Terima kasih karena sudah memberiku pencerahan, aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu. Namun, aku harus ucapkan permintaan maafku sekaligus pamit pulang ke Indonesia.
Kurasa semakin lama aku di sini, semakin rumit pula masalah yang kuhadirkan di antara kalian. Selamat tinggal, semoga kelak kita bisa bertemu lagi.
Salam rindu dariku
Zulaikha
_________________________________________
Nameera beberapa kali menyeka air matanya saat menerima pesan dari Zulaikha. Ia tidak menyangka jika maksud kata 'pulang' yang tadi di ucapkan Zulaikha adalah pulang ke Indonesia dan bukan ke apartemen.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi tetap saja tidak bisa dihubungi. "Apa dia sudah di pesawat? Jahat sekali dia pergi seperti itu, hiks," ucap Nameera di tengah isak tangisnya.
"Nameera, kamu kenapa, Nak?" tanya Kakek Husein menghampiri sang cucu.
"Zulaikha, Zulaikha sudah kembali ke Indonesia, hiks," jawab Nameera langsung memeluk kakeknya.
"Pulang ke Indonesia? Kenapa tiba-tiba sekali? Dia tidak pamit sama kita dulu?"
Nameera mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi, termasuk bagaimana Tareeq mengakui Zulaikha sebagai istri secara tiba-tiba dan perkataan sang bibi yang begitu kasar kepadanya.
Kakek Husein beberapa kali menggelengkan kepalanya dengan raut wajah bersalah, ia benar-benar menyayangkan sikap anaknya yang masih saja selalu memandang harta dan jabatan sebagai patokan kebahagiaan.
"Zulaikha pasti merasa di permainkan, Nak," gumam Kakek Husein penuh penyesalan. "Nanti Kakek akan meminta Tareeq untuk mempertanggung jawabkan semua perkataannya tadi. Semoga dia memang serius, awas saja jika dia main-main," ujar Kakek Husein.
***
Setelah melalui beberapa jam penerbangan dari Qatar ke Jakarta, lalu berlanjut mengendarai mobil beberapa jam lagi ke desa, Zulaikha akhirnya tiba di depan rumahnya saat Adzan subuh mulai berkumandang.
"Assalamu 'alaikum," ucap gadis itu sembari mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam." Suara sahutan Bibi Anisa terdengar dari dalam rumah.
Terdengar suara khas pintu tua yang dibuka.
Tak langsung menyapa, wanita paruh baya itu menatap Zulaikha dari kepala hingga kaki, lalu kembali memperhatikan wajah sang keponakan yang berdiri tepat di hadapannya. Perbedaan yang sangat mencolok dari gadis itu membuatnya sedikit ragu jika dia memang gadis yang ada di pikirannya saat ini.
"Zul?" ucapnya ingin memastikan saat Zulaikha mencium punggung tangannya.
"Bibi, ini Zulaikha, kenapa lihatinnya sampai segitunya?" tanya gadis itu heran.
"Bukan begitu," ucapnya lalu memegang wajah Zulaikha. "Alhamdulillah, Nak. Akhirnya kamu kembali memakainya," lanjutnya begitu bahagia, bahkan bulir benig tampak lolos dari matanya.
Zulaikha yang melihat air mata bahagia dari sang bibi tanpa sadar juga mengeluarkan air mata, ia langsung memeluk wanita paruh baya itu.
"Maafkan Zul, Bibi. Maafkan sikap Zul yang keras kepala setiap kali Bibi mengingatkan pesan Mama agar Zul berhijab," lirihnya dengan suara bergetar.
"Iya, Nak. Bibi sangat bersyukur, terima kasih, Nak. Mama dan Papamu pasti sangat senang melihatmu seperti ini."
"Assalamu 'alaikum," ucap Paman Harun yang baru saja pulang dari masjid.
Ia sempat bingung siapa yang memeluk istrinya. Namun, saat kedua wanita beda usia itu menoleh ke arahnya seraya menjawab salam, barulah ia mengenali siapa gadis itu.
"Zulaikha?" panggilnya ingin memastikan.
"Paman," sahut Zulaikha sembari mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Alhamdulillah, ini beneran kamu? Masya Allah."
"Iya, Paman, ini Zulaikha, keponakan kalian yang paling unyu-unyu." Suasana haru seketika hilang saat mendengar perkataan terakhir gadis itu.
"Ternyata tengilnya masih sama, Mas," canda Bibi Anisa tertawa pelan.
"Nggak apa-apa tengil, toh itu yang bisa buat kita tersenyum," ujar Paman Harun sembari mengusap kepala Zulaikha yang tertutup kerudung.
***
Pagi harinya, Tareeq baru keluar kamar setelah semalam ia pulang larut karena lembur. Sebelum memulai sarapan, ia berencana akan melakukan olahraga ringan terlebih dahulu di ruang gym.
"Tareeq, kakek ingin bicara," ucap Kakek Husein saat melihat cucu tertuanya itu melewati kamarnya.
Langkah kaki Tareeq terhenti dan melangkah mundur sedikit hingga tepat berada di ambang pintu kamar sang kakek.
"Ada apa, Kakek?"
"Masuk!" titah pria usia lanjut itu.
Tareeq masuk dan duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Kakek Husein yang duduk di tempat tidurnya.
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu yang akan menjadikan Zulaikha istrimu?" tanyanya.
Bukannya menjawab, Tareeq justru menoleh keluar kamar lalu segera menutup pintu. "Tidaklah, Kek. Mana mungkin Tareeq menikahi gadis Indonesia itu. Tareeq hanya berpura-pura agar Bibi Afra tidak menjodohkan Tareeq dengan anak temannya," jelas pria tampan itu tanpa ragu sedikit pun.
"Tareeq!" hardik Kakek Husein, membuat pria itu sedikit terperanjat.
"Kakek tidak pernah mendidikmu untuk menyakiti perasaan wanita, apa yang sudah kamu lakukan kemarin benar-benar kelewatan, akibat perbuatanmu Zulaikha mendapat perkataan kasar dari Bibimu dan apa kamu bilang? Hanya berpura-pura? Kamu tahu, Zulaikha sudah kembali ke Indonesia tanpa pamit, pasti dia sangat kecewa dengan tindakanmu, padahal dia sangat baik sudah membantu adikmu, tapi apa yang kau lakukan?" Kakek Husein menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk menetralkan emosinya.
"Apa? Dia kembali ke Indonesia?"
"Iya. Sekarang Kakek tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat."
"Bertanggung jawab bagaimana, Kek?" tanya Tareeq bingung.
"Jemput dia dan nikahi dia!" titah Kakek Husein dengan tegas.
"Apa? Tapi Kakek ...."
"Jika kamu tidak ingin melakukannya maka jangan pernah lagi menganggap aku kakekmu," ancamnya lalu segera pergi meninggalkan kamarnya.
Kini hanya tinggal Tareeq di kamar itu. Ia tertunduk dengan menumpukan sikunya di atas kedua paha dan menjambak rambutnya frustrasi.
"Astaga, gadis itu benar-benar membuatku berada dalam masalah," gumamnya.
***
Beberapa hari kemudian, Zulaikha kembali bekerja di warung bakso, semua orang tampak terkejut dengan penampilan barunya pasca kembali dari Qatar. Tak terkecuali Romi yang tidak lain adalah temannya.
"Zul, Zul. Sepertinya kepergianmu ke Qatar kemarin membawa berkah, penampilanmu berubah 100% dari sebelumnya. Aku juga harus kesana biar bisa berubah jadi Imam yang sholeh buat Ibu dari anak-anakku," celoteh pria itu.
"Emang Ibunya anak-anak udah ada?" tanya Zulaikha.
"Belum sih, tapi kalau kamu mau boleh juga," godanya sembari menaik-turunkan alisnya membuat Pak Shobri selaku bos mereka yang mendengarnya langsung melayangkan tabokan di lengan berisi pria muda itu.
"Auw, sakit Pak," ucap Romi meringis sambil mengusap lengannya yang sedikit kebas.
"Kalau menggombal saja, udah kayak air mengalir, lancar banget, giliran di suruh angkat galon malah lelet banget kayak siput," gerutu pria paruh baya itu.
"Yee Bapak, ada akibat tentu ada sebab, Pak. Aku lelet angkat galon karena Bapak selalu nyuruh angkat dua galon sekaligus, berat lah, hidupku aja udah berat. Aku ngegombal Zul juga karena dia jomblo, iya kan Zul?" oceh Romi.
"Jangan buka kartu dong," lirih Zulaikha, membuat mereka tertawa.
Tawa mereka seketika mereda saat sepasang pengantin baru masuk ke dalam warung dengan saling merangkul mesra.
"Sssst, sana tanyain pesanan mereka," seru Romi kepada Zulaikha.
"Enak aja, kenapa harus aku sih, ogah ah," tolak Zulaikha.
"Eh, Zul, ini saatnya buat mantan menyesal, lihat deh, dibandingin Dela, kamu tuh jauh lebih cantik, apalagi kalau pake kerudung gini, kecantikanmu itu meningkat berkali-kali lipat," bisik Romi.
"Ck, malas, kamu a...."
Belum selesai Zulaikha menolak, Romi sudah lari meninggalkan Zulaikha sendiri sebagai pelayan di warung itu.
"Hish, awas kau Romi," desis Zulaikha sangat kesal.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
nyesel tu mantan hahahah
2023-10-07
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi nanti nyesel tuh mantan calon suami
2023-02-08
1
Ria dardiri
ntar suatu saat pasti indo- Qatar jadi terbiasa bt Tareeq ,,
2023-02-07
1