Zulaikha
70
Tasbih Cinta (TAMAT)
71
He's Not A Bad Boy
72
PROMO NOVEL BARU
73
MOZAIK KENANGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!