Suara perabotan dapur menjadi iringan musik penyemangat bagi Zulaikha pagi ini. Aroma makanan yang begitu menggugah selera memenuhi dapur yang cukup luas, bahkan mungkin saja tidak hanya di dapur tapi seluruh isi unit apartemen yang kini menjadi tempat tinggalnya sementara telah di penuhi oleh aroma makanan tersebut.
"La...la...la," senandung random yang dinyanyikan Zulaikha membuat suasana sepi di tempat itu sedikit berkurang. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya ia tinggal seorang diri di apartemen yang yang sangat luas dan mewah, dengan 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga dan satu dapur yang sangat kuas karena menyatu dengan ruang makan.
Kali ini, Zulaikha memasak bakso untuk sarapannya, juga untuk ia bawakan kepada Nameera, siapa tahu lidahnya cocok. Karena keasikan masak, ia sampai tidak menyadari jika ada yang masuk di apartemen itu.
--
"Bau apa ini?" tanya Tareeq saat sudah membuka pintu unit apartemen milik kakeknya
"Sepertinya bau masakan, baunya enak, Pak," jawab Ali mengendus aroma itu sembari memejamkan matanya.
"Siapa yang memasak? Apartemen ini kan kosong," ujar Tareeq sembari melangkah cepat menuju dapur diikuti oleh Ali yang hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
Tareeq tiba di ambang pintu dapur, dari jauh ia dapat melihat seorang gadis sedang sibuk memasak dengan piyama legan panjang dengan apron masak dan rambut cepol yang di ikat di atas kepala.
Pria itu mengernyitkan alisnya sedikit bingung melihat keberadaan gadis itu. Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di sini? Tidak mungkin itu adiknya karena postur tubuhnya lebih tinggi dari sang adik, lagi pula Nameera masih berada di rumah sakit, sangat tidak mungkin dia berada di sini.
Langkah kaki lebar Tareeq membawanya mendekati gadis itu hingga berada tidak jauh di belakangnya.
"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan bahasa Arab, sontak saja suara bariton Tareeq langsung mengejutkan Zukaikha.
"Eh kambing, kambing," latah gadis itu refleks melepas spatulanya lalu berbalik ke sumber suara. "Kambing jenggot, eh kambing jenggot." Zulaikha kembali latah saat melihat pria berjenggot dan brewok tipis dengan setelan kemeja panjang lengkap dengan dasi serta celana panjang longgar berada di belakangnya.
Tentu saja Tareeq tidak tersinggung di 'katakan kambing jenggot' karena dia tidak memahami bahasa Indonsia yang digunakan Zulaikha.
"Kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Tareeq dengan nada suara yang sedikit tinggi, membuat nyali siapa saja yang mendengarnya langsung menciut.
"Maaf, Kakek Husein yang menyuruhku tinggal di sini," jawab Zulaikha.
"Apa? Kenapa Kakek tidak mengatakannya padaku? Apa mungkin Kakek lupa?" batin Tareeq.
"Sampai kapan kamu di sini?" tanya pria itu lagi dengan tatapan tajam.
"Itu ... Itu aku juga belum tahu," jawab Zulaikha sedikit gugup.
"Jangan lama-lama, aku muak selalu melihatmu," sarkas Tareeq lalu segera pergi tanpa menunggu jawaban Zulaikha.
"Astaga, kejam sekali dia, kakeknya saja slow kenapa dia yang naik tensi," gerutu Zulaikha menatap kepergian pria itu ke kamar.
"Kamar?" Zulaikha segera berlari mengikuti kemana Tareeq pergi, ia sedikit khawatir jika pria itu memasuki kamarnya. Bahkan Ali yang berjalan tidak jauh dari Tareeq mejadi korban tabrak lari Zulaikha.
"Jangan ma...."
Zulaikha menghentikan teriakannya saat menyadari bahwa Tareeq membuka pintu kamar di samping kamarnya, ia lantas kembali berlari dengan cepat ke dapur sebelum Tareeq berbalik ke arahnya dengan tatapan mematikan.
Ali yang baru saja berdiri sembari merapikan kemejanya lagi-lagi menjadi korban tabrak lari Zulaikha yang kecepatan larinya melepihi pelari profesional.
"Astaghfirullah, ishbir, ishbir (sabar, sabar)," ucap Ali sembari mengelus dada.
Usai mengambil berkas yang ia cari, Tareeq langsung keluar bersama Ali, ia sungguh tak ingin lama-lama berada di dalam rumah yang terdapat wanita bukan mahramnya, tidak hanya aturan agama, tapi hukum di negaranya yang cukup ketat jika menyangkut hal seperti itu.
***
Siang itu, Zulaikha melangkahkan kaki menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar VVIP tempat di mana Nameera telah di pindahkan, ia mengetahui itu dari pengawal Nameera yang ia temui di depan rumah sakit. Kali ini Zulaikha memakai celana panjang kulot berwarna hitam, dan dipadukan dengan baju lengan panjang berwarna emerald dan rambut yang di kuncir seperti biasa.
"As...." ucapan Zulaikha terhenti saat menyadari dokter sedang berbicara dengan Kakek Husein di dalam sana.
Zulaikha benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan karena menggunakan bahasa Arab, jika saja dulu ia memanfaatkan waktunya untuk belajar mungkin ia sudah menguasainya saat ini mengingat Zulaikha adalah gadis yang cerdas.
Zulaikha baru bisa masuk setelah dokter keluar dari kamar Nameera. Kakek Husein dan Nameera menyambut kedatangan gadis itu dengan senyuman ramah seperti biasa.
"Kakek, Nameera, aku membawa bakso buatanku untuk kalian, barangkali kalian suka," ujar Zulaikha.
"Bakso?" ulang Nameera.
"Iya, ini bakso khas Indonesia, aku membuatnya sendiri padi tadi, apa kamu dan Kakek ingin mencobanya?" tanya Zulaikha.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya," jawab Nameera begitu semangat.
"Apa kamu sering memakan bakso?" Zulaikha sedikit tidak percaya, pasalnya ia mengira makanan seperti bakso tidak pernah di makan oleh orang Qatar.
"Hahaha, Nak. Di Doha ini sudah banyak restoran yang menyediakan menu bakso, tapi bakso khas Indonesia pastilah yang paling enak," ujar Kakeh Husein, membuat Zulaikha merasa senang sekaligus khawatir. Senang karena rasa makanan negaranya di puji, dan khawatir jika bakso yang ia buat justru malah mematahkan ekspektasi mereka.
Zulaikha membantu menuangkan bakso yang ia bawa ke dua mengkuk untuk Nameera dan Kakek Husein dengan begitu telaten.
"Terima kasih," ucap Kakek Husein dan Nameera.
Tanpa lupa membaca doa, dua orang beda generasi itu akhirnya mulai mencicipinya. Nameera makan di atas tempat tidurnya, dan Kakek Husein makan di kursi yang berada di samping tempat tidur.
Zulaikha memperhatikan aktivitas mereka dengan perasaan takjub, apa pun yang mereka lakukan selalu di awali dengan ucapan "Bismillah," sesuatu yang kadang ia lupakan, kalau pun ia membacanya hanya saat akan makan.
"Masya Allah, bakso yang sangat enak, Zulaikha," puji Nameera.
"Terima kasih Nameera," balas Zulaikha merasa lega.
Baru saja berkata demikian, Zulaikha dibuat terkejut saat melihat darah segar mengalir dari hidung Nameera.
"Nameera, kamu mimisan."
Kakek Husein langsung menoleh ke arah sang cucu dan beranjak menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Acara makan bakso mereka seketika terhenti saat dokter memasuki ruangan. Kakek Husein dan Zulaikha langsung keluar dari ruangan itu karena tak ingin mengganggu dokter yang memeriksa Nameera.
"Kakek, sebenarnya Nameera sakit apa kalau boleh tahu?" Zulaikha akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia merasa Nameera menyembunyikan sesuatu darinya, penyakit 'biasa' seperti apa yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit dan mimisan secara tiba-tiba seperti tadi.
Tidak langsung menjawab, Kakek Husein membuang napas berat. "Nameera ... Nameera menderita leukimia, Nak."
-Bersambung-
Note: Mengenai pakaian keseharian pria di Qatar, biasanya memakai gamis putih berkerah dan celana longgar, penutup kepala atau sorban yang diikat dengan tali hitam yang di sebut agal. Untuk pakaian resmi pria, setelan jas hanya akan digunakan jika ada acara tertentu dan pertemuan bisnis. Pakaian kerja yang menjadi standar adalah kemeja lengan panjang, dasi dan celana panjang longgar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
hahaha tareeq dikatain kambing jenggot.
kasian nameera sakit parah
2023-10-06
1
Mommy QieS
dua kuntum gift 🌹 untuk mu, Kak.😊
2023-02-19
1
Mommy QieS
aku jadi ingat Yusuf Amri Nufail Syairazy, suami Zahrana😁😁
2023-02-19
2