Zulaikha menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum berhadapan dengan mantan calon suami sekaligus mantan rekan kerjanya.
Langkah kaki perlahan membawanya ke meja dengan tulusan nomor 10, meja yang berada tepat di pojok warung, tempat ia biasa bertemu dan makan bakso bersama dulu.
"Mau pesan apa?" tanya Zulaikha senormal mugkin.
"Eh, Zul," lirih sang mantan tak berkedip menatap penampilan Zulaikha yang semakin cantik dan anggun.
Della yang melihat suaminya menatap mantan kekasihnya mulai merasa kesal.
"Eh Zul. Kamu masih kerja di sini yah, kasihan banget sih kamu harus cari nafkah sendiri." Bukannya menjawab, Della yang tidak lain adalah istri dari pria yang pernah dipanggil Surya oleh Zulaikha justru melontarkan kata-kata yang sangat tidak enak di dengar oleh indera pendengaran gadis itu.
Zulaikha mulai mencengkeram kuat papan pesanan di tangannya, andai saat ini dia sedang di luar, mungkin benda itu sudah melayang ke wajah wanita itu. Mulut kok lemas benget kalau ngomong, jelas-jelas ia gagal nikah karena kelakuan mereka.
"Rileks rileks, pelanggan adalah raja, pelanggan adalah raja," batin Zulaikha berusaha mengontrol emosinya.
"Mau pesan apa, Tante?" tanya Zulaikha lagi, kali ini dengan sedikit mengejek secara halus.
"Eh, sembarangan kamu ngatain aku tante? Sayang, lihat tuh si Zul, masa dia ngatain aku tante sih?" adunya dengan suara mendayu dan di buat manja di hadapan sang suami.
"Udah, Sayang. Jangan diladenin yah, kita kan kesini mau makan, bukan ribut," ujar sang suami yang merasa serba salah kali ini, ingin memarahi Zulaikha tapi tidak tega, ingin diam takut di salah artikan oleh sang istri.
"Tapi kan dia yang ngatain aku tante, Sayang. Lebih baik cari pelayan yang lain saja, aku nggak suka dilayani sama pelayan kurang ajar kayak dia," sarkas Della.
"Baik, Sayang," ucap pria itu lalu menatap ke arah Zulaikha. "Zul, to....
"Kok kamu manggil namanya sih, Sayang?" protes Della memotong perkataan suaminya.
"Lah, terus aku harus manggil siapa?"
"Panggil dia Mbak pelayan, kan dia memang pelayan, tugasnya MELAYANI," jawab Della dengan menekan kata 'melayani'.
Pria di depannya membuang napas kasar. "Baiklah, Mbak pelayan, tolong panggilkan pelayan yang lain," pintanya.
"Baik, Om, Tante, silahkan menunggu." Zulaikha langsung berbalik dan kembali ke meja kasir tanpa memanggil Romi yang entah kemana saat ini. Ia sengaja akan membuat pelanggan menyebalkannya itu gerah karena menunggu tanpa kepastian.
Zulaikha menatap sinis ke arah pasangan itu lalu duduk dan membaca buku.
"Sayang, pelayannya mana sih?" tanya Della yang mulai kesal menunggu.
"Sabar, Sayang. Tapi aku tidak melihat pelayan lagi selain dia."
"Tadi aku lihat Romi kok, kemana dia yah?" Della menelisik seluruh isi warung itu hingga mengintip ke bagian dapur, tapi tak ada sama sekali tanda-tanda Romi di sana.
"Mbak pelayan!" panggilnya kepada Zulaikha.
"Iya, Tante, ada apa?" sahut Zulaikha dengan suara agak tinggi sehingga semua orang yang ada di warung itu menatapnya.
"Sayang, kamu aja deh yang kesana cari pelayannya, aku malu banget gara-gara Mbak pelayan itu," rengek Della dengan wajah yang memerah karena menahan malu dan marah di saat bersamaan.
"Baiklah," jawab sang suami lalu beranjak pergi.
"Zul, di mana Romi?" tanyanya dengan suara lembut.
"Nggak tahu, tadi dia di luar, nggak tahu kalau sekarang," jawab gadis itu ketus.
"Bisa kamu panggilkan?"
"Ck." Zulaikha hanya berdecak lalu keluar dari pintu belakang warung hendak mencari Romi. Namun, ia di buat terkejut saat ada yang mencekal tangannya.
"Apaan sih pegang-pegang." Zulaikha menyentakkan tangannya saat melihat pria yang sudah menjadi mantan calon suaminya itu berada dibelakang sembari memegang tangannya.
"Zul, aku mau ngomong," ucap pria itu dengan tatapan sendu.
"Maaf, aku sedang kerja, silahkan kembali ke tempatmu."
"Kamu mau tahu kenapa waktu itu aku mabuk-mabukan dan berakhir bersama Della?"
"Aku nggak mau tahu, dan nggak peduli sama sekali," ujar Zulaikha semakin ketus.
"Ini semua karena kamu juga, padahal aku masih sangat mencintai kamu, bahkan sampai saat ini, jika saja malam itu kamu mau menerima ajakanku ke rumah, tentu ini tidak akan terjadi, aku butuh pelampiasan Zul, dan kamu tidak pernah mau memberikannya hanya karena kita belum nikah, padahal kita sudah 3 tahun bersama," ungkap pria itu, membuat Zulaikha sejenak melongo.
"Astaga, betapa tidak malunya kamu mengakui itu di tempat terbuka seperti ini." Zulaikha menatap sekeliling yang ramai dengan orang yang lalu lalang.
"Aku hanya ingin berbicara jujur, Zul."
"Kamu pikir aku akan simpati sama kamu setelah mendengar alasanmu ini?" Zulaikha tersenyum miring, "Kamu salah, aku justru semakin merasa jijik sama kamu, hanya karena kita bersama selama 3 tahun bukan berarti dengan mudahnya aku memberikan apa pun yang kamu mau, kehormatan wanita itu sangat berharga, dan selama belum terikat pernikahan, kamu tidak berhak memintanya," ujar Zulaikha.
"Apa yang kalian lakukan?" sela Della yang kini ikut datang ke belakang karena sang suami tidak kunjung balik.
"Eh, tidak apa-apa, Sayang. Aku cuma menyuruhnya mencari Romi tadi," jawab pria itu, membuat Zulaikha tertawa sumbang sambil membuang muka.
"Heh, Mbak pelayan, jangan-jangan kamu sengaja yah ajak suamiku kesini biar kalian bisa berduaan? Hah?" tuduh Della dengan suara tinggi seolah ia sengaja ingin mempermalukan Zulaikha.
"Maaf yah, aku udah nggak perlu lagi sama dia, jadi buat apa aku mengajaknya kesini berdua, yang ada dia yang kesini mencariku," sanggah Zulaikha.
"Alaaa, bilang aja kamu masih menginginkan suamiku kan?"
Zulaikha membuang napas kasar, ia sudah membuka mulutnya untuk menjawab tuduhan Della, tapi suara seorang pria tiba-tiba mengalihkan perhatiannya termasuk Della dan suaminya.
"Zulaikha, aku mencarimu dari tadi, kata Pamanmu kamu ada di sini." Seorang pria tampan khas Timur Tengah, bertubuh tinggi dan kekar datang menghampiri Zulaikha dan berbicara bahasa Inggris padanya.
Della menatap takjub pria itu tanpa berkedip, membuat sang suami yang berada di sampingnya mendengus kesal.
"Siapa dia Zul? Ganteng banget," tanya Della begitu ramah, ia tak lagi mengingat jika di sampingnya masih ada sang suami.
"Kenapa? Kamu tertarik? Noh, urusin suami kamu. Kalian itu sama yah, udah punya pasangan tapi nggak bisa jaga mata," ujar Zulaikha menohok pasangan suami istri itu, kemudian pergi dengan menarik tangan pria yang tertutupi lengan panjang bajunya menjauhi mereka.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Zulaikha ketus pada pria yang tidak lain adalah Tareeq dengan bahasa Inggris setelah melepaskan tangan pria itu.
"Hey, bisa nggak sih kamu sambut kedatanganku di sini dengan ramah? Perjuanganku ke sini itu tidak mudah yah," gerutu Tareeq.
"Memangnya siapa yang nyuruh kamu ke sini? Lagian sikapmu padaku waktu itu jauh lebih buruh dari sikapku padamu saat ini."
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
tareeq ngejar sampai ke indo hahahhahahhaha.
Dilla dan Surya pasangan yg tidak tau diri alasan laki2 yg menyebalkan dan pengen di tabok blom halal maunya enak2
2023-10-07
1
manda_
abang tareeq datang zul dasar mantan sama della cocok tuh
2023-02-08
1
Ria dardiri
mantan zul cocok sm della ,,,tumbu oleh tutup wes
2023-02-08
1